L O K A R E N J A N A

L O K A R E N J A N A
12.GELANG JIMAT



...-Gelang Jimat-...


Bel masuk berbunyi dua menit yang lalu. Ruang kelas sudah dipenuhi siswa siswi kelas XI IPS 2. Mungkin hanya beberapa yang belum masuk dengan alasan ke toilet dan berujung kantin.


Sepasang manusia itu duduk dideretan bangku yang sama, deretan tiga dari depan. Bersandingan menghadap papan tulis, kursi yang diduduki pula mungkin hanya berjarak sepuluh centimeter.


Vinan menggerakkan tinta pena diatas buku bergaris, ia sedang merekap pembukuan uang kas kelas bersama Damar karena bendahara tidak masuk hari ini dan semuanya harus disetor ke wali kelas nanti. Matanya sangat jeli menatap setiap nama anggota kelas juga menghitung banyaknya uang yang masuk, Damar mengambil beberapa lembar uang lalu menatanya sesuai nominal.


Suasana kelas sedang ramai karena guru yang mengajar jam pertama belum datang. Ada yang memetik senar gitar sembari menyanyi-nyanyi ada juga gadis yang berteriak-teriak karena seorang lelaki menggodanya.


"VINAN!" panggil seseorang membuat empunya menoleh. Hal pertama yang dilihat adalah sosok Fani yang berdiri diambang pintu dengan sepatu pantofel yang ditenteng. Rambutnya tampak acak-acakan seperti sehabis lari.


"Apa?" Tanya Vinan setelah menaruh penanya.


"Astaga ... Hampir aja gue kena pak Rakha. Huhft!" Fani berjalan gontai menghampiri Vinan setelah memakai sepatunya. Ekspresi wajah Fani berubah girang ketika melihat sosok yang menduduki kursinya sekarang. "Eh ada Damar." Sapanya.


Damar tersenyum lalu berdiri membuat Fani mendongak karena matanya terus menatap wajah Damar yang kini nampak tinggi. "Gue pinjem bentar bangkunya."


"Ah iya. Nggak papa kok."


"Dilanjut nanti aja ya Vi." Ucap Damar lalu melangkahkan pergi menuju bangkunya yang terletak didepan deretan kanan.


Mata Fani terus menatap tubuh Damar hingga menduduki bangkunya. Melihat itu Vinan terkekeh sembari merapikan buku dan memasukkan alat tulisnya ke dalam kotak pensil. Dengan gesit Fani menduduki kursinya yang masih hangat karena Damar tadi terlalu lama menempati.


Fani menoleh Vinan dengan pipi bersemu, tangannya menangkup wajah Vinan lalu menggerak-gerakkannya ke kanan ke kiri.


"Aaaaaaaaa ... Mimpi apa gue semalem!!"


"Sssttt Fani!" Vinan melepas tangan Fani dari wajahnya namun Fani malah berganti memeluknya. Wajahnya tampak memerah menahan teriakan girang, bibirnya dilipat ke dalam dengan mata memejam. Tubuh Vinan kaku, tidak ada niatan untuk membalas pelukan Fani yang tiba-tiba ini. Harap-harap temannya tidak gila.


"Tunggu bentar. Gue punya sesuatu!" Dengan lincah tangan Fani merogoh saku almameternya dan mengeluarkan suara buah gelang yang terbuat dari kayu.


"Ini! Lo harus pake ini ...!" Fani meraih tangan kanan Vinan dan memasangkan gelang kayu itu. "Kemarin kakek gue tuh ke rumah. Terus ngasih gue gelang ini." Fani menyipitkan matanya serius sembari mengelus-elus gelang yang terpasang dipergelangan tangan Vinan.


"Terus? Gue lo suruh bayar gitu?"


"Em em!" Fani menggeleng-gelengkan kepalanya lalu memajukan wajahnya hingga berjarak beberapa centi. "Gelang ini tuh bukan sembarang gelang. Kemarin kakek gue udah baca-bacain do'a supaya enteng jodoh!"


