Last Taste

Last Taste
Bab 30. Musikalisasi Puisi



Brak!


Raffi mendobrak pintu kayu yang sudah merapuh di hadapannya. Renata yang sudah tidak berdaya terjatuh ke lantai dengan kursi yang menimpa tubuhnya. Air mata gadis itu kering dan berganti membisu dalam hatinya.


"Renata!"


Raffi berteriak seraya berlari menuju Renata, ia segera membuka ikatan di kaki dan tangan gadis itu.


"Ren, bangun!" katanya seraya menepuk-nepuk pipi Renata yang tak sadarkan diri.


Tidak menunggu waktu lama, Raffi segera membopong Renata untuk ia bawa menuju UKS. Tidak peduli seberapa berat tubuh gadis itu.


***


Oliv mendekatkan minyak kayu putih ke hidung Renata agar gadis itu terbangun. Beruntungnya, ada Oliv sebagai anggota PMR yang bersedia datang ke sekolah meskipun sebenarnya tidak di haruskan masuk.


"Bangun belum, Liv?" tanya Raffi seraya memunculkan kepalanya ke balik tirai UKS. Ia tidak di izinkan masuk terlebih dahulu karena ruangan ini cukup sempit, dan akan berpengaruh pada pernafasan pasien yang sakit.


"Belum, Kak." balas Oliv.


Raffi menghela nafasnya. Ia menatap halaman sekolah yang ramai. Derry dan Shafira tengah berbicara untuk menghibur kakak kelas di atas panggung sana. Seharusnya, kini Raffi dan Renata yang tengah melantunkan puisi dengan syahdu. Membawa siapapun yang mendengarnya, ikut masuk dan terlena lewat bait-bait puisinya.


Namun karena ulah Tiffany dan kedua temannya itu, semuanya gagal. Raffi benar-benar tidak menyangka gadis sepolos Tiffany ternyata bisa melakukan hal di luar dugaannya.


Raffi sengaja menahan diri untuk tidak menemui Tiffany saat ini juga. Mengingat emosinya belum stabil dan juga kekhawatirannya terhadap Renata lebih besar dari yang lain.


"Kak Renata sudah sadar, Kak. Kak Raffi boleh masuk ke dalam."


Oliv keluar dari ruang UKS, gadis itu kemudian duduk di bangku kecil untuk memakai kembali sepatunya.


Raffi mengangguk dengan senyumnya. "Makasih, Liv." katanya yang langsung dibalas senyuman manis dari Oliv.


Sepeninggal Oliv, Raffi memasuki ruang UKS setelah sebelumnya ia membuka sepatu. Di sana, Renata masih terbaring dengan pergelangan tangan yang sedikit lecet namun sudah di lapisi kasa steril.


"Ren." panggilnya.


Renata menatap Raffi yang berjalan ke arahnya. Gadis itu memegang keningnya dengan helaan nafas yang belum teratur.


"Gue nggak nyangka mantan lo sebiadab itu." gumamnya.


Raffi mengangguk, menyetujui. Ia bahkan menyesal telah menerima Tiffany kembali dalam hidupnya.


"Dia ngebekap gue cuma karena dia pengen gantiin posisi gue buat baca puisi bareng lo." kata Renata lagi. Rasa kesalnya semakin bermunculan mengingat perlakuan Tiffany dan kedua temannya beberapa jam lalu.


"Gue minta maaf," Raffi duduk di sofa kecil dengan punggung tegap menghadap Renata.


"Gue yang seharusnya minta maaf, kalo gue lebih hati-hati, mungkin sekarang kita lagi tampil." balas Renata seraya mencoba bersender ke punggung ranjang.


Raffi langsung membantunya, membenarkan letak bantal untuk menahan punggung gadis itu. Kemudian ia duduk di tepian kasur, menatap Renata.


Gadis di hadapannya begitu pucat dengan bibir yang abu-abu. Ia tahu pasti Renata sedikit trauma meskipun kelihatannya mencoba tetap biasa saja.


"Nanti gue bicarain ini sama Tiffany. Gue juga nggak habis pikir sama tingkah dia. Kalau Rayna nggak keceplosan ngasih tau keberadaan lo, gue mana tahu lo ada di gudang." jelasnya.


Renata terkekeh. Ia menatap wajah kusut Raffi yang sudah lama tidak ia lihat dengan jarak sedekat ini. Lelaki itu tetap terlihat tampan meskipun dengan rambut yang sudah tidak beraturan.


Raffi ikut tertawa pelan, ia mengacak gemas rambut gadis dihadapannya.


"Terus musikalisasi nya gimana?" tanya Renata.


"Di undur, nanti pas acara penutupan. Tapi kalo lo masih lemes, ya udah nggak usah di adain, ya?" Raffi meminta persetujuan.


