
...-Informasi Dari Lefi-...
SMA Kutilang.
Entah sudah masuk musimnya atau bagaimana, kini hujan turun membasahi bumi yang haus akan air. Langit siang yang biasanya terang benderang, kini berubah sendu menjadi abu-abu. Setelah memasuki bulan Juli, akhir-akhir ini memang sering terjadi hujan. Tidak jarang pula hujan bertahan cukup lama membuat masyarakat yang tinggal di daerah rawan banjir menjadi was-was. Mau bagaimana lagi, hujan adalah anugerah Tuhan yang patut disyukuri. Hujan akan terasa menyenangkan jika dinikmati bersama orang tersayang, apalagi bermain basah-basahan sampai hari menjelang petang.
Sesuai rencana, tepat jam setengah satu siang guru-guru SMA Kutilang mengadakan rapat diruang guru dengan tema membahas seputar uang dana BOS. Alhasil, seluruh kelas tidak ada guru yang mengajar mata pelajaran alias jamkos. Walau begitu, para siswa-siswi tetap tidak diperbolehkan pulang sebelum bel berbunyi. Sambil menunggu waktu yang tak kunjung berlalu, mereka semua memilih untuk menghabiskan waktu di kantin atau sekedar nongkrong-nongkrong dikelas.
Di tengah suasana hujan bercampur gemuruh petir ini. Arhan dan Adya sama-sama duduk dipembatas teras kelas yang tidak terlalu tinggi, mereka menatap derasnya air hujan yang berjatuhan dihalaman sekolah. Untuk kali ini mereka mencoba untuk patuh aturan dengan tidak pulang sebelum waktunya. Rambut keduanya masih terlihat lembab akibat terkena air hujan ketika berlarian pulang dari masjid untuk agenda sholat Jum'at tadi. Beruntung seragam yang digunakan tidak ikut basah.
Adya mengambil bungkus rokok dari saku celana lalu mengeluarkan satu batang rokok berwarna putih dari sana, tanpa menunggu lama ia segera menyulut rokok mengunakan pemantik api kemudian menyesapnya.
"Yakin gak mau pulang sekarang?" Tanya Arhan yang sedari tadi ngebet pengen pulang. Dari pada luntang-lantung tidak jelas disekolah, lebih baik rebahan santuy dirumah. Bolos sekolah adalah hal wajar baginya.
"Anak-anak bilang nanti. Gue sih ngikut aja." Respon Adya.
Arhan menghela nafas, ia memperbaiki posisi duduknya yang semula ngangkang menjadi bersila. Saat menoleh ke kanan, Arhan melihat Lefi yang berjalan mendekat.
"Lapolan lapolan!!" Seru Lefi sembari melemparkan sebuah botol soda, Arhan yang sigap langsung menangkap botol itu dan memegangnya didepan perut.
"Laporan apaan?" Tanya Adya.
"Bental dulu." Lefi ikut duduk dipembatas teras tepatnya menempati cela diantara Arhan dan Adya. Pandangan Lefi beralih pada Figo dan Aleta yang sedang berteduh dibawah pohon belimbing dekat parkiran. Adegan uwu tak dapat dihindari, Figo melepas jaketnya lalu memeganginya diatas kepala Aleta agar cewek itu tidak terkena air hujan yang tak berhenti jatuh dari langit kelabu. Aleta bersandar nyaman didada Figo, tangan kirinya digunakan untuk memainkan ponsel sedangkan tangan kanan memeluk pinggang pacarnya. Adegan yang membuat kaum jomblo gigit jari ini sudah berlangsung cukup lama, "WOI BUCIN SINI LO PADA!!" Panggil Lefi namun malah membuat semua murid menoleh padanya.
"HUJAN LEPI!!" Teriak Figo. Tempatnya berdiri saat ini berseberangan dengan lokasi Lefi, daripada menyebrangi halaman lalu terguyur hujan, lebih baik dirinya berdiri anteng ditempat bersama Aleta.
"Ah elah! Cepetan!"
"Udah pewe kali!"
Lefi mendengus lalu memilih meminum soda yang baru dibelinya. Disaat hawa dingin melanda seperti ini, seharusnya mie instan bisa menjadi referensi. Namun sayang, makanan nikmat tiada tara itu sudah habis digasak siswa-siswi sejak tadi. Dari pada kedatangannya ke kantin tidak berguna, Lefi memilih untuk membeli dua botol soda.
"Laporan apaan?" Tanya Adya yang sudah menegakkan tubuhnya.