Dahi Vinan mengernyit, agaknya Fani benar-benar gila dengan percaya takhayul semacam itu. "Basi banget si!" Vinan akan melepas gelang namun ditahan.


"Ih beneran tau! Buktinya gue barusan dapet jodoh! Beneran terkabul dong!" Fani menggenggam gelang miliknya didepan dada, "Pagi-pagi udah ada Damar yang nemplok dibangku gue, dia pasti udah kecantol sama jimat ini! Dan sebentar lagi lo pasti dapet jodoh sama kayak gue!"


"Temen lo gila?" Tanya Liam yang sedari tadi menyimak dari bangku belakang.


"Gak tau. Kayaknya sih iya." Prihatin, Vinan dan Liam sama-sama menatap Fani yang terlihat sumringah.


"Uhhh! Pokoknya bangku ini nggak boleh didudukin sama siapapun! Eksklusif buat gue!" Dengan masih tersenyum Fani menenggelamkan dibalik tas yang bertempat diatas meja. Kakinya ia hentak-hentakkan kecil dilantai.


Helaan nafas terdengar dari mulut Vinan dan Liam. Baru saja mereka berdua akan sama-sama memukul kepala Fani berharap kembali berpikir jernih, namun guru yang mengajar sudah datang membuat Vinan mengepalkan tangannya diudara lalu menatap Liam yang malah terkekeh.


•••


Brakk!


Dugg!


Cetengg!


Srekrgk!


Suara-suara itu muncul dari ambang pintu, siswi-siswi yang berada di dalam kelas tiba-tiba saja berlarian keluar. Orang yang mendapat jadwal piket menyapu lantai kelas malah menjatuhkan sapunya dan berlari keluar. Hanya ada beberapa siswa yang masih berada di dalam, juga ada dua siswi karena sedang apel dengan pacarnya.


Vinan dan Fani menoleh keluar, tidak ada hal aneh yang terjadi sebenarnya, tapi kenapa mereka semua berlari seakan-akan menghindari sesuatu?


"Ada apaan sih?" Tanya Fani yang masih menatap ke jendela memperlihatkan banyak cewek yang mengintip lewat sana.


"Tauk." Vinan memilih untuk tetap santai lalu kembali memakan bekal nasi goreng ber-lauk telur mata sapi ditengahnya. Walau agak asin karena sikap Zynan yang berlagak sombong bisa memasak tadi pagi, tapi tak apalah.


Ting! Klunting!


Sendok yang dipegang Fani terjatuh, beruntung kotak makan miliknya masih bisa diselamatkan oleh Vinan. Mata Fani tampak melebar, tangannya menggenggam lengan Vinan lalu mengisyaratkan agar gadis itu berbalik hadap belakang.


Vinan menoleh,


Klotak!


Bekal Vinan benar-benar jatuh ke lantai sekarang, semuanya berserakan sama seperti pikirannya yang kacau. Dari sana, lebih tepatnya meja pojok samping pintu, tampak ada sosok laki-laki yang ditakuti oleh seantero sekolah karena keganasannya dalam menghajar lawan. Seringaian terbit dari mulut, Fahrar. Dengan banyak teman yang lebih tepatnya anak buah, lelaki itu duduk bersila diatas meja menatap Vinan seakan-akan ingin menelanjangi.


Karena sadar Vinan segera mengatupkan bibirnya yang terbengong dan beranjak berjongkok memunguti kotak bekalnya yang sudah tidak dapat dicerna lagi isinya, walau begitu ia pun sudah tidak nafsu makan sekarang.


Fani ikut beranjak membantu Vinan, memunguti sendok dan membersihkan butir-butir nasi yang berserakan, meski tidak bisa bersih sepenuhnya setidaknya tidak tampak kotor.


"Hai." Sapa Fahrar masih tidak beranjak dari tempatnya.


Sial! Sial! Siallll! Kenapa ia harus bertemu Fahrar disini? Jika seperti ini caranya tidak akan mungkin ada seseorang yang menolongnya karena takut pada Fahrar. Melihat tatapannya yang tajam saja sudah membuat nyali menciut, apalagi sampai bertatapan dekat hingga bersentuhan kulit dengan Fahrar.


