
Pagi ini Raffi, Renata dan Tiffany sudah berada di tempat lokasi Debat. Tepatnya berada di SMAN Jiwa Bangsa. Mereka bertiga di dampingi Bu Yani selaku guru bahasa Indonesia sekaligus bertugas sebagai Juri.
"Lo nervous ya?" Ledek Raffi yang melihat ekspresi Renata sedikit tegang.
"Ngga. Lo kali yang nervous." Balasnya.
Raffi tertawa pelan. Ia duduk di antara Renata dan Tiffany. Namun rasanya seperti beda. Padahal, duduk berada diantara perempuan sudah menjadi makanan sehari-harinya. Namun kali ini beda, kedua perempuan itu bukan yang biasa di hatinya.
"Raf." Panggil Tiffany.
Raffi menoleh seraya mengangkat sebelah alisnya seolah bertanya.
"Rambut kamu makin gondrong tau ga. Nanti ke salon ya pulang dari sini." Tiffany membujuk. Sesekali Ia memainkan rambut lelaki itu yang setiap hari semakin gondrong.
"Gue nyaman kaya gini. Lo gausah repot-repot kali." Balasnya.
"Tapi aku sedikit risih liatnya. Kamu lebih cakep kaya waktu itu,"
Raffi terkekeh. "Kalo risih ya jangan di liatin dong." Katanya.
Renata yang sedaritadi mendengar obrolan itu hanya memasang ekspresi datar. Sebenarnya Ia geli juga dan merasa tak nyaman duduk disini.
"Tapi, Raf. Kenapa kamu makin kesini makin ganteng?"
"Takdir Tuhan." Balas Raffi lagi. Lelaki menoleh ke arah Renata seolah membanggakan dirinya.
"Apaan sih lo." Renata mendelik sebal.
Raffi tertawa.
"Nanti kalian ngga usah tegang ya. Anggap aja kalian lagi ngobrol tapi bahasannya serius."
"Siap, Bu." balas mereka serempak.
Bu Yani tersenyum. "Materi nya udah di fahami, kan?" tanyanya.
"Udah, Bu." Raffi mewakilkan, "Udah di jelasin juga peraturannya." lanjutnya.
"Ya udah, bagus. Ibu selalu doain yang terbaik buat kalian. Jangan mikirin hasil dulu ya, yang penting usaha dulu oke?" katanya menyemangati.
Raffi, Renata dan Tiffany mengangguk dengan senyuman. Mereka menatap Bu Yani yang kini berjalan menuju meja juri bersana juri-juri dari sekolah lainnya.
"Semangat woii kita tampil ke 5." Raffi menyemangati.
Renata mengangguk sambil menatap secarik kertas di tangannya.
Peran Media Sosial terhadap Manusia.
Hingga tiba akhirnya nama sekolah mereka terpanggil. Ketiga peserta itu duduk di bangku yang di sediakan, begitupun lawan debatnya. Mereka berhadapan dan memasang tampang yang menyebalkan.
Sang Juri membacakan peraturan debat yang harus dilakukan oleh peserta. Dan mereka ternyata mendapatkan Pro sedangkan lawan mendapatkan Kontra.
***
Setelah lomba debat terlaksana, Raffi dan Renata mengistirahatkan tubuhnya yang lelah. Duduk bersantai didepan kantin sekolah, menunggu Bu Yani yang masih bertugas disana. Sedangkan Tiffany ia sedang pamit ke toilet. Tadinya sih minta anter Raffi, tapi ya mana mungkin?
"Gue rasa lawan kita yang tadi bagus banget. Mereka kaya ga grogi dan gue liat mereka gapernah masang wajah skakmat. Padahal gue udah mencoba bertanya dengan pertanyaan yang mematikan."
Renata berucap sambil membayangkan ketika debat itu berlangsung.
"Emang bagus sih. Tapi gue yakin banget sebenarnya mereka skakmat, cuma mereka menyembunyikannya karena itu bakal ada nilai plusnya. Ngerti lo?" Balas Raffi.
Renata mendelik sebal. Ia meninju bahu lelaki itu hingga Raffi meringis.
"Lo gaada perubahannya banget ya, Bidadari Siluman. Lembut dikit napa jadi cewek." Kesalnya sambil mengusap-ngusap bahunya.
"Rambut noh urusin." Lanjut Renata seraya mengacak-acak rambut Raffi hingga berantakan.
Raffi membalasnya dengan mengacak rambut gadis itu hingga mereka tertawa bersama.
"Nyebelin lo!" kata Renata di sela-sela tawanya.
"Lo yang duluan. Jadi lo yang nyebelin."
"Perempuan ga pernah salah! Inget itu!"
"Kecuali lo. Lo selalu salah."
"Dasar lo cebong mellow!!" Renata kembali meninju bahu Raffi sekeras mungkin.
Bugh Bugh Bugh
"Ehh iya sorry!! Duh! Ampun, Ren, ampun! Gila lo gue bisa mati di giniin."
Renata tertawa keras.
"Jahat lo. Emang dasar siluman." Gumamnya.
"Ngomong apa lo?"
"Ga." Ketus Raffi sambil sesekali mengusap bahunya dan merapikan rambutnya kembali.
"Raf," panggil Tiffany yang baru saja datang. Gadis itu duduk di samping Raffi dan sontak saja merapikan rambut lelaki itu yang berantakan.
