L O K A R E N J A N A

L O K A R E N J A N A
15.TUGAS NEGARA



...-Tugas Negara- ...


Seusai mobil Liam melesat pergi, Vinan menggeser gerbang kayu rumahnya dengan pelan. Tenaganya nyaris habis karena latihan voli sore ini. Untung saja guru-guru akan pergi takizah sehingga mengharuskan muridnya untuk pulang awal.


Dengan masih memakai baju olahraga SMA Gardamawa dengan celana training pendek, Vinan berjalan memasuki rumah dengan lunglai. Suara derap langkahnya yang terdengar pelan menghiasi keheningan rumah ini. Tapi tunggu, agaknya ada orang yang menghuni, satu pasang sepatu boots tentara warna hitam milik Lyman terjejer rapi diteras juga ada sepasang sepatu serupa disampingnya.


"Assalamualaikum!" Vinan memasuki rumah sambil mengedarkan pandangannya mencari sosok yang ada dipikirannya kini. Di ruang tamu tidak ada orang begitupun diruang TV, alih-alih lanjut mencari Vinan memilih untuk langsung saja menuju anak tangga sebagai satu-satunya jalan menuju kamarnya.


"Kakak! sini!" Panggil Lyman yang ternyata duduk dimeja makan. Karena dipanggil, Vinan menghentikan kakinya dan menoleh ke meja makan, ada sosok asing yang duduk membelakanginya.


"Ayah udah pulang? Kok mobil nggak ada didepan?" Tanya Vinan sembari melangkah mendekat. Ia menaruh tasnya diatas meja lantas membuka kulkas guna mengambil air dingin.


"Mobil ayah tinggal di barak. Sini dulu! Kamu tumben pulang sore, biasanya pulang abis maghrib gitu."


Setelah memutar tutup botol, Vinan beranjak duduk di kursi samping Lyman. "Guru-guru lagi takizah, jadi pulang awal." Pandangan Vinan beralih pada laki-laki berbadan ideal dengan wajah tampan berwarna sawo matang yang kini menatapnya hangat, dia sama-sama memakai seragam PDL tentara seperti ayahnya. Namun lambang empat panah dikerah bajunya yang membuatnya beda.


"Dia Sersan Ezra." Ucap Lyman membuat lamunan Vinan buyar. "Tadi siang ayah depat perintah kalau selama beberapa bulan kedepan ayah bakal bertugas di Kalimantan. Dan Sersan Ezra ini yang akan jaga kamu sama Zynan. Ayah masih nggak tega ninggalin kalian berdua."


"Tapi yah--"


"Ini adalah perintah." Ucap Lyman tegas lalu berjalan menuju kulkas mengambil sebuah apel merah yang nampak segar. "Sersan Ezra adalah orang baik, ayah percaya sama dia. Jadi kalian berdua jangan ngerepotin."


"Saya Ezra." Lelaki yang akrab disapa Ezra itu mengulurkan tangannya dan disambut ramah oleh Vinan.


"Lavinan, panggil aja Vinan."


"Lagian ayah berlebihan tau! Masa kita udah gede gini dititip-titipin, emangnya kita anak TK?" Protes Zynan yang tiba-tiba muncul dari arah tangga. Tautan tangan Vinan dan Ezra terlepas. Keduanya sama-sama menoleh Zynan yang berjalan mendekat.


"Kalau nggak ada yang jaga, ayah takut kalian bakal jadi liar. Kamu kemarin juga muncak nggak bilang-bilang." Ucap Lyman menyerang balik, Zynan hanya mengeluarkan cengirannya kemudian berjanjak membuka-buka kantong plastik diatas meja yang isinya beberapa bungkus bakso.


"Tapi kan masih ada Vinan, aku bisa jaga Zynan. Lagian dia udah gede juga, manja!"


"Eh elu tuh yang manja! Gue mah jaga diri bisa! Emang lo bisa karate? Ya nggak pasti!" Ejek Zynan membuat Vinan mendengus.


Jika Lyman pergi selama beberapa bulan, suasana rumah akan semakin sepi, itulah yang tidak disukai Vinan. Dulu saat Lyman pergi bertugas ke Papua, masih ada neneknya yang akan menginap disini dan menemaninya hingga Lyman kembali. Namun sekarang berbeda, neneknya telah tiada. Ia benar-benar kehilangan sumber kasih sayang seorang ibu.


"Ayah berapa bulan di Kalimantan?" Tanya Zynan.


"Masih nggak tau persis, mungkin sekitar tiga sampai empat bulanan."


"Lama banget ..." Eluh Vinan.