"Vi." Bisik Fani. Vinan mendongak dengan bibir yang digigit. "Kenapa Fahrar bisa disini? Kelas dia kan diujung sana? Tadi gue perhatiin kayaknya dia natap lo deh."


"Van."


"Bantuin gue."


Fani menatap Fahrar yang masih tampak mengintainya. "Apa? Kenapa? Lo ada masalah sama dia? Aduh Vinan ..."


"Nggak bukan gitu, lo harus bantuin gue kali ini aja." Vinan menjatuhkan rambut panjangnya hingga menutupi separuh wajah. Dengan begini Fahrar tidak tahu apa saja yang ia katakan. "Lo terus awasin Fahrar, kalau dia ngedeketin gue, lo lari."


"Tapi--"


"Diem dulu. Lo panggil Liam diruang OSIS, suruh dia buat nyamperin gue. Please. Gue gak yakin bakal baik-baik aja setelah ini."


"Kenapa sih? Lo beneran cari masalah sama dia? Wah parah lo."


"Please Fani jangan ngebacot."


"Terus gue harus apa?"


"Panggil Liam."


"Sekarang." Fani berdiri dan berlari keluar menerobos kawanan Fahrar yang menatapnya aneh.


Suara sepatu yang berbenturan terus mendekat ke arah Vinan. Mantap, Vinan berdiri lalu menaruh bekalnya diatas meja. Setelah merapikan almamater, Vinan memberanikan diri untuk berbalik walau jantungnya ingin pecah sekarang.


"Heeei, kita ketemu lagi." Fahrar semakin mendekat hingga berjarak satu meter dengan sepatu Vinan. Gadis itu mendongak menatap mata elang Fahrar.


"Udah berani liat-liat? Kemarin takut gitu."


"Lo-lo mau apa?"


Mendengar cara bicara Vinan semakin membuat Fahrar terkekeh. Ia dapat mainan baru.


"Lo." Fahrar menunjuk wajah Vinan. "Pacaran yuk."


Semua orang yang menguping dan mengintip diluar, mereka menutup mulut yang menganga. Terheran-heran pasti. Seorang Fahrar, most wanted SMA Gardamawa mengajak Vinan untuk menjalin hubungan? Menara Eiffel sudah berpindah ke negara Amerika pasti sekarang. Sama halnya dengan dua kata barusan, mustahil sekali.


"Budek?" Tanya Fahrar.


"Sorry sih ya, gue gak romantis. Gak ada bunga, gak ada cokelat dan apa itu namanya? Boneka?"


"Gue ulangi sekali lagi." Fahrar melangkah satu langkah mendekati Vinan. "Pacaran yuk?"


Mata Vinan memanas, apa Fahrar sedang mempermainkannya sekarang? Apa dia ingin mempermalukannya? Lihat diluar sana, semua orang sudah bergunjing tentangnya.


"Pacaran yuk?"


Dalam satu detik Fahrar berhasil mencengkeram lengan kiri Vinan. "Kenapa? Nggak mau?"


"Lepas!" Setelah menepis tangan Fahrar, Vinan langsung mendorong lelaki itu membuat orang diluaran sana bertambah heran. Punya nyawa berapa Vinan?


"Wow." Fahrar terkekeh menghadap anak buahnya. "Gue barusan ditolak yah?"


"Pergi dari kelas gue!" Seru Vinan sebelum air yang ia bendung mati-matian ini jatuh.


"Kenapa? Arhan, sampah itu udah ngasih lo apa? Owh, atau dia udah muasin lo? Gue juga bisa kok."


"Urusan lo cuma sama Arhan ya! Jangan bawa-bawa gue!" Vinan berbalik namun ia merasakan ada seseorang yang menarik pergelangan tangannya. "Lepas!"


"Itu salah lo sendiri udah muncul kemarin." Bisik Fahrar. "Kalau lo kemarin nggak jadi pahlawan, Arhan. Sampah itu udah mati." Ucapnya lagi. "Dan lo ..."


