
Keesokan harinya, Raffi menjemput Renata untuk pergi ke sekolah bersama. Tujuannya sih supaya Renata tidak kesiangan lagi.
Kini Raffi tengah menunggu Renata keluar dari dalam rumahnya. Ia di temani Mama gadis itu, mengobrol di teras depan rumahnya.
"Renata itu sebenarnya bangun pagi, cuma karena orangnya emang suka banget leyeh-leyeh jadi dia sering telat." kata Mamanya membuka suara.
Raffi tersenyum menanggapi.
"Kalo dia kesiangan, pasti gara - gara dia mati - matian belajar soal kimia yang nggak dia faham. Selain itu ya pastinya nonton Drakor." lanjutnya dengan kekehan.
Raffi ikut terkekeh. "Raffi juga heran, Tante, kenapa cewek - cewek tuh suka banget sama Drakor. Mama Raffi aja kadang nonton di TV, dan remotnya di kuasain sama dia," balasnya. Ia jadi teringat Mamanya yang juga suka nonton Drakor, selain sinetron - sinetron Indosiar.
Mama Renata tertawa. Wanita paruh baya itu masih terlihat segar meski usianya udah berkepala empat.
"Lain kali, kenalin Tante sama Mamanya Raffi ya?" pintanya yang membuat senyum Raffi terlihat lebar.
"Siap, Tante. Boleh banget." katanya.
"Ngobrolnya a,sik banget kayaknya," Renata datang dari balik pintu. Ia menenteng sepatunya yang belum sempat di pakai.
Renata kemudian duduk di sofa sebelah untuk memakai sepatunya. Membiarkan Raffi menunggu lama.
"Kamu lama banget, Ren. Ini Raffi udah lumutan nungguinnya," kata Mamanya.
"Biarin aja, Ma. Renata juga nggak minta dia buat ke sini, ko." balas Renata seraya berdiri. Kini gadis itu sudah siap.
Raffi ikut berdiri, "Nggak apa - apa, Tante. Ya udah, Raffi pamit ya, Tante." pamitnya seraya menyalami tangan wanita itu.
Mama Renata mengangguk seraya mengusap kepala Raffi.
"Hati - hati, ya. Jangn ngebut." pesannya.
Raffi mengangguk dengan senyumnya, ia berjalan menuju motornya yang terparkir di halaman rumah Renata.
"Renata pamit, ya, Ma."
"Iya. Kamu jangan galak - galak, Ren. Raffi itu sopan anaknya."
Renata memutarkan bola matanya. Mamanya belum tahu aja kelakuan Raffi terhadap anaknya bagaimana.
"Iya. Ya udah, assalamu'alaikum."
"Waalaikumsalam.."
***
Jalanan kota masih terlihat lengang, Raffi memelankan motornya karena ini masih terlalu pagi. Masih pukul 6.15.
"Lo tadi ngobrolin apa sama nyokap gue?" tanya Renata, gadis itu melihat wajah Raffi dari spion motor.
"Kepo, deh." Raffi terkekeh.
"Iya, terserah lo,"
Oke. Suasana kembali hening sampai mereka tiba di parkiran sekolah yang mulai di padati motor - motor lainnya.
Renata menuruni motor kemudian di susul Raffi setelahnya.
"Volly main ke berapa sekarang?" tanya Raffi menyejajarkan langkahnya dengan Renata.
"Permainan kedua, sekitar pukul 9." balasnya.
"Lawan?"
"XI IPA 5,"
"Serius lo? Yang bener?" Raffi mulai berlebihan. Lelaki itu bahkan berdiri di hadapan Renata, menghalangi gadis itu berjalan.
"Iya, bener. Udah ah, awas! Lo bukannya siap - siap sana, mau main juga." Renata mendorong dada Raffi yang saat itu juga tangannya langsung Raffi cekal.
"Ren, lebih baik lo nggak usah main. Gue aja yang gantiin," katanya menatap Renata serius.
"Kenapa?"
"Ren, ayolah. Nurut sama gue. Gue takut lo kenapa - kenapa, lo tahu sendiri kan anak IPA 5 itu jagonya Volly semua. Mereka pasti punya banyak trik untuk mengalahkan lawannya." jelas Raffi.
"Lo tuh kenapa, sih? Gue cuma mau main Volly, bukan kecelakaan!"
Renata melepas paksa tangannya. Ia berjalan duluan ke pelataran sekolah, meninggalkan Raffi yang masih mematung di sana.
"Kampret emang. Gue cuma khawatir."
***
"Parah sih, gue baru tahu sekarang bakal lawan IPA 5 Senior." kata Hendar menatap beberapa senior basketnya yang sudah kumpul di lapangan. Kemudian tatapannya beralih kepada supporter XII IPA 5 yang begitu banyak karena di bantu oleh adik kelas kesayangannya. Kelas Tiffany.
