L O K A R E N J A N A

L O K A R E N J A N A
8.TAWURAN



...-Tawuran-...


Vinan dan Fani berlarian dikoridor dengan memakai pakaian olah raga, rambut keduanya yang sama-sama dikuncir kuda terombang-ambing bergerak tak beraturan. Mapel olah-raga barusan sungguh menguras tenaga, pak Sandi sungguh kejam dengan memberi komando muridnya agar berlari lapangan upacara sebanyak sepuluh putaran.


Tujuan mereka sekarang adalah kantin sekolah, tempat sejuta kebahagiaan bagi umat mahasiswa. Cahaya matahari diluar sana membuat kerongkongannya sulit menelan ludahnya sendiri, apalagi paparan sinar UV yang membuat keduanya tampak dekil. Glowing akan keringat.


"Huh huh huh ..." Vinan segera mengambil botol mineral diatas meja dan meneguknya hingga tandas. Tidak ia pedulikan lagi tatapan aneh para siswa didekatnya.


"Gilak! Lari lapangan sepuluh kali, apa nggak kurang-kurang tuh?" gerutu Fani sembari mengibas-ibaskan tangganya didepan wajah berharap rasa gerah ini lenyap dari tubuhnya.


"Gue pesen dulu." Vinan mengelap mulutnya yang masih meninggalkan bulir air lalu berjalan menuju stand sosis bakar kesukaannya.


"Gue juga pesenin!" Seru Fani dan diangguki oleh Vinan tanpa berbalik badan. "Ada apaan tuh?" gumam Fani takala melihat banyak siswa berlarian menuju area belakang sekolah. Fani sengaja menyandung kaki seorang adik kelas yang lewat menyebabkan korban jatuh tersungkur tanpa ancang-ancang. "Aduh!!"


"Eh, lo tau ada apaan?" Tanya Fani tanpa rasa bersalah.


Gadis itu mendongak. "Hah? Katanya ada yang berantem kak."


"Dimana?"


"Gak tau persis, tapi katanya dibelakang sekolah lagi ada tawuran." Jawab gadis itu langsung berlari menyusul temannya yang sudah jauh.


"Berantem? Tawuran?" Fani berfikir sejenak lalu berlari menghampiri Vinan yang sedang menunggu pesanan.


"Eh eh mau kemana?" Tanya Vinan ketika Fani menarik pergelangan tangannya dan berlari menuju belakang sekolah.


"Fan! Mau kemana sih? Pesenan gue belum selesai!!"


"Diem! Kita lihat orang berantem!"


Mendengar itu Vinan langsung berdecih. "What?! Mending gue ngisi perut daripada lihat orang berantem!"


"Diem aja! Ini pasti seru!" dengus Fani yang terus berlari sambil menggeret tubuh Vinan. Banyak siswa yang berhamburan datang ke lokasi yang digadang-gadang sebagai area tawuran. Ada sebagian siswa yang berlari begitu saja, ada juga yang masih menenteng buku juga rela membawa mangkok baksonya agar tidak dicuri orang.


Dengan lihai Fani menerobos kerumunan siswa-siswi yang sedang menonton sesuatu didepannya. Dalam hitungan detik ia berhasil membawa Vinan ke barisan depan. Sesak dan panas, itulah hawa yang dirasakan sekarang.


"Oh my gosh!" pekik Fani ketika melihat banyak pemuda laki-laki saling memukul, menginjak, mendorong, menendang dan tindak kekerasan lainnya. Juga jangan lupakan luka biru, bonyok dan darah segar yang mengalir disetiap sudut wajahnya. Batu, kayu dan banyak serpihan kaca berserakan ditempat itu. Semua orang yang menonton itu hanya bisa tercengang ditempat melihat orang-orang tanpa hati memukul lawannya tanpa ampun.


"Udah ah Fan! Gue balik ya! Pengen muntah gue liat begituan!" Pinta Vinan dengan ekspresi jijik.


"Nikmatin aja! Ini itu namanya sirkus gratis!" Bukannya menjauh Fani malah mengeluarkan ponsel dan merekam apa yang terjadi antara siswa-siswa berandalan ini.


