Last Taste

Last Taste
BAB 8. Tantangan untuk Renata



"Tukar pikiran lalu tukar hati."


- Last Taste -


***


Setelah selesai upacara bendera, kemudian literasi buku dan mengumumkan soal kemenangan lomba debat hari Sabtu kemarin lusa, Raffi mengajak Renata ke kantin. Hari ini guru-guru akan mengadakan rapat untuk membahas Ujian Akhir Semester yang akan di laksanakan minggu depan.


Renata mengiyakan ajakan Raffi karena ada sesuatu yang harus ia beli di kantin.


"Gue mau ngajak lo main sebuah tantangan," kata Raffi memulai. Ia merogoh saku celananya untuk mengambil permen dan memberikannya kepada Renata.


Namun belum sempat Renata menjawab, para gadis dengan manjanya mendekati Raffi. Sekitar tujuh orang dan mereka semua dari kelas X.


"Ka Raffi, mau fotbar boleh?" kata salah satu gadis mewakili. Beberapa gadis di belakangnya menatap Raffi kagum dengan pancaran sinar matanya.


Renata meringis.


Raffi terkekeh. Ia mengangguk kemudian berdiri. Gadis yang tadi berbicara itu memberikan ponselnya ke Renata. "Kak, tolong fotoin yaa." katanya.


Renata memutar bola matanya. Namun tak ada pilihan lain, ia menerima ponsel itu kemudian ikut berdiri. Tidak mungkin kan Renata mengambil foto dengan cara duduk?


"Sebelah sinian, Kak. Biar aku kelihatan glowing, hehee.." salah satu gadis menimpali. Mereka semua bergeser ke tempat yang sedikit lebih terang.


Renata menghitung sebelum memotret. Mencoba mengambil gambar dengan sempurna.


"Sekali lagi, Kak." kata gadis itu.


"Ya," jawab Renata kembali menghitung.


"Makasih, Kak Raffi. Oiya, jangan lupa follback Instagram aku ka @ratnayuda.20,"


"Aku juga kak, @shafira.qiu ."


"Kak nanti kirim nomor WhatsApp nya ya, nanti aku DM kakak."


Raffi tersenyum, "Siap. Nanti di follback semua. Oke? Sekarang ade-ade semuanya kembali ke kelas ya," kata Raffi mengakhiri. Ia tahu Renata mulai tidak mood.


"Oke, Kak. Bye!" mereka berlalu.


Sebenarnya Raffi tidak jarang di kerumuni oleh adik kelas seperti tadi, kalau bukan karena prestasi yang ia lakukan. Misalnya seperti menjuarai lomba puisi bulan lalu, gadis-gadis itu akan mengerumuninya.


Tahu alasannya?


Karena pada waktu seperti itu Raffi mau melayani. Kalau ia tidak berprestasi, ia tidak mau melayani karena yaa malas aja. Buat apa coba?


"Sori, Ren." kata Raffi pelan.


Renata meminum teh kotaknya. Mengalihkan tatapannya dari Raffi.


"Tadi lo mau ngomong apa?" tanya Renata melanjutkan.


"Ah iya. Gue mau ngajak lo main tantangan. Lebih tepatnya tukar pikiran lah biar ngga bosen."


"Lalu?"


"Gue mau nantang lo bikin puisi, kalau dalam waktu dua hari lo belum selesai, lo harus ajarin gue kimia." kata Raffi.


"Kalau misalkan gue berhasil?" tanya Renata.


"Gue bakal turutin semua keinginan lo,"


"Termasuk jauhin gue, mau?" Renata terkekeh.


Raffi pura-pura berfikir keras, "Tidak untuk itu." katanya kemudian tertawa.


Raffi menyambutnya. "Deal."


***


"Raf," teriak Ryan seraya melemparkan bola basket ke arah Raffi yang tengah berteduh di bawah pohon mangga.


Raffi sontak menangkapnya sebelum bola itu jatuh mengenai kepalanya. Ryan mendekat dengan cengiran khasnya.


"Sedeket apa lo sama Renata?" tanya Ryan. Ia duduk di samping Raffi seraya meminum air botol yang sudah di sediakan.


Sore ini suasana sekolah sangat ramai. Suara hentakkan kaki anggota paskibra sedang latihan di lapang upacara, juga suara alat-alat drumband yang tengah latihan mempersiapkan untuk lomba esok lusa.


Raffi tak langsung menjawab pertanyaan Ryan. Ia menatap Tiffany yang dengan gemulainya memainkan mayoret di sana. Memimpin barisan, dan sesekali menentukan arah jalan jika menemui belokan.


Raffi seketika tersenyum. Jujur saja ia merindukan gadis ramah itu. Sayangnya, Tiffany sudah meruntuhkan semuanya. Rasa kepercayaan yang dulu Raffi bangun, roboh begitu saja.


"Raf?" Ryan menyenggol bahu sahabatnya, kemudian tawanya terdengar setelah mengetahui Raffi yang diam-diam memerhatikan Tiffany.


"Gue ngga deket-deket banget sih sama Renata. Tapi seru aja gitu gangguin dia setiap hari," balas Raffi tersadar. Untung saja ia masih ingat pertanyaan Ryan yang tadi.


"Lo merhatiin Tiffany?"


Raffi menggeleng, "Ngga." sangkalnya.


"Ah kampret lo bisa banget bohongnya. Jelas-jelas gue liat sendiri," Ryan mulai ngegas.


Raffi terkekeh, "Hen, Der!!" teriaknya kemudian memanggil Hendar dan Derry kini berjalan datang menuju lapangan.


Derry baru saja mengerjakan remedial ulangan harian pelajaran Kimia, sedangkan Hendar, lelaki itu baru datang dari kantor untuk mengambil kartu SPP bulanan yang akan di bagikan nanti kepada teman sekelasnya.


"Lo udah latihan?" tanya Hendar ketika sudah sampai di sana.


"Belum. Gue lagi ngadem dulu." balas Raffi.


Pluk


Ryan melemparkan kayu kecil tepat di dada Raffi, "Ngadem sambil liatin mantan hahaha." katanya tertawa.


Hendar dan Derry sontak mengalihkan pandangannya ke sekeliling sekolah. Dan mereka menemukan Tiffany.


"Samperin dodol kalo lo kangen mah," kata Derry di susul tawanya.


"Nyesel, Der, udah mutusin." balas Hendar.


"Eh berisik lo, kampret." Raffi mendelik. Ia bangun dari duduknya kemudian berjalan menuju lapangan.


"Raffi kalo di kelas masih suka gangguin Renata ga, sih?" tanya Ryan.


Hendar dan Derry membuka seragamnya dan berganti dengan jersey basketnya. Ryan memang tidak satu kelas bersama Raffi, Hendar dan Derry. Ryan dari kelas XI IPA 5, satu kelas bersama Tiffany. Sedangkan teman-temannya itu dari XI IPA 2.


"Deket ga deket sih. Tapi si Raffi yang mepet terus," jawab Hendar.


"Emang kenapa lo nanya gitu?" Derry menyelidik.


Ryan langsung salah tingkah. "Ya gapapa lah, nanya doang. Udah ah ayo latihan." katanya kemudian berlalu pergi.


"Bilang aja lo suka Renata woi,"


Bersambung~


Terimakasih sudah membaca, semoga suka yaa🥰 jgn lupa like, komen dan Vote oke!!