L O K A R E N J A N A

L O K A R E N J A N A
28.PENJELASAN



...-Penjelasan-...


Banyak pertanyaan terlontar dari bibir Vinan. Sialnya Arhan hanya diam saja sembari terus berjalan. Adya yang berada dibelakangnya juga tidak mau membuka mulut, lelaki itu hanya menatap Vinan tajam.


"Ada apaan sih? Lo beneran pindah ke sini?" tanya Vinan untuk kesekian kali dan Arhan hanya diam.


Mereka bertiga memasuki area kantin, setiap mata langsung menyorot ke arah Arhan dan Adya, juga merasa ganjil dengan keberadaan Vinan yang berada ditengah-tengah.


Setelah beberapa detik mengedarkan pandangan, Arhan dapat melihat keberadaan lefi dan Fani yang duduk bersama di area outdoor kantin, tepatnya duduk dikursi kayu dengan meja bundar dan payung lebar diatasnya.


"Gue jelasin nanti," ucap Arhan datar. Dia risih mendengar suara Vinan yang tak berhenti bertanya, sifatnya yang cerewet ini sungguh mirip Zynan. Mungkin kesamaan mereka ada disini.


Dari jauh terlihat Fani sedang mengomel panjang lebar dengan sesekali memukul tubuh Lefi ataupun menendangnya pelan. Enak saja mengaku-ngaku menjadi gebetannya, walau Lefi terbilang tampan, Fani juga tidak bisa menerimanya begitu saja.


"Sini dong Vi! Jelasin ke cewek ini! Gue kan tadi cuma mau ngehindal dali Tasya," rengek Lefi. Cukup sudah, lengannya sudah terlalu panas untuk dipukul berulang-ulang.


"Lagian kenapa sih? Kenapa kalian tiba-tiba ada disini? Bukannya sekolah di SMA Kutilang? Terus ngapain pakek almamater punya Gardamawa?" tanya Vinan tanpa celah.


"Kita pindah," ucap Arhan menjawab sedikit keingin tahuan Vinan. Cowok itu ikut duduk di kursi samping Lefi.


"Iya, tapi kenapa? Kalian dikeluarin dari sekolah?"


"Ya kali! Amit-amit, kita mah anak baek-baek!" sangkal Lefi. "Emang kita nggak boleh pindah sekolah apa? Sekalian jalan-jalan kali, udah bosen sama suasana sekolah yang itu-itu aja."


"Kok bisa? Setahu gue masuk SMA Gardamawa nggak semudah itu," sela Fani yang mulai tenang.


"Om-nya Adya tuh kepala sekolah disini."


"Oh God! Maksud lo Pak Johan tuh Om nya dia gitu?" Fani menyahut lalu menunjuk Adya. Dia tahu dari nama dada.


"Ah iya! Pak Johan! Balu inget gue!"


"Ini tuh namanya penyalahgunaan pangkat tau nggak!" tuduh Fani.


"Enggak lah, ini tuh keuntungan punya Om kepala sekolah!" elak Adya. Enak saja menuduh menyalahgunakan.


"Figo? Cowok itu nggak ikut juga?" tanya Vinan.


"Nggak, disana ada Aleta. Timbang hubungannya kandas gara-gara LDR, dia milih buat tetep tinggal," jelas Adya. Meskipun Figo tidak ikut, hubungan pertemanan mereka masih terikat kuat. Tidak boleh putus hanya karena tercipta jarak, lagian mereka masih bisa bertemu diluar sekolah. Ada basecamp yang menjadi tempat mereka bernaung.


"Tapi kalian nggak punya tujuan lain kan?" Pertanyaan Vinan itu membuat semua orang diam.


"Haha..." Lefi tertawa canggung. "Ya! Ya! Nggak lah!"


"Kelas lo IPS dua kan?" tanya Arhan.


"Iya. Lo IPS tiga?" Arhan mengangguk samar tapi tidak menatap mata Vinan.


"Terus kenapa tadi Tasya marah-marahin lo? Dan kenapa lo nujuk gue?! Ngaku-ngaku gebetan lagi!" tanya Fani.


"Tapi lo buat semuanya salah paham tau!!"