"Udahlah kita kan masih bisa teleponan." Ucap Lyman. "Mending sekarang kalian makan dulu, abis itu anterin ayah ke Bandara."


"Emang harus pergi sekarang? Malam ini juga?" Tanya Vinan.


"Iya. Makanya kamu cepat makan terus bersih-bersih."


Vinan mengangguk pasrah, ia sangat kecewa akan kabar yang begitu tiba-tiba, kalau tau akan seperti ini, hari-hari sebelumnya ia akan menghabiskan banyak waktu dengan Lyman. Terlambat, Lyman akan pergi malam ini juga.


Karena sudah bad mood, Vinan memilih untuk berdiri dan melangkahkan kaki menuju tangga. Sebuah tas ransel besar bermotif loreng yang tidak diketahui isinya sudah bersender ditembok dekat tangga, Lyman pasti sudah mempersiapkan segala kebutuhannya sejak tadi. Tau gitu kenapa Lyman tidak menghubunginya lebih awal supaya cepat pulang?


"Ck ck ck! Nggak usah dipikirin kak, dia emang gitu!" Tutur Zynan malah membuat Ezra terkekeh. Ezra harap, kedatangannya disambut baik oleh Vinan maupun Zynan. Ia tau bahwa ia tidak punya hak untuk mengatur-atur kehidupan mereka, namun ia juga tidak bisa menolak permintaan Lyman untuk mengawasi kedua anak gadisnya selama bertugas di luar kota. Perintah adalah perintah, semuanya harus dilaksanakan sesuai perintah yang diberikan.


Lyman menatap sayu setiap langkah Vinan sampai menghilang dibelokan. Jauh di lubuk hati yang paling dalam, Lyman sebenarnya tidak bisa meninggalkan anak-anaknya dikota metropolitan Jakarta yang terkenal luas. Namun inilah resikonya menjadi abdi negara, harus mengutamakan perintah dan menerima kenyataan harus jauh dari sanak keluarga. Jika harus mencari pengganti mendiang Arum untuk mengisi posisi kosong dalam keluarga, beliau tidak bisa. Wanita pertama yang berhasil memecahkan tembok baja dalam hatinya itu sungguh tidak bisa diganti, biarkan rasa cintanya menjadi kisah yang melegenda.


•••


Dengan memakai pakaian serba panjang, Vinan memasuki mobil Ezra yang akan mengantarkan Lyman ke Bandara. Setelah memasukkan tas ransel besar ke dalam bagasi, Ezra berjalan memutar lalu memasuki pintu kemudi. Di dalam mobil sudah ada Lyman yang duduk didepan lalu Zynan dan Vinan yang duduk dibangku penumpang. Raut wajah sendu Vinan tetap kekal, sorot matanya yang teduh sungguh menggambarkan perasaan kini.


"Kalian bisa ambil mobil dibengkel satu minggu lagi." Ucap Lyman yang hanya disimak.


Mobil mulai melaju dijalanan kompleks Jaya Asri yang mayoritas penghuninya adalah orang bergengsi, setelah menyeberang di persimpangan kini mobil sudah berada di area jalan raya. Hari yang sudah malam membuat para pedagang pinggir jalan mulai membuka warungnya, begitu pula toko-toko yang mulai menutup rolling door-nya.


Vinan menatap ke luar, tangannya menggenggam ponsel yang nampak sepi tanpa notifikasi. Langit mendung diangkasa benar-benar membaca hatinya yang tertutup kelabu. Perasaannya sungguh kacau, kenapa harus beruntun sekali hari ini? Tak cukup masalah dengan Fahrar tadi siang, kini pun ia harus merelakan kepergian Lyman untuk beberapa bulan.


"Senyum!!" Zynan menarik kedua sisi pipi Vinan, Lyman dan Ezra yang melihat dari kaca spion hanya bisa terkekeh melihat tingkah kembar identik itu. Vinan menoleh sejenak lalu kembali memfokuskan pandangan pada ramainya jalanan kota.


"Kalau mereka bandel dan nggak mau nurut, kamu tegur saja. Jangan takut sama mereka, saya tidak akan marah jika itu yang terbaik untuk mereka." Ucap Lyman tiba-tiba.


"Siap Ndan."


"Kak Ezra umur berapa?" Tanya Zynan.


"Dua tiga."


"Wow! Baru umur segitu udah dapet pangkat sersan mayor?!" Puji Zynan.


"Sersan Ezra juga masih single loh." Celetuk Lyman.


"Hebat! Hebat! Semoga betah yah kak jaga kita-kita!!"


"Saya juga bisa garang loh." Ucap Ezra melucu.


