L O K A R E N J A N A

L O K A R E N J A N A
11.SASARAN BARU(?)



...-Sasaran Baru(?)-...


"*******!!"


Suara deru mesin motor membuat Fahrar menghentikan tangannya yang sudah mengepal hendak memukul Arhan. Semua orang mengalihkan atensi pada ketiga pengendara motor yang terlihat siap tempur. Arhan tersenyum dalam diam, mereka datang tepat waktu.


Setelah mendapat telepon tadi, Lefi langsung menghubungi Figo dan Adya untuk bersama-sama menyelamatkan Arhan dari Fahrar beserta anak buahnya yang selalu main keroyokan.


"Panggil temen nih ceritanya?" Tanya Fahrar sinis. Ia menurunkan tangannya yang masih berada diudara lalu memasukkannya ke dalam saku celana. Lefi berjalan maju hendak menantang namun Adya menarik jaketnya dari belakang.


"Jangan cari masalah dulu." Bisik Adya membuat Lefi semakin menahan amarahnya. Walau Arhan yang terluka ia tetap tidak terima. Jangan main-main dengan sifat Lefi yang santai, kalian tidak tau saja bahwa dia punya kepribadian ganda.


"Eh! Lo juga beraninya keroyokan anjing!!!" Seru Figo. Amarahnya terhadap Fahrar bercampur dengan beban pikiran tentang Aleta yang sedang merajuk membuat otaknya blank seketika. Lihatlah, Figo datang kesini sudah dengan rambut klimis berlumur pomade.


"Laki bukan?! COBA MAJU SENDIRI SINI!!" Tantang Lefi.


"Lo pikir kita takut sama kuman kayak lo?!" Ledek salah satu anak buah Fahrar, Ryan namanya.


"KUMAN?!" Lefi tersenyum kecut dengan kedua tangan di pinggang. "Punya kaca nggak si?! WAJAH KAYAK PANTAT MONYET GITU SOK SOKAN!!" Kepala Lefi mendongak tanda menantang.


"Lo cari mati?!"


"CABUT!!" Teriak Fahrar langsung membuat seluruh anak buahnya menurut seakan-akan dialah yang paling ditakuti. Ryan menatap Lefi penuh kebencian, ia mengacungkan jari tengahnya lalu bergerak naik ke atas motor. Setelah semua sudah memakai helm, Fahrar segara melajukan motornya diikuti anak buahnya yang kurang lebih berjumlah lima belas orang sehingga tampak seperti akan konvoi.


"Tuh kan mereka pergi. Harusnya tuh gue dateng dari tadi ..." Ujar Lefi menatap kepergian geng Fahrar walau sudah jauh.


"Yeeeee ..." Satu tangan berhasil mendarat dikepala Lefi, tepatnya pada bekas luka akibat pukulan kayu tadi siang.


"Sakit ******!"


"Ah elah! Lembek banget!" Cibir Adya. Tatapannya beralih pada Arhan yang masih setia memeluk Vinan. "Aman bro?"


"Siaga banget. Dimana tadi?" Tanya Arhan.


"Asal lo tau ya! Gue tuh ada janji sama Aleta mau jalan, eh tiba-tiba anak genderuwo satu ini nih!" Jari Figo menujuk wajah Lefi hingga menyisakan beberapa centi. "... Telepon katanya lo mau bunuh diri, kaget dong gue--"


"Nanti aja ceritanya." Potong Adya sembari membekap mulut Figo.


"Woi ******! Mau sampai kapan lo pelukan?!" Cibir Lefi.


Arhan yang sadar langsung melepaskan pelukannya namun Vinan menahannya dengan tubuh yang masih bergetar. Melihat itu Lefi malah membulatkan matanya, enak banget jadi Arhan. Untung lah dikit-dikit. Perlahan Arhan menurunkan tangannya yang masih menangkup kepala Vinan, gadis itu terus terisak akibat kejadian barusan.


"Hiks gue takut, dia ..." Vinan semakin menangis sesenggukan. "... dia Fahrar, dia satu sekolah sama gue ... Hiks hiks"


"Eh itu Zynan? Cengeng bat dah! Biasanya nyolot-nyolot gitu! Telus ngapain coba pake selagam anak galdamawa? Mau pindah sekolah lu? Gue omongin dah nanti ke Bu Walti." Lefi, lelaki itu menganggap Vinan adalah Zynan, secara wajah keduanya terlihat begitu sama nyaris tanpa tidak ada perbedaan kecuali penampilan luarnya.


"Dia bukan Zynan *****!" Sarkas Figo. "Oh lo! Lo kembarannya Zynan kan??" Tanya Figo heboh namun malah membuat Lefi bingung.


Vinan yang masih memeluk Arhan kini melepaskan pelukannya, cewek itu menatap Lefi yang masih terheran-heran.


"Eh iya ***** bukan Zynan!" Seru Adya ikut bingung.


"Kembalannya yah?" Tanya Lefi baik-baik dan diangguki pelan oleh Vinan. "Eh *******! Kita kan udah pelnah ketemu dia waktu di cafe!"


"Eh iya ya." Detik berikutnya, kedua laki-laki itu terus berdebat melupakan adanya Vinan yang menatap jengah.


"Terus gue gimana?" Tanya Vinan membuat Lefi dan Figo mengentikan perdebatan.


"Lo aman kalau lo nggak ketemu mereka." Kata Arhan.


