L O K A R E N J A N A

L O K A R E N J A N A
32.PINGSAN



...-Pingsan-...


"Eh lagian nih ya, kenapa sih kita nggak pacalan aja?"


Fani mendelik, akan memukul Lefi lagi namun langsung ditahan. Disampingnya, Vinan sedang menggembungkan pipinya menahan tawa, tidak menyangka kalau jodoh Fani datang secepat ini. "Lagian lo masuk kategori tipe gue, ya nggak?" Alis Lefi bergerak naik turun. "Pacalan sama gue juga aman kok, selatus pelsen halal!"


"Eh ******! Mana ada nembak cewek sambil berantem? Romantis dikit lah *****!" cibir Adya.


"Terima Fan," goda Vinan.


"Ogah banget! Standar gue tinggi! Bukan kayak gini!" sarkas Fani.


Semuanya tertawa melihat wajah Lefi yang terlihat nista. Menciptakan suara asing ditengah-tengah panasnya pertandingan. Mungkin banyak yang fokus dengan tiga wajah asing yang kedapatan tertawa bersama dengan Vinan dan Fani. Sedekat apa mereka? Itulah pernyataan yang tercetus dipikiran semua murid.


"VINAN! FANI!" panggil seseorang sangat lantang.


Keduanya menoleh, bahkan lebih dari lima pasang mata yang ikut menoleh.


"Liam! Liam pingsan!" seru seorang cowok sambil masih mengatur nafasnya, "dia di UKS! Belum sadar!"


Minuman ditangan Vinan terjatuh, airnya mengalir acak mengotori halaman.


"Liam? Beneran lo?!" tanya Fani dan diangguki oleh cowok yang sama-sama terpilih menjadi pasukan 17 di istana negara bulan depan. Dia sengaja memanggil Vinan dan Fani karena hanya mereka yang dekat dengan Liam. Tadi saat latihan baris-berbaris yang memang rutin dilaksanakan akhir-akhir ini, tiba-tiba saja Liam pingsan tidak sadarkan diri, beruntung tubuhnya tidak membentur beton dihalaman.


Tanpa mengeluarkan kata-kata, Vinan langsung berjanjak dan berlari sekencang mungkin menuju UKS. Dalam otak dia bertanya-tanya, ada hal apa hingga Liam sampai pingsan? Dia tau sahabatnya itu tidak akan tumbang hanya karena latihan baris-berbaris, Liam tidak lemah. Jelas Vinan berhak untuk cemas disini.


"Liam? Siapa woi?!" tanya Lefi polos.


"Waketos!" seru Fani dan langsung ikut berlari menyusul Vinan yang sudah jauh. Beberapa murid yang mendengar hal itu juga ikut berbondong-bondong pergi ke UKS meninggalkan pertandingan basket yang belum usai. Ini adalah berita besar, tidak boleh dilewatkan begitu saja.


"Liam? Liam? Eh, bukannya nama itu pelnah disebut-sebut sama Aleta waktu debat di basecamp sole itu?" tanya Lefi.


"Ah iya! Mantan! Liam mantannya Aleta!" seru Adya mulai ingat.


"Susulin kuy!" ajak Lefi sambil menarik almamater Arhan. Lelaki itu masih duduk santai dan nampak biasa saja, tidak terlalu kepo juga tetap fokus menonton anak basket yang mulai goyah karena mendengar kabar tentang Liam.


"Kalian aja, gue disini."


"Ayolah! Gue cuma kepo sama wajah Liam! Pasti gantengan gue!" ucap Lefi percaya diri.


"Ayo... Han!" rengek Lefi yang masih menarik-narik almamater Arhan.


Pasrah, Arhan ikut berdiri lalu mengikuti Lefi dan Adya yang berjalan antusias mendahului. Arhan sama sekali tidak tertarik, ini bukanlah masalahnya.


•••


Diambang pintu UKS Vinan masih mencoba mengatur napasnya. Tangannya berpegangan pada daun pintu dengan mulut yang terbuka, menghirup oksigen sebanyak-banyaknya. Di emperan UKS sudah ada banyak murid yang ikut-ikutan mengintip kondisi didalam, tirai jendela sengaja ditutup demi privasi Liam.


Di dalam ruangan sudah ada Bu Sundari selaku wali kelas IPS 2. Safa duduk dikursi kayu dekat brankar yang ditiduri Liam sambil memegang botol minyak kayu putih berukuran sedang. Karena kedatangan Vinan yang tiba-tiba, kedua wanita itu refleks menoleh menatap Vinan. Agak canggung, Vinan perlahan berjalan mendekat.


