Last Taste

Last Taste
BAB 19. Kekalahan



Malam ini, Renata kelihatan bosan. Sudah ketiga kalinya ia bolak - balik menghampiri kasur, kemudian kembali ke balkon. Hingga kini gadis itu duduk di sofa kamarnya.


Pikirannya kacau. Ia gelisah entah apa sebabnya. Berulang kali Renata memaksakan matanya terpejam, namun berulang kali itu pula ia tidak bisa. Matanya masih menolak untuk menjumpai mimpi.


Raffi.


Di benaknya kini terbesit nama lelaki itu. Tidak bisa di pungkiri, Renata masih memikirkan puisi yang Raffi ucapkan langsung di hadapannya tadi siang, setelah akhirnya lelaki itu mendapatkan Bogeman di seluruh tubuhnya.


Tentu. Bukan Renata namanya kalau tidak pemberani. Bisa - bisanya lelaki itu memainkan perasaannya. Perasaan? Ya, karena saat Raffi membacakan puisinya, Renata sudah masuk ke dalam dunia lelaki itu.


"Huftt.."


Renata mulai bosan. Ia kembali melangkahkan kakinya keluar kamar. Malam ini ia tidak mau tertidur dengan memikirkan lelaki menyebalkan itu. Bisa - bisa nanti Raffi akan menyelinap masuk ke dalam mimpinya.


"Mau ngapain, Ren?" tanya Mamanya ketika mendapati Renata berjalan menuju dapur.


"Bikin teh." jawabnya.


"Udah jam 11, kamu belum tidur aja?" Mamanya itu mematikan televisi yang sempat di tontonnya tadi.


Jam dinding memang sudah menunjukkan pukul 11.15 WIB. Tidak biasanya Renata keluar kamar pukul 11, kecuali kalau perutnya meminta jatah.


"Nggak bisa tidur, Ma." kata Renata. Gadis itu mulai mengambil cangkir putih kemudian memasukkan gula pasir ke dalamnya.


"Mikirin Raffi, ya?" goda Mamanya terkekeh. Wanita paruh baya itu menatap Renata yang berada di pantri, tak jauh dari sofa ruang keluarga yang di tempatinya kini.


Renata bersikap seolah - olah ingin muntah, padahal tebakan Mamanya itu tepat pada sasaran.


"Ngapain mikirin dia coba, Ma?" balas Renata seraya menuangkan air panas ke dalam cangkir teh nya.


"Ya siapa tahu aja, kan? Oiya, tadi kamu kemana aja sama Raffi?" tanya Mamanya lagi. Entahlah, bagi Renata, pertanyaan Mamanya itu sungguh memalukan dirinya.


"Ke luar," balas Renata singkat.


"Keluar kota?" Mamanya kembali terkekeh. Senang menggoda putrinya yang jarang sekali susah di ajak bercanda.


"Ngga, Ma. Renata ke museum puisi di kota," Renata mengaduk - adukkan teh nya, kemudian ia berjalan mendekati Mamanya di ruang keluarga.


Papanya belum pulang, biasanya ia pulang setelah isya, namun hari ini sepertinya harus lembur lagi karena tumpukan pekerjaannya. Sedangkan Irfan, kakaknya itu baru saja pulang dan langsung masuk ke kamarnya.


"Raffi suka nulis puisi?" tanya Mamanya.


Renata mengangguk seraya duduk di samping Mamanya, menyeruput pelan teh hangatnya.


"Bagus dong, kamu bisa belajar sama dia." sarannya.


"Belajar gimana, Ma? Renata aja harus di tuntut untuk selalu cerdas di bidang akademik."


Mamanya terkekeh, ia mengelus rambut Renata. "Iya, nggak apa - apa. Sekalian belajar nulis puisi sama Raffi. Nggak rugi juga, kan?"


Renata mengangguk, mengiyakan.


"Ya udah, Mama mau tidur ya. Kamu juga langsung tidur kalo teh nya abis." katanya seraya beranjak bangun.


"Iya, Ma."


Sepeninggal Mamanya, Renata kembali ke kamar. Ia mengecek ponsel dan terdapat dua panggilan tidak terjawab dari nomor tak dikenal.


081347885944


Renata mengeryitkan alisnya. Ia menelpon balik nomor itu karena siapa tahu seseorang di sana mempunyai urusan penting dengannya.


"Halo?"


Sapa seseorang di seberang sana. Suaranya berat, menandakan itu seorang lelaki. Namun, sepertinya Renata pernah mendengar suara itu.


"Dengan siapa ya?" tanya Renata sopan.


Terdengar suara kekehan.


"Gue Ryan." katanya.


Renata terdiam sejenak. Ryan dari kelas XI IPA 5? Kapten basket di sekolahnya? Temannya Tiffany? Dan.. Ryan yang beberapa minggu lalu mengajaknya pulang bersama?


Renata tersenyum miring.


"Ya. Ada apa?" tanyanya.


"Nggak ada apa - apa. Lo lagi sibuk? Ko tadi nggak di angkat."


"Gue abis dari dapur."


"Oh oke. Lagi ngapain?"


Ah jujur saja, Renata malas sekali basa - basi seperti ini. Manfaatnya apa? Apakah Ryan akan melihatnya ketika Renata menjawab pertanyaannya tadi?


Tidak penting, kan?


"Minum teh,"


Okelah, hanya untuk menghargai basa - basi nya lelaki itu.


"Lo kenapa belum tidur aja? Udah jam setengah 12."


"Ini gue mau tidur. Udah dulu, ya?"


"Iya, selamat malam."