Fahrar menatap manik mata Vinan yang nampak berkaca-kaca. "... lo rusak semuanya. Arhan harusnya udah mati sekarang."


"Pergi!" Vinan menghempaskan tangan Fahrar namun tidak bisa. "Eghh! Lepas!"


Srettt!


Tubuh Vinan ditarik paksa keluar kelas, adegan tarik-tarikan antara Fahrar dan Vinan tidak lepas dari tatapan para murid yang hanya bergidik ngeri. Tidak ada yang pernah mau berurusan dengan seorang Fahrar. Semuanya menghindar membuka jalan agar Fahrar bisa lewat. Banyak mata yang menyaksikan itu hanya berani menonton tanpa ada niatan untuk membantu.


"Lepasin gue!" Seru Vinan terus meronta.


"PENGUMUMAN!!" Teriak Fahrar ketika sudah sampai dikantin. Semua siswa mengalihkan atensinya padanya. Lelaki itu menaruh satu kakinya untuk naik diatas kursi. Ia tidak takut lagi dengan aturan sekolah, toh bokapnya wakil kepala sekolah disini.


"MULAI DETIK INI CEWEK INI ADALAH PACAR GUE!! GAK ADA YANG BOLEH DEKETIN APALAGI BERANI NYAKITIN DIA!!" Seru Fahrar seraya mengangkat tangan Vinan tinggi-tinggi.


Plakk!


Vinan menampar wajah Fahrar sekuat tenaga, semua orang menganga. Nyawa Vinan benar-benar dua jika beraksi sedemikian rupa.


"Lo? Nampar gue? Barusan?" Tanya Fahrar. Mata lelaki itu mengerling lalu menatap seragam Vinan, tepatnya didada sebelah kanan.


"Jangan kurang ajar!!" Pekik Vinan yang tau arah pandang Fahrar.


"Lavinan Damakti s? Itu nama lo?" Tanya Fahrar. "Gue panggil apa? Lavi? Dama?"


Plakk!


Lagi. Vinan yang sudah berkobar amarah menatap Fahrar terang-terangan. "Gue nggak takut sama lo! Urusan lo cuma sama Arhan! Jangan jadi pengecut buat libatin gue."


"Dan lo cewek pertama yang berani nampar gue." Ucap Fahrar menyeringai. Tangannya baru ingin menarik Vinan dan mengajaknya ke markas untuk bersenang-senang, tapi sudah ada sebuah tangan yang menahannya.


"Bisa sehari nggak buat ulah?" Tanya Liam dingin. Ia datang bersama Fani di belakangnya.


Bukannya takut Fahrar malah tersenyum. "Kenapa? Nggak usah ikut campur!"


"Gue berhak ikut campur karena gue punya hak disini!!" Liam melepaskan kasar cekalan tangan Fahrar lalu menarik Vinan ke belakang tubuhnya. "Gak usah sok jadi anak. Cuma andelin jabatan orang tua? Gue juga bisa."


Liam menarik tangan Vinan menjauh dari kerumunan itu sebelum berubah pikiran untuk menonjok Fahrar dan akan berdampak pada jabatannya.


•••


Taman belakang. Disini tempat berakhirnya Vinan dan Liam juga Fani yang mengikuti. Seperti sedang interogasi, Vinan menunduk dengan Liam yang menatap tajam.


"Ada masalah apa sama Fahrar?"


Vinan menjawab dengan gelengan kepala. Kedua tangannya meremas rok disamping badan saat ini.


"Jawab Vi."


"Nggak Liam ..."


"Gue marah." Setelah berucap seperti itu, Liam langsung pergi menyisakan Vinan dan Fani. Tatapan Vinan beralih pada Fani yang terlihat cemas.


"Vi, gue bisa jelasin--"


"PANI!! INI YANG LO MAKSUD SAMA GELANG ENTENG JODOH?!!"


"*****!"


tbc


•••


Vote komen jangan lupa♡ jngn jadi siders, oke? Thank you 💚


s