
Renata baru saja keluar dari kamar mandi, gadis itu menggosok-gosokkan rambutnya yang masih basah karena habis keramas.
Sore ini Renata sudah bersiap untuk menyetujui ajakan Raffi yang akan membawanya ke salah satu rumah makan di kota. Padahal Raffi mengajaknya malam hari nanti, namun karena Renata begitu excited, jadi wajar saja pukul 17.10 gadis itu sudah membersihkan badannya.
Renata duduk di depan meja belajarnya. Sudah lama sekali ia tidak duduk di bangku itu. Sekolah masih lama diliburkan, maka jarang sekali Renata duduk di sana.
Seketika ingatannya tertuju pada Raffi yang beberapa hari lalu mengucapkan kalimat di luar dugaannya. Sebenarnya Renata tidak keberatan, justru ia menanggapi ucapan Raffi terdengar sangat manis di telinganya.
Pacar?
Benarkah lelaki menyebalkan itu menganggapnya seperti kata di atas? Tapi mengapa sejauh Renata mengenal Raffi, lelaki itu jarang sekali berlaku manis seperti perlakuan lelaki yang mencoba pendekatan dengan gadis yang dicintainya.
Renata sendiri bingung. Ia tidak menyukai Raffi namun rasanya berat sekali meninggalkan lelaki konyol itu. Mengingat beberapa minggu ke belakang, Ryan mendekatinya sehingga membuat Raffi salah faham. Renata bahkan berusaha untuk meyakinkan Raffi bahwa ia tidak memiliki hubungan apapun dengan Ryan.
Kalau bukan seperti itu, apakah Renata benar-benar tidak menyukai Raffi? Gadis itu bahkan merasakan cemburu ketika mengetahui bahwa Raffi dan Tiffany kembali merajut kasih.
"Ah! Tiffany!"
Renata langsung teringat gadis itu. Ia belum sempat menanyakan soal hubungan Raffi dan Tiffany saat ini. Namun sepertinya sih, Raffi memutuskan gadis manja itu.
Ah ayolah! Kini Renata tahu Raffi menyukainya. Kalau Raffi tidak menyukainya, lalu untuk apa lelaki itu datang ke sini siang-siang seperti kemarin?
Tapi..
"Argh! Pusing sendiri gue mikirinnya." Renata mulai kesal. Ia cepat-cepat mengeringkan rambutnya menggunakan hairdryer kemudian berganti pakaian.
Menerka-nerka soal hubungan Raffi dan Tiffany membuatnya pusing. Apalagi jika sudah membahas perasaan dirinya terhadap Raffi, gadis itu harus mandi menggunakan bunga tujuh rupa agar bisa menjawab jujur mengenai perasaannya.
Mungkin, malam nanti juga Renata akan bertanya langsung kepada Raffi atas hubungannya dengan Tiffany.
Menebak sesuatu yang belum pasti kebenarannya juga tidak baik, bukan?
***
Raffi menatap penampilannya di depan cermin. Dengan kaos putih polos dibalut kemeja berwarna hitam, juga celana jeans yang melekat di kedua kakinya, membuat lelaki itu terlihat sangat tampan.
Beberapa menit lagi ia akan menjemput Renata menggunakan motornya. Ya! Untuk apa membawa mobil? Toh ia juga tahu Renata pasti tidak akan menggunakan dress seperti gadis-gadis pada umumnya.
Raffi menyemprotkan parfum ke seluruh tubuhnya, kemudian merapikan rambutnya yang kini terbelah ke samping kanan. Sesekali mengganti gaya rambut tidak masalah, kan?
"Gue yakin banget nih, pasti si Bidadari Siluman itu bakal kesemsem lihat rambut baru gue." katanya percaya diri.
Setelah memastikan semuanya, Raffi segera menggait kunci motornya yang berada di balas tempat tidur. Ia harus pamitan kepada Mama dan Papanya untuk keluar sebentar malam ini.
"Rapi bener, mau malam mingguan sama siapa?" Papanya menyapa ketika langkah Raffi hendak menuju pantri untuk meneguk segelas air.
Lelaki itu sedikit nervous karena akan jalan berduaan dengan Renata. Padahal ini bukan kali pertamanya, namun mengapa ia gugup?
"Sama cewek, lah, Pa." balasnya setelah meneguk segelas air. Raffi berjalan ke arah sofa tempat yang kini diduduki Mamanya dan juga Rifal.
"Siapa? Emang kamu punya pacar?" tanya Papanya tak percaya.
Raffi terkekeh.
"Renata, ya?" tebak Mamanya. Raffi langsung tertawa pelan. Memang sih, hanya Mamanya yang tahu kisah cinta Raffi dengan beberapa gadis yang didekatinya, bahkan yang kini telah menjadi mantannya.
"Iya, Ma. Raffi izin keluar, ya?" katanya.