"Masih garang kak Vinan!" Seru Zynan membuat Vinan menatap sengit, dari pada mendengarkan suara Zynan ia memilih untuk mengambil earphone dan memasangnya ditelinga.


Dua puluh menit kemudian, mobil warna army itu memasuki area bandara. Setelah dipastikan semuanya turun, Ezra membuka bagasi lalu mengambil tas ransel yang terbilang berat. Mereka berempat memasuki area bandara Soekarno-Hatta yang terbilang luas, terlihat ada banyak penumpang pesawat yang menunggu jadwal keberangkatannya disana.


"Biar saya yang bawa." Ucap Ezra ketika Lyman akan mengambil alih tas.


"Take off jam berapa yah?" Tanya Vinan yang kini menggandeng lengan Lyman.


"Satu jam lagi."


"Kamu juga baik-baik. Jangan main futsal terus, juga jangan pergi tanpa pamitan." Tutur Lyman membuat Zynan mengangguk. Kedua tangannya tergerak untuk mengelus kepala Zynan dan Vinan yang sama-sama memeluknya.


Tidak ingin larut dalam kesedihan, Vinan langsung melepaskan pelukannya dan memakai kaca mata hitam yang dibawanya. Dengan ini, setidaknya ia bisa menutupi rasa sedih yang menghinggapi, matanya tidak boleh terlihat rapuh dengan mengeluarkan cairan bening begitu saja.


"Kalian duduk dikursi tunggu dulu, ayah mau ke sana sebentar." Lyman menunjuk banyak gerombolan lelaki yang semuanya berseragam tentara, mungkin itu adalah para personel TNI yang akan sama-sama bertugas di Kalimantan untuk menjaga perbatasan. Lyman mengambil alih ranselnya lalu berjalan menjauh meninggalkan Vinan yang menatapnya nanar.


"Kita duduk disana." Kata Ezra sembari menunjuk kursi tunggu.


Vinan hanya mengangguk lantas duduk diatas kursi besi yang tersedia. Ia hanya melihat sekeliling dengan perasaan gundah, masih tidak rela.


"Minum?" Ezra menyodorkan sebotol air mineral padanya.


Karena menghargai Vinan menerima botol itu, lagian ia juga haus sekarang, "Makasih." Vinan menoleh ke sekitar namun tidak menemukan adanya sosok Zynan. "Loh Zynan mana?"


"Dia beli makanan disana." Ezra menunjuk sebuah ruko yang menjajakan makanan manis.


"Owh ..." Karena bosan, Vinan membuka ponselnya dan langsung masuk aplikasi Instagram. Iseng-iseng ia mem-foto kondisi sekitar bandara dan meng-uploadnya dengan caption 'Take care♡'


"Kamu punya akun Instagram?" Tanya Ezra yang tak sengaja melihat layar ponsel Vinan. Disisi lain ia juga ingin basa-basi sebagai awal pendekatan, agar tidak merasa canggung saja sebenarnya.


"Punya. Kakak juga punya?"


"Ezrasetya."


Karena peka, Vinan segera saja mencari username atas nama ezrasetya. "Wow, kakak punya banyak followers?" Tanya Vinan tertegun, followers yang dimiliki Ezra tidak main-main, bahkan hampir mencapai angka 60k.


"Nih!" Ucap Zynan sambil mengasongkan sebuah waffle berbungkus kantong kertas. "Aku nggak tau kak Ezra suka apa, tapi aku beli ini." Zynan menyodorkan cup espresso dan diterima oleh Ezra.


"Terima kasih."


Zynan hanya menganggukkan kepala lalu duduk disamping Vinan. "Ayah belum balik?"


"Belum."


ting tung


Merasa mendapat sebuah notifikasi, Vinan langsung membuka ponselnya dan mengecek sebuah DM yang masuk.


tfani.runiss: mau kemana?nggak ngajak-ngajak dah!(emoticon kesal)


Memilih mengabaikan, Vinan memasukkan ponselnya ke dalam saku lalu kembali memakan waffle nya. Menit berikutnya, Vinan melihat Lyman yang berjalan mendekat dengan sudah tidak membawa ransel, melainkan terdapat waist bag hitam yang melingkar di perutnya. Penampilannya yang terlihat gagah dengan seragam tentara membuat beberapa wanita melirik, mereka tidak tahu saja kalau Lyman adalah seorang duda.


"Ayah berangkat." Ucap Lyman pelan lalu memeluk Vinan dan Zynan bergantian. "Jangan nakal-nakal, oke?"


"Hati-hati. Jangan kecapekan." Ucap Vinan.


cup


Setelah mengecup puncak kepala Vinan, kini Lyman berganti mengelus-elus punggung Zynan yang memeluknya erat seakan tidak mengizinkan untuk pergi. "Ayah mau bertugas loh, kok malah sedih-sedih? Harusnya kalian bangga dong."


