Last Taste

Last Taste
BAB 26. Balikan



"Sang waktu sudah mengizinkan aku mengagumimu, namun dengan halus kamu menolaknya."


-Last Taste-


***


Raffi baru saja memarkirkan motornya setelah selesai membeli belanjaan bulanan yang di suruh Mamanya siang tadi.


Tiffany, gadis itu sudah berada di rumah Raffi sejak pukul 10 pagi, kedatangannya sangat membuat Rifal excited, namun tidak dengan Raffi.


Tiffany menuruni motor Raffi setelah melepaskan helm, ia menggendong Rifal yang kini tengah berusaha membuka bungkus es krim pilihannya.


"Bukanya di dalem aja, Dek." kata Raffi kemudian membawa plastik besar yang berisi kebutuhannya sehari-hari.


Raffi berjalan masuk terlebih dahulu, di ikuti Tiffany dan Rifal di belakangnya.


"Sini ka Tiffany bukain," tawar Tiffany seraya mengambil bungkus es krim di tangan Rifal.


"Kenapa buka yang ini? Kan tadi juga Rifal ngambil es krim yang ada cup nya." Tiffany kembali memberikan es krim kepada Rifal yang sudah ia buka bungkusnya.


"Cup itu apa, kak?" tanya Rifal polos.


Tiffany terdiam sejenak. Ia sedang berbicara dengan anak berusi 5 tahun, mana mungkin jagoan kecil itu mengerti Cup es krim? Mungkin kalau Tiffany menggantinya dengan kata wadah, Rifal akan mengerti.


"Nggak, udah yuk, masuk." Tiffany menuntun Rifal untuk masuk ke dalam rumah. Ia kemudian menutup pintu utama rumah Raffi.


***


"Lo tadi beli apa aja, Tif?" tanya Raffi seraya mengeluarkan beberapa belanjaannya di atas pantri.


Tiffany yang sedang menemani Rifal menonton televisi di ruang keluarga, langsung berlari ke arah Raffi.


"Sini aku aja yang ambil." katanya seraya mengambil plastik yang tadi di genggam Raffi.


Tiffany mulai mencari-cari belanjaannya di antara tumpukan belanjaan bulanan Raffi yang cukup banyak.


Dan, yah! Tiffany menemukan benda itu kemudian ia menunjukkan deretan giginya yang putih. Tangannya menyembunyikan benda yang di belinya tadi ke belakang. Ia tertawa pelan, pipinya memerah menahan malu.


"Beli roti Jepang?" Raffi terkekeh. Ia gemas melihat Tiffany yang sedang tersipu seperti ini.


Tiffany mengangguk dengan menahan tawanya. Ia benar-benar lupa belum menyetok pembalut sebagai kebutuhan bulanannya. Dan terpaksa harus membelinya bersamaan dengan Raffi.


"Yaudah nggak apa-apa. Lo beli itu doang?" tanya Raffi memastikan.


Tiffany mengangguk, "Iya, kamu ada plastik warna hitam, nggak?" tanyanya dengan suara pelan.


Raffi terkekeh. "Ada, udah sini pembalutnya, nanti gue yang bungkusin."


Tiffany mengiyakan. Dengan berat hati tangannya memberikan benda itu kepada Raffi. Tiffany kemudian berjalan menuju ruang keluarga, menemani Rifal. Disana sudah terlihat ada Mama Raffi yang sedang merayu Rifal untuk membagi es krimnya.


Tiffany melebarkan senyumnya seraya duduk di sofa, di samping Mama Raffi. Suasana seperti ini sudah lama tidak Tiffany rasakan. Ia baru bertemu lagi dengan Rifal dan juga Mamanya.


"Kalo sekarang makan es krim, nanti malem nggak boleh nambah ya, Ma?" kata Tiffany bergurau ketika Rifal tidak mau memberikan sedikit es krim nya kepada Mamanya.


"Iya, biarin nanti Mama makan es krim yang satunya aja. Lebih besar." balas Mamanya.