"Kalem, nggak usah takut. Sama - sama makan nasi," Jaya terkekeh. Ia membenarkan manset yang menutupi tangannya.
Raffi memutarkan bola matanya, supporter dari lawannya hari ini memang bukan main - main semuanya. Pasalnya, kelas senior itu membawa drum yang akan membuat lapangan basket semakin berisik. Dan itu sangat mengganggu fokusnya.
"Coba itu supporter nya aduh! Jangan banyak - banyak dong woi!!" katanya berteriak.
Hendar terkekeh melihat kegelisahan Raffi.
"Tuh liat Renata aja tuh!" katanya memutarkan kepala Raffi kepada kumpulan anak - anak kelasnya.
Raffi langsung tersenyum ketika matanya melihat Renata yang tengah bergurau dengan Firda.
"Kampret emang!" katanya kepada Hendar.
***
Bersamaan dengan selesainya pertandingan bola basket, kini permainan Volly sudah di mulai. Setiap kelas di wakilkan oleh 5 orang, 3 orang perempuan dan 2 orang laki - laki.
Kelas XI IPA 2 di wakilkan oleh Renata, Shafira, Firda, Hendar dan Reza. Ya, meskipun Reza adalah siswa yang suka banget tidur di kelas, tapi lelaki itu mau di ajak bermain demi kelasnya tercinta.
Supporter IX IPA 2 langsung menghampiri lapang Volly, di seberangnya ada supporter XI IPA 5 yang menjadi lawannya saat ini. Tiffany, Echa, Rina, Angga, dan David sudah memasuki lapangan.
Raffi langsung ikut ke barisan supporter, paling depan. Lelaki itu berteriak menyemangati kelasnya, lebih tepatnya sih kepada Renata.
"Woi berisik itu drumnya woi! Bawa balik aja sana!" teriaknya ketika supporter XII dan XI IPA 5 bersatu, membuat lapangan semakin berisik.
"Raf, lo jangan cari gara - gara." kata Winda gemas sekali ingin menarik rambut gondrong lelaki itu.
"Berisik, teteh jago." balas Raffi. Winda memang terkenal dengan panggilan 'Teteh Jago' nya karena selain sangar, gadis itu juga pemberani. Berani bicara maksudnya.
Pertandingan di mulai di awali dari kelas XI IPA 5 yang terlebih dahulu melempar bola volly. Selama 15 menit permainan berjalan dengan lancar. Semua sportif tanpa gangguan. Mungkin hanya supporter nya saja yang semakin rusuh saling membela masing - masing kelasnya.
Di menit ke-20, Renata mulai kewalahan. Sedari permainan dimulai, Tiffany selalu mengincar dirinya untuk menangkap bola berat itu. Renata baru menyadarinya sebab teriakan Firda yang posisinya berada tak jauh darinya.
Hingga..
**Dugh!
Bruk**!
Tubuh Renata jatuh terkena lemparan bola. Gadis itu tak sadarkan diri. Suasana menjadi sangat riuh ketika Raffi langsung memasuki lapang dan menepuk - nepuk pipi gadis itu.
"Woi, tandu.. PMR! PMR!" Teriak Firda terkejut.
"Main yang sportif, dong, aelah!" Raffi mulai emosi. Ia mengangkat tubuh Renata bersamaan dengan datangnya beberapa anggota PMR yang menawarkan jasanya dengan membawa tandu.
"Kelamaan. Nggak usah!" tolaknya kesal.
***
"Bangun. Gue khawatir."
Raffi menatap tubuh Renata yang terbaring di ranjang UKS. Firda tidak bisa menemaninya karena pertandingan kembali di lanjutkan. Renata terpaksa di gantikan oleh Derry yang cukup mengerti permainan Volly.
"Raf?"
Raffi mengubah posisi duduknya menjadi menghadap Renata. Gadis itu tersadar.
"Gue harus lanjutin permainannya." katanya dengan berusaha bangun.
Raffi menahannya pelan. "Lo udah di gantiin sama Derry. Udah lo sekarang istirahat aja." katanya.
"Raf gue cemen banget ya, gitu doang pinsan."
"Ren, bola volly itu berat banget. Bahkan bisa lebih berat dari bola basket. Misalnya gue kena bola itu, gue juga bakal pinsan."
"Gara - gara gue permainan jadi nggak karuan."
"Lo nggak salah. Udah lo istirahat aja, ya? Nurut sama gue. Oke?"
Renata terkekeh, "Apaan sih, lo. So perhatian banget."
"Asli, gue khawatir."
Bersambung~
Raffi sweet bgt siii ah😂😂
Jgn lupa like, komen dan Vote ya!!🥰