Jakun Lefi bergerak naik turun ketika air yang diminum melewati tenggorokan, sudah mirip iklan ini mah, "Lo pada masih inget Vinan kan?" Tanya Lefi mengundang atensi Arhan yang tadinya tidak terlalu peduli akan gosip Lefi yang terlampau basi.
"Vinan? Kembaran Zynan?" Tanya Adya.
"Yoi, cewek yang sole itu sama Alhan."
"Dia udah kena tembak Fahlal." Lanjut Lefi.
"Maksud lo?" Kini berganti Arhan yang merespons.
Seperti orang polos Lefi mengangguk-anggukkan kepala, "Vinan ditembak sama Fahlal."
"Diterima?" Tanya Adya.
"Nggak." Lefi menatap Arhan yang terlihat biasa saja, "Lo nggak kaget gitu?"
Arhan menggeleng santai kemudian membuang pandangannya. Berbeda dengan Lefi, lelaki cedal itu malah menunjukan ekspresi heran. Dia pikir Arhan ada hubungan lebih dengan Vinan karena kedapatan bersama pada sore dimana Fahrar mengeroyok Arhan.
"Baguslah, mai blo nggak mungkin suka sama cewek sejenis dia. Apalagi kembalannya Zynan, ngeli boss ...!" Terang Lefi.
"Sebelumnya Fahrar udah kenal sama Vinan kali, jadi baru nembak sekarang." Tebak Adya.
"Gue gak tau pelsis si, tapi setahu temennya Fahlal. Dia tuh cuma deketin cewek-cewek bohay, yang mantap-mantap lah pokonya! Mantannya aja selalu kakak kelas hitz!" Jelas Lefi.
"Jadi, maksud lo Fahrar nembak Vinan bukan karena dia suka?"
"Kayanya." Jawab Lefi ragu, informasi yang didapatnya juga tidak begitu jelas. Mungkin nanti ia akan mengorek lebih dalam lagi dari sumbernya. "Telus ada lagi."
Adya dan Arhan kembali menoleh, "Gue balu dikasih infolmasi. Tadi pagi Vinan dilablak sama kakak kelas, ngakunya sih mantannya Fahlal. Tapi aman lah, nggak sampe baku hantam."
"Ah elah generasi cewek mah sama! Cemburu dikit labrak, iri dikit labrak. Mendingan mah langsung tarik pukul babak belur, kelar dah tuh masalah."
"Yeee! Itu mah elu! Cewek mana belani baku hantam, lihat orang berantem aja langsung kabul! Ya nggak?!" Lefi mengacungkan tangannya yang terkepal diudara dan langsung ditanggapi balik oleh Arhan.
"Bentar-bentar," Adya melebarkan telapak tangannya didepan dada, "Lo dapet info dari mana? Nanti hoax lagi."
"Ya nggak lah! Lo masih inget sama anak galdamawa yang ngasih gue vapol waktu pulang sekolah?" Adya mengangguk, "Namanya Abil, dia tuh gabung sama gengnya Fahlal."
"Kok dia ngasih tau lo info begituan?"
"Dia tetangga gue."
"Penghianat gitu?" Tanya Arhan.
"Nggak gitu juga," tepis Lefi. "Kemalin kan dia main ke lumah gue, dan gatau kenapa dia tiba-tiba celita tentang Fahlal sama Vinan, secala dia ikut ngeloyok lo sole itu. Tapi sebenelnya gue juga si yang kepo. Lumayan lah dia bisa dijadiin mata-mata."
"Tinggal bilang penghianat susah amat." Sarkas Adya.
"Dia tuh baik tau, cuma takut aja sama Fahlal. Secala dia belkuasa di Galdamawa." Bela Lefi lagi. Ia tidak terima ketika Abil dikatai penghianat, dimatanya Abil adalah sosok yang baik, ramah dan mendepankan solidaritas. Hanya saja pergaulan yang diambilnya salah jalan. Jadi, selain Arhan, Figo dan Adya, Abil adalah sosok teman yang baik bagi Lefi.
"Lagian masalah dia juga. Ngapain kita ikut-ikutan masalah anak Gardamawa." Celetuk Arhan.
"Eh *******! Kan lo juga yang bawa Vinan sole itu! Halusnya lo tuh ngelasa belsalah, apalagi ada sangkut-pautnya sama Fahlal. Lo lupa apa yang teljadi sama cewek-cewek lo dulu? Bisa aja Fahlal ngila kalau Vinan tuh cewek lo dan kejadian dulu ke ulang lagi. Lo mau?" Tanya Lefi tegas.