"Iya nanti gue jelasin!" Lefi melengos sinis. Kesan pertamanya jadi anak baru sungguh buruk. Tadi pagi salah parkiran, bukannya menuju parkiran umum malah ke parkiran guru. Terus tadi kepeleset waktu keliling sekolah bersama Pak Johan. Pagi-pagi udah dijewer sama Tasya, terus kena semprot omelan Fani dan mendapat pukulan bertubi-tubi. Sial.


"Udah kan jelasinnya? Pesen makanan gimana?" tanya Arhan.


"Biar gue yang pesen," tawar Vinan lalu mengajak Fani. Lagian ketiga cowok ini pasti belum tahu persis setiap detail peraturan sekolah. Sebelum Vinan pergi, Arhan menyodorkan selembar uang warna merah. Dari pada sok jual mahal, Vinan langsung saja menyahutnya. Lumayan lah pagi-pagi.


"Kok gue nggak lihat Fahlal ya? Padahal belitanya udah nyebal," tanya Lefi. Dia ingin tahu saja bagaimana reaksi Fahrar ketika berhadapan langsung nanti, apalagi ini di sekolah. Kalau diluar sudah pasti langsung baku hantam.


"Biarin aja lah, nanti juga ketemu."


"By the way, bokap gue kemalin tanya. Kita pindah ke sini nggak disuluh bayal apa gitu? Uang gedung kek, atau apa kek?"


"Nggak. Cuma beli seragam sama buku. Semuanya udah ditanggung sama Om Johan," jawab Adya membuat Lefi mengangguk.


Ngomong-ngomong soal kepindahan, Arhan sudah membicarakannya dengan Raymond kemarin lewat sambungan telepon karena beliau sedang mengurus bisnis diluar kota. Tumben-tumbenan Papanya itu langsung menyetujui, tidak seperti biasanya yang ngomel-ngomel menuntut penjelasan.


Disisi lain, Arhan juga masih berat hati meninggalkan SMA Kutilang. Bagaimanapun itu adalah sekolah penuh kenangan. Ditambah lagi dia masih punya tanggung jawab disana, tapi sudah ia titipkan pada seseorang yang bisa dipercaya. Ada alasan yang membuatnya tinggal, juga ada alasan yang membuatnya pergi.


Entahlah, Arhan rasa ini bukan soal Vinan. Dia pindah ke sini semata-mata ingin mengawasi Fahrar, urusannya dengan Fahrar belum selesai kalau rivalnya itu masih menyimpan dendam. Mungkin dengan jarak dekat, lama kelamaan hubungannya bisa kembali seperti dulu. Tergabung akrab menjadi satu, menghilangkan rasa dengi dan dendam yang masih tersemat dihati Fahrar. Semuanya harus kembali seperti dulu.


"Nih!" Vinan membawa dua mangkok mie pangsit, begitupun Fani. Dari belakang disusul ibu penjual yang membawa nampan berisi satu mangkok mie pangsit dan lima ice blend rasa cokelat.


"Anak baru yah?" tanya ibu kantin.


"Iya Bu."


"Semoga betah ya!" Ibu kantin itu pergi.


"Makasih!" ucap Lefi dan langsung menyantap makanannya. 


Mereka menikmati makanan dengan tenang. Tidak dapat dipungkiri kalau sekitarnya masih memperhatikan dengan tatapan aneh, ada yang iri juga ingin tahu lebih banyak tentang identitas anak baru. Amazing sekali bukan, kalau dalam satu hari kedatangan langsung tiga murid baru yang mayoritas semuanya cogan?


Jauh dipikirannya, Vinan masih bingung dengan jawaban Arhan dan Lefi yang ambigu. Memang tidak ada salahnya untuk pindah sekolah, tapi dibalik itu pasti ada alasan kan? Tidak mungkin hanya semata-mata karena bosan dengan sekolah lama.


Atau mungkin alasannya adalah... Fahrar?


Ya, mungkin itu! Agaknya Vinan akan menjadi detektif dadakan dengan terus mencari tahu, mengorek lebih dalam lagi hingga kepingan-kepingan puzzle ini dapat disatukan menjadi sebuah jawaban.


tbc


•••


jangan lupa untuk apresiasi chapter ini") please, saya yakin kalian pembaca yang bijak❣️ komentar kalian juga semangat untuk saya🔥