Last Taste

Last Taste
BAB 2. Lomba Debat



"Gara-gara lo, gue ngga bisa ikut ulangan kimia." ucap Renata seraya mengepel lantai toilet siswa. Sesekali ia membenarkan posisi masker yang menutupi setengah wajahnya.


Kini, Raffi dan Renata tengah berada di toilet siswa. Tempatnya di belakang sekolah. Mereka terpaksa tidak ikut ulangan harian kimia karena harus menjalani hukuman yang di berikan Bu Selly, guru piketnya.


Tadinya, hukuman yang di berikan oleh guru killer yang tingginya sekitar 175 dan berat badannya kira-kira 78 itu adalah mengepel semua lantai kelas XI. Gila aja, yakan?


Tapi seperti biasa, sudah langganan, Raffi membacakan puisi cinta di depan Bu Selly langsung saat itu juga. Ya setidaknya membersihkan satu WC lebih baik daripada dua belas lantai kelas XI. Meskipun sama-sama WC.


"Heh, Renata si ratu kimia, Bidadari siluman tapi cantiknya ngga kaya bidadari, lo tuh ngga ada terima kasihnya banget ya. Kita di kasih hukuman ini juga udah beruntung banget, emang lo mau ngepel semua lantai kelas XI?" jelas Raffi panjang keli lebar. Ia memutarkan bola matanya. Tak habis pikir.


"Kapan sih lo berhenti manggil gue Bidadari siluman? Eh gue juga bersyukur ya meskipun di hukum kaya gini. Tapi lo jangan berbangga hati dan nganggep semuanya atas bantuan lo." Renata tak mau kalah. Ia menatap Raffi yang tengah membersihkan wastafel di dekatnya. Rasa kekesalannya muncul lagi. Selalu.


Raffi terkekeh. Lucu sekali memancing emosi gadis di hadapannya. Bukankah panggilan itu sungguh pantas dengan Renata?


"Biasa aja dong, dasar Emak." balasnya.


"Serah lo," Renata menaruh pelan itu kemudian mencuci tangannya, ia segera meninggalkan Raffi karena bel pelajaran kedua sudah berbunyi.


Raffi tertawa pelan, "Nyerah kan lo debat sama gue."


****


"Ren, kira-kira lo mau ngga ikut lomba debat? Ngewakilin sekolah kita." Tanya Firda, teman sebangkunya.


Renata masih sibuk menyalin catatan yang ada di papan tulis, sedangkan Firda dan teman-temannya sudah membereskan alat tulis dan keluar kelas.


Sebagai sekretaris kelas yang di pilih oleh Hendar beberapa bulan lalu, Renata selalu telat menyalin tulisannya. Kadang, ia lupa menyalin karena saking banyaknya pelajaran yang mengharuskannya di tulis.


Setelah pelajaran terakhir selesai, Bu Rifka sebagai guru bahasa Inggris tadi sudah meninggalkan kelas dan memberikan oleh-oleh kepada siswanya berupa PR.


"Debat tentang apa?" Tanyanya tanpa menatap Firda. Ia mulai kesal dengan tingkah Raffi yang mencoba mengganggunya dengan berdiri di depan kelas, sambil bernyanyi menggunakan sapu sebagai mikrofon.


"Haiii yang ada di sana.. yang ada di sini semua ikut bernyanyi.. Hoa hoee..." Rusuhnya.


Tak lama datanglah Hendar dan Derry sebagai kawan setianya, mereka rupanya dari kantin karena kini membawa tiga gelas es dan beberapa makanan ringan.


"Gila emang mereka, KM nya juga ikut-ikutan lagi." Firda mengomentari.


"Oiya, soal debat sih kayaknya si Raffi ikut. Lo tanya dia aja, soalnya Bu Yani minta lo sama Raffi yang ikut."


Renata terdiam, "Kenapa harus dia?" Renata menepuk jidatnya.


"Kan dia jagonya bahasa Indonesia, Ren, lomba puisi aja di borong sama dia semua juaranya." Firda terkekeh. Ia sudah menggendong tasnya, bersiap untuk pulang.


Renata menatap Raffi di depannya yang masih menghalangi papan tulis. Lelaki itu kini memakan sambil berdiri bahkan bernyanyi. Memang sangat berbeda tingkahnya dengan puisi-puisi yang di buatnya itu.


