Last Taste

Last Taste
BAB 22. Tidak Ada Perasaan



Raffi melemparkan bola basket ke dalam ring dengan sisa tenaganya yang habis terkuras. Sudah hampir 2 jam Raffi meluapkan rasa kesalnya dengan barmain basket disini.


Hendar, Derry dan anak-anak lainnya tengah beristirahat setelah menikmati lelahnya latihan dibawah sinar matahari yang menyengat.


Sedangkan Ryan, kaptennya itu belum juga tiba. Padahal dia sendiri yang mengajak anggotanya untuk latihan hari ini di sekolah. Namun sampai pukul 11 siang, Ryan belum kunjung datang.


Bugh


Suara bola menghantam batang pohon mangga yang rindang. Teman-temannya langsung menjauh ketika bola yang di lemparkan oleh Raffi itu mengenai pohon yang sedang mereka naungi.


"Kampret lo! Banyak orang disini." teriak Hendar kepada Raffi yang sudah merebahkan tubuhnya di lapangan. Lelaki itu tepar.


"Sori." Raffi balas berteriak. Ia memejamkan matanya tak sanggup melihat sengatan matahari yang berada tepat di atasnya.


Fikirkannya jatuh kepada Renata yang sudah hampir seminggu ini, tidak di temuinya. Sejak ia bertemu Ryan di rumah Renata, Raffi sudah tidak lagi bertemu gadis itu. Hingga sekarang.


Perasaannya masih mengambang. Namun ia benar-benar tidak menyukai kedua sejoli itu menjalani hubungan. Jujur saja, ia merindukan Renata. Tapi mungkin tidak bagi gadis itu. Mustahil sekali Renata merindukannya.


Sayup-sayup Raffi mendengar suara teman-temannya yang menyambut kedatangan Ryan. Sontak ia terbangun dan menatap ke arah pohon rindang itu.


Disana Ryan sudah datang bersama Renata. Dan yang Raffi dengar tadi adalah suara teman-temannya yang tengah mengompori Ryan.


Raffi menghela nafas. Renata benar-benar menyukai Ryan. Mungkin, gadis itu lebih menyukai cara Ryan yang manis saat mendekatinya. Berbeda dengan Raffi, yang selalu mengajaknya adu mulut sampai berbusa.


"Raf! Sini woi! Ada Renata, nih." Teriak Derry mulai mengompori.


Raffi yang sedari tadi menatap ke arah Renata, kini tatapannya terbalaskan. Dari kejauhan, gadis itu juga menatapnya.


Raffi beranjak bangun. Sebisa mungkin ia harus bersikap biasa saja. Mungkin teman-temannya juga bingung. Selama ini yang mereka lihat, disitu ada Raffi, pasti disitu pula ada Renata. Namun sekarang, kalimat itu sudah tidak berlaku.


Raffi mengambil boto air yang di bawanya dari rumah. Ia meminumnya seraya menatap Renata yang kini duduk di sebelah Ryan.


"Ren, tumben lo datangnya sama Ryan?" tanya Hendar sedikit penasaran. Ia tahu Renata tidak akan menjawabnya, dan itu tidak masalah bagi Hendar.


"Tadi gue jemput ke rumahnya." jawab Ryan mewakili.


Renata tersenyum dengan kecutnya. Wajahnya tampak muram. Gadis itu merasa canggung karena ini pertama kalinya Renata berkumpul dengan anak laki-laki dari ekskul basket. Kalau dengan Hendar dan Derry sih sudah biasa karena mereka satu kelas.


Raffi memasukkan botol air itu ke dalam tasnya kemudian menggendongnya.


"Gue balik ya, panas banget." katanya mulai melangkah.


"Lo bawa motor, Raf?" tanya Gibran yang tengah mengunyah makanan rumahannya.


Raffi mengangguk.


Gibran langsung mengambil tasnya kemudian menarik baju Raffi agar segera sampai di parkiran.


"Gue nebeng." katanya nyengir. Semua teman-temannya menyoraki bahkan melemparkan beberapa makanan ke arah Gibran.


