
Pagi ini ketika sekolah diliburkan, Ryan bersiap-siap hendak mengunjungi rumah seseorang. Lelaki itu bersiul saat keluar dari kamar mandi. Ia tampak semangat 45 untuk mendekati seorang gadis yang berhasil membuatnya tidak bisa tidur belakangan ini.
Ryan menggosokkan rambutnya yang masih basah, kemudian membuka lemari pakaiannya untuk mengambil baju yang akan ia kenakan hari ini.
Setelah selesai, Ryan menelepon nomor seseorang di ponselnya. Senyumnya mengembang ketika nomor itu aktif dan panggilan langsung terhubung.
"Halo?" sapa seorang gadis di seberang sana.
"Renata?" panggil Ryan.
"Ya? Ada apa?" tanya Renata, seperti biasa dengan kecuekannya.
"Gue mau ke rumah lo, sekarang." balas Ryan memberitahu tujuannya.
Terjadi keheningan sejenak, gadis itu tidak langsung merespon seperti mengangkat panggilan Ryan tadi.
"Ko lo diem?" kata Ryan lagi.
"Lo tahu rumah gue?" tanya Renata akhirnya membuka suara.
"Tahu, Firda ngasih alamatnya ke gue."
"Kapan?"
"Semalem gue minta. Jadi boleh nggak, nih?" Ryan terkekeh. Sebenarnya ia malas menjelaskan untuk menjawab pertanyaan Renata yang berturut-turut.
Tapi tidak apa-apa, namanya juga usaha. Ya, kan?
"Lo mau ngapain ke rumah gue?" tanya Renata lagi.
"Ngajak lo jalan, mau?" tawar Ryan.
"Sebenernya gue lagi sibuk. Tapi meskipun gue tolak kedatangan lo, gue yakin lo tetep kesini,"
Ryan tertawa pelan. Semangatnya semakin membara ketika gadis itu mengizinkannya.
"Ya udah, gue otw ya?"
Renata berdehem sebagai jawaban. Kemudian memutuskan panggilan teleponnya.
Ryan kembali bersiap-siap, dengan kaos putih dan jaket hitam di padu celana jeans, lelaki itu tampak percaya diri keluar dari kamarnya untuk menuju rumah Renata.
***
Renata melemparkan novel yang baru di bacanya tadi ke atas kasur. Rasanya ia ingin seharian di rumah untuk hari ini. Bergulat dengan novel-novel atau memecahkan soal kimia yang sangat sulit, itu lebih bermanfaat dala mengisi hari liburnya.
Namun, Ryan dengan keberaniannya akan mengunjungi rumahnya dan mengajaknya jalan. Rupanya lelaki itu masih berusaha mengambil hatinya.
Renata bangun dari kasurnya, ia mencoba menghargai usaha Ryan tanpa berfikir bahwa yang di lakukannya sekarang, itu sangat berdampak besar bagi Ryan. Lelaki itu akan merasa bahwa Renata merespon dirinya dan mau menjalani pendekatan dengannya.
Maklum saja, Renata tumbuh dengan sangat cerdas dan tidak di kelilingi oleh cinta-cintaan seperti itu. Yang Renata tahu mengenai tentang cinta, adalah ketika Mama dan Ayahnya memberikan semua perhatian untuknya.
Setelah berganti baju, Renata merapikan rambutnya dan di biarkan tergerai. Ia mengoleskan bedak di wajahnya dengan tipis-tipis, kemudian menghias bibirnya dengan sedikit liptint.
Tok Tok Tok
Pintu kamarnya diketuk dari luar. Itu pasti Bi Sumi, asisten rumah tangganya yang akan memberitahu kedatangan Ryan di depan.
Renata membuka pintu, dan benar saja dugaannya. Wanita paruh baya dengan daster dan celemek di bahunya, menatapnya tersenyum sopan.
"Ada temennya, Neng, di luar." katanya.
Renata mengangguk dengan senyuman tipisnya, "Iya, Bi. Makasih." balasnya.
Renata mengambil tas selempangnya kemudian berjalan ke luar.
"Ryan, lo nggak hubungin gue dulu kalo lo udah nyam-"
Renata menggantungkan ucapannya. Ia benar-benar terkejut melihat Raffi yang sudah duduk manis di sofa ruang tamunya. Lelaki itu tampan sekali dengan rambut barunya, terlihat lebih segar dari sebelumnya.
Raffi mengeryitkan alisnya, "Ryan?" ulangnya.
Renata mencoba bersikap seperti biasa. Ia duduk berhadapan dengan Raffi, mencari alasan untuk membenahi ucapannya tadi.
"Ryan mau kesini?" tanya Raffi.
"Lo nggak bilang gue dulu mau kesini?" Renata berbalik tanya.
"Tadi gue abis nganterin nyokap arisan, dan kebetulan lewat jalan ini, jadi gue langsung mampir." jelas Raffi seraya memerhatikan penampilan Renata yang sudah rapi.
"Lo udah janjian sama Ryan?" tanyanya.
Renata terdiam lama. Entahlah rasanya ia tidak mau membuat Raffi kecewa. Padahal, kenapa juga Renata harus merasakan demikian? Biasanya juga gadis itu ceplas-ceplos saja didepan Raffi.