"Fann!! Ayo balik!!" Rengek Vinan.


"Bentar ah!"


"Ah elah! Netijen banget sih jiwa lo"


"Biar! Kan lumayan buat konten."


Vinan mencebik, ia antara tidak tega dan takut melihat perkelahian itu. Bukan hanya satu dua orang yang berkelahi, namun ada belasan bahkan puluhan. Mereka semua seakan-akan tidak takut hukum juga dampak dari apa yang sekarang mereka lakukan. Apalagi ini masih jam sekolah, biasanya ada polisi atau satpol PP yang berkeliling.


Pandangan Vinan terpusat pada seorang lelaki yang tidak asing baginya, lelaki itu menginjak perut lawannya hingga muntah darah. Tak sampai di situ, lelaki itu juga terus memukul lawannya membabi buta tanpa peduli lawannya akan mati.


"******* LO! ANJING!!" Teriak lelaki itu ditengah kerusuhan, namun suara itu masih sempat didengar oleh Vinan walau samar-samar.


"Arhan?" lirih Vinan dengan terus memfokuskan pengelihatannya. Wajah lelaki itu sudah sama seperti teman-temannya, biru dan goresan kecil dipelepis yang mengeluarkan darah.


Dari arah belakang tampak seorang laki-laki berjalan menghampiri Arhan yang masih belum puas menghabisi lawannya, lelaki itu membawa balok kayu berukuran sekitar setengah meter. Wajahnya memancarkan kemarahan juga kebencian, mungkin dia ingin balas dendam dari belakang sekarang. Persetan disebut pengecut, ini area tawuran dan tidak ada hukum yang melarang kalau tidak boleh menyerang lawan dari belakang.


"ARHAN!!" Teriak Vinan sekencang mungkin hingga membuat beberapa siswa menoleh padanya termasuk Fani.


"ARHAN! ARHAN AWAS DIBELAKANG LO!!"


"Mana Arhan??!!" Tanya Fani heboh. Kepalanya celingukan namun tak kunjung melihat sosok yang dimaksud.


"ARHAN!!!"


brukkk


Dengan cekatan Arhan berbalik dan menendang lelaki dibelakangnya tepat diarea dada. Arhan mengambil balok kayu yang terlempar dan memutar keadaan dengan memukul kaki lelaki yang hampir melukainya. Semua wanita yang melihat itu langsung kompak berteriak histeris.


"Cuih!" Arhan meludahkan salivanya tepat pada tubuh musuhnya. "******** ANJING!!!"


Arhan menoleh pada pagar pembatas antara area SMA Gardamawa dengan lahan belakang. Dilihatnya wajah gadis yang meneriakinya tadi, raut wajah Vinan tampak ketakutan dengan menggigit kuku jari jempolnya.


Arhan mendekat namun sebuah pukulan dirahang berhasil menghentikannya. "KEPARAT!!" Serunya seraya memukuli perut lawannya. Tangannya semakin penuh akan lumuran darah, bukan darahnya melainkan darah musuhnya.


"ARHAN!!" Teriak Vinan lagi agar Arhan berhenti memukuli lelaki dihadapannya. Lelaki itu menoleh dan beranjak berdiri menatap Vinan yang tidak berpindah posisi juga ekspresi.


"BUBAR! BUBAR! NGGAK ADA YANG PERLU DILIHAT!!" Teriak kedua laki-laki bersamaan. Siswa siswi yang mendengar suara berat itu sontak berbalik dan berlari memasuki area sekolah kembali sebelum tertangkap sang ketua OSIS dan berakhir pada interogasi.


Ya! Mereka berdua adalah Ragil selaku ketua osis dan Liam selaku wakilnya.


Liam dari belakang berhasil menarik tangan Vinan dan Fani bersamaan. "BUBAR!!" Gertaknya lagi lalu segara menarik tangan dua gadis itu untuk menjauh. Cekalan tangan yang kuat membuat kedua gadis itu pasrah.


"Udah tau bahaya kenapa malah dilihat?!" Bentak Liam pada dua gadis yang menundukkan kepala.


