Last Taste

Last Taste
BAB 24. Raffi Menjauh



Hari ini adalah hari pembagian raport. Setiap siswa tidak di perbolehkan datang bersama orang tuanya karena setiap wali kelas akan memberi wejangan kepada anak didiknya.


Renata datang bersama Firda menggunakan motor gadis itu, guna menghindari macet dan tentunya tidak berdesakan dengan warga bis yang biasa ia tumpangi setiap pergi dan pulang sekolahnya.


Mereka sudah berada di sekolah yang cukup ramai. Siswa/i hadir menggunakan seragam putih abu-abu, sudah meramaikan beberapa sudut koridor sekolah, kantin dan lapangan.


Renata dan Firda memasuki kelasnya untuk yang terakhir kali, karena tahun depan, di tahun ajaran baru, mereka akan pindah kelas sebagai anak senior kelas XII.


Betapa menyenangkannya menjadi senior.


Didalam kelas, Raffi dan Hendar tengah membersihkan papan tulis dan meja guru. Renata langsung mendekati Raffi yang kini merapikan beberapa buku paket yang tergeletak di sana. Niatnya sih mau mengambil buku absensi yang nantinya akan di berikan kepada Pak Deden, wali kelasnya.


"Gue kangen ngisi absensi disini," kata Renata terkekeh. Biasanya, kalau Renata tidak terlambat, dia akan mengisi absen sambil duduk di bangku guru, tak lupa dengan teh hangat yang ia pesan sebelumnya di kantin. Kalau Renata terlambat, yang mengisi absen itu pasti sekretaris kedua, yaitu Ina.


Raffi menatap Renata sebentar, kemudian ia berlalu menuju tempat duduknya. Renata mengeryit, dia kenapa?


Tatapan Renata beralih pada Hendar yang kini tengah berjalan ke arahnya setelah menghapus papan tulis. Suara bising di kelasnya tidak Renata pedulikan. Padahal, di pojok kelas sana ada Derry, Jaya dan Sony yang tengah rusuh bernyanyi dengan memukul meja sekeras-kerasnya.


"Selamat bertemu di kelas XII, sekretaris terbaik sepanjang masa." kata Hendar terkekeh. Renata ikut tertawa pelan. Namun bukan itu ucapan yang diingkannya.


"Teman lo kenapa?" tanya Renata menatap Hendar yang kini menaruh penghapus papan tulis di tempatnya. Lelaki itu tampak menepuk-nepukkan kedua tangannya guna membersihkannya dari debu.


"Teman gue? Siapa?" Hendar berbalik tanya. Tatapannya kemudian tertuju pada sekawanan manusia di pojokan sana.


"Derry? Jaya? Sony?" Hendar menawarkan pilihan. Kemudian tatapannya beralih pada Raffi yang kini berdiri hendak keluar kelas.


"Atau Raffi?" kata Hendar lagi.


Renata mengangguk seraya menatap kepergian Raffi yang melewatinya begitu saja. Lelaki itu berjalan menuju ambang pintu dan terhenti sebentar.


Renata mulai Geer, ia menahan senyumnya karena mungkin Raffi akan berbalik badan dan berdiri di depannya, kemudian mengganggunya seperti biasa.


Namun.. Dugaannya salah besar ketika Ryan dan Tiffany muncul dari balik pintu, berhadapan dengan Raffi. Kaki Renata mendadak lemas tak mampu menahan berat badannya.


"Raf," sapa Tiffany dengan senyum termanisnya. Sedangkan Ryan langsung memasuki kelas mendekati Renata. Melihat itu, Raffi menoleh sebentar dan memicingkan matanya.


"Raf, ih." Tiffany menangkup wajah Raffi agar menatapnya. Raffi memaksakan senyumnya, padahal tujuannya keluar kelas bukan untuk menemui Tiffany, melainkan untuk menghindari Renata yang sebenarnya sangat sulit di lakukan.


Tiffany menarik lengan Raffi dan membawanya keluar. Sedangkan Ryan masih percaya diri mengajak Renata berbincang setelah beberapa hari lalu Renata menolak pernyataan cintanya.


Ya, tentu Renata menolak Ryan. Bukan karena ia menyukai Raffi, atau menjaga perasaan lelaki itu. Namun Renata benar-benar tidak membutuhkan seorang pacar untuk waktu sekarang. Ia harus selalu fokus dan lurus pada tujuannya untuk menjadi mahasiswi di Universitas keinginannya. Apalagi beberapa minggu lagi, ia sudah duduk di bangku kelas XII.


"Udah sarapan?" tanya Ryan membuyarkan lamunan Renata. Gadis itu masih menatap kepergian Raffi dan Tiffany yang bahkan sudah jauh entah kemana.


"Udah, lo mau ngapain?" tanya Renata. Sekarang, ia tidak perlu lagi bersikap manis untuk menjaga perasaan Ryan. Sedikit demi sedikit, Renata tetap menjadi dirinya yang cuek, di hadapan siapapun itu.


Ryan tertawa pelan, ia sangat menyangkan Renata yang menolak pernyataan tulusnya. Jujur saja ini baru pertama kali Ryan di tolak oleh seorang gadis. Dan itu oleh Renata.


