Last Taste

Last Taste
BAB 20. Rambut Baru



Keesokan harinya, sekolah membagikan piala dan piagam sebagai penghargaan kepada kelas-kelas yang mengikuti lomba di Classmeeting yang sudah berakhir kemarin lusa.


Classmeeting berakhir bersamaan dengan keluarnya hasil rapat beberapa hari lalu. Dari rapat itu guru - guru memberitahu bahwa mulai besok siswa di liburkan dan kembali masuk dua Minggu kemudian untuk pembagian raport.


Hari ini siswa di pulangkan lebih awal, maka tak heran jika pukul 10 pagi sekolah sudah tampak sepi. Hanya menyisakan siswa/i yang tengah merayakan kemenangannya. Termasuk kelas XI IPA 2.


"Lumayan coi ada pemasukan, 2 piala." kata Hendar nyengir, di susul Raffi dan lainnya.


Raffi yang tengah mencoba membuka dasi, mengedarkan pandangannya ke seisi kelas. Mencari Renata. Senyumnya mengembang ketika mendapati gadis itu sedang berfoto ria dengan gadis - gadis di kelasnya.


Raffi mendekat kemudian menarik lengan pendek seragam Renata. Gadis itu sontak terkejut dan hendak marah - marah, namun ketika yang di lihatnya adalah Raffi, Renata menahan marahnya.


Raffi tertawa pelan. "Mau marah ya, lo?" godanya.


"Nggak, khusus hari ini gue nggak bakal marah." balas Renata melebarkan senyumnya.


"Bagus. Kalo gitu..." Raffi mencari Firda di antara kerumunan gadis di kelasnya, "Fir!" panggilnya ketika sudah mendapati.


Firda yang tengah berselfie ria, menoleh dengan wajah kusutnya. Merasa terganggu.


"Fotoin gue sama Renata," Raffi memberikan ponselnya kepada Firda, kemudian menarik lengan Renata untuk lebih dekat di sampingnya.


Mata Firda berbinar. Ia nampak semangat mengambil ponsel itu. Maklum saja, Firda adalah teman dekat Renata dan sangat mendukung temannya itu jika benar jadian dengan Raffi.


Firda mulai mometret, jemarinya menghitung untuk kesiapan sang model di depannya. Raffi unjuk gigi dan Renata pasang wajah sinis.


Firda terkekeh pelan. Hasilnya bagus.


"Sekali lagi," katanya excited.


Kali ini, Raffi mencubit pipi Renata dengan gemas sedangkan Renata memamerkan giginya dengan mata terpejam, seolah-olah terkejut.


"Asli bagus banget. Jangan lupa di cetak fotonya." saran Firda tertawa pelan.


Raffi dan Renata ikut tertawa, apalagi setelah melihat hasil jepretan Firda yang sudah mengembalikan ponselnya kepada Raffi.


"Thanks, Fir." kata Raffi.


Firda mengangguk, "Btw, kalian jadian?" tanyanya.


Raffi dan Renata melongo, "Ya nggak lah!" jawabnya bersamaan.


"Serius?"


"IYA!"


***


Setelah pulang dari sekolah, Renata menepati janjinya untuk mengantarkan Raffi ke salon. Mencukur sedikit rambut gondrong lelaki itu.


"Lama, Ren. Lo nggak apa-apa nungguin?" tanya Raffi yang sudah memarkirkan motornya tepat di depan salon.


"Ya gapapa. Liat nih, yaampun tebel banget. Kaya sarang tawon tau ga, sih?" gemas Renata seraya memainkan rambut Raffi.


Raffi tertawa pelan. "Ini sarang rindu, Ren." balasnya kemudian memasuki salon terlebih dahulu dengan senyum yang tak pernah lepas di bibirnya.


Renata meringis menanggapi kebucinan Raffi yang belum juga hilang. Ya sepertinya tidak akan pernah hilang karena bucin itu sudah mendarah daging di dirinya.


"Loh, Raffi?"


Suara itu membuat Renata langsung memasuki salon, seperti suara..


"Ngapain, Tif?" tanya Raffi heran.


Ya, Tiffany. Gadis itu baru saja selesai mewarnai rambutnya menjadi kecokelatan, hampir sama seperti rambut Renata.


"Abis warnain rambut. Tadi aku nggak ke sekolah, percuma kan, ya? Tuh kalian aja udah balik lagi." balasnya seraya menatap Renata yang mematung di samping Raffi.


"Oh ya udah." Raffi meninggalkan Tiffany dan menarik lengan Renata untuk mendekati tukang cukur di salon itu.


"Raf, mau ngapain?" tanya Tiffany dengan sedikit teriakan.


"Potong rambut," balasnya.


Tiffany menghentakkan kakinya kesal. Dulu ia pernah menyarankan Raffi untuk memotong rambutnya, namun lelaki itu malah menolak. Dan sekarang? Raffi datang ke salon bersama Renata?


Tiffany mengikuti Raffi yang sudah duduk di kursi menghadap kaca besar. Lelaki tampan berusia 25 tahunan memakaikan kain ke bahu Raffi supaya sisa - sisa potongan rambutnya tidak mengenai baju dan kulit.


