Last Taste

Last Taste
BAB 33. Dinner {2}



"Kak Raffi, kita duduk di sana, ayo!" Rifal dengan semangatnya menarik-narik lengan Raffi untuk menuju kursi kosong yang berada di paling ujung.


Seisi restoran menoleh ke arah mereka. Bagaimana tidak menoleh, tingkah Rifal telah menarik perhatian dari pengunjung restoran di sini. Raffi meringis menahan malunya. Ia menatap Renata yang memasang wajah datarnya.


"Ayo, Kak!" Ajak Rifal terus menerus. Namun karena Raffi tak menghiraukannya, bocah kecil itu berlarian ke sana tanpa izin dari kakaknya.


Rifal berlarian di antara para pelayan dan pengunjung yang berlalu lalang.


Hingga..


Bruk!


Prang!


Beberapa piring bekas terjatuh ke lantai. Pecahannya membelah ke mana-mana. Di sana, Rifal terjatuh bersamaan dengan sang pelayan yang sangat terkejutnya.


"Rifal!"


Raffi sontak berlari ke arah Rifal. Bocah kecil itu menangis meraung karena kepalanya sedikit terjedot kursi makan di hadapannya. Sementara sang pelayan memasang wajah bingung, antara harus menenangkan Rifal yang ditabraknya atau piring-piring dihadapannya yang berserakan, yang bisa saja itu menjadi alasan ia dipecat sekarang juga.


Renata ikut mengejar Raffi, mencoba menenangkan Rifal yang masih menangis menjerit kesakitan.


"Mbak, sori ya. Nanti semuanya saya ganti. Maafkan adik saya." kata Raffi seraya kebingungan mencari cara untuk membuat tangisan bocah itu berhenti.


Pelayan itu mengangguk. "Adeknya tidak apa-apa, kan, Mas?" tanyanya.


Raffi menggeleng, ia kemudian memberikan beberapa uang lembar kepada pelayan tadi. "Maaf, Mbak. Sekali lagi saya minta maaf." katanya.


Renata berusaha menggendong Rifal seraya mengusap-usap kepala anak itu yang kini tangisannya mulai mereda.


"Kita pulang ya, Raf." ajak Renata. Raffi mengangguk, ia mengambil alih tubuh Rifal dari pelukan Renata. Membawanya segera munuju rumah dan terpaksa membatalkan niatnya untuk dinner malam ini bersama Renata.


***


Kini, Raffi dan Renata sudah kembali di dalam mobil. Rifal sudah ia antarkan ke pangkuan Mamanya, beruntungnya jagoan kecil itu tertidur pulas ketika sudah sampai di rumah. Sehingga Raffi tidak perlu repot-repot menjelaskan panjang lebar mengenai kejadian beberapa menit ke belakang.


Raffi menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang. Sesekali ia melirik Renata yang masih fokus menatap jalanan lewat kaca mobil.


Sudah pukul 20.15, baginya itu belum cukup larut malam, namun mungkin bagi Renata tidak. Bisa saja kan gadis itu sedang ditunggu kedatangannya oleh Mamanya di rumah? Ya, meskipun Raffi memang sudah mengenal dekat dengan orang tua Renata.


"Ren." panggilnya.


Renata langsung menolah ke arah Raffi. "Iya?" tanyanya. Gadis itu tampak membenarkan posisi duduknya menjadi sedikit tegak.


"Maaf ya, dinner nya gagal." kata Raffi dengan cengiran yang dipaksakan. Sebenarnya ia tidak tahu dan tidak ingin juga semuanya menjadi seperti ini. Namun ya tidak apa-apa, mungkin belum waktunya.


Renata terkekeh. Ia menyenggol lengan Raffi yang tengah mengendarai stir mobil. "Santai aja. Gue malah khawatir Rifal kaya gitu." ujarnya.


Raffi mengangguk. "Lo mau langsung pulang atau gimana?" tanyanya.


"Pulang aja."


"Makan dulu sebentar, ya?" ajak Raffi, lelaki itu masih menginginkan waktunya lebih lama dengan Renata.


"Kenapa? Lo masih kangen gue?" tanya Renata terkekeh. Tatapannya menyelidik ke arah Raffi yang masih sibuk menyetir.


Raffi mengangguk dengan pelannya. Dan saat itu juga, tawa Renata meledak. Oh astaga! Sikap gadis itu saat ini sangat jauh berbeda dengan penampilannya yang sangat feminim.


"Apaan sih, lo." balas Raffi mendelik. Ia memberhentikan mobilnya ketika lampu di sana berwarna merah.


"Jujur aja, lo sering kangenin gue, kan?" Renata berucap di sela-sela tawanya.


Raffi tidak langsung menjawab pertanyaan itu, ia menyetel musik lewat ponselnya yang dihubungkan dengan kotak musik yang selalu dibawanya.


"Lo jangan geer dulu, gue takut aja kalo misalkan nanti lo ngadu ke nyokap lo, kalo lo nggak gue jajanin sekarang." jelas Raffi.


Renata tertawa pelan, kepalanya mengangguk-angguk mengikuti alunan musik yang baru saja diputar oleh Raffi. Jiwa lelaki itu memang puitis sekali, dengarkan saja lagu yang diputarnya adalah lagu ciptaan dari Fiersa Besari. Salah satu musisi dan penulis Indonesia yang sudah tidak asing lagi.


"Ya, terserah lo aja." Renata mengalah. Ia sudah malas berdebat dengan lelaki di sampingnya itu.


Raffi kembali melajukan mobilnya ketika lampu sudah berubah menjadi berwarna hijau. Ia membelokkan setirnya ke arah kanan untuk menuju tempat makan lesehan.


"Makan di tempat lesehan nggak apa-apa, kan?" tanya Raffi.


"Nggak masalah."


"Cari yang deket aja. Yang penting lo makan dan makan itu sehat."


Renata berdehem. Ia tahu perkataan Raffi barusan adalah sebuah perhatian. Bedanya, lelaki itu selalu mengatakannya dengan berbeda, tentunya dengan caranya sendiri.


***


"Makan yang banyak." kata Raffi setelah kepergian penjual pecel ayam yang baru saja mengantarkan pesanannya.


Renata memutarkan bola matanya. Ini sudah ke berapa kalinya Raffi mengucapkan kata seperti tadi. Renata sampai muak mendengarnya. Jelas saja ia akan menghabiskan makanannya tanpa harus Raffi beritahu.


Tapi sekali lagi, gadis itu memilih diam karena ia tahu itu bentuk perhatian Raffi terhadapnya.


"Sori, ya, cuma makan di lesehan. Lain kali gue aja lo ke restoran bintang lima." Raffi terkekeh.


"Serius ya? Awas aja bohong." balas Renata menganggap serius. Ia mulai melahap ayam yang sudah ia potong sebelumnya.


"Dua rius dah." Raffi lagi-lagi terkekeh.


"Udah lo makan dulu. Makan yang banyak." kata Renata mengucapkan kembali kalimat yang biasa Raffi katakan.


Mereka tertawa sebelum kembali menghabiskan makanannya. Sambil menatap jalanan yang ramai di bawah lampu-lampu kota yang temaram. Benar-benar menikmati suasana yang nyaman meskipun sebelumnya mereka tidak merencanakan.


Bersambung~


Ada yg nungguin Raffi dan Renata ngga ya?😁 semoga suka yaa. Jangan lupa Like, komen dan vote.🖤