L O K A R E N J A N A

L O K A R E N J A N A
19.PULANG BARENG



...-Pulang Bareng-...


Walau hujan sudah reda sedari tadi, namun gerimis masih terus jatuh dengan ritme tidak beraturan. Jalan aspal terlihat basah saking derasnya hujan, genangan air tercipta dari lubang jalan yang tidak begitu lebar. Hampir semua pengendara yang melintas dijalanan masih mengenakan mantel plastik untuk melindungi tubuhnya agar tidak basah.


Vinan, gadis itu menunggu angkutan umum yang tidak kunjung lewat. Beberapa kali ia memesan ojek online, namun selalu dibatalkan dengan alasan terjebak hujan deras yang tak kunjung reda. Mereka juga tidak ingin mengambil resiko yang membahayakan penumpang ketika hujan mengguyur. Terlintas dibenaknya ingin meminta bantuan Ezra, tapi takut menggangu karena ia tidak tahu sekarang Ezra sedang apa.


Sudah lebih dari setengah jam Vinan menunggu di halte, daya ponselnya dimatikan karena baterai yang tinggal sedikit ditambah adanya petir yang beberapa kali menyambar. Liam tidak bisa mengantarkan pulang karena harus geladi bersih di aula, begitupun Fani, sahabatnya itu tidak bisa mengantar Vinan karena harus mengantarkan kepergian bokapnya ke luar kota. Vinan masih bisa memaklumi karena semua orang pasti punya kesibukan tersendiri.


Tatapan Vinan tak lepas dari jalanan, matanya sangat jeli melihat kendaraan yang lewat berharap salah satu dari mereka adalah angkutan umum. Untuk kesekian kalinya mata Vinan melirik jam tangannya, waktu cepat sekali berlalu. Adanya awan mendung membuat suasana terlihat seperti sore menjelang malam. Selain merasa kedinginan, Vinan juga merasa tidak nyaman. Dia hanya sendirian disini, boro-boro ada warga lain disini yang ikut menunggu angkutan umum, jalanan sekitar saja sepi, tidak ada pejalan kaki yang lewat. Hanya suara deru mesin kendaraan dan suara cipratan genangan air dilewati ban kendaraan yang menemaninya.


Disela kegelisahannya, Vinan memicingkan mata ketika melihat sebuah motor mendekat dan berhenti tepat didepan halte. Pengendara memakai seragam SMA dibalut jaket itu turun dari motornya. Jika tak salah lihat, cowok yang sekarang ada dihadapannya itu adalah ... Arhan. Lelaki penuh teka-teki juga lelaki yang membuatnya terjebak dalam masalah yang alasannya belum diketahui.


Vinan berdiri, matanya masih terfokus pada Arhan yang kini melepas helmnya lalu berlari kecil mendekatinya.


"Vinan kan?" tanya Arhan menatap Vinan yang terperangah.


"Hah? Iya." Vinan yang masih tidak percaya akan kehadiran Arhan malah menjadi gugup sekarang.


Arhan merogoh saku celananya lalu mengeluarkan sebuah kunci rumah yang dititipkan Zynan tadi, "titipan Zynan. Dia ada latihan futsal sama Galen," ucap Arhan to the point.


Saat motornya melaju kencang menuju rumah, pupil matanya tak sengaja menangkap sosok mirip Zynan yang duduk sendirian di halte dekat SMA Gardamawa. Raut wajahnya seperti dirundung kegelisahan. Untuk memastikan, Arhan menepikan motornya walau rintik-rintik hujan mulai bertambah. Dan benar saja, cewek itu adalah Vinan. Jika benar ia bertemu Vinan disini, maka ia bisa menyampaikan titipan Zynan tanpa pulang ke rumahnya.


"Oh oke. Zynan udah pulang dari tadi?" tanya Vinan.


"Barusan," Arhan menggoyang-goyangkan rambutnya yang sedikit basah dengan tangan kanan sembari melihat sekeliling yang tampak sepi, "lo nunggu sendirian?"


"Iya. Udah dari tadi sih, tapi nggak dapet taksi."


"Pulang bareng gue. Nggak bakalan ada taksi lewat disituasi gini. Dari pada lo nunggu lebih lama lagi, gue juga sekalian mau pulang bentar," tawar Arhan yang masih mempunyai belas kasihan, anggap saja ini balas budi karena Vinan pernah mengobati lukanya hari itu. Tidak ada salahnya pula menolong orang lain yang kesusahan, lagi pula setelah mengantarkan Vinan nanti ia bisa langsung pergi lagi tanpa menginjakkan kakinya di rumah, "kalau lo mau sih."


"Oke. Gue mau."


Arhan menganggukan kepalanya lalu kembali berjalan menuju motornya yang sudah sedikit basah. Vinan memasukkan kunci rumahnya ke dalam tas lantas melangkahkan kakinya mendekati Arhan. Ada bolehnya juga mengiyakan tawaran Arhan, daripada menuggu lama disini tanpa kepastian. Lebih cepat lebih baik.


Tapi disisi lain Vinan juga sedikit ragu, takut-takut kejadian beberapa hari yang lalu kembali terulang. Pertemuannya dengan Fahrar yang berimbas besar untuk ketenangan hidupnya di sekolah.


"Gue nggak bawa helm dua," ucap Arhan sembari menaiki motor.


"Gak papa."


"Naik!" titah Arhan setengah berteriak karena suaranya yang bertepatan dengan suara bajaj lewat.


