L O K A R E N J A N A

L O K A R E N J A N A
3.COGAN SMA KUTILANG



...-Cogan SMA Kutilang-...


SMA Kutilang


"Ekhm ekhm." Lefi, laki-laki berambut belah kiri itu menaikkan satu kaki kanannya diatas meja sedangkan kaki satunya ia biarkan menapak di lantai. Tangannya didepan dada memegang ukulele berwarna coklat berukuran kecil.


"Tes tes ehem." Figo yang duduk bersila diatas kursi kayu setengah rapuh ikut mengetes suaranya tanda lagu akan segera dimainkan.


"Tu wa ga pat ...." Lefi memulai petikan senar pertamanya membuat Adya mengalihkan pandangannya dari layar ponsel yang memainkan game online.


jreng jreng jreng


"Aku belum mandi tak tung tuang tak tung tuang."


"Tapi masih cakep juga tak tung tuang tak tung tuang."


"Apalagi kalau sudah mandi tak tung tuang. Pasti cakep sekali ..."


"Eh eh ganti handsome ya?" Usul Figo membuat Lefi tersenyum manggut-manggut kepala sembari mengacungkan jari telunjuknya.


"Aku belum mandi tak tung tuang tak tung tuang. Tapi masih handsome juga tak tung tuang tak tung tuang."


"Tapi kalau langsuang di idu tak tung tuang."


"Astaghfilullah baunya ...."


"Kayak ada yang salah dah liriknya." Cibir Adya.


"Masa iya?" Lefi, lelaki cedal itu menoleh ke kanan memerhatikan seorang laki-laki berawakan tinggi sedang merebahkan tubuhnya diatas sofa usang ditambah lengan kirinya yang digunakan untuk menutupi kedua matanya.


Arhan, lelaki itu terlihat menikmati hembusan angin yang menerpa wajahnya beberapa kali. Matanya tertutup lengan kiri guna menghindari teriknya sinar matahari di rooftop ini.


"Ayolah Han kita konsel baleng-baleng. Lupain dulu masalah-masalah lo. Apa gunanya bolos kalau cuma tidulan di sini coba?" Bujuk Lefi. Sohib satunya ini sedikit berubah, Arhan hanya diam dan menutup dirinya belakangan ini. Masalahnya tentu sudah diketahui, perceraian orang tuanya yang membuatnya terpuruk dan butuh ketenangan diri.


Arhan, Lefi, Figo, Adya. Keempat lelaki yang bisa para dikatakan sebagai cogannya SMA Kutilang itu adalah siswa penghuni kelas XI IPS 4. Mereka bolos jam pelajaran dan memilih untuk pergi ke rooftop sekolah guna mencari udara segar dari pada mendengarkan guru sejarah yang bercerita tentang perang dan kemerdekaan. Bukannya tidak menghargai jasa para pahlawan, namun mereka terlalu bosan dengan pembahasan yang selalu diulang-ulang.


Tenang saja, tidak mungkin ada razia karena para guru sibuk mengajar dikelasnya. Apalagi guru BK yang ijin karena sakit diare hari ini. Surga dunia bukan?


"Dosa gue pasti banyak banget ya." Kalimat yang dilontarkan Arhan berhasil membuat ketiga temannya mengerutkan kening.


"Kenapa sih? gue pernah ada di posisi lo, dimana halus telima kenyataan kalau olang tua gue harus pisah." Lefi menaruh ukulele nya diatas meja dan menurunkan kakinya. Kedua tangannya digunakan untuk menyangga tubuh disamping pinggang. "Emang sih itu bikin gue gila. Tapi udah takdil Tuhan halus gimana lagi? Mungkin itu yang telbaik buat orang tua lo. Emang lo tega lihat Tante Luna disakitin tiap hali dengan kelakuan bejat bokap lo yang bawa selingkuhannya ke lumah? Lo nggak tau gimana lasanya ada diposisi Tante Luna. Nyokap lo olang baik, dia pasti bisa dapet yang lebih baik dari Om Laymond."


Arhan meresapi setiap kalimat yang diucapkan Lefi panjang lebar. Ada benarnya juga, mamanya selama ini telah tersakiti. Apa jadinya kalau Luna harus menyaksikan perselingkuhan suaminya didepan mata kepala? Mungkin lama-lama Luna bisa masuk rumah sakit jiwa karena depresi.