Kalimat yang terlontar barusan membuat Arhan kembali menyelam ke dunia masa lalu, masa-masa dimana ia punya pacar lalu ditikung begitu saja oleh Fahrar. Tidak berhenti disitu, Fahrar menikung gebetan-gebetan Arhan bukan untuk dijadikan pacar yang sesungguhnya, namun hanya dijadikan mainan. Jika cewek sasaran Fahrar masih sekolah di SMA Kutilang mah aman, lah ini? Anak Gardamawa cuy, tempat kandang singa berada, Arhan tidak punya kekuasaan lebih disana. Apalagi ia hanya punya sedikit kenalan di Gardamawa. Entah seberapa besar rasa benci Fahrar terhadap Arhan. Intinya sejak hari itu, Fahrar memutuskan semua hubungan pertemanan dengan Arhan lalu beralih menyerangnya terang-terangan.
"Yang paling miris menurut gue tuh, Oliv. ****** banget tuh cewek, udah mending pacaran sama Arhan eh masih kepincut sama tampang Fahrar. Endingnya nyesel kan tuh, udah dimainin, masih disakitin lagi. Nggak punya hati emang tuh curut!"
cik cik cik cik
Suara langkah kaki yang menapak di atas genangan air hujan terdengar mendekat. Sontak, ketiga lelaki itu kompak menoleh Figo yang berlari sendirian menerjang derasnya hujan.
"Basah *****!" Umpat Figo sembari menyugar rambutnya berlawanan arah.
"Ngapain ke sini? Sono lu sama Aleta!" Usir Lefi.
"Ah elah nggak usah dibawa hati juga kali!"
"Lagian, udah dipanggil-panggil juga! Awas lu tanya-tanya! Ogah jelasin ulang gue!" Lefi melengos sinis lalu mengubah posisi duduknya menjadi membelakangi Figo yang menatap aneh.
"Btw, ngomongin apaan dah?"
"Vinan."
"Vinan?" Tanya Figo heran, "Kembarannya Zynan? Ngapain coba ngegosipin orang? Mau berubah gender lo pada?" nyinyir Figo.
"Kayaknya Vinan bakal jadi sasaran Fahrar buat kesekian kalinya."
"Kenapa tuh curut? Mau nikung lagi?"
"Gue nggak punya hubungan apa-apa sama Vinan, tapi kayaknya Fahrar ngira Vinan itu pacar gue." Sahut Arhan.
Jika ia tidak ngengsi, Arhan juga punya pemikiran yang sama dengan Lefi. Vinan bisa saja menjadi mainan Fahrar berikutnya. Seingatnya, Arhan terkahir kali pacaran waktu kelas satu SMA, setelah itu ia tidak pernah pacaran lagi karena hal sama selalu terulang tanpa bisa dikendalikan. Entah memakai pelet apa, selang beberapa waktu setelah Arhan punya pacar, ceweknya pasti berpaling dan memilih menjalin hubungan dengan Fahrar diam-diam. Kalau begini terus, Arhan bisa-bisa nggak dapat jodoh gara-gara kelakuan Fahrar yang nggak ada akhlak. Arhan tidak bisa diam saja ketika Fahrar menyerang orang-orang terdekatnya terlebih lagi menyangkut masalah teman dan keluarga, urusan dia cuma dengan Arhan, tidak dengan melibatkan orang lain!
Arhan tau bagaimana perasaan Fahrar ketika peristiwa pahit menimpa ibunya, namun itu adalah urusan orang tua dan tidak sepatutnya Fahrar ikut campur. Biar Raymond dan Sekar yang menyelesaikan masalah nya sendiri, lagian sekarang hidup Fahrar sudah terbilang makmur semenjak ibunya menikah lagi dengan pria yang menyandang jabatan sebagai wakil kepala sekolah SMA Gardamawa. Tidak ada salahnya kan melupakan masa lalu dan saling memaafkan kesalahan?
"Sans aja lah! Vinan pasti bisa jaga dirinya sendiri, disana dia pasti juga punya temen yang bisa ngelindungin dia dari Fahrar. Lagian dia tuh kembarannya Zynan, kelakuannya pasti gak jauh beda! Bisa jaga diri lah dia."
"Menurut gue Vinan sama Zynan tuh beda." Celetuk Adya membuat semua orang menatapnya, "Waktu ketemu Vinan di cafe sama sore itu, gue pikir dia anaknya kalem dan masih ada unsur cewek-ceweknya. Kalo Zynan tuh ya, udah tomboy, berisik, pecicilan, batu! cara jalannya petentengan kayak preman. Nggak ada cewek-ceweknya lah menurut gue!" Kata Adya mendeskripsikan sikap Zynan selama ini.