"Woi, minggir lo." Usir Renata tak kalem. Firda sudah pamit duluan sehingga yang berada di kelas hanyalah Renata dan ketiga lelaki absurd itu.


Raffi menoleh setelah sebelumnya ia menyapa Firda. "Kenapa Bu Haji?" Tanyanya.


Hendar cekikikan sambil sesekali bernyanyi di iringi pukulan meja oleh Derry.


"Gue masih nuli, lo jangan di situ, ngga keliatan."


"Lembek banget nulisnya, kaya siput." Celetuk Raffi, ia malah melanjutkan nyanyinya di sana.


Renata menutup bukunya malas. Biarkan soal ini nanti minta Firda untuk mengirimnya saja. Sekarang, lelaki di depan sana memang harus di hajar.


Raffi sedikit terkejut namun ia mencoba biasa saja. "Marah-marah mulu lo. Pms?" tanyanya seraya menaruh sapu itu.


"Sing ribut sing ribu.." Hendar menimpali.


"Yang romantis dong ributnya, biar seru." Derry ikut-ikutan.


"Berisik!" Raffi dan Renata kompak berucap dan menghasilkan tawa dari kedua temannya.


"Permisi.."


Suara itu membuat penghuni kelas menoleh ke ambang pintu. Seorang gadis tinggi kebule-bulean datang menghampiri Raffi.


"Eh Tiffany, kenapa Tif?" Sapa Hendar.


Raffi terdiam. Memerhatikan gadis anggun itu di hadapannya.


Tiffany adalah mantan kekasihnya sewaktu kelas X. Hubungan mereka hanya berlangsung selama 7 bulan dan kandas karena Tiffany mempunyai simpanan.


Gadis tinggi itu juga adalah mayoret sekolah. Ia anggota OSIS sekaligus ketua ekskul Drumband yang terpandang di sekolah ini. Maka tak heran lah ya kalau banyak kaum Adam yang mengejarnya. Termasuk Raffi, tapi saat itu.


"Kenapa?" Tanya Raffi setelah keheningan melanda.


"Loh? Ko kenapa? Kamu lupa ya kita kan di suruh sama Bu Yani untuk mewakili sekolah ini di lomba debat hari Sabtu nanti?" jelas Tiffany. Tatapannya mengedar menatap orang-orang di sana. Termasuk ke arah Renata yang kini emosinya sudah surut padam.


Ah iya! Raffi menepuk jidatnya. Ia hampir lupa bahwa semalam Bu Yani mengirimkan pesan untuknya. Isi pesannya tak lain adalah, mengajaknya untuk mewakili lomba debat Se-Provinsi.


Bu Yani, selaku guru bahasa Indonesia itu memilih Raffi, Renata dan Tiffany untuk mewakili nya.


"Kenapa Lo harus ikut?" Tanya Raffi kepada Tiffany. Gadis itu mengernyit.


"Maksudnya? Kamu ngga mau ada aku?"


"Ngga, bukan, Tif. Maksud si Raffi ini, kenapa bisa dia lupa sama pesan Bu Yani, sampe-sampe di datengin lo ke sini. Kan ngerepotin jadinya." Sangkal Hendar. Ia tahu jika Raffi sudah banyak terdiam, maka banyak pula yang di fikirkannya. Dan itu sangat fatal.


"Oh," Tiffany membulatkan mulutnya. "Renata juga ikut, kan?"


Renata melongo. "Gue ngga tau apa-apa sih. Tapi tadi barusan, Firda ngasih tau."


"Yaudah, nanti mulai besok kita latihan. Harusnya sih sekarang di diskusikan dulu sama Ibu, tapi dia ga masuk."


"Ok," Renata berbalik arah untuk membereskan bukunya dan bergegas pulang.


"Ren gue anter lo," Raffi baru saja hendak berlari mengejar Renata, namun jemari Tiffany menahannya.


"Aku mau ngomong."


"Di chat aja. Gue mau balik. Ayo, Hen, Der." Ajaknya kepada kedua temannya itu.


Tiffany terdiam. Ia membalas senyum Hendar dan Derry, menatap kepergian mereka.


Oke ini memang salahnya. Tidak ada pengampunan bagi seorang yang pernah menduakan. Dan itu berlaku untuk Tiffany.


Bersambung~