Last Taste

Last Taste
BAB 28. Sayang?



"Ragamu telah mati dalam kalbu. Namun memori bersamamu masih nyata dan hidup meski membisu."


- Last Taste -


***


ย 


VESPA( Vederasi Sebelas IPA 2 )


Grup Chat 1.


ย 


Hendar Haifa : Sedikit informasi, panggilan kepada Raffi dan Renata untuk mewakili kelas kita di acara perpisahan kelas XII nanti besok lusa.


Derry Fatahillah : Raffi sama Renata doang? Gue, Jaya, Sony, Reza, nggak?


Ahmad Reza : Up.


Jaya Andrian : Gue siap jadi penari latar.


Raffi Haidar : Hahaha.


Hendar Haifa : Raf lo mau tampil apaan sama Renata?


Derry Fatahillah : Tari Saman, ya, Raf?


Raffi Haidar : Mata lo.


Shafira Lidya : Puisi aja udah, Renata yang baca, lo yang ngiringin pake gitar.


Hendar Haifa : Ga sekalian nari topeng monyet, Der?


Derry Fatahillah : Nah cocok tuh, bapak KM.


Raffi Haidar : Ya gue juga gitu sih mikirnya.


Hendar Haifa : Apaan, Raf? Mikir mau nari topeng monyet?


Shafira Lidya : Hahaha *****.


Jaya Andrian : Eh ibu bendahara ko kadal sii.


Shafira Lidya : Kadal?


Hendar Haifa : Kasar maksudnya sayang.


Ahmad Reza : Up.


Ahmad Reza : Up.


Ahmad Reza : Up.


Ahmad Reza : Up.


Derry Fatahillah : Berisik, tukang molor.


Hendar Haifa : Raffi si bucin kelas, monitor.


Raffi Haidar : Ya selain puisi apalagi, Dar? Nontonin mereka mewek?


Jaya Andrian : Raf, bukannya lo lagi bahagia ya. Jangan mewek dong ah.


Firda Aulia : Ada apa?


Jaya Andrian : Scroll Fir!!!


Firda Aulia : Males ah


Hendar Haifa : Renata di japri dong, Raf. Ga nongol-nongol.


Raffi Haidar : Ya.


Jaya Andrian : Japri nya jangan berkelanjutan, Raf, nanti Tiffany nguambekkk


Raffi Haidar : Berisik lo, mau gue telen?


Jaya Andrian : Bilangin Tiffany ah, huhuu


Raffi Haidar : Ren?


Renata Alifya : Terserah gue mah ngikut.


Hendar Haifa : Mantap langsung di acc.


Derry Fatahillah : Hahaha kaya apa aja Lo di acc


Jaya Andrian : Raf kemaren gue liat lo ketemuan sama Tiffany di kafe dan duduk di paling pojok. Lo lagi ngapain dah?


Raffi Haidar : Eh berisik lo buaya


Jaya Andrian : Buaya ko teriak buaya


Raffi Haidar : Ren besok gue ke rumah lo, bawain puisi nya.


Renata Alifya left the chat.


Hendar Haifa : Nahkan! ****** lo.


Hendar Haifa added Renata Alifya.


Jaya Andrian : Ren, cemburu ya?


Renata Alifya : Hp gue ke restart.


Raffi Haidar : Besok gue ke rumah lo.


Derry Fatahillah : Rumah siapa, Raf? Rumah gue?


Jaya Andrian : Rumah Firda, Der.


Derry Fatahillah : Oh, lo ikut? Emang mau ngapain?


Firda Aulia : Hah?


Jaya Andrian : Hah?


Shafira Lidya : Siapa yang nggak nyambung sih?


Raffi Haidar : Rumah Renata.


Derry Fatahillah : Oh rumah Renata nggak nyambung? Di lem aja, Ren.


Shafira Lidya : Derry ****


Renata Alifya : Ya.


Raffi Haidar : Ok besok gue otw.


****


Renata baru saja keluar dari kamar mandi. Ia menggosok rambutnya yang masih basah karena baru saja keramas pagi ini.


Gadis itu berjalan menuju cermin besar di kamarnya. Memerhatikan mata sembabnya yang di bawahnya berwarna hitam bergelantungan. Akhir-akhir ini Renata sangat kurang tidur dan sering menangis.


Renata duduk di kursi kecil yang menghadapkannya kepada cermin. Mengeringkan rambutnya menggunakan hair dryer. Pikirannya berjalan-jalan keluar dari zona tenangnya. Gadis itu menghela nafas.


"Raf, kenapa juga lo harus balikan sama Tiffany?" gumamnya.


Sejak makan malam bersama di rumah Raffi kemarin lusa, Renata belum lagi bertemu dengan lelaki itu. Mungkin saat ini Raffi sibuk dengan hubungannya bersama Tiffany, maka wajar saja Raffi tak lagi menghubunginya.


Sementara Ryan, lelaki itu sepertinya sudah menyerah mengejar Renata. Terakhir kali Ryan mendekatinya saat pembagian raport beberapa minggu lalu..


"Liburan gue gini-gini banget, sih." gumamnya lagi. Kini tangannya meraih bedak bayi untuk ia oleskan di permukaan wajahnya. Setidaknya, mata sembab dan kantung matanya tidak terlalu nampak di lihat.