Renata ikut tertawa pelan. Padahal ia menyayangkan Raffi yang sepertinya sangat buru-buru pulang. Raffi seperti menghindarinya.


"Ok, gue cabut ya." kata Raffi mengakhiri. Tatapan singkat itu tertuju pada Renata setelah akhirnya Raffi benar-benar pergi dari sana.


"Gue heran sama dia." kata Hendar entah kepada siapa.


"Herannya?" tanya Ryan.


"Tadi dia datang pagi banget, mainnya juga kasar, sampe dua jam malah. Terus sekarang, dia langsung balik gitu aja setelah lo sama Renata datang." katanya.


"Mungkin dia cape," balas Ryan terkekeh.


"Kalian nggak ngerebutin Renata, kan?"


"Nggak lah, lo denger sendiri, kan waktu itu? Raffi sendiri yang bilang kalo dia nggak ada hubungan apa-apa sama Renata." jelas Ryan agak emosi.


Renata yang duduk di sebelahnya, langsung menarik lengan baju Ryan. Ryan menoleh dengan senyum manisnya.


"Gue mau balik." pintanya.


"Ren, baru juga nyampe." balas Ryan.


"Gue ada les," katanya beralasan.


"Libur gini masih ada les?" Ryan tak percaya.


Teman-temannya terkekeh memaklumi. Ya, mereka mengenal Renata karena kepintaran gadis itu. Jadi wajar saja jika sewaktu-waktu mendengar alasan Renata hanya untuk mementingkan belajarnya.


Renata mengangguk, ia kembali menarik lengan baju Ryan, terus memaksanya.


"Ya udah iya." Ryan akhirnya menyerah dan pamit kepada teman-temannya.


***


"Gue turun di halte aja." teriak Renata ketika motor yang di kenakan Ryan sudah mendekati halte, tempat ternyaman saat menunggu bis sewaktu sekolah.


Tak ada jawaban, namun Ryan menurut. Lelaki itu menghentikan motornya di depan halte yang sepi.


Renata tersenyum diam-diam. Ia harus menyusul Raffi ke rumahnya. Berbicara, menjelaskan, mengobrol dan bertengkar seperti biasa nya.


"Kenapa turun disini?" tanyanya seraya melepas helm.


"Gue nunggu teman les gue disini," balas Renata seraya menuruni motor besar itu. Ia mengedarkan pandangannya, berpura-pura mencari seseorang.


Ryan menarik lengan Renata, menatap mata gadis itu dalam. "Jangan bohong sama gue, plis." katanya memohon.


Renata jadi tidak enak. Tapi ia harus menyusul Raffi sebelum lelaki menyebalkan itu berfikir yang aneh-aneh tentangnya dengan Ryan.


"Ya udah, gue anterin. Tempatnya dimana?" tanya Ryan tak menyerah.


"Nggak usah, lo pulang duluan. Lo mau latihan, kan? Udah sana."


"Kalo gitu, gue mau nagih jawaban lo seminggu yang lalu. Gimana?" Ryan meminta.


Renata mengeryitkan alisnya. Jawaban apa?


"Lo mau jadi cewek gue?" ulang Ryan mengingatkan pertanyaannya seminggu lalu, sewaktu mereka masih duduk di bangku bioskop.


Ya, saat itu Renata tidak langsung menjawab pertanyaan Ryan. Gadis itu meminta waktu untuk memikirkannya. Tadinya, sih, Renata mau meminta saran kepada Raffi, namun lelaki itu akhir-akhir ini sulit di hubungi.


"Besok deh jawabannya. Oke?" Renata tersenyum lebar.


Mata Ryan berbinar, senyumnya mengembang. "Oke, gue tunggu." katanya.


"Ya udah lo pulang gih sana." kata Renata lagi.


"Iya, lo hati-hati nunggunya. Kalo ada apa-apa, telepon gue." kata Ryan mengingatkan.


Renata mengangguk malas. Menatap Ryan yang seudah menyalakan mesin motor.