"Apaan sih, gue udah baikan." Renata memperlihatkan otot di tangannya yang langsung Raffi balas dengan kekehan.


"Iya terserah lo aja," katanya.


Raffi menatap Renata yang sedari tadi mencoba memejamkan mata. Rupanya gadis itu mengantuk.


"Lo tidur dulu, nanti gue bangunin jam 1." Raffi membenarkan posisi Renata untuk berbaring, kemudian menyelimutinya sampai perut.


"Iya, gue tidur sebentar, ngantuk banget."


Raffi mengangguk. Renata sudah memejamkan mata dan hidup di bawah alam sadarnya. Tanpa gadis itu tahu bahwa Raffi bisa leluasa memerhatikan wajahnya sampai ia terbangun.


***


Ia mencari Raffi. Tidak mungkin, kan, Raffi hanya tampil sendirian? Sebenarnya mungkin saja, sih. Tapi kalau tanpa Renata, rasanya seperti ada yang kurang. Benar?


"Ren, yaampun!"


Raffi tiba-tiba datang dengan gitar yang ia tenteng di tangan kanannya. Beruntunglah ia datang ketika Renata masih tak jauh dari ruang UKS.


Tadi beberapa menit yang lalu, Raffi mengambil gitar di ruang kesenian, sekaligus mengambil notebook di kelasnya. Raffi berjaga-jaga, siapa tahu Renata lupa dari baris demi baris puisi yang akan di bacakannya.


"Ren mending di cancel aja deh, ya?" kata Raffi ketika ia cukup kesulitan membawa Renata menuju UKS. Lelaki itu harus menunda gitar dan notebook nya terlebih dahulu.


"Nggak, Raf. Gue bisa." Renata keukeuh. Gadis itu menahan lengan Raffi yang hendak membawanya kembali ke UKS.


"Ayo, gue masih hafal puisi lo." katanya.


Raffi terdiam sejenak, "Lo serius mau lanjutin?" tanyanya.


Renata mengangguk mantap. Gadis itu berdiri setegak mungkin kemudian memperlihatkan jejeran giginya yang putih.


Raffi terkekeh geli. " Ya udah, ayo ke lapang." katanya seraya mengambil gitar dan notebook yang sempat ia simpan sembarang.


***


Raffi memetik senar gitar dengan tatapan lurus ke depan. Menatap kakak-kakak kelasnya yang sebentar lagi akan bergelar sebagai Alumni SMAN Poesara.


Biasanya ketika Raffi berada di atas panggung seperti ini, mereka tidak segan-segan meneriaki namanya untuk memberi semangat. Namun kali ini, karena suasananya cukup mellow karena perpisahan, mereka memilih diam dan memerhatikan Raffi dan Renata di atas sana.


Sedangkan Renata mengikuti alunan petikan gitar dari Raffi, menunggu beberapa detik sebelum akhirnya ia membacakan satu baris puisi hingga sampai selesai.


"Perpisahan bagiku menyakitkan


Ia datang tanpa peringatan


Pun, bukan berarti itu kepedihan


Perpisahan adalah persiapan


Teruntuk aku dan kalian


Mereka, sang masa depan telah menanti


Hasil kerja keras kita detik ini


Lawan menjadi kawan


Atau kawan menjadi lawan


Semua akan di rasa


Namun, tetaplah berbaik sangka."


Suara riuh tepuk tangan terdengar ketika Raffi dan Renata selesai membawakan puisi itu dengan baik. Mereka mengucapkan terimakasih seraya menundukkan kepalanya sebagai rasa sopan, kemudian kembali menuruni panggung.


Tiffany mengerucutkan bibirnya sebal. Gadis itu melihat penampilan Raffi dan Renata di ujung tenda sebelah timur. Ia belum berani menemui Raffi sehingga melihat lelaki itu saja harus sembunyi-sembunyi seperti ini.


Derry dan Shafira kembali berbicara lewat mikrofon sana, mereka memberitahu bahwa saat ini sudah berada di penghujung acara. Para kelas XII semuanya saling memeluk dan meminta maaf, karena mungkin, setelah ini mereka akan jarang bertemu.


"Gue lega banget," kata Renata dengan cengirannya.


Raffi tertawa pelan, ia mengacak gemas rambut gadis di hadapannya. "Lo tahu, nggak?" tanyanya.


Renata mengangkat alis, "Apa?"


"Gue jadi suka ngacak-ngacak rambut lo, kaya gini." Raffi kembali mengulangi tingkahnya yang tadi.


Renata terkekeh, "Kusut woi rambut gue." katanya kemudian tertawa.


"Kalo hatinya, udah nggak kusut, kan?"


Bersambung~


Yuhuuu mana nih tim #RaffiRenata 😂


Jangan lupa di Like, komen dan Vote ya!🥰 semoga suka🖤