"Kak Raffi mau kemana?" tanya Rifal yang tadi fokus memainkan mobil-mobilan, kini menatap Raffi dengan tangan yang bergelayut di lengannya.
"Mau ke luar. Kamu jangan ikut." balas Raffi. Ia sudah khawatir kalau adiknya itu merengek ingin mengikutinya.
Ah ayolah! Tidak lucu, kan, berkencan dengan gadis tapi membawa adiknya?
Rifal mengerucutkan bibirnya. "Ah bodo! Rifal pengen ikut." Rifal semakin mengeratkan genggaman di tangan Raffi.
"Bawa aja, Raf." kata Papanya, sesekali ia menyesap kopi yang tertera atas di meja.
"Pa, masa Raffi bawa Rifal, sih? Raffi mau pake motor, bukan mobil."
"Ya udah kamu bawa mobil aja. Asal pulangnya jangan sampai jam 10." balas Papanya seraya menaruh kunci mobilnya di meja.
"Bawa aja. Renata juga pasti nggak bakal keberatan."
Ok. Dua lawan satu, ditambah Rifal yang selalu merengek dengan mata yang sudah berair. Raffi mengalah.
"Ya udah, ayo." katanya pasrah. Ia segera mengambil kunci itu kemudian berpamitan kepada orangtuanya.
Rifal langsung jingkrak-jingkrak, "Yes!!" katanya bahagia.
***
Renata menatap Raffi dari jendela mobilnya. Di samping lelaki itu terdapat Rifal yang kini memasang tampang dengan cengiran kuda.
Renata meringis. Bukan, bukan mempermasalahkan kehadiran Rifal di antara dirinya dan juga Raffi. Tapi, karena gigi lelaki kecil itu yang kini di penuhi oleh cokelat.
"Ren? Sor-" ucapan Raffi menggantung ketika melihat penampilan Renata dihadapannya.
Bagaimana tidak, Renata kini memakai dress selutut berwarna putih dengan beberapa hiasan di bawahnya. Rambut cokelat gadis itu tergerai dengan bagian bawahnya yang bergelombang. Benar-benar diluar dugaannya.
Ya, Tuhan. Cantiknya.
Raffi bahkan tidak berkedip melihat gadis itu. Benarkah itu Renata? Atau itu adalah kembarannya Renata yang terlihat feminim? Atau kakak perempuannya yang terlihat mirip? Atau...
"Woi!"
Raffi langsung tersadar. Ia benar-benar terkejut dengan sentakan gadis dihadapannya yang ternyata adalah sosok Renata yang asli.
"Biasa aja dong, nggak usah ngegas. Gue jadi enggan kan, buat muji lo." Raffi mendelik sebal.
Renata nyengir dengan wajah tak berdosanya. "Rifal ikut?" tanyanya.
Raffi mengangguk. "Dek, kamu pindah duduknya di belakang. Kak Renata yang duduk di depan." katanya kepada Rifal.
Rifal, lelaki kecil yang tampannya diwarisi ketampanan dari kakaknya itu langsung mengangguk menurut. Ia segera pindah klke kursi belakang. Memersilahkan Renata untuk masuk ke dalam mobil.
"Masuk, Ren." kata Raffi seraya membukakan pintu mobil dari dalam.
Renata mengangguk. Setelah duduk di samping lelaki itu, Renata mulai terdiam. Mendadak canggung.
"Sori, gue bawa Rifal. Dia pengen ikut, kalo nggak diajak, nanti mewek, gue juga yang dimarahin." jelas Raffi berdrama.
"Iya nggak masalah, Raf." balas Renata dengan tatapan lurus ke arah Raffi.
Ah ayolah! Wajah tampan Raffi sangat sayang sekali jika tidak ia pandangi saat ini. Lelaki itu sungguh tampan dengan tampilan rambut barunya.
"Kenapa? Lo kagum ya sama kegantengan gue?" Raffi terkekeh.
Renata langsung berdecih. Gadis itu segera memalingkan wajahnya dari Raffi, kini pandangannya tertuju pada jalanan komplek yang sepi.
Raffi tertawa melihat ekspresi Renata yang malu-malu, "Gue belum pamit ke Mama lo, dia udah tahu, kan, lo lagi pergi sama gue?" tanya Raffi.
Renata mengangguk mengiyakan.
"Ya udah, kita jalan, ya?"
Renata mengangguk lagi.
"Kak Renata, cantik banget, deh." celetuk Rifal yang langsung mendapatkan tatapan Raffi dari kaca spion.
Renata menoleh ke belakang, tersenyum menatap bocah kecil itu, kemudian kembali menatap Raffi.
"Anak kecil aja tahu mana yang cantik, masa anak segede lo nggak tahu juga?"
Bersambung~
Jiaaah Renata mengkode Raffi biar dipuji cantik😂😂
Jangan lupa dilike, komen dan vote ya!🥰 semoga sukaa 🖤