Last Taste

Last Taste
BAB 10. Puisi Renata



"Kalau dengan cara ini bisa terus bersamamu, untuk apa aku bersusah meninggalkan?"


- Last Taste -


***


"Ren, balik bareng yuk?"


Renata sedikit terkejut mendapatkan Ryan yang sudah siap bersama motor besar di depannya. Ia kenal Ryan karena lelaki itu salah satu teman Raffi, dan Renata pernah melihatnya.


"Gue sama Firda aja," Renata menolak halus. Di sampingnya memang ada Firda yang sedari tadi menemaninya menunggu di halte bus.


"Ngga apa-apa, Ren, kalo mau sama Ryan. Gue nanti naik bis sendiri," Firda tersenyum mempersilahkan. Gadis itu menyenggol bahu Renata pelan, menggodanya.


"Dih apaan sih,"


"Ayo?" ulang Ryan dengan ajakan.


"Ngga usah, gue sama Firda aja, Yan." Renata tetap di tempatnya, tak bergerak sedikitpun. Kembali menatap jalanan kota yang ramai sore ini. Mungkin sebentar lagi para karyawan kantor akan membludak memenuhi halte.


Ryan terdiam. "Oh yaudah, gue duluan ya?" tanya Ryan memastikan.


Renata membalasnya dengan anggukan. Menatap motor Ryan yang sudah melaju menyatu dengan kendaraan lainnya.


"Kenapa ya dia tumben banget ngajak balik bareng?" tanya Renata heran.


Firda terkekeh, "Suka sama lo, mungkin?" tebaknya. Renata bergidik geli. Tidak mungkin.


"Eh btw si Raffi tumben ngga nungguin lo?" tanya Firda baru menyadari Raffi tidak menunggu Renata pulang. Biasanya setiap jam pelajaran usai, Raffi selalu menunggu Renata di ambang pintu, atau dengan cara mengganggunya seperti biasa.


"Emang biasanya dia nungguin gue?"


"Iyalah parah." Firda mulai sewot.


"Ngga tau, gue ngga mikirin."


Selang beberapa menit, bis muncul di hadapan mereka. Tampak kosong dan pastinya itu membuat Renata senang.


"Yuk!" Renata berjalan terlebih dahulu menaiki bis. Kemudian di ikuti Firda dan lainnya yang tadi sempat menunggu bersama.


***


Malam ini Renata mencoba menjalankan tantangan dari Raffi. Ia mengambil notebook pembeliannya kemarin lusa. Membawanya ke balkon kamar.


Di sana, Renata termenung sejenak. Menatap langit malam yang kini sepi tak bertemankan bintang.


"Huft."


Renata membuka-buka lembaran notebook itu. Ia bingung harus memulai dengan kata apa. Sepertinya, mengerjakan soal kimia lebih mudah daripada menulis satu bait puisi.


**Drtttt Drtttt


Raffi Cebong's Calling**


Ponselnya bergetar menampakkan nama Raffi di sana. Bibir gadis itu tertarik mengukir senyum. Ia segera mengangkatnya.


"Halo," sapa Renata memulai.


"Halo? Lo lagi ngapain?" tanya Raffi di seberang sana.


"Lagi santuy. Ngerjain puisi dari lo. Btw, Lo kenapa telepon?" tanya Renata. Terdengar kekehan Raffi di sana.


"Ya nagih puisi dari lo lah. Besok hari terakhir. Kalo lo belum selesai, lo harus jadi guru les privat gue selama ujian berlangsung."


"Ya nanti lah, cebong. Gue aja sekarang baru mau bikin tapi belum jadi satu kalimat pun. Satu kata juga belum." kesalnya.


Raffi tertawa. "Eh tadi gue balik duluan karena Ayah sama Emak gue mau pergi ke Malang, ngurusin bisnis di sana. Jadi gue harus siap siaga jagain rumah sendiri."


"Berapa lama?" tanya Renata.


"Seminggu. Sampai gue selesai ujian."


Renata mengangguk. "Ade Lo ikut?"


"Kampret!"


"Makanya nanti besok lo ke sini ya. Temenin gue." kata Raffi di sela-sela tawanya.


"Bodo amat."


"Terserah, gue tetep nunggu lo di kelas."


"Ya terserah."


Renata langsung mematikan panggilannya. Bukan Raffi namanya kalau tidak membuatnya kesal.


Gadis itu kembali berkutik dengan pikirannya. Ia sudah melihat langit malam, bulan yang bersinar sendirian, juga sekumpulan burung yang hendak pulang bersamaan. Namun tak juga mendapatkan inspirasi.


"Ah bodo amat! Ngga bisa gue!" kesalnya.


Tok Tok Tok


"Masuk!" Renata berteriak ketika pintu kamarnya diketuk. Kalau bukan Mamanya, itu pasti Ayahnya karena Irfan sedang tidak ada dirumah. Lelaki itu sibuk memilihkan tempat untuk di buat kafe sebagai usahanya.


"Ren," suara itu terdengar.


"Ma? Belum tidur?" tanya Renata. Ia mengambil nampan berisi cokelat panas dan beberapa cemilan, dari tangan Mamanya.


"Belum. Kamu lagi ngapain di sini?" Arini, Mamanya itu duduk di samping Renata.


"Ini, Ma. Belajar nulis puisi, takutnya di ujian bahasa Indonesia nanti ada soal yang harus membuat contoh puisi." balas Renata, masuk akal sih. Ya kan?


"Sebentar lagi kamu kelas XII, kamu mau kuliah di mana, Ren?" tanya wanita paruh baya itu. Meski usianya sudah menginjak kepala empat, namun wajahnya tetap memancarkan seperti anak muda.


"Di UI sih, Ma. Tapi belum tahu juga. Baru rencana aja."


"Siapkan dari sekarang sayang. Ayah selalu nanyain terus. Kamu tahu kan kalo dia selalu nanyain soal nilai-nilai kamu, pendidikan kamu dan lainnya."


"Iya, Ma." Renata tersenyum. Sebenarnya ia merasa tertekan juga. Sejak Renata duduk di bangku SD, Ayahnya yang memilihkan sekolah untuknya. Tentunya sekolah yang terpandang dan berkualitas.


Setiap minggu Ayahnya selalu memeriksa buku-buku pelajaran Renata. Memastika putrinya itu menulis atau tidak. Setiap ujian pun, nilai-nilai nya selalu di perhitungkan. Kalau nilai rata-rata ujian semester genap lebih kecil daripada ujian semester ganjil, maka Renata harus menahan dirinya untuk tidak keluar rumah. Karena memang itulah peraturan dari Ayahnya.


Bahkan sampai saat inipun, saat ia sudah masuk SMA, Ayahnya masih memerhatikan nilai-nilai nya.


"Yaudah, Mama mau tidur. Kamu juga tidur ya, udah malam." Arini mengusap rambut putrinya. Kemudian berlalu pergi.


Renata kembali termenung. Sebenarnya ia bosan sekali dengan peraturan Ayahnya. Namun harus bagaimana lagi?


Gadis itu mengambil cokelat panas di hadapannya, menyesapnya pelan. Malam semakin larut namun ia masih belum mau beranjak dari tempatnya.


Setelahnya, Renata mencoba untuk menulis kembali. Ia tidak mungkin menyerah begitu saja, kan? Walaupun nantinya penilaian Raffi tidak bagus mengenai puisinya, setidaknya ada satu dua baris yang Renata tulis di sana.


*Aku rapuh


Terpenjara dalam kubanganan rasa bosan


Aku rapuh


Tak bisa menata hati dengan kehati-hatian*.


*Setiap rindu adalah kesunyian


Tak mungkin terucap oleh kata


Sebab ia tahu, pemilik rindunya takkan percaya*.


Selesai.


Renata tersenyum membanggakan dirinya. Ia sudah siap bertemu Raffi dan memberikan satu puisinya itu.


Bersambung~


Semoga suka yaa 🥰. jangan lupa Like, Komen dan Vote oke!!