Tiffany terkekeh, ia memerhatikan wajah Rifal yang kini mengerucutkan bibirnya lucu.


"Rifal nggak boleh pelit, masa sama Mama pelit, sih." Tiffany berpindah duduknya menjadi di bawah sofa bersama Rifal. Ia mencubit pipi Rifal yang menggemaskan.


"Ya udah, nih, buat Mama aja. Rifal ambil yang es krim yang lain." dengan polosnya Rifal memberikan sisa es krim itu kepada Mamanya, kemudian berlarian menuju pantri, mendekati Raffi untuk mengambil es krim yang baru.


Mamanya tertawa pelan. Tanpa merasa jijik, wanita paruh baya itu memakan es krim sisa anak sulungnya.


"Oiya, Tiffany dapat peringkat berapa?" tanya Mama Raffi sambil menatap Tiffany yang kembali duduk di sampingnya.


"Peringkat 5, Ma. Lumayan." Tiffany nyengir, menunjukkan deretan giginya yang putih.


"Bagus itu, Raffi susah banget buat dapetin peringkat 1. Dari semester ganjil, yang dapat peringkat 1 perempuan terus, tapi Mama selalu lupa nanyain ke Raffi." jelasnya sambil berjalan ke arah pantri untuk membuang sampah es krim itu dan mencuci tangan.


"Siapa Raf, namanya?" tanyanya seraya memerhatikan Raffi yang kini memasukkan belanjaannya ke dalam kulkas. Rifal sudah kembali ke ruang keluarga dengan membawa es krim barunya.


"Apa, Ma?" tanya Raffi polos, lelaki itu menutup pintu kulkas kemudian mengikuti langkah Rifal.


"Itu yang dapat peringkat pertama di kelas kamu."


Raffi terdiam sejenak, ia menatap Tiffany yang juga menatapnya. Mustahil Tiffany tidak tahu kalau yang di maksud Mamanya itu adalah Renata.


"Renata, Ma." kata Raffi pelan.


"Oiya? Renata yang waktu itu kesini? Ngajarin kamu kimia?" Mamanya terlihat excited. Ia buru-buru mendekati Raffi setelah mengelap tangannya dengan lap kering.


"Iya, Ma."


"Sekarang nggak pernah ke sini lagi, ya?" tanyanya.


"Nggak, Ma."


"Nanti malam Mama mau masak banyak, kamu undang dia ya. Tiffany juga datang aja ke sini." katanya dengan tersenyum.


Raffi menatap Mamanya tak percaya. Serius? Ia harus mengundang Renata ke rumahnya? Bersama Tiffany pula?


"Mama ada acara apa mau masak banyak?" tanya Raffi mengalihkan pembicaraan.


"Kemarin Mama dapat arisan. Jadi nggak salah, kan, kalo Mama berbagi?"


Raffi kicep, ia menatap Tiffany meminta gadis itu menjawab. Namun Tiffany mengangkat bahunya tidak mau.


"Mama juga ngundang teman-teman arisan Mama, ko. Jadi kalo kamu ngundang Mamanya Renata juga nggak apa-apa."


"Apa hubungannya, sih, Ma?" Raffi mulai sewot.


"Ya."


***


Tiffany menuruni motor Raffi seraya melepaskan helmnya. Ia menatap Raffi dengan senyum di bibirnya.


"Kayaknya Mama udah seneng banget ya sama Renata?" katanya seraya memberikan helm itu.


Raffi mengambil helm nya, "Nggak juga." balasnya sambil mengaitkan helm tadi di motornya.


"Tapi udah deket?" tanya Tiffany lagi.


"Nggak, Tif. Mereka biasa aja."


Tiffany tersenyum lagi, "Ya udah, kamu hati-hati ya. Udah sore gini, masih mau ke rumah Renata?"


Raffi mengangguk, "Gue nggak mungkin bohongin, Mama, kan?" katanya menatap Tiffany.


