Last Taste

Last Taste
BAB 31. Sebuah Ungkapan



"Gue nggak nyangka ternyata lo busuk juga." ujar Raffi dengan tatapan fokus kepada Tiffany di hadapannya. Gadis itu menundukkan kepala, tak sanggup membalas mata Raffi yang sedari tadi membuat jemarinya bergetar.


"Maksud lo apa ngebekap Renata di gudang sekolah?" tanya Raffi lagi.


Kini Tiffany memaksakan wajahnya untuk menatap Raffi, menatap mata yang dulu menjadi favoritnya namun sekarang ia begitu takut melihatnya.


"Raf, aku ngelakuin ini karena kamu." katanya pelan.


Raffi terkekeh. Ia ikut duduk di samping Tiffany dengan punggung yang tegap. Tiffany kembali menundukkan kepalanya.


"Aku pengen gantiin Renata buat bisa tampil sama kamu,"


Raffi menahan kesalnya. Ia mengedarkan pandangannya ke arah jalanan kota yang baru saja diguyur hujan. Jalanan masih basah namun kendaraan tetap saja bermacetan.


Beberapa jam lalu Raffi mendatangi rumah Tiffany dan membawanya ke taman kota. Ia harus membahas dan meminta penjelasan dari Tiffany atas kelakuan gadis itu terhadap Renata.


"Lo kaya anak kecil banget tau, nggak?"


Mendengar itu, Tiffany langsung menatap Raffi. "Aku? Kaya anak kecil?" ulangnya tidak terima.


"Raf, sebenarnya pacar kamu tuh siapa? Kenapa kamu malah membela Renata dibanding aku?"


Raffi tertawa pelan, "Lo masih tanya kenapa gue bela Renata? Udah jelas-jelas dia korbannya, Tif!"


"Tapi aku pacar kamu, Raf. Apapun alasannya, kamu harus bela aku!"


"Oh ya? Gue malah lupa kalo lo ternyata pacar gue," Raffi tertawa. "Sayangnya, gue udah nggak mau lagi berhubungan sama lo,"


Tiffany beranjak bangun, ia berdiri menatap Raffi dengan wajah melas dan tidak terimanya.


"Raf aku mohon, maafin aku." Tiffany menangkupkan kedua tangannya. Ia benar-benar tidak ingin kehilangan Raffi untuk kedua kalinya.


"Gue kecewa banget sama lo. Tapi gue masih bisa nahan buat nggak ngelaporin lo sama kedua teman lo itu ke kepala sekolah," jelas Raffi tanpa menatap gadis di sampingnya itu.


"Aku minta maaf banget, please. Jangan laporin aku sama temen-temen aku," ulang Tiffany, kini kedua tangannya menggenggam tangan Raffi yang kekar.


"Tapi dengan satu syarat, lo nggak usah gangguin gue sama Renata lagi, faham?"


Tiffany mengangguk dengan berat hati. Ia harus menjauhi lelaki yang sangat di cintanya itu. Kalau saja waktu bisa diputar, ia tidak akan menjebak Renata dan membuat hubungannya bersama Raffi selesai seperti saat ini.


"Jadi kamu putusin aku lagi, Raf?" tanya Tiffany yang masih mengharapkan kasih lelaki dihadapannya.


Raffi mengangguk. Ia melepaskan jemari Tiffany kemudian beranjak bangun.


"Gue pamit. Semoga lo tetap menjadi Tiffany yang gue kenal." kayanya pelan. Raffi melangkahkan kakinya menuju motor yang terparkir dipinggiran jalan. Meninggalkan Tiffany yang masih dirundung penyesalan.


Hari sudah semakin siang. Raffi harus segera mengunjungi rumah Renata sebelum sore mendatang. Lelaki itu khawatir dengan kondisi Renata sehingga membuatnya terburu-buru untuk bisa cepat sampai di rumah gadis itu.


***


Siang ini Renata baru saja kembali ke rumah setelah beberapa menit lalu ia membeli kebutuhan bulanannya. Renata terpaksa keluar dan berbelanja sendiri karena tidak ada orang yang bisa ia suruh.


Kedua Papanya sedang mengurus bisnis di luar kota, Mamanya pergi arisan sedangkan kakaknya jarang pulang ke rumah, ia memilih untuk menginap di kedai kopi miliknya itu.


Renata memarkirkan motornya di halaman rumah, baru saja ia hendak membuka pintu utama namun suara deruan motor membuatnya menoleh ke belakang.


Raffi dengan wajah tampannya berseri di bawah sinar matahari. Lelaki itu terlihat terburu-buru memarkirkan motor besarnya di samping motor Renata. Kemudian langkahnya tergerak cepat mendekati gadis itu.


"Lo abis dari mana, sih?" tanyanya langsung.


Renata mengeryitkan alisnya. Tidak biasanya Raffi berbicara langsung dengan sentakan seperti tadi.


"Gue abis belanja bulanan, lo ngapain ke sini?" balas Renata seraya membukakan pintu rumahnya yang sengaja ia kunci.


