Last Taste

Last Taste
BAB 3. Kecebong Mellow



"Tadi gue ngga nemuin lo telat lagi, Lo datang pagi?" tanya Raffi menatap Renata yang tengah meneguk minuman dinginnya.


Sore hari ini setelah mengikuti pelajaran seharian penuh. Raffi dan Renata menunggu kedatangan Bu Yani di kantin. Sekaligus menunggu Tiffany yang masih latihan Drumband. Hari ini mereka akan membahas mengenai lomba debat yang akan di laksanakan pada hari Sabtu depan.


"Iyalah, lo kira gue bakal telat terus?" sewotnya. Raffi menelan ludah.


"Ya biasa aja dong. Lo ngegas terus jadi perempuan juga. Lembut dikit napa," katanya.


"Suka-suka gue, kecebong mellow."


Raffi tertawa keras. Ia mempunyai panggilan baru dari si ratu kimia.


"Ide siapa tuh kecebong mellow?" tanyanya di sela tawa.


"Ya gue lah, cerdas kan gue?"


"Yayaya.." Raffi memeriksa ponselnya yang selalu di banjiri notif dari Instagram.


Tring!


Satu pesan masuk dari Tiffany.


"Raf, aku ngga bisa ikut kumpulan. Ekskul Drumband juga mau ada lomba, maaf ya."


Raffi tersenyum senang. Kalau saja gadis itu ada di hadapannya, ia sudah mengatakan, "Bodo amat, serah lu."


Namun sayang, di depannya kini adalah Renata.


"Kenapa lo senyum-senyum? Kesambet?" Renata mendelik.


"Kesambet kangen lo,"


"Dih. Garing." Renata menahan tawanya.


Raffi mengedarkan pandangannya ke seantero sekolah. Di hadapannya ada lapangan upacara yang kini tengah di pakai latihan oleh ekskul Paskibra.


Sementara di sebelahnya, terdapat lapangan basket dan volly. Dan di sanalah matanya menangkap sosok Ryan, Hendar dan Derry. Ketiga teman karibnya itu tengah latihan basket sore ini.


Raffi juga sudah beberapa hari ini tidak ikut latihan karena harus fokus mengikuti lomba puisi.


"Raf!" Panggil Ryan berteriak. Raffi tersenyum dengan mengangkat tangannya.


"Sini, latihan." Teriak Ryan lagi.


Ryan adalah kapten tim basket di sekolahnya. Ketampanan dan kepopulerannya tidak kalah dengan Raffi. Kalau Raffi terkenal dengan ketampanan dan puisi indahnya, maka Ryan terkenal karena selalu mencetak gol di setiap perlombaan.


Mendengar itu, Raffi melirik ke arah Renata. Gadis itu tengah memainkan ponselnya. Namun pastinya ia mendengar ajakan Ryan tadi.


"Ren,"


Renata berdehem.


"Gue latihan ya?"


Renata mengangkat wajahnya, menatap Raffi. "Ya sana lah. Ngapain izin ke gue?"


Raffi terkekeh. Benar juga sih. Tapi tetap saja ia merasa tidak enak harus meninggalkan Renata sendiri di sini.


"Lo gapapa sendiri?" Raffi memastikan.


"Ya gapapa. Emang gue anak kecil apa? Udaha sana," katanya mendorong tubuh Raffi.


"Nanti pulangnya tungguin gue,"


"Bodo amat gamau."


"Dih gitu,"


"Udah ih sana, nanti gue kasih tau informasinya."


"Yaudah bye,"


Raffi mengacak-acak rambut Renata hingga berantakan lalu berlari menjauh menuju lapang basket.


"DASAR RAFFI KECEBONG!!" Renata murka.


*****


Malam ini langit ramai sekali. Beberapa bintang menghias dan bulan menjadi temannya. Seharusnya penghuni bumi merasa rugi jika melewatkan keindahan seperti ini.


Lelaki itu duduk di sofa. Kopi hitam sudah tersedia di atas meja. Seperti inilah bentuk kenyamanan seorang Raffi. Buku, gitar dan kopi.


"Siluman lagi ngapain ya?" tanyanya tiba-tiba teringat Renata. Lelaki itu merogoh saku celananya untuk mengambil ponsel.


"Alangkah baiknya gue cari inspirasi dulu," katanya terkekeh. Raffi menekan tombol hijau di ponselnya, menelfon Renata.


Di sisi lain, Renata baru saja selesai menyalin Bahasa Inggris. Ponsel di samping meja belajarnya bergetar. Menampilkan beberapa digit nomor tak dikenal.


"Nomor siapa nih,"


Dengan rasa penasarannya, gadis itu men-slide tombol hijau dan panggilan tersambung.


"Halo?" sapanya di sebrang sana.


"Siapa nih?"


"Lo ngga ngesave nomer gue? Parah."


"Siapa sih?" Renata penasaran.


"Raffi ganteng,"


Renata menjauhkan ponselnya, sedikit terkejut. Kenapa lelaki itu menelfonnya malam-malam sepert ini?


Ah iya! Perlu kalian tahu. Meskipun Raffi adalah teman sekelasnya, namun gadis itu tidak pernah berniat untuk menyimpan nomor Raffi. Sekalipun Raffi selalu meramaikan grup kelas, tetap saja minatnya menyimpan nomor Raffi tidak ada.


"Ada perlu apa?" tanyanya to the point.


"Lo jangan geer dulu, gue nelfon lo cuma mau ngasih tau. Besok ulangan susulan kimia." balasnya mengingatkan. Padahal itu adalah alasan terbawah menelfon Renata. Alasan pertamanya? Ya apa lagi kalau bukan untuk mengetahui kabar gadis itu.


"Ih gue tau kali. Gue juga udah belajar." Renata mulai sewot.


Di sebrang sana belum ada suara, namun panggilan masih terus terhubung.


"Yaudah lo tidur sana." Raffi berucap setelah beberapa menit.


"Oke." Renata langsung mematikan panggilannya. Ia menyimpan ponselnya kemudian rebahan di kasur.


Jrenggg


Raffi memetik senar gitar. Ia sudah siap menyanyikan lagu ciptaannya. Masih abal-abal sih, tapi ini cukup untuk mewakilkan perasaannya.


*Jika saja kamu tahu


Hidupku adalah kamu


Ku berjanji takkan ku lepas ikatan ini


Namun ternyata kamu jauh


Meski ragamu di depanku


Bukan untukku.. dirimu


Hanya anganku.. kasihmu


Begitulah kamu


Adalah ilusi dalam mimpiku*


Raffi melantukan lagu itu sambil sesekali melihat liriknya di buku. Ini adalah lagu yang ia buat selama dua minggu. Setiap malam pukul 8, ia sudah santuy dan mencari inspirasi untuk isi lirik lagu ini.


*Tiadanya kamu adalah kesunyian


Hadirnya kamu begitu menyiksa kan


Mungkin takdirmu, bukan untukku...


Bukan untukku.. dirimu..


Hanya anganku.. kasihmu*..


Lagu berjudul Kamu adalah Angan itu selesai di nyanyikan oleh penciptanya. Raffi menatap kosong ke depan. Selalu saja begini. Ia seperti masuk ke dalam dunia lain. Dimana hatinya bimbang menentukan perasaan.


Bersambung~