"Yah kan kita pengen tau. Emang lo nggak kepo apa? Lo tadi juga liat." Cerocos Fani.


"Udahlah Li ... kita nggak kenapa-kenapa juga." Ucap Vinan yang langsung diangguki oleh Fani.


"Mending kita ke kantin, keburu abis jam istirahat." Ajak Fani seraya menarik tangan Vinan pergi.


Liam menghela nafas, ia kesal namun tidak tega juga memarahi perempuan. Sebelum rasa kesalnya bertambah, ia memilih untuk menyusul dua gadis itu dengan langkah lebar.


Semua ini demi rasa tanggung jawabnya, ia pernah berkata kepada Lyman kalau ia akan menjaga Vinan selama masih dalam pengelihatannya. Fani, gadis itu juga tidak boleh terluka karena Vinan akan memarahinya.


Liam duduk berhadapan dengan Vinan dan Fani yang kini sudah memakan sosis bakar. Vinan menatap Liam, ada raut kekesalan diwajahnya.


"Lii ... udahlah ... orang kita juga baik-baik aja." Bujuk Vinan.


"Tetep aja, kalian tuh menantang maut."


"Apaan coba! Orang kita cuma liat orang berantem bukan mau naklukin gunung Fuji!" Cibir Fani.


"Iya ih, lebay!" Timpal Vinan.


"Itu karena gue nggak pengen kalian kenapa-kenapa." Tutur Liam membuat Fani tersipu malu, tapi tidak dengan Vinan.


"Melayang! Melayang! Tebang! Halu!" Cecar Vinan yang melihat sahabatnya senyam-senyum sendiri.


"Ya ampun!! Ternyata waketos bisa perhatian ..." Puji Fani melembut.


"Ini botol kecap nganggur ..." Kata Liam bermaksud menyindir dan membuat ketiganya tertawa.


Suara dering telepon membuat Vinan mengentikan tawannya lalu merogoh ponsel dengan case warna merah.


"Apa?" Tanya Vinan ketus. Sudah biasa.


"Santai napa kak!" Ketus Zynan diikuti suara tawa Galen diseberang sana.


"Apaan?"


"Gue cuma mau bilang kalau nanti pulang sekolah mau ada acara sama Galen. Jadi lo naik taksi ya ..."


"Enak aja! Nggak! Mobil kan lo yang bawa! Terus gue lo suruh naik taksi? Kan gue udah bilang kalau mobil biar gue aja yang bawa ..."


"Ah elah kak! Cuma sekali aja."


"Berkali-kali Zynan ...!!" Pekik Vinan sembari mendekatkan mulutnya ke speaker ponsel dan refleks membuat Liam dan Fani meringis.


"Yaudah pokonya nanti gue gak bisa jemput lo ..."


"Gak bisa gitu--"


tut tut tut


"ZYNAN ******!!!" Teriak Vinan seraya membanting ponselnya pelan.


"Kenapa sih? Berantem mulu, untung gue nggak terlahir untuk kembar." Ujar Fani terkekeh.


"Zynan bawa mobil, terus dia ada acara. Yang lebih gila lagi, gue disuruh naik taksi dong!!"


"Yaudah kali naik taksi aja ..."


"Enak ngomongnya!! Kalau Zynan yang bawa mobil selalu aja gini!"


"Pulang bareng gue." Ucap Liam santai lalu mengambil satu buah sosis bakar diatas piring Vinan.


"Bener tuh."


Raut wajah Vinan sedikit tenang. "Tapi nanti lo minta upah. Gak!"


"Nggak lah."


"Demi apa?"


"Demi ayam jago emak gue yang bisa bertelor."


"Mana ada!" sangkal Fani.


"Okelah." Jawab Vinan lalu kembali memakan sosis bakar miliknya.


Tapi tunggu.


"Lo kasih apa sosis gue Fani!!!!"


Setelahnya Vinan berteriak kelabakan mencari minuman, sedangkan Fani hanya nyengir dengan ekspresi casual.


tbc


•••


like dan komen jangan lupa♡ jngn jadi siders, oke? Thank you 💚