"Ren," Raffi langsung menahan lengan gadis itu. Menatap Renata dalam-dalam.


"Gue sengaja datang ke sini karena gue khawatir sama lo. Lo harusnya telepon gue aja kalo butuh bantuan buat beliin keperluan lo," katanya pelan.


Renata mendadak membisu. Ia tidak bisa berkata apa-apa. Hatinya langsung menangkap dan merasakan perhatian dari lelaki dihadapannya.


Raffi mengangkat pergelangan lengan Renata, di sana masih terdapat bekas luka dari tali yang cukup kuat mengikatnya. "Kenapa nggak diperban?" tanyanya kembali menatap Renata.


"Raf gue nggak apa-apa. Lo nggak usah berlebihan kaya gitu." balas Renata seraya melepaskan tangan Raffi dari lengannya.


"Ren lo harusnya istirahat aja." Raffi masih berucap seraya menguntitnya dari belakang.


Renata menaruh belanjaan itu di atas meja makan. Ia mencuci tangannya di wastafel kemudian mengelapnya menggunakan kain kering.


"Ren," Raffi menarik lengan atas Renata sehingga membuat gadis itu langsung menghadap ke arahnya.


Renata menghela nafas, "Apa sih, Raf?" tanyanya sedikit kesal.


"Lo kenapa nggak bilang sama gue kalo lo butuh bantuan? Lo nggak seharusnya keluar rumah, emangnya-"


"Gue sendirian di rumah. Mama lagi arisan, Papa lagi bisnis, Kakak gue di kedai." jelas Renata.


Raffi mengangguk mengerti. "Ada gue, kan?" katanya langsung.


"Iya, yaudah gue mau bikin mie instan dulu. Lo mau makan juga?" tawar Renata dengan alis kanan terangkat.


Raffi terkekeh, "Mau lah. Kita bikin bareng-bareng, ya?" katanya.


Sudut bibir Renata tertarik ke atas, menyunggingkan senyum. Lelaki itu terlihat manis sekali.


"Oke."


Mendengar itu, Raffi langsung membongkar semua belanjaan Renata. Ia membantu gadis itu menaruh satu persatu belanjaan ke tempatnya.


"Gue udah bilang ke Tiffany soal kemarin." kata Raffi kembali berucap. Kini ia sibuk menyalakan kompor gas kemudian membuka bungkus mie instan yang telah Renata beli.


"Terus?" tanya Renata. Sebenarnya ia tidak terlalu peduli, namun karena ia cukup penasaran dengan kelanjutan hubungan Raffi dan Tiffany, ia terpaksa harus bertanya.


"Tadinya gue mau lapor ke kepala sekolah, biar mereka nggak ngilangin kejadian yang sama lagi. Tapi dia keburu minta maaf," jelasnya.


Raffi mengambil mangkuk milik Renata kemudian mengambil bungkus mie instan milik gadis itu.


"Dia mohon-mohon ke gue biar nggak dilaporin, ya udah gue turutin. Gue juga nggak mau berurusan lebih panjang lagi sama dia," Raffi menatap Renata yang juga menatapnya. Renata sontak terkejut dan terlihat salah tingkah.


Raffi terkekeh. "Yang penting lo nggak apa-apa, kan?" tanyanya.


Renata menahan senyumnya. Ia mengangguk sebagai balasan dari pertanyaan Raffi.


***


"Masakan lo lumayan juga, ya?" ujar Renata setelah menghabiskan mie yang Raffi buatkan untuknya.


Raffi tertawa, "Cuma masak mie doang mah gampang." katanya berbesar hati, membuat Renata berdecih malas.


"Padahal gue yang nawarin lo makan, tapi lo juga yang masakin." kata Renata seraya menuangkan air ke dalam gelasnya. Kemudian ia meneguknya perlahan.


"Santai aja, sebagai pacar yang baik, gue harus bisa di andalkan sama lo." balas Raffi.


Renata langsung tersedak. Gadis itu terbatuk sampai Raffi mengusap punggungnya agar berhenti.


"Lo kenapa, sih?" tanyanya heran.


Renata dengan kesalnya menatap wajah polos Raffi. Apakah lelaki itu tidak sadar dengan apa yang diucapkannya barusan?


"Tadi lo ngomong apaan?" tanya Renata.


"Yang mana?"


"Yang tadi, lo ngakuin gue sebagai pacar?"


Raffi langsung kicep. Ia mendadak kesulitan menelan ludahnya sendiri. Pandangannya ia alihkan dari Renata dan menatap sekeliling dapur gadis itu serta kucing yang kini menatapnya di ujung tembok.


Raffi tidak berhenti merutuk dirinya sendiri dalam hati. Bodoh sekali dia. Bagaimana bisa ia mengucapkan kata itu di depan Renata?


Bersambung~


Ada yang kangen Raffi dan Renata?😁


Hehe.. jangan lupa di like, komen dan Vote ya!🥰 Semoga sukaa!🖤