"Lo yang udah ngajak Raffi buat potong rambut?" tanya Tiffany seraya duduk di samping Renata. Tiffany menatap penampilan Renata dari atas sampai bawah.


Renata mengeryitkan alisnya. Heran. "Ngapain lo liatin gue kaya gitu?" tanyanya.


"Ah nggak!" Tiffany menyangkal. Ia kembali memerhatikan Raffi yang tengah sesekali berbincang dengan sang pencukur rambutnya.


"Pasti dia makin tampan." gumam Tiffany yang tentunya di dengar oleh Renata.


Tiffany menoleh ke arah Renata, mengerutkan keningnya, "Cebong?" ulangnya tak mengerti.


"Cebong Raffi maksud gue."


Tiffany menghela nafasnya. "Masih. Masih sayang banget. Lo bayangin aja, gue di tinggal pas lagi sayang-sayangnya." balas Tiffany berlebihan.


Renata memicingkan matanya, "Alay lo." katanya.


Tiffany tiba-tiba menegakkan tubuhnya seraya menghadap Renata. Wajahnya terlihat serius.


"Lo harus jujur sama gue."


"Apa?" tanya Renata mengangkat dagunya, tidak takut.


"Lo ada hubungan apa sama Raffi?"


"Lo pernah liat anjing betina berantem sama anjing jantan?" tanya Renata.


Tiffany sontak menggelengkan kepalanya.


"Ya pokoknya gitu. Kita satu spesies tapi kerjaannya berantem terus." balas Renata malas. Ia mengeluarkan ponselnya dari dalam tas. Melihat beberapa notifikasi yang masuk, termasuk dari Ryan.


Ya. Lelaki itu kembali menghubungi Renata. Sebenarnya Renata ingin sekali mengatakan ini kepada Raffi, karena Ryan adalah temannya. Namun rasanya, selalu tidak enak.


"Jadi lo nyamain Raffi sama hewan itu?" tanya Tiffany yang menyadarkan lamunannya.


"Ya nggak juga. Hanya perumpamaan aja,"


Tiffany kembali ke posisi semula. Kemudian gadis itu berdiri mendekati Raffi, berbisik di telinganya.


"Aku bakal kejar kamu terus, sampai kamu kembali lagi sama aku." katanya.


Raffi langsung bergidik geli. Lelaki yang mencukur di belakangnya hanya terkekeh. Maklum saja, dia juga pernah muda dan jatuh cinta.


"Mas ini pacarnya banyak ya?" kata sang pencukur itu.


"Banyak? Loh, Mas, pacar Raffi cum-"


"Nggak, gue jomblo." sangkal Raffi, memotong ucapan Tiffany yang menggebu-gebu.


"Apaan sih, Raf? Nggak sopan banget motong ucapan orang." Tiffany kesal.


"Ya emang bener, kan? Tif mending Lo balik aja, di luar udah mendung." ujar Raffi asal. Padahal di luar masih terang benderang.


"Nggak mau, aku bakal nunggu kamu disini."


"Gue balik sama Renata." sahut Raffi cepat. Tiffany langsung mengalihkan tatapannya kepada Renata yang masih anteng duduk di sana. Terlihat santai sekali memang.


Tiffany menghela nafasnya. Ia kemudian berjalan keluar salon setelah sebelumnya menghentakkan kaki ke lantai sebaga ekspresi kesalnya.


Raffi terkekeh. Ia juga melihat tawa pelan Renata dari balik kaca besar di depannya.


Setelah menunggu kurang lebih 30 menit, Raffi selesai dengan wajah baru. Rambutnya masih terbelah dua namun tidak terlalu gondrong. Biarkan saja, yang penting tidak seperti pagi tadi.


"Kaya Oppa," Renata terkekeh, ia merapikan rambut baru Raffi dengan kaki yang berjinjit.


Raffi sontak memendekkan tubuhnya, menyejajarkan nya dengan tinggi Renata.


Renata terkekeh geli, kemudian mendorong wajah Raffi yang tadi terlalu dekat dengannya.


"Lo bau keringat." komentar Renata.


Raffi tertawa keras, "Iya, gue juga nyium baunya dan itu asem banget." katanya dengan sisa-sisa tawanya.


Mereka berdua melangkahkan kakinya keluar salon ketika sudah membayar uang kepada sang pencukur rambutnya tadi.


"Lo mau langsung pulang?" tanya Raffi seraya memberikan helm kepada Renata.


Gadis itu mengangguk dan mengambil helm Raffi, "Kemaren gue ngerjain soal, dan sampe subuh tadi belum ketemu jawabannya. Sekarang mau gue cari lagi," jelasnya.


Raffi memutarkan bola matanya, "Segitu sukanya lo sama kimia?" tanya Raffi lagi-lagi tak menyangka.


Renata nyengir, "Ya gitu." katanya


"Kalau misalkan soal itu emang nggak ada jawabannya, gimana?" Raffi mulai menaiki motor dan menyalakan gas nya.


"Nggak mungkin, pasti ada." keukeuh Renata seraya menaiki motor itu.


"Ya udah, terserah lo. Yang penting rambut gue baru,"


"Cieee rambut baru," goda Renata yang membuat tawa Raffi terdengar. Jarang sekali gadis itu menggodanya. Sekarang? rupanya ia sudah mulai terbiasa dengannya.


Bersambung~