"Ko lo diem?" Raffi membuyarkan lamunannya.
"Gue mau keluar," balas Renata pelan.
Belum sempat Renata menjawab pertanyaannya, Ryan datang memasuki rumah setelah sebelumnya mengetuk pintu. Kedatangan Ryan sudah menjadi jawaban untuk pertanyaan Raffi.
Sama seperti Renata, Ryan terkejut melihat Raffi yang sudah berada disana. Namun ia juga senang melihat penampilan Renata yang sungguh cantik.
"Lo mau jalan sama Renata?" tanya Raffi.
Ryan mengangguk mantap. "Iya, lo ngapain disini?" tanyanya.
Ryan memang sudah tahu mengenai kedekatan Raffi dan Renata yang semakin hari mereka semakin lengket. Namun ketika Ryan bertanya kepada Raffi mengenai hubungan mereka, Raffi menjawabnya hanya teman seperti biasa.
Jadi Ryan tidak salah mengajak Renata jalan, kan? Untuk apa Ryan merasa bersalah?
"Lo bukan pacar Renata, kan?" Ryan memastikan.
Raffi langsung cengo mendengar pertanyaan itu. Ia kesulitan menelan ludahnya sendiri. Raffi menatap Renata yang juga menatapnya.
"Lo juga bukan pacarnya Renata, kan?" Raffi berbalik tanya.
"Emang bukan, cuma belum jadian aja." balas Ryan seraya duduk tepat di samping Renata.
Raffi menatap Renata intens, menahan kecewanya. "Ren, gue balik." katanya kemudian.
Renata sontak berdiri dari duduknya, seakan menahan Raffi yang sudah beranjak bangun.
"Mmm, Ryan, gimana kalo kita nggak usah keluar? Disini aja." usul Renata.
"Nggak usah, kalian jalan aja. Gue balik."
Raffi melangkahkan kakinya keluar dari rumah Renata. Membiarkan mereka berdua menjalankan kedekatannya, tanpa peduli dengan perasaannya sendiri.
Renata tak tinggal diam, ia mengejar lelaki itu sampai teras rumahnya.
"Raf." panggilnya terlambat.
Lelaki itu sudah bersiap-siap menyalakan gas motornya. Kemudian melajukan motor itu tanpa pamit kepada snag empunya rumah.
"Gue nggak salah, kan?" tanya Ryan yang sudah berdiri di belakang Renata.
"Gue pernah tanya ke Raffi, soal hubungan kalian. Dia jawab kalian cuma temen biasa. Apalagi dia jawabnya asal, sambil liatin Tiffany mainin mayoretnya." jelas Ryan.
Renata terdiam. Memang benar mereka tidak ada hubungan apa-apa. Namun bukan berarti perasaannya lancar-lancar saja, kan?
"Kenapa lo diem? Lo suka sama Raffi?"
"Ya enggaklah!" sentak Renata langsung. Mana mungkin Renata menyukai lelaki yang selalu membuatnya kesal?
Oh ayolah! Apa yang Renata rasakan tadi, itu hanya karena ia merasa tidak enak kepada Raffi. Bukan berarti Renata suka kepada lelaki itu. Come on, Renata!
Ryan terkekeh. Ia benar-benar senang mendengar jawaban gadis di hadapannya.
"Jadi, lo mau jalan sama gue?" ulang Ryan. Renata mengangguk dengan ragunya.
"Yes!"
***
Kini, Ryan dan Renata tengah berada di mall kota. Mereka memutuskan untuk menonton film horor yang sedang booming belakangan ini.
"Gue suka banget sama cewek yang pemberani, yang kalo di ajak nonton horor, dia nggak bakal nolak." kata Ryan terkekeh.
Renata ikut tertawa pelan. Setelah mengantre untuk membeli tiket, mereka berdua berjalan menuju audio bioskop yang tak jauh dari tempat antrean tadi.
Renata membawa satu popcorn sedangkan Ryan yang memegang minumannya. Mereka tampak serasi padahal hanya sekadar teman.
Ryan dan Renata duduk di kursi paling atas, sesuai dengan nomor yang tertera di tiketnya. Penonton sudah ramai dan lampu sudah di matikan.
Seiring berjalannya film, Ryan dan Renata tidak mengucapkan apapun. Mereka fokus menatap ke layar, sesekali Renata yang mencomot popcorn yang di pegang nya. Begitupun dengan Ryan.
"Ren," panggilnya.
Renata berdehem, tanpa menatap ke arah Ryan.
"Gue suka sama lo." bisiknya membuat bulu kuduk Renata berdiri. Merinding. Renata sudah tegang menonton film di depannya yang terkadang memunculkan hantu dengan wajah rusaknya, dan sekarang? Gadis itu merinding mendengar ucapan Ryan.
"Lo serius?" tanya Renata.
Ryan mengangguk mantap. Tangannya memainkan helaian rambut Renata yang berjatuhan.
"Gue suka sama lo,"
Bersambung~
Waduh Renata nya di tembak duluan sama Ryan😩😩 kira-kira Renata bakal Nerima ga ya? Kalo nerima, terus gimana sama Raffi?😩
Semoga suka yaa, jgn lupa like, komen dan Vote ok!!🥰