"Bye?"


Renata mengangguk lagi seraya menyaksikan kepergian Ryan dengan motornya. Setelah memastikan lelaki itu sudah cukup jauh, Renata mencari angkutan umum untuk mengantarkannya ke komplek perumahan Raffi.


"Kenapa gue semangat banget buat ngejelasin ke si cebong sih?"


Renata kesal sendiri. Tidak mengerti tentang perasaannya. Padahal sebenarnya, di jelaskan ataupun tidak, mungkin Raffi juga belum tentu peduli.


***


Renata sudah berada di halaman rumah Raffi. Rumah itu selalu terlihat bersih dan terawat. Motor Raffi terparkir disana, menandakan lelaki itu sudah berada di rumah.


Renata merogoh saku celananya untuk mengambil ponsel, ia akan menghubungi Raffi bahwa dirinya sudah ada di depan rumah. Namun sialnya nomor itu masih belum aktif sejak seminggu lalu.


Raffi kenapa, sih?


Renata mencoba bersabar. Terpaksa ia harus mengetuk pintu rumah Raffi untuk bisa menemui lelaki itu.


"Ini namanya perjuangan bukan, sih?" Renata bertanya-tanya.


"Tapi perjuangan apa?"


***


Setelah menunggu beberapa menit, Raffi datang dengan muka bantalnya. Padahal tadi ketika Renata meminta pulang kepada Ryan, jarak waktunya tidak begitu jauh dengan Raffi yang pulang duluan. Namun lelaki itu sudah tertidur begitu nyenyaknya?


"Lo kemana aja?" semprot Renata ketika Raffi sudah duduk di depannya. Sesekali lelaki itu menguap dan mengacak rambut nya.


"Gue dirumah." balas Raffi.


"Nomor lo nggak aktif selama seminggu ini, lo kemana?" tanya Renata lagi. Kini lebih tegas dari sebelumnya.


"Hp gue rusak."


Renata terkekeh. Ia menatap sekeliling rumah Raffi yang terlihat mewah, namun masih saja lelaki itu beralasan bahwa ponselnya rusak? Memangnya ia tidak punya laptop untuk log-in aplikasi Instagram atau lainnya yang bisa menghubungi Renata?


Tapi tunggu, kenapa Renata jadi nuntut ingin di hubungi?


"Jujur sama gue, lo kenapa?" tanya Renata lagi.


"Hp gue rusak yaampun."


"Gue nggak percaya."


"Btw, gimana hubungan lo sama Ryan? Udah jadian, kah?" tanya Raffi.


Pertanyaan itu membuat Renata mendecih sebal. "Gue nggak ada hubungan apa-apa sama dia."


Raffi tertawa, "Masa?" katanya menyebalkan.


Renata mencoba bersabar melihat wajah Raffi yang minta di gorok, belum lagi nada bicara lelaki itu yang seakan tidak peduli degan Renata.


"Asli, gue juga nggak tertarik pacaran-pacaran kaya gitu. Karena, kan-" kata Renata yang kemudian ucapannya terpotong oleh Raffi.


"Ren, sekalipun lo ada hubungan sama Ryan, silahkan aja. Toh, gue juga udah balikan sama Tiffany."


Renata langsung menatap Raffi tak percaya. Balikan dengan Tiffany?


"Kita cuma temenan, kan? Nggak lebih." Raffi menegaskan.


Renata di buat jatuh sejauh-jauhnya. Kedatangannya kesini untuk menemui Raffi dan menjelaskan yang sebenarnya. Tapi mengapa lelaki itu berbicara panjang dan tidak memberi kesempatan Renata untuk bicara?


"Ko lo ngomong gitu?" Renata tak menyangka. Ini bukan sosok Raffi yang di kenalnya.


Meskipun perkataan Raffi benar, namun mengapa lelaki itu sangat niat mengatakannya?


"Karena kita emang sama-sama nggak ada rasa. Lo faham?"


Bersambung~


Huhuui Raffi jahat bat dah😭😭😭