"Gimana nggak ketemu? Gue kan satu sekolah sama dia ****!" Seru Vinan mendongak agar bisa menatap mata Arhan walau kabur karena matanya masih menyisakan bulir-bulir air mata.


Ketiga lelaki itu menahan tawanya ketika Arhan dikatai ****. Baru kali ini mereka dengar ada seseorang yang berani mengumpat Arhan, apa lagi sosok wanita yang sebagian besar selalu tunduk padanya.


"Iya juga sih, cewek ini pasti bakal jadi mangsa Fahrar." timpal Figo.


"Gue punya nama!!" pekik Vinan.


"Santai santai. Kita kenalan dulu, ekhem ..." Lefi mengulurkan tangan kanannya."Gue Lefi. Cowok paling ganteng diantala meleka semua ..." ucapnya bangga. "Telus yang wajah tengil ini." Lefi menujuk Figo. "Dia namanya Figo."


Lefi melirik sinis, "Telus yang wajahnya sebelas dua belas sama Alhan ini." Lefi menujuk Adya. "Dia namanya Adya, cowok jomblo kayak gua ..."


"Jomblo jomblo aja! Nggak usah ajak-ajak!!"


"Udah kenalannya?" Tanya Arhan jengah. Ia langsung menarik tangan Vinan dan menyuruhnya naik ke atas motor walau Vinan sedikit meronta.


"Makasih buat barusan! Cabut duluan!" Seru Arhan lalu melajukan motornya menuju kompleks Jaya Asri yang kurang lebih setengah kilometer lagi dari sini.


"Udah ah! Gue mau lanjut jalan sama Aleta! Mumpung masih belum malam." Ucap Figo yang langsung menaiki motor. Sepertinya pemakaian pomade hari ini tidak terbuang sia-sia.


"Bae bae anak orang!" Seru Adya.


"Kasian Alhan wajahnya bonyok, gitu-gitu gue sayang ..." gumam Lefi.


"Homo lo!!" Cibir Adya langsung menaiki motor dan melajukan motornya tanpa memakai helm meninggalkan Lefi yang berdiri sendirian diatas jalanan paving.


"Gue ditinggal *******!!!"


•••


Beberapa meter sebelum sampai rumah, Arhan mengentikan motornya mendadak membuat Vinan terlonjak kaget. Sepertinya ia melamun barusan.


"Usap air mata lo. Bokap lo bisa tau kalau lo abis nangis ..." Titah Arhan tanpa menoleh ke belakang. Ia hanya melihat mata Vinan yang nampak merah sembab dari kaca spion.


"Muka lo juga ancur, nanti bokap lo bisa--"


"Mau gue mati sekalipun, bokap gue gak akan peduli ..."


Vinan bungkam. Kenyataan baru muncul lagi. Arhan tidak dekat dengan papanya, juga punya dua ibu. Sebenarnya dia ini anak siapa?


Dengan cepat Vinan mengeluarkan botol Tupperware dari dalam tasnya, setelah membuka tutup botol ia segera turun dari motor dan mengguyur wajahnya dengan air yang tersisa, matanya sedikit dikucek-kucek berharap bentuk matanya kembali normal alias tidak sipit lagi. 


"Udah?" Tanya Arhan.


"Iya."


Arhan segera memutar kunci motornya dan mengendarainya hingga beberapa meter lagi hingga sampai dirumah Vinan yang persis terletak disamping rumahnya.


Tepat di depan gerbang rumah, sudah ada Lyman yang menatapnya heran. Baru kali ini Lyman melihat Vinan diantar laki-laki selain Liam dan Galen. Dengan hati-hati Vinan turun dari motor. "Makasih."


Arhan hanya menganggukkan kepalanya dan segera berbalik arah mengendarai motornya memasuki rumah sebelah.


Vinan yang menyadari tatapan tajam Lyman langsung bergegas masuk dan berpura-pura seolah tidak terjadi apa-apa, wajahnya menunduk mencoba menghindari kontak mata dengan Lyman.


"Assalamualaikum yah, udah pulang dari kapan?" Tanya Vinan seraya mencium tangan kanan Lyman.


"Dari tadi."


"Kamu diatar pulang sama siapa?"


"Oh itu, dia Arhan. Anak dari tante Tari tetangga sebelah."


"Kemana Zynan?"


"Dia bawa mobil, ada acara katanya.'


Sebelum Lyman membuka mulut lagi untuk interogasi lebih jauh, Vinan sudah menyelanya lebih dulu."Vinan ke dalam dulu."


Gadis itu melangkahkan kaki masuk ke dalam rumah. Kamar tidurnya lah tujuannya sekarang. Punggungnya ia sandarkan dipintu berwarna ungu, mata Vinan memejam, tangannya memeluk tas yang berada didepan badan. Hari ini sungguh berat, dalam sekejap ia mengalami banyak hal juga mengetahui banyak hal.


Dengan lunglai Vinan melangkahkan kakinya menuju ranjang. Tubuhnya menolak mandi sekarang, dengan hati-hati Vinan melepas sepatu sekolahnya lalu disusul almamaternya. Tubuh kecilnya terbaring diatas kasur dengan kedua tangan yang ditumpuk diatas perut. Ia lelah, saatnya mengistirahatkan diri setelah beraktivitas seharian ditambah hari yang sudah mulai malam.


tbc


***


Tinggalkan jejak disini kalau merasa menikmati:) ga susah kok buat apresiasi lapak ini:)) Thank you💚