"SEMANGAT KOMANDAN!!" Seru Zynan penuh energi. Tidak ada yang tahu kalau ia sekarang sedang menutupi sisi rapuhnya.


"Kamu jaga mereka baik-baik ya. Saya percayakan semuanya sama kamu." Ezra mengangguk pelan dan memeluk tubuh Lyman yang sedikit lebih pendek darinya.


Di kalangan tentara, Lyman terkenal sebagai sosok yang hangat dan ramah kepada siapa saja. Tak heran ia selalu disegani, dan salah satu orang itu adalah Ezra. Selama menjadi prajurit TNI, Ezra sangat mengidolakan Lyman karena sifatnya yang hangat juga jiwanya yang tegar menerima kenyataan kehidupan rumah tangganya.


'Perhatian! Kepada para seluruh penumpang pesawat Garuda Indonesia dengan nomor penerbangan G A tujuh tiga sembilan tujuan Pontianak dipersilahkan untuk menaiki pesawat melalui pintu A dua belas. Terima kasih'


Suara petugas bandara yang terdengar barusan membuat Lyman menoleh ke belakang. Dari jarak jauh ia dapat melihat rekan-rekannya yang melambaikan tangan sebagai kode agar beliau cepat mendekat.


"Ayah berangkat. Hati-hati jaga rumah." Setelah berucap demikian Lyman langsung saja berjalan dengan langkah lebar menghampiri teman-temannya yang lain. Disini, di bandara ini menjadi saksi kepergian TNI yang akan bertugas di Kalimantan guna menjaga perbatasan. Banyak anggota keluarga yang menangisi kepergian para personel, terlebih lagi para istri atau kekasih yang sudah tidak dapat membendung kesedihan dan diluapkan begitu saja dengan tangisan.


Dari tempatnya berdiri, Vinan meneteskan air matanya dibalik kaca mata. Tangannya melemas pasrah jatuh ke bawah, pandangannya kabur saat melihat Lyman berjalan memasuki boarding room.


"Kita pulang sekarang?" Tanya Ezra. Ia tahu kesedihan dua insan disampingnya, namun bagaimana lagi, ini adalah tugas negara dan harus dilaksanakan sebaik-baiknya.


"Langsung pulang aja kak." Ucap Zynan lirih lalu berbalik.


"Mau saya bawakan makanannya?" Tanya Ezra ketika melihat waffle ditangan Vinan akan jatuh dari wadahnya.


"Oh, ng-nggak usah. Kita ke mobil aja kak." Ucap Vinan setengah gagu, pikirannya kini sedang terfokus pada kepergian Lyman hingga lupa bahwa ia sekarang masih berada di Bandara.


"Mari." Dengan masih dirundung kesedihan, Vinan melangkahkan kakinya keluar area bandara. Zynan yang berjalan menduduk didepan sudah tidak ia hiraukan, Vinan tahu kalau adiknya itu pasti sedang berkaca-kaca. Dia hanya gengsi saja memperlihatkannya.


Setelah Ezra mengambil mobilnya, baik Vinan maupun Zynan sama-sama memasuki mobil bagian belakang. Tepat pukul 19.53 mobil yang dikendarai Ezra keluar area bandara, walau sudah berlalu, kesedihan ini masih menyelimuti hati satu mobil.


Samar-samar, Ezra mendengar suara isakkan dari arah belakang. Sekilas ia melihat lewat kaca spion, kedua gadis itu sudah duduk meringkuk dikedua sisi pojokan. Menangis adalah satu-satunya cara meluapkan apa yang dirasakan, Zynan yang biasa terlihat riang kini berlinang air mata dalam diam.


Vinan menyeka air matanya lalu berjanjak mengambil banyak lembar tisu yang terletak di dashboard mobil. Ezra tetap fokus mengemudi walau penasaran dengan apa yang akan dilakukan Vinan.


Ditengah-tengah isakkan nya, Zynan merasakan ada yang menepuk pundaknya pelan nyaris tanpa rasa jika tidak benar-benar diperhatikan. Sedetik kemudian ia merasakan ada tangan yang melingkar ditubuhnya. Vinan, gadis itu menyodorkan lembaran tisu dengan wajah yang disembunyikan di tengkuk Zynan yang terasa dingin karena udara malam.


"Elap. Nggak usah alay!"


tbc


***


Tinggalkan jejak disini kalau merasa menikmati:) ga susah kok buat apresiasi lapak ini:)) Thank you💚


See you (^^)