Dengan berpegangan pada besi belakang, Vinan menaiki motor Arhan yang terbilang tinggi. Menurut tebakannya, motor ini pasti sudah mengalami modifikasi berulang-ulang karena bentuknya yang sudah tidak terlihat orisinal.


Merasa cewek dibelakangnya sudah duduk dengan nyaman, Arhan mulai menyalakan mesin motornya dan mengendarainya melewati jalanan kota yang sedikit terlihat licin. Beberapa kali Arhan melepas satu setang motor lalu mengelap kaca helmnya yang tertutup air hujan. Untung saja matanya tidak rabun sehingga masih bisa melihat dengan baik jalanan yang terlihat kabur.


Semakin kesini, hujan semakin deras. Rintik-rintik yang tadinya berukuran kecil kini berubah besar. Vinan yang tidak memakai pelindung kepala refleks menaruh telapak tangannya diatas dahi, tangannya beberapa kali mengusap wajah yang terasa sedikit gatal akan air hujan. Tasnya sudah aman karena terlapisi oleh mantel, namun lain lagi dengan seragamnya yang sudah dipastikan basah.


Telinga Vinan yang samar-samar mendengar kalimat Arhan pun merespons, "lanjut aja!"


Arhan semakin memacu motornya lebih cepat menerjang hujan, kelihaiannya dalam arena balap sedikit membantu dalam situasi ini. Dibelakang sana, Vinan hanya bisa berdo'a dalam hati melihat cara Arhan mengendarai motornya ditengah hujan, bukan apa-apa, kalau ia kecelakaan dijalan bisa bahaya. Tapi setidaknya, hujan deras yang tiba-tiba turun ini bisa mengendalikan suasana awkward agar tidak terjadi.


Entah karena apa, Arhan tiba-tiba memelankan laju motornya kemudian berhenti disebuah teras toko yang tutup.


"Gue angkat telepon dulu," kata Arhan dan hanya diangguki oleh Vinan.


Arhan melepas helmnya lantas merogoh saku jaketnya untuk mengambil ponsel yang bergetar didalam sana. Siapa tau saja penting.


"Halo!"


"Buruan ke sini Han! Basecamp kita abis diserang! Semuanya berantakan!" ucap Figo seberang sana.


Mendengar hal itu, tangan Arhan yang basah refleks meremas ponselnya sendiri, "shit! Tunggu, gue dijalan bentar lagi ke sana!"


Setelah menyimpan ponselnya kembali, Arhan sedikit memutar tubuhnya ke belakang membuatnya bisa melihat Vinan yang basah kuyup, "di basecamp gue lagi ada masalah. Lo mau gue anter sampe halte depan atau berhenti disini?!" tanya Arhan. Bukannya tidak gentle sebagi laki-laki dengan menurunkan cewek ditengah jalan, urusan solidaritasnya benar-benar diutamakan sekarang.


"Gue ikut lo!" ucap Vinan spontan. Dia juga tidak mau ditinggal sendirian ditengah hujan, apalagi jarak rumahnya yang masih jauh ditambah tidak ada kendaraan umum yang lewat.


Setelah berpikir sejenak, Arhan menganggukan kepalanya. Dipikir-pikir tidak baik menurunkan seorang cewek saat situasi tidak memungkinkan.


Ketika Arhan akan berbalik, matanya tak sengaja melihat sikut Vinan yang terlihat mengeluarkan darah. Lukanya cukup lebar dan samar-samar terlihat kering. Matanya beralih melihat wajah Vinan yang meringis, mungkin gadis itu menahan perih yang dirasakan. Kenapa Arhan baru ngeh sekarang? Pasti Vinan sudah menahannya sejak tadi.


"Sikut lo berdarah!"


"Gak papa! Udah cepetan ke basecamp lo! Keburu deras hujannya!"


Arhan memutar posisi tasnya lalu mengeluarkan sesuatu dari sana. Sebuah scarf berwarna hitam bermotif ia sodorkan pada Vinan, "pake di sikut lo! Nanti perih kena air hujan!"


Vinan menggeleng.


Karena mendapat penolakan Arhan langsung saja meraih tangan Vinan dan mengikat scarf-nya disana setelah dililitkan beberapa kali.


"Awh ..." eluh Vinan ketika scarf itu menekan lukanya yang perih. Luka lebar di sikutnya yang tergores pot semen tadi pagi memang belum diobati sama sekali, karena pikirnya luka itu akan kering dengan sendirinya. Dia sama sekali tidak kepikiran akan hujan-hujanan dan membuat lukanya perih serta kembali mengeluarkan darah.


Arhan menatap wajah Vinan sekilas lalu kembali memakai helmnya. Setelah dirasa sepi, Arhan kembali mengendarai motornya memasuki arus lalu lintas kemudian berputar arah dipersimpangan depan. Pikirannya kalut akan pertanyaan-pertanyaan mengenai siapa pelaku yang mencoba bermain-main dengannya hingga berani merusak basecamp yang menjadi rumah kedua baginya.


Hujan yang bertambah deras membuat Vinan menggigil, tubuhnya yang sudah basah kuyup tidak lagi ia pedulikan. Toh semuanya sudah terlanjur basah, dia hanya bisa pasrah.


tbc


•••


Tinggalkan jejak dengan apresiasi chapter ini^^jngn siders, oke? Ingetin kalo ada typo✨makasihh💚