Hampir dua tahun ia satu sekolah dengan Zynan, tidak pernah tuh Adya melihat Zynan bersikap anggun dan menye-menye layaknya cewek, yang ada ia selalu kena omel suara Zynan yang mirip suara burung kenari, nggak merdu tapi. Mana selama dua tahun selalu tetanggaan pula kelasnya.
"Cewek sotoy kayak gitu emang harus dimusnahkan dali bumi." Usul Lefi.
"EH SEKUMPULAN KUNYUK! GHIBAHIN GUE YA LO PADA?!" Teriak seseorang yang suaranya terdengar dekat.
"*****, dia dateng kan." lirih Adya.
Zynan datang dari belakang dengan penampilan yang selalu sama, topi hitam yang dibalik serta seragam yang keluar dari rok. Penampilannya dari luar mungkin terlihat urakan, namun tidak semua orang bisa menilai orang dari covernya, bisa saja dalamnya lebih baik dari fisiknya.
tuk tuk tuk!
Tangan Zynan yang memegang sebuah kunci tergerak untuk menjitak kepala Adya, Figo dan Lefi hingga mengeluarkan suara.
"Sakit pea!"
"Cowok-cowok tuh main-main sana! Eh ini malah ghibah! Mana ghibahin gue lagi! Mau mati lo pada?!" Cerocos Zynan tanpa jeda, suaranya yang menggelegar membuat Lefi sedikit memicingkan matanya.
"Kenapa lo ke sini?" Tanya Arhan selow. Tapi hal itu juga yang membuat ketiga kawanannya heran, selama ini Arhan tidak pernah sekalipun kedapatan mengertak Zynan. Aneh, cewek ngglunjak nggak ada adab spesies gitu masih aja di sabarin.
"Lo sebagai tetangga baru harus ngebantu!" Zynan menyodorkan kunci rumahnya pada Arhan, "Kasih ke kakak gue, udah tau kan namanya? Vinan. Oke."
"Gue nanti mau ke basecamp, gak pulang."
"Ah elah, sekali-kali napa Han! Selama gue kenal lo! Nggak pernah tuh gue ngerasa diuntungin, yang ada rugi mulu."
"Lo pikil gue pelnah untung apa selama kenal lo?" Sergah Lefi.
"Bacot lo!" Sebelum Zynan menghajar muka Lefi, Galen yang ada disampingnya sudah siap sedia untuk menahan tangan Zynan yang terkepal.
"Tobat Zy, tobat ..." Saran Figo.
"Dah lah! Nggak usah banyak bacot! Nih!" Zynan meraih tangan Arhan lalu menyerahkan kunci rumah, "Kasih ke kakak gue! Bilang kalau gue ada latihan futsal sama Galen! Nggak ada bantahan! Makasih!!" Setelah berujar demikian, Zynan langsung menyeret seragam Galen pergi, cewek bar-bar itu tidak memberi celah Arhan untuk berbicara.
"INI MAH MAKSA BUKAN MINTA TOLONG KAMPRET!!" Teriak Lefi namun hanya diabaikan.
"Emang iya lo tetanggan sama Zynan?" Tanya Adya mewakili keingintahuan Figo dan Lefi.
"Hm."
"Jadi rumah sebelah lo yang cat temboknya putih campur coklat itu rumah Zynan kutu kupret?" Arhan mengangguk malas lantas memasukan kunci rumah Zynan ke dalam saku seragamnya.
"Terus sore itu? Lo ngapain bonceng Vinan?"
"Mama gue yang maksa,"
"Astaga, hidup lo bakal telguncang-guncang pasti! Gue aja yang ketemu Zynan lima hali dalam seminggu udah pengen sleding! Eh ini malah jadi tetangga, kalau gue jadi lo. Udah gue bakal rumah Zynan."
"Emang lo berani?" Tanya Adya, "Gue denger bapaknya tentara."
"Emang iya?"
"Bacot ah! Kalian ke basecamp aja dulu, nanti gue nyusul. Lagian gue mau pulang sekalian ngambil baju ganti." Ucap Arhan lalu beranjak pergi ke parkiran sambil menenteng tasnya yang terbilang kempes. Walau termasuk siswa berotak encer, dia juga tetap tidak mau susah-susah membawa banyak buku sesuai mapel yang dijadwalkan. Dua buku, satu buku paket dan satu bolpoin sudah cukup baginya. Yang lain minjem, kalau khilaf ya lanjut bawa pulang.