"Ibu tinggal dulu," ucap Bu Sundari lalu pergi. Beliau paham kalau muridnya butuh privasi.


Netra Vinan tertuju pada sosok Liam yang terbaring lemah diatas brankar. Dahinya masih mengeluarkan sedikit keringat dan bibirnya sedikit memucat. Kacamatanya dilepas membuat Vinan bisa menatap jelas mata Liam yang sipit.


"Lo kenapa?" tanya Vinan sambil terus melangkah mendekat.


Safa berdiri dari kursinya, mempersilahkan Vinan untuk berganti menempati tempat duduknya namun ditolak.


"Kenapa gak bilang aja kalau nggak kuat? Lo nggak perlu maksain diri, kalau udah ngerasa capek istirahat aja. Lo bikin gue takut tau nggak," oceh Vinan yang kini sudah dekat dengan Liam. Tangannya mengambil tangan Liam yang tergeletak lemah. Dingin, sepertinya Liam benar-benar butuh istirahat. "Lo sakit?"


"Nggak, cuma pingsan biasa. Lagian wajar kan? Panas soalnya diluar."


"Gue gak lagi bercanda Liam."


"Gue juga nggak bercanda. Gue nggak papa."


"Liam udah pingsan lama?" tanya Vinan pada Safa.


"Lumayan, ini tadi baru sadar."


"Mending lo ijin dulu deh, besok nggak usah ikut latihan dulu."


"Gue baik-baik aja Vinan, besok juga udah baikan. Lagian ini tuh penting banget bagi gue, nggak bisa ditunda-tunda gitu aja."


Vinan tersenyum. Semangat Liam memang melebihi batas normal jika sudah membahas tentang paskibra. Ini adalah impiannya, bisa bergabung bersama seluruh siswa-siswi perwakilan setiap provinsi di Nusantara. Bangga, Liam berjanji tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini dan akan melaksanakan tugas sebaik-baiknya pada tanggal 17 Agustus nanti. Namun jika caranya seperti ini, Vinan harus bertindak tegas. Semangat boleh, tapi juga perhatikan kondisi imunitas tubuh demi kelancaran latihan.


"Istirahat aja dulu, gue keluar."


Memang sengaja, Vinan tahu bahwa Safa ingin waktu berdua bersama Liam. Dia akan menjadi pemalu jika ada Vinan, secara Vinan adalah satu-satunya cewek yang sangat dekat dengan Liam. Safa takut saja jika merusak hubungan keduanya yang menurutnya masih terlihat abu-abu.


"Gue aja yang keluar, lo disini temenin Liam." Safa akan melangkah keluar namun ditahan Vinan. Tangan Vinan menyentuh pundak Safa dan menuntun gadis itu agar kembali duduk dikursi yang tadi ditempati.


"Enjoy," ucap Vinan lalu pergi. Maksudnya kemari hanya ingin memastikan bahwa Liam baik-baik saja dan sudah membuka mata, tidak lebih tidak kurang. Syukurlah, dia pikir Liam sedang sakit dan tidak terbuka padanya. 


"Gimana Liam?" tanya Fani serius sambil memegang lengan Vinan. Semua yang ada diluar UKS juga menatapnya intens seperti menuntut penjelasan.


"Dia nggak papa, cuma kecapekan."


"Astaga, dasar ayam! Bikin gue takut aja, gue pikir dia bakal kebablasan."


"Mulutnya."


"Mana sih yang namanya Liam? Kenapa nggak dibolehin masuk coba?" tanya Lefi yang baru saja berhasil menerobos kerumunan.


"Privasi Lefi."


"Sono lu! Jauh-jauh! Alergi gue," usir Fani sarkastik.


"Yah, gue kan pengen lihat Liam. Sebental aja!" Sebelum Lefi melewati tubuh Vinan yang masih berdiri didepan pintu, Arhan dan Adya sudah menarik almamater belakang Lefi membuat empunya berjalan mundur.


Semuanya bubar, tidak dapat gambaran pasti tentang keadaan Liam membuat mereka kecewa. Ada pula siswi yang menggunjing, memangnya siapa Safa? Kenapa hanya dia yang diperbolehkan masuk menunggu Liam di dalam? Caper!


tbc


•••


Tinggalkan jejak dengan apresiasi chapter ini. Sekecil apapun, itu sangat berarti buat saya:)jngn siders, oke? Ingetin kalo ada typo✨makasihh💚