L O K A R E N J A N A

L O K A R E N J A N A
24.BERCENGKERAMA



...-Bercengkerama-...


Pasca kena omelan Raymond, Arhan memilih untuk menjauh dari keramaian dan menyendiri di kursi taman halaman depan. Dia sempat bertanya, sebenarnya keberadaannya dianggap apa disini? Kenapa tidak ada satupun orang yang memihaknya? Jelas-jelas Namira salah tadi, namun masih saja dibela dengan mencari-cari kesalahannya.


"Kak."


Arhan menoleh. Menatap gadis berkacamata yang ditolongnya tadi.


"Maaf, aku beneran nggak sengaja tadi. Maaf, gara-gara aku kakak kena marah. Ini salah aku, nggak seharusnya kakak tadi ikut bantuin. Makasih juga..." Cewek itu mengembalikan tuxedo Arhan yang hanya dipakai beberapa menit, "sekali lagi aku minta maaf. Kakak orang baik, permisi kak."


Arhan hanya menatap kepergian cewek itu tanpa menanggapi dengan sepatah kata. Acuh. Dia mendongak. Lihatlah, bintang-bintang bergemerlap ramai ditengah-tengah indahnya langit gelap. Mereka seakan-akan mengejeknya dan tidak peduli dengan perasaannya yang terus ingin mengumpat berkali-kali.


"Wow! Gue barusan lihat superhero yah?" Vinan datang dari arah belakang lantas duduk dikursi yang sama dengan Arhan tanpa permisi, jarak antara keduanya hanya lima jengkal.


Mereka terdiam. Tidak ada yang ingin mengawali pembicaraan.


Angin malam memainkan rambut Vinan yang tergerai. Bahunya yang terbuka terasa dingin karena semilir angin. Sunyi. Samar-samar terdengar suara musik dari dalam rumah, mungkin mood Namira sudah membaik hingga mau melanjutkan pestanya.


"Balikin kemeja gue," pinta Arhan memecah keheningan.


"Gue? Lo tau gue Vinan?"


"Lo pikir gue udah kenal sama Zynan berapa lama? Semua yang ada di Zynan nggak ada di elo dan sebaliknya." Dalam diam Vinan mengulas senyum. Dirinya memang berbeda dengan Zynan dan ia senang kalau Arhan bisa membedakannya dalam waktu dekat.


"Besok gue balikin. Lo sih pake acara mainan-mainan gituan, kayak bocah tau nggak. Untung gue nggak mati."


"Gue juga nggak punya duit kecil buat takziah."


"Ish! Nyebelin banget sih lo! Bener emang kata Zynan..."


"Dia bilang apa tentang gue?"


"Kepo."


"Itu lo, tadi siang merah kan?"


Dahi Vinan mengerut, "apaan?"


"Pakaian dal-- akhh!" Arhan mengelus punggungnya yang baru saja dipukul.


"Mesum banget sih lo!"


"Tapi gue bener kan?"


"Nggak ya! Punya gue warna ungu!"


Arhan terkekeh kecil. Vinan konyol sekali, dimana lagi Arhan bisa menemukan wanita yang bicara terang-terangan tentang warna pakaian dalam kepada seorang lelaki yang baru-baru ini dikenalnya? 


Kembali hening. Fokus pada pikiran masing-masing, bingung harus bertanya mulai dari mana. Apakah ini saatnya bertanya mengenai alasan pertengkaran sore itu? Pertengkaran yang membuatnya terjebak dalam lingkaran masalah?


"Gimana lo sama Fahrar?" Entah karena apa, Arhan ingin sekali menanyakan soal ini.


Vinan kalah, Arhan bertanya terlebih dahulu. "Buruk. Udah jelas dari awal, gue ditembak. Gue dilabrak. Nggak tau lagi habis itu apaan."


"Harusnya lo nggak muncul waktu itu."


Vinan menoleh, Arhan juga ikut menoleh. Mereka bersitatap, "terus lo ditimpuk batu gitu? Udah dilindungin juga. Harusnya gue dapet pahala bukan masalah absurd kayak ini."


"Fahrar nggak bakalan biarin lo gitu aja."


Arhan menggeleng, tatapannya lurus ke atas. Kode yang sulit dipahami untuk ukuran otak Vinan. 


"Emang Fahrar bakal kenapa?"


Diam.


"Emang lo ada masalah apa? Kenapa Fahrar kelihatan benci banget sama lo?"


"Keluarga, papa gue udah buat sesuatu yang fatal."


"Om Raymond? Kenapa?"


"Bukan urusan lo juga kan kalau gue jelasin."


"Iya sih, cuma pengen tau aja."


Kembali terdiam. Hembusan nafas panjang terdengar, Arhan menyenderkan punggungnya pada kursi besi. Tangannya menyatu diatas perut. Vinan bingung harus memulai pertanyaan dari mana.


"Tante Tari bukan ibu kandung lo?"


Pertanyaan singkat namun berhasil membuat Arhan tergerak, kembali menegakkan tubuhnya lalu menatap wajah Vinan lamat-lamat.


"Tante yang gue temuin dibutik waktu itu, dia ibu kandung lo?"


Arhan hanya diam. Tidak ada niatan menjawab pernyataan Vinan yang begitu tiba-tiba.


"Bukannya mau ikut campur, gue cuma mau klarifikasi aja sih biar nggak salah paham. Lagian kalau gue tanya-tanya tentang lo ke Zynan, dia pasti bakal jawab nyeleneh," Vinan meneguk ludah. "Gue gak bermaksud buat ngungkit-ungkit masa lalu keluarga lo yang entah apa. Gue cuma nggak mau salah paham tentang Tante Tari yang udah baik ke gue. Lagian curang, lo tau kehidupan gue karena kenal Zynan. Sedangkan gue nggak tau apa-apa tentang lo, gue cuma pengen jadi tetangga yang baik aja sih. Bukannya setiap orang perlu adaptasi?"


"Kalau bener dia orang baik, keluarga gue nggak mungkin hancur."


Apa pernyataan Vinan barusan salah? Lelaki ini sulit sekali ditebak. Sekalinya baik, kadang-kadang kembali cuek seperti tidak pernah kenal, tiba-tiba marah karena salah ucapan.


"Nggak ada pelakor yang baik. Jadi berhenti muji-muji dia didepan gue."


Terkuak sudah kepingan-kepingan yang dikumpulkan Vinan. Wanita yang dia temui dibutik Kamala sore itu adalah ibu kandung Arhan. Tari adalah ibu tiri Arhan. Terakhir, kehidupan keluarganya tidak seindah rumah megah yang ditinggali beberapa waktu belakangan. Dan bukan, bukan itu maksud arah pembicaraannya. Vinan tidak berniat memuji Tari atau pun menjelekkannya.


"Pelakor? Nggak seharusnya lo nyebut Tante Tari dengan kata itu. Gimanapun dia tetep ibu lo kan?"


"Urusan gue." Arhan menatap datar membuat Vinan mengatupkan bibirnya.


"Harusnya lo bersyukur masih punya keluarga lengkap," Vinan tersenyum pahit. "Gue seumur-umur nggak pernah lihat wajah nyokap gue, nggak