"MASIH INGET RUMAH BANG?!" Tanya Adya namun tidak ditanggapi. Adya adalah satu-satunya pelampiasan Arhan ketika cowok itu ada masalah. Kalau sedang bertengkar dengan Raymond, Arhan pasti memilih mengungsi ke apartemen Adya. Gratis tanpa angsuran.
"Gue ke kelas dulu mau ambil tas." Kata Figo kemudian berlalu.
Tak terasa, hujan sudah mulai reda. Hanya tinggal rintik-rintik yang tersisa. Arhan berlari kecil menyebrangi halaman guna bisa sampai ke parkiran. Sampai dimotor ninja kesayangannya, Arhan menatap sebentar kaca spion guna merapikan rambutnya yang sedikit basah dengan jari tangan.
Sambil menunggu bel pulang berbunyi, Arhan memilih untuk nangkring di atas motor sembari memainkan ponselnya. Panggilan tak terjawab sudah bertubi-tubi menghujani ponselnya, begitupun puluhan pesan yang masuk tanpa ada niatan dibuka. Karena semalam Arhan tidak pulang dan memilih untuk tidur di apartemen Adya, Raymond sudah marah-marah mencarinya.
Lefi, Adya, Figo dan teman-teman lainnya yang Raymond kenal sudah diajak kerja sama untuk tidak mengangkat panggilan dari Raymond. Arhan hanya ingin menenangkan batinnya yang selalu tersiksa ketika berada dirumah, rasanya ia ingin sekali ikut Luna ke Rusia. Sampai saat ini Arhan masih belum tahu apa yang menyebabkan Raymond mengambil hak asuh atas dirinya, jika memang begini situasinya, kenapa Raymond tidak membiarkan Arhan tinggal bersama Luna? Lebih baik ia hidup sederhana dengan mamanya daripada hidup berkecukupan tapi tidak pernah merasakan kebahagiaan.
Masa-masa bahagianya sudah lama hilang, hampir dua bulan menjalani hidup tanpa Luna rasanya sungguh berbeda. Arhan merasa dirinya hanya hidup sendiri di dunia, peran ayah dalam hidupnya sungguh-sungguh musnah. Walau Raymond ada didekatnya, kini lelaki paruh baya itu tak jauh berbeda dengan kelakuan Tari dan Namira. Semua orang dirumah memojokkannya dan berujung pada batin yang tersiksa.
Tidak mungkin bukan Arhan tetap hidup dalam lingkaran ini sampai kembali lagi ke tanah? Ia juga berhak menemukan kebahagiaannya yang terancam hilang. Banyak musuh yang ingin menjatuhkannya, banyak musuh yang ingin dirinya terpuruk dan tersiksa.
Arhan rasa ini semua adalah kesalahan Papanya, kalau Raymond tidak melukai hati wanita yang menjadi ibu dari temannya, Arhan masih punya banyak sekumpulan teman baik sekarang. Kalau Raymond tidak selingkuh dan memutuskan untuk melepaskan Luna demi Tari yang notabenenya sebagai pelakor, Arhan akan tetap bisa merasakan kebahagiaan sampai saat ini. Semuanya hanya ilusi, Raymond telah mengubah hidupnya.
"Ayo Han!" Ajak Figo yang sudah menaiki motornya dengan Aleta yang duduk dijok belakang. Motor Lefi dan Adya juga sudah keluar dari parkiran.
Arhan mengangguk lantas memasukkan ponselnya kembali ke dalam saku. Setelah memakai helm ia segera melajukan motor melewati gerbang sekolah yang ternyata sudah dibuka oleh satpam sebelum bel berbunyi. Awan kelabu yang masih menyisakan rintikan hujan membuat suasana jalanan kota Jakarta lebih sejuk dari biasanya yang hanya dipenuhi oleh polusi.
Agenda yang seharusnya langsung menuju basecamp bersama-sama, kini harus tertunda karena permintaan tolong Zynan yang membuatnya harus memijakki rumah mewah berasa neraka. Tidak tau apakah Raymond ada dirumah atau tidak, yang pasti apapun keadaannya, Arhan tetap benci rumah itu. Lebih tepatnya benci pada semua penghuninya yang membuatnya muak!
tbc
•••
Tinggalkan jejak dengan apresiasi chapter ini^^jngn siders, oke? Ingetin kalo ada typo✨makasihh💚