"Iya, tapi kalo Mama kamu udah terlanjur suka sama Renata, semangat aku buat balik sama kamu bakal merosot lagi." jelas Tiffany mengungkapkan isi hatinya.


"Udah lo jangan mikirin itu. Jodoh nggak akan kemana," Raffi nyengir.


Tiffany ikut tertawa pelan, manis sekali. "Aku takut, Raf. Aku seneng banget padahal akhir-akhir ini kamu agak jauh sama Renata dan kamu deketin aku lagi."


Raffi terdiam sejenak. Mungkin ia merasa bersalah telah menjadikan Tiffany sebagai pelarian dari rasa sakitnya terhadap kedekatan Ryan dan Renata.


"Lo beneran mau balikan sama gue?" tanyanya kemudian.


Mata Tiffany berbinar menatap Raffi. Gadis itu sontak menganggukkan kepalanya dengan kedua tangan yang menggenggam lengan Raffi.


"Ya udah,"


"Raf kamu serius?" Tiffany tidak percaya.


Raffi mengangguk.


"Raf makasih. Aku janji nggak bakal sia-siain kepercayaan kamu lagi." kata Tiffany meyakinkan.


Raffi mengangguk lagi.


"Ya udah, aku pulang ya?" Raffi berucap lembut. Kosa katanya berubah menjadi aku-kamu.


Tiffany mengangguk senang, "Iya, hati-hati."


"Pembalutnya udah ada di tas kamu, kan?" tanya Raffi yang langsung membuat pipi Tiffany memerah menahan malu.


"Ck, iya udah ada." katanya.


Raffi terkekeh. "Kamu masuk dulu, aku liatin dari sini."


"Iya, bye Raffi."


"Bye sayang."


Mendengar itu, Tiffany langsung menutup wajahnya menahan senyum. Pipinya mungkin sudah memerah seperti kepiting rebus. Gadis itu berlari hingga masuk ke dalam rumahnya, meninggalkan Raffi yang kini ikut tertawa melihatnya.


Setelah memastikan Tiffany memasuki rumah, ia menyalakan gas motornya kemudian melaju untuk menuju rumah Renata.


***


Raffi mengedarkan pandangannya ke halaman rumah Renata. Ia kini menunggu gadis itu datang menemuinya. Tadi, Bi Sum sudah membukakan pintu dan mempersilahkan Raffi duduk di dalam, namun Raffi menolaknya dengan halus.


"Raf?"


Raffi langsung menoleh ketika mendengar panggilan itu. Suaranya parau seperti sehabis menangis tersedu. Di lihatnya Renata berdiri di hadapannya dengan rambut yang kusut, baju tidur berantakan dan mata yang sembab.


"Lo... bangun tidur?" tanya Raffi tidak menyangka sosok Renata bisa berubah seperti ini.


"Nggak. Lo mau apa?" Renata duduk setelah menyeka sudut matanya sambil membelakangi Raffi. Namun tentu Raffi mengetahuinya karena mendengar suara isakkan gadis itu.


"Gue mau ngundang lo makan malam nanti di rumah gue." Raffi memberitahu tujuannya.


"Kapan?"


"Malam ini."


Renata tampak menimang jawabannya, sambil sesekali menghela nafas.


"Ya udah iya,"


Raffi mengangguk seraya beranjak bangun, "Nanti gue jemput." katanya.


"Iya." balas Renata menatap Raffi yang sepertinya terlihat buru-buru. "


"Lo nggak apa-apa, kan?" tanya Raffi memastikan.


"Ngga, udah lo sana balik." usirnya dengan tidak halus.


Raffi kicep. Meskipun tampilan Renata berubah, namun sikapnya masih sama seperti yang Raffi kenal.


"Iya. Bye."


Raffi berjalan menuju motornya yang terparkir disana. Menyalakan gas motornya, menatap Renata sebentar kemudian berlalu pergi.


Kaki Renata lemas dan tubuhnya ambruk di lantai. Ia menatap kepergian Raffi yang tanpa meninggalkan sepatah katapun.


Bersambung~