"Gue masih nggak ngerti sama jalan pikiran papa." Ucap Arhan lirih namun masih terdengar.


"Yok lah nyanyi lagi!" Ajak Lefi mencoba mengembalikan keadaan yang mulai redup. Ia kembali mengambil ukulele nya.


jreng jreng jreng


"Pagi ke pagi ku terljebak didalam ambisi!


Sepelti olang olang beldasi yang gila mateli.


Bosan ... Bosan ... Membukakan jalan mencali pelan.


Kelual lah dali zona nyaman!"


"Sembilu .... Yang dulu bial lah belalu--"


"Diem!!" Titah Figo tiba-tiba. Lefi menghentikan mulutnya yang mangap ketika akan menyanyikan lirik lagu selanjutnya. Figo menunjukkan layar ponselnya yang berdering dan membuat semua orang tertawa seketika.


"Diem *******!!"


"Ah elah. Tau gitu ngapain bolos? Ga guna anjing!" Ledek Lefi.


"Awas ya lo pada!" Ancam Figo. Ia menetralkan suaranya dan menggeser icon hijau dilayar gawai.


"Halo sayang."


"Enggak kok ini aku lagi di kelas belajar sejarah sama pak Karim."


"Sumpah! Suer deh."


"Sayang." Ucap Lefi dengan nada dibuat-buat menyerupai suara wanita. "Ayo lanjut lagi sayang."


"Iya sayang." Kini ganti Adya yang ikut menjahili.


Figo sudah memelototkan kedua mata dengan jari telunjuk didepan bibirnya.


"Eh nggak kok sayang. Bukan siapa-siapa."


"Iya ... Ai lope yuuu ...!"


"******* lo pada!!" Seru Figo beranjak dari sofa lalu mengapit leher Lefi diantara ketiaknya. Tak berhenti disitu, tangan kanannya digunakan untuk menarik-narik rambut Adya yang klimis.


"Pasal undang-undang masih berlaku woi!" Seru Adya yang meringis karena rambutnya yang ditarik seperti ingin lepas dari kulit kepalanya. "Rambut gue ******!"


"Eh ada razia *****!!" Seru Arhan kencang membuat Figo mengentikan aktivitas aniaya nya.


"Mana-mana?!" Tanya Lefi parno. Adya sudah memposisikan diri untuk berlari dengan celingak-celinguk ke kanan ke kiri.


"Bu Warti ternyata masuk anjim!! Dia cuma pura-pura ijin aja!" Jelas Arhan sembari terus men-slide layar ponselnya. Ia membuka rentetan pesan yang masuk dari grup yang berisikan anak laki-laki terpilih. Atau bisa dikatakan anak-anak urakan SMA Kutilang saja yang bisa masuk ke dalamnya.


"Bu Warti udah razia dari tadi! Banyak yang udah kena!" Seru Arhan lagi. Laki-laki itu kini sudah berdiri dan segera memakai sepatunya kembali.


"Terus kita cemana? Gak mungkin kita lompat ke bawah. Takut mati *****!" Figo bergidik ngeri membayangkan jika pendaratan yang dilakukannya tidak sempurna hingga menyebabkan anjal menjemputnya. Tidak! Ia masih ingin hidup bahagia bersama Aleta dan membahagiakan orang tua dengan memberinya banyak cucu-cucu kesayangan yang ucul-ucul.


"Kita turun." Usul Arhan.


Lefi menggoyang-goyangkan jari telunjuknya ke kanan dan ke kiri dengan mata menyipit menyebabkan kedua alisnya menyatu ditengah-tengah. "Gak gak gak. Gue males diwawancala. Bosen! Belum lagi kalau Bu Walti kalap, disuluh pijetin dia dong kita."


"Udah ikutin gue aja." Arhan berjalan menuju pintu besi sebagai satu-satunya jalan memasuki rooftop. Ketiga lelaki itu berjalan mengekor dibelakang Arhan dengan langkah kaki yang nyaris tidak terdengar. Satu persatu anak tangga sudah dilewati bersamaan dengan mata yang terus mengawasi, takut-takut kalau Bu Warti tiba-tiba muncul dan berakhir pada interogasi juga hukuman tiada henti.