Awalnya, Ryan mengira Renata memiliki perasaan kepada Raffi sampai gadis itu tidak mau menjadi kekasihnya, padahal mereka sudah menjalani pendekatan kurang lebih satu bulan. Namun Renata dengan tegas mengatakan bahwa ia tidak menyukai Raffi, tapi gadis itu merasa sepi jika Raffi tidak ada.


"Ren, gue harap kita masih bisa temenan. Jangan larang gue untuk selalu kasih lo perhatian." kata Ryan.


Dari arah belakang, Hendar berteriak mengompori ucapan Ryan, di ikuti tawa ketiga teman absurdnya itu.


"Boong, Ren, Ryan aja di percaya. Musyrik." kata Hendar.


"Percaya mah sama gue, Ren." timpal Derry. Hendar, Jaya dan Sony sontak melempar apapun yang ada di hadapannya ke arah Derry.


"Kampret, upil onta dasar!" rutuk Sony.


Mendengar itu, Ryan tertawa terbahak. Renata sendiri meringis, apa yang lucu? Renata kemudian mengambil buku absen dan pergi meninggalkan kelas untuk menuju ruang guru.


"Berisik lo, pacar gue jadi pergi, kan!" kata Ryan yang langsung mengejar Renata keluar kelas.


"Halu lo, woi!"


***


Renata menutup kembali pintu ruang guru. Setelah mengantarkan buku absen kepada Pak Deden yang masih mengisi raport di sana, Renata berjalan kembali ke kelasnya.


Langkahnya terhenti ketika melihat Ryan yang menunggunya di depan sanggar Drumband. Sanggar itu merupakan tempat penyimpanan alat-alat drumband seperti Drum, mayoret, marching, pianika, bendera dan lainnya.


Renata malas sekali jika harus mengobrol dengan Ryan sepanjang perjalanan menuju kelasnya. Namun mengingat bel akan berbunyi beberapa menit lagi, gadis itu terpaksa melangkahkan kakinya.


Renata berjalan tepat bersamaan dengan keluarnya Raffi dan Tiffany dari sanggar drumband. Renata kembali menghentikan langkahnya, memerhatikan kedua sejoli itu. Rupanya Tiffany memang masih menyayangi Raffi, lihat saja sekarang, tangan gadis itu selalu menggelendoti lengan Raffi. Renata berdesis pelan.


Sepertinya mereka benar-benar balikan. Raffi saja kelihatannya tidak merasa risih selalu di ikuti oleh Tiffany.


"Manja." gumamnya.


Suasana mendadak panas. Renata terus berjalan melewati mereka tanpa pedulikan apapun yang di lewatinya. Termasuk Ryan yang kewalahan mengejarnya.


"Ren! Tunggu!" teriaknya.


Bersamaan dengan itu, bel masuk berbunyi. Sebentar lagi pasti para wali kelas akan memasuki kelas nya untuk membagikan raport.


Renata berbalik badan, menatap Ryan.


"Lo nggak denger bel bunyi?" katanya gemas. Sudut matanya menangkap Raffi yang kini berdiri di belakang Ryan. Sepertinya Tiffany sudah berlalu ke kelasnya yang memang berlawanan arah dengan kelas XI IPA 2.


"Lo kenapa tiba-tiba ngambekan gini?" tanya Ryan heran. Sikap Renata memang galak, namun tidak biasanya gadis itu seperti ini kepadanya.


Renata menghela nafas, mencoba bersabar. "Lo balik ke kelas gih, nanti Pak Ali keburu masuk." kata Renata.


Ryan mengangguk, mengalah. Ia berbalik bada dan langsung menghadapi Raffi disana.


"Gue gagal, untuk kesekian kalinya." gumamnya kepada Raffi, kemudian berlalu.


Renata menatap Raffi yang juga menatapnya datar. Mereka berhadapan dengan jarak yang cukup jauh.


"Sampe kapan lo mau berdiri disana?" kata Renata.


Raffi mendekat. Kini jaraknya cukup dekat bahkan Raffi bisa mendengar deru nafas Renata.


"Lo jangan sia-siain Ryan. Dia sayang banget sama lo," katanya.


Renata mengalihkan pandangannya ke lain arah. Ia merasakan perih tanpa keluarnya tetesan darah. Kenapa Raffi menyuruhnya untuk menerima Ryan?


"Gue nggak ngerti sama lo. Lo jauhin gue." gumam Renata tanpa menatap Raffi.


"Gue salah apa?" katanya dengan bibir gemetar.


Raffi terkekeh. "Gue tahu lo suka sama Ryan, terima dia, Ren."


Setelah mengatakan itu, Raffi berlalu seraya menepuk bahu Renata. Meninggalkan Renata sendirian di koridor sekolah yang sudah sepi. Siswa/i sudah memasuki kelasnya masing-masing.


Kaki Renata kembali lemas. Kenapa hatinya tidak pernah mau mengizinkan kepergian Raffi? Apalagi lelaki itu tidak menjelaskan apapun kepadanya.


"Tuhan tolong,"


Bersambung~


Huhuu kasian banget Renata😭😭 Raffi jahat banget. Padahal kalo suka mah bilang aja ya😂


Semoga suka yaa, jangan lupa di like, komen dan Vote oke!!🥰