
...-Pergi Satu Datang Satu-...
"Gue pesenin dulu ya." Ucap Liam lalu pergi menuju stand makanan. Vinan hanya mengulas senyum sebagai responnya.
Dia menyenderkan punggungnya dibangku kantin, kepalanya menengadah ke atas dengan mata terpejam. Ia tiba-tiba saja merasa lelah akan alur hidupnya, tanpa kasih sayang ibu dan kehadiran ibu, bahkan ia tidak pernah bisa melihat wajah ibunya secara langsung, hanya foto sebagai obat rindunya. Ia tidak bisa mengenal ibunya sendiri. Selama 7 tahun ia dan Zynan melewati masa-masa kecil tanpa bantuan ASI, hanya susu formula yang membantunya tumbuh. Miris. Mengapa ia ditakdirkan hidup tanpa keluarga yang lengkap? Tidak adil sekali.
"Makan!" Mata Vinan terbuka mendengar suara kencang dihadapannya. Ia menghembuskan nafasnya pelan lalu mengambil mangkok bakso yang dipesankan Liam.
"Kenapa?" Tanya Liam merasa aneh dengan sikap Vinan. Tadi gadis itu terlihat ceria sekarang berubah sendu.
Mata mereka bertatapan bergitu intens. "I-bu."
Lelaki berkacamata itu menghentikan tangannya yang akan memasukkan sebuah pentol bakso ke dalam mulut. Ia tahu apa arti dari ucapan Vinan barusan. "Ada gue. Ada Om Lyman, Zynan, Fani. Mama Papa gue juga ada, lo punya banyak orang disini."
"Ada Tante Kamala, mbak Ririn, ada Galen juga ..." Vinan langsung melempar tatapan sinis mendengar nama Galen, manusia yang namanya begitu sensitif ditelinganya.
"Gak usah bawa-bawa Galen ya!" Dengus Vinan. Tangannya mengambil botol saus diatas meja lalu mengarahkannya ke atas mangkok.
"Gue gak suka lo yang murung ... sedih, gue lebih suka lo yang gini-gini aja. Bawel, cerewet, suka kepo, lucu. Lo unik Vi ..."
"Lo pikir gue hiasan apa? Unik-unik!" Pipi Vinan bersemu, wanita mana yang tidak melting ketika dipuji seperti itu? Bukan baper loh ya!
"Tante Arum udah tenang disana. Dia pasti juga seneng lihat lo dan Zynan dari atas sana."
"Ganti topik ah! Ini disekolah kali, nanti kalau gue mewek gimana?"
"Bagus dong."
Bola mata Vinan membelalak.
"Bercanda. Makan lagi."
Vinan tersenyum sekilas lalu melanjutkan makannya ditemani hiruk-pikuk suasana kantin, juga ditemani laki-laki dihadapannya.
Ponsel Liam bergetar, lelaki itu merogoh saku almamaternya dan segera mengangkat telepon dari nomor yang terdaftar di kontaknya.
"Halo."
Liam menatap wajah Vinan yang terlihat begitu lahap. Ada rasa tidak enak dalam dirinya.
"Oke. Bentar lagi gue dateng."
"Gue ada rapat osis mendadak. Lo lanjutin makan sendiri gak papa kan?" Tanya Liam setelah memutuskan panggilan.
"Dih! Serah dah! Sana-sana!" Tangan Vinan menjangkau mangkok bakso Liam lalu memindahkan beberapa buah pentol bakso yang masih tersisa ke dalam mangkoknya.
"Maaf. Gue udah bayar kok tadi." Liam tersenyum melihat ekspresi Vinan yang terlihat kesal. Ia berdiri dan mengacak rambut Vinan kasar lalu pergi setengah berlari. Jabatannya sebagai wakil ketua OSIS mengharuskannya mengikuti setiap rapat yang ada, walau dadakan sekalipun. Karena ia juga termasuk panutan semua anggota.
"Jadi sendiri kan gue."
Gadis itu berdiri namun sebuah tangan menahan lengannya. Damar, lelaki itu memegang kedua bahu Vinan dan menekannya ke bawah agar duduk ia kembali.
"Eh. Kok lo disini?"
"Gue temenin makan." Ucap Damar sambil tersenyum. Lelaki yang menyandang gelar ketua kelas XI IPS 2 itu berjalan memutari meja lalu duduk dibangku yang ditempati Liam tadi.
"Bel masuk masih lama. Gapapa kan gue duduk disini?"
Dengan ragu Vinan menganggukkan kepalanya pelan. Ia tersenyum kikuk, takut-takut ada siswa yang berpikiran negatif dan akan menyebarkan rumor yang tidak-tidak. Secara selama ini ia selalu dikenal dekat dengan Liam, lalu berubah dekat dengan Damar. Mulut netizen pasti akan beraksi melihat hal ini.
Vinan menyantap baksonya tidak tenang. Ia merasa seperti dikekang sekarang, Damar terus menatapnya tanpa berpaling sedetikpun. Gugup? Tidak juga, ia hanya merasa tidak nyaman dengan situasi ini. Oksigen disekitarnya terasa menipis.
"Gue udah selesai." Vinan mengambil ponselnya diatas meja lalu berisi dan Damar menahan pergelangan tangannya lagi-lagi.
"Ke kelas bareng? Sekalian searah."
"Oke."
Kedua insan itu berjalan beriringan keluar kantin dan mengikuti alur jalan koridor. Canggung. Hanya kata itu yang bisa diungkapkan Vinan. Damar memang laki-laki baik, dia juga sopan. Vinan sudah dua tahun satu kelas dengan Damar, tahun kemarin dan tahun ini. Tapi mereka tidak sedekat itu dan seakrab itu.
"Nanti sekertaris dan ketua kelas disuruh Pak Rakha buat kumpul di ruang BK. Ada yang mau diomongin katanya." Ucap Damar memecah kecanggungan.
"Oh oke." Vinan menoleh ke kiri dan langsung bertatapan dengan wajah Damar yang kebetulan menatapnya. "Jam ke berapa?"
"Habis istirahat pertama."
"Oke."
FYI, Vinan itu tergabung dalam pengurus kelas. Sekertaris jabatannya, sebelumnya ia juga menjadi sekretaris kelas waktu kelas X dan jabatan ini tetap bertahan sampai sekarang.
Sampai diambang pintu kelas, Damar mempersilahkan Vinan untuk masuk duluan lalu disusul olehnya. Begitu masuk kelas Vinan langsung disuguhkan dengan wajah sebal Fani yang menatapnya tajam.
"Smile!" Goda Vinan sembari duduk di bangkunya yang terletak disebelah kanan Fani. Sahabatnya satu ini sepertinya akan mogok bicara selama perjalanan pertama berlangsung.
Sudah biasa.
tbc
•••
please, jangan lupa apresiasi chapter ini☁️
Masih ada yang belum paham dengan apa yang terjadi dalam cerita ini? Skuy, ikutin alurnya:) Thank you 💚