"Ssstttt!" Arhan mengangkat tangannya yang terbuka sebagai kode berhenti.


"Ada Bu Warti?" Tanya Adya lirih. Arhan menganggukkan kepalanya yang masih mengintip kondisi lorong dekat toilet. Di sana ada Bu Warti yang sedang berbincang dengan Pak Manto selaku guru olahraga.


"Kita lewat lorong sana." Arhan menujuk sebuah lorong yang ditempati deretan kelas X. "Abis itu turun tangga, langsung lari ke taman belakang. Lompat pagar kayak biasa terus kabur."


"Lah. Motor kita gimana?" Tanya Figo.


"Nanti pulang sekolah diambil bisa kan."


"Oke oke." Lefi menyugar rambutnya angkuh ke belakang dengan gerakan slow motion.


"Gue itung sampe tiga. Terus lari." Ucap Arhan.


"Satu."


"Tiga!" Seru Lefi langsung berlari terbirit-birit diikuti Figo dan Adya yang belum siap.


Arhan berdecak karena kini Bu Warti menoleh ke arah suara yang diciptakan Lefi. Ia langsung berlari secepat kilat tanpa peduli ketahuan atau tidak.


"BERHENTI KALIAN!!!" Seru sebuah suara wanita menggelegar lalu disusul oleh suara sepatu yang berbenturan keras dengan ubin.


Priiittttt!! Priiiittttt!


Pak Manto meniup peluit berwarna merah yang selalu menggantung di lehernya.


"Cepet lari *******!!" Seru Lefi yang berlari memimpin didepan. Aba-aba yang diberikannya sungguh kacau, masa setelah satu langsung tiga? Minta dicekik ini anak manusia.


Dengan gesit Arhan kini sudah berada di barisan Figo dan Adya. Seragamnya yang tidak dimasukkan ke dalam celana menjadi tersikap karena angin yang diciptakan oleh gerakan larinya. Kedua tangannya bergerak maju mundur bergantian untuk keseimbangan tubuh ketika berlari.


Sebagian siswi kelas X berdiri agar bisa melihat aksi kejar-kejaran para cogan dengan guru BK yang terkenal kejam. Ada yang menjerit histeris melihat betapa tampannya keempat lelaki itu walau sedang berlari, ada juga yang berteriak menyemangati agar bisa terbebas dari kejaran Bu Warti. Di persimpangan Figo berhasil menyalip Lefi yang mulai lengah.


"BERHENTI KALIAN!!" Teriak Bu Warti dari belakang yang sudah terengah-engah karena mengejar keempat cowok urakan itu.


Arhan mengerem langkah kakinya ketika akan menuruni anak tangga sehingga menimbulkan suara decitan yang ngilu.


"AYO BU SEMANGAT!! NANTI KALAU MENANG MAU DIKASIH LEPI EMAS BATANGAN!!" Teriak Figo yang langsung mendapat tendangan maut dipantatnya.


"Lo yang beli sendili anjing!! Ngapa nama gue jadi ikut-ikutan?!" Protes Lefi yang kini berhenti.


"Cepetan lah!!" Seru Arhan seraya mendorong pundak Lefi.


"Sans! Gue ca-pek!" Eluh Lefi. Lelaki itu menoleh ke belakang dan bertatapan dengan Bu Warti yang masih berlari dengan sebuah gagang sapu ditangannya.


"DADAH BU WALTI! SEMANGAT LALINYA YA!!"


"Kelamaan ******!!" Adya langsung menarik kerah seragam Lefi dan kembali berlari menyelamatkan diri.


"BERHENTI SEKARANG JUGA!!" Teriak Bu Warti yang sudah terengah-engah.


"CEPETAN!! BELOK KIRI KE TAMAN!!" Seru Arhan sembari membuka pintu besi pembatas antara area dalam sekolah dengan taman belakang.


Dengan lihai keempat laki-laki itu bergantian melompati pagar belakang sekolah dan menghilang setelahnya dibalik pagar besi.


"MISSION COMPLETE!!"


tbc


•••


Tinggalkan jejak dengan apresiasi chapter ini^seberapapum apresiasi kalian itu sangat berarti^jngn siders, oke?Thank you💚


Btw, kalian semua mau visual tokoh ngga??