Renata langsung mematikan panggilannya. Menaruh kembali ponselnya di atas meja belajar. Fikirkannya kembali terngiang - ngiang. Kenapa bisa Ryan mengetahui nomornya? Dapat darimana lelaki itu?


Tapi biarkan saja. Renata juga penasaran dengan maksud Ryan yang beberapa kali ini menghubungi dirinya. Apalagi saat berpapasan, lelaki tampak salah tingkah melihat Renata.


***


Keesokan harinya, siswa/i melanjutkan acara Classmeeting yang sempat libur di hari Minggu kemarin. Hari ini khusus untuk final. Kelas XI IPA 2 yang masih bertahan hanya Basket putra dan Futsal putra. Semuanya hangus.


"Kampret, kelas mereka lagi." geram Hendar ketika melihat bagann pertandingan. Di sana tertera jelas bahwa basket putra tinggal menyisakan kelas XI IPA 2 dan XI IPA 5.


"Ada Ryan, dia top score!" kata Hendar.


Teman - teman sekelasnya berkumpul di samping lapang basket. Kelas mereka akan mulai bermain pagi ini.


Jaya menepuk bahu Hendar. "Nggak apa - apa. Ini hanya soal keberuntungan, bukan jago - jagoan." katanya.


"Tumben lo bijak," sahut Derry.


"Kan gue titisannya Mario Teguh."


Mereka terkekeh, mencoba mencairkan suasana yang sempat tegang. Sedari awal Classmeeting, kelas mereka memang belum pernah tanding bersama IPA 5, dan akhirnya kedua kelas itu bertemu di final.


Hebat, bukan?


Hendar, Jaya dan Derry kembali ke lapangan. Mendekati teman - teman sekelasnya.


"IPA 5 coi." kata Hendar setelah sampai di sana. Menatap Raffi dengan helaan nafasnya.


"Udah nggak apa - apa. Ada Hendar, kan? Hendar juga jago basketnya." Shafira terkekeh. Bendahara kelas itu merangkul Hendar yang kebetulan tingginya cukup sampai dengan lelaki itu.


Selain cantik, Shafira juga memiliki tinggi badan yang ideal. Sekitar 167 cm.


"Lah ko ada gue? Ada Allah kali. Jangan berharap sama gue ah." kata Hendar meralat.


"Ya udah iya, bapak KM."


Teman - temannya terkekeh. Termasuk Renata yang berdiri tepat di hadapan Raffi. Gadis itu memberikan aqua botol lewat bawah tangannya.


Raffi sontak terkekeh pelan. "Belum main," katanya.


"Minum dulu, biar sedikit lega. Supaya Lo nggak tegang lihat lawan - lawan lo nantinya."


Raffi mengacak rambut Renata, gemas. Ia mengambil botol aqua itu kemudian meminumnya sedikit.


"Untuk kelas XI IPA 2 dan XI IPA 5, di harapkan untuk segera memasuki lapangan. Pertandingan final akan segera di mulai."


Bersamaan dengan itu, suara dari mikrofon terdengar. Mereka menyebutkan kelas XI IPA 2 dan tim perwakilan dari basket agar segera mendekati lapangan.


"Udah di lapang woi. Lawannya belum siap." teriak Derry yang langsung mengundang tawa teman - temannya.


Tak menunggu waktu lama, kelas XI IPA 5 berdatangan dengan kakak kelas tercintanya, XII IPA 5. Juga tak lupa dengan drum yang semakin membuat permainan menjadi panas.


"Nih, pegang dulu." Raffi memberikan botol aqua itu kepada Renata. Ia tersenyum menatap gadis itu.


"Semangat!"


"Siap. Doain, ya?" pintanya.


Renata mengangguk. Ia menatap Raffi yang sudah berlarian memasuki lapangan bersama yang lainnya.


**


Pertandingan sudah berlangsung lama. Ini sudah memasuki babak kedua dengan skor 15 untuk kelas XI IPA 5, dan skor 10 untuk XI IPA 2.


Suara supporter sudah tidak se-semangat seperti awal, mereka kini lebih fokus melihat pertandingan yang terkadang mengundang keributan.


Suara yel - yel sesekali terdengar jika salah satu kelas mereka berhasil memasukkan bola ke dalam ring.


Hingga..


Priiiiit Priiiiit


Permainan di hentikan oleh wasit. Waktu pertandingan sudah habis. Raffi dan timnya menghampiri lapangan kemudian menjatuhkan dirinya ke lantai lapang.


Mereka kecewa. Merasa gagal. Teman - teman sekelasnya saling menyemangati dan mengatakan tidak apa - apa. Berbeda dengan XI IPA 5 yang bersorak mengumandangkan yel - yel kebanggaan mereka.


"Sori, guys." kata Hendar mewakili.


"Nggak apa - apa. Kalian udah usaha." balas Shafira seraya membagikan beberapa botol kepada temannya yang tadi bermain.


"Kita masih bisa dapet piala, juara 2 loh kita." timpal Firda. Renata yang berada di sampingnya mengangguk. Ia menatap Raffi yang masih menundukkan wajahnya.


"Nggak apa - apa. Cara main lo tadi keren banget, asli." katanya seraya mengelus rambut Raffi yang sudah tak beraturan.


Raffi mendongakkan wajahnya. "Sori ya?" katanya.


"Santai aja. Btw rambut lo makin gondrong aja. Besok potong rambut ya? Gue anter." balas Renata.


"Nggak bisa, gue suka rambut gini."


"Potongs sedikit, Raf. Nggak semua."


Raffi terkekeh, "Ya udah, iya."


Bersambung~


Kali ini Renata my sweet banget hahaa😂


Jangan lupa Like, Komen dan Vote ya!🥰 semoga sukaa🤗