Renata terdiam. Mustahil ia tidak melihat pemandangan di depannya bukan?
"Jangan gitu dong, Ren. Kasian nih calon misua aku," Tiffany terkikik seraya terus merapikan rambut Raffi.
"Thanks." Balas Raffi setelahnya.
Renata hanya terdiam dan entah harus menanggapinya seperti apa.
Selang beberapa menit, Bu Yani datang dan menyuruh mereka untuk makan terlebih dahulu sebelum menunggu pengumuman siapa yang masuk final.
***
Malam harinya, setelah membersihkan badan dan berganti baju, Renata langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur. Seharian ini ia begitu lelah.
SMAN Poesara berhasil memenangkan lomba debat tadi dan membawa satu piala besar yang akan di umumkan hari Senin lusa setelah upacara bendera. Sedangkan Raffi, Renata dan Tiffany mendapatkan medali dan piagam sebagai penghargaan sebagai peserta lomba.
Fikirannya kembali teringat kejadian saat lomba tadi. Ketika ia melihat bagaimana cara Tiffany memperlakukan seorang Raffi. Memang lembut, halus, tidak seperti dirinya.
"Ngapain sih gue mikirin mereka? Biarin aja lah kalo seandainya mereka balikan juga. Ada masalah apa sama gue?"
***
Seorang anak lelaki masuk ke dalam kamar Raffi dan duduk diatas punggung lelaki itu yang tengah rebahan di kasurnya.
"Iya. Cape banget. Kamu belum tidur aja?" Tanya Raffi heran.
"Rifal ga bisa tidur. Rifal tidur disini aja sama bang Raffi ya." Ucap Rifal dengan logat manjanya. Ia memeluk Raffi dari belakang.
Raffi terkekeh. Ia merubah posisinya menjadi duduk dan memangku adik kecilnya itu.
"Mama sama Ayah tau ga kamu kabur dari kamar?" Kekehnya.
Rifal menggeleng dengan cengiran. Raffi ikut tertawa pelan.
"Fal, selfie yuk sama Abang." Ajak Raffi seraya mengeluarkan ponselnya.
"Nanti kirim ke Kak Tiffany ya." balasnya.
"Nggak lah, buat apa?"
"Ihh kirim dong kan Rifal kangen sama Kak Tiffany." Rifal mengerucutkan bibir mungilnya
"Kak Tiffany udah tidur. Jadi dia ga bisa liat fotonya."
"Kan besok bisa."
"Nih bocah ngejawab mulu etdah." Raffi mengutuk dalam hatinya.
"Yaudah sekarang foto dulu. Yokk gayaa coii,"
Ckrak
1 foto dengan hasil sempurna.
"Rifal tidur gih. Nanti sholat subuhnya kesiangan, besok juga kan sekolah." Ucap Raffi setelahnya.
"Besok hari minggu, Bang." Ralat Rifal. Raffi tersenyum miris.
"Oh minggu ya?" Katanya bertanya linglung.
"Yaudah kan hari minggu bukan alasan untuk bangun siang. Ya ga?" Raffi menggoda.
"Abang juga sering bangun siang. Sampe Mama ga sanggup lagi banguninnya."
Skakmat.
"Yaelah nih bocah tau aja aib abangnya sendiri."
"Iya..kan itu dulu. Besok gaakan kesiangan ko." Balas Raffi bersabar.
"Awas aja kalo boong. Abang harus beliin Rifal eskrim."
"Siaaap. Yaudah tidur gih."
Rifal mengangguk datar. Ia mulai berbaring di kasur abangnya itu.
"Jangan lupa baca doa." Lanjut Raffi.
Rifal menuruti. Ia menengadahkan tangannya seraya memejamkan mata.
"Aamiin."
"Tadi doa apa?" Tanya Raffi terkekeh.
"Doa mau tidur lah." Rifal sewot.
"Jangan lupa kirim fotonya ke Kak Tiffany. Bilangin kalo Rifal kangen." Rifal tertawa pelan.
"Bawel. Anak siapa sih kamu?" Raffi memainkan pipi gembul adiknya dengan gemas.
"Anak mama papa kita." Rifal tertawa diikuti Raffi setelahnya.
***
Melihat Rifal tertidur dengan pulas, Raffi melangkahkan kakinya menuju balkon kamar. Membawa ponsel dan gitar untuk memainkannya disana.
Setelah sampai, Raffi duduk di atas sofa panjang. Menatap jutaan bintang menghiasi langit. Memberi kesan indah bagi siapa saja yang melihatnya.
Ia melihat hasil fotonya bersama Rifal. Dengan iseng Raffi mengirimkannya pada Renata kemudian mulai memetik senar gitar dan bernyanyi pelan.
Jreng...
Semua yang berlalu
Tlah menjadi kenangan
Dan tak mungkin ku lupakan
Karena ku tak sejalan..
Di tempat yang berbeda, ponsel Renata bergetar di atas kasurnya. Gadis itu melihat notifikasi pesan yang masuk dari Raffi.
**1 message
From : Raffi Cebong**
Selamat malam, kakak. Have a nice dream. Hahaha😋
Renata terkekeh membaca pesan itu sekaligus melihat fotonya. Sepertinya itu adik Raffi, duganya.
Jemari Renata mengetik di atas keyboard nya, membalas pesan Raffi.
**To : Raffi Cebong
Ya. haahah😁**
Send-
Bersambung~