Renata mengambil ponselnya yang berdering dan menampakkan nama Raffi di layarnya. Baru saja ia memikirkan lelaki itu, dan Raffi langsung meneleponnya.


Renata segera men-slide tombol hijau dan panggilan tersambung.


"Lo dimana?" tanya Renata langsung. Terdengar suara kekehan Raffi di seberang sana.


"Didepan Alfamart. Lo mau gue beliin apa?"


Renata terdiam sejenak, Raffi masih saja menawarkan sesuatu kepadanya. Padahal hubungannya akhir-akhir ini sedang kurang baik. Dan Renata masih belum mengetahui penyebabnya.


"Nggak usah, lo langsung kesini aja."


"Ya udah, sip. See you,"


Panggilan terputus. Renata terkekeh sendiri. Ia begitu merindukan tingkah konyol Raffi yang sudah lama tidak Raffi lakukan untuknya.


Setelah menyisir rambutnya, Renata kembali memerhatikan penampilannya di depan cermin. Kemudian melangkahkan kakinya menuju ruang tamu, menunggu kedatangan Raffi yang akan membahas mengenai musikalisasi untuk mereka tampilkan esok hari.


Tok Tok Tok


Suara ketukan pintu utama terdengar bersamaan dengan sampainya Renata di ruang tamu. Ia segera membukanya untuk menyambut lelaki itu.


Wajah Raffi muncul ketika Renata membuka pintu. Lelaki itu menunjukkan jejeran giginya yang putih. Tanpa merasa bersalah tentunya.


"Ayo masuk." kata Renata mempersilahkan. Sebenarnya ia ingin tertawa melihat wajah lucu lelaki itu, namun Renata menahannya.


Raffi duduk di sofa panjang, di samping Renata. Lelaki itu menaruh plastik putih berisi belanjaan di meja ruang tamu.


"Kan gue nggak nitip apa-apa." ujar Renata.


"Buat lo ngemil." balas Raffi terkekeh. Ia mengeluarkan notebook dari dalam tas kecil yang di bawanya.


Lagi-lagi, Renata manahan senyumnya.


"Ren, gue minta maaf." kata Raffi pelan.


"Untuk?"


"Gue salah faham soal hubungan lo sama Ryan. Gue kira kalian bener-bener jadian, tapi ternyata nggak."


Renata mengangguk, kini ia tahu mengapa Raffi menjauhinya.


"Gue cuma nggak mau lo nyaman sama lelaki lain, selain sama gue. Gue tahu gue egois. Maaf." lanjutnya.


Sudut bibir Renata menyunggingkan senyum. Mendengar ucapan Raffi barusan, membuat hatinya tenang seketika.


"Santai aja, gue nggak apa-apa." balas Renata. "btw, lo beneran balikan sama Tiffany?"


Raffi mengangguk tanpa menatap Renata.


"Ya udah, gue seneng dengernya. Tiffany emang masih sayang banget sama lo, lo jangan sia-siain dia."


Raffi mengangkat wajahnya menatap Renata. Gadis di hadapannya memang tidak perna peka terhadap perasaan.


"Ren, sebenarnya gue juga enggan."


"Udahlah, Raf. Lo nggak usah ragu lagi, Tiffany udah sempurna banget buat lo." sangkal Renata. Berbeda dengan semua isi hatinya yang menyuruh Raffi untuk berbalik arah kepadanya.


"Iya iya, terserah lo."


Renata tertawa pelan. "Ya udah ayo mulai. Mana puisi lo?" katanya dengan tangan yang menengadah.


Raffi memberikan notebook berisi puisi itu kepada Renata. Semalaman ia menulis puisi perpisahan yang nantinya akan di bacakan oleh gadis itu.


Renata membacanya dalam hati, puisi Raffi menang tidak bisa di ragukan lagi. Renata memujinya dalam hati.


Drttttt


Ponsel Raffi berdering di atas meja. Keduanya sama-sama menoleh ke sumber suara. Nama Tiffany tertera di sana, Raffi dan Renata saling bertatap dengan perasaan yang tidak bisa di gambarkan.


Raffi mengambilnya, kemudian ia hendak beranjak bangun untuk menerima panggilan itu.


Renata langsung menahan lengan Raffi, "Disini aja, nggak apa-apa." kataya.


Raffi terdiam, kemudian mengangguk. Ia men-slide tombol hijau sehingga suara Tiffany langsung terdengar.


"Sayang, kamu dimana?"


"Lagi nyiapin musikalisasi buat perpisahan besok." balas Raffi.


"Di mana?"


Raffi menatap Renata, gadis itu mengangkat bahunya tanda tak tahu.


"Di rumah Hendar."


Mendengar itu, Renata terkekeh pelan.


"Ya udah, nanti kabarin lagi kalo udah pulang."


"Siap."


Panggilan terputus. Raffi segera menaruh kembali ponselnya di atas meja.


"Sayang?" ulang Renata dengan tawa palsunya. Raffi ikut tertawa, tentunya dengan mata dan hati yang meringis.


Bersambung~


Hai-hai.. ini adalah foto Raffi dan Tiffany yang semalem kepergok sama Jaya di kafe.๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚


Kalian ada di tim #RaffiTiffany atau #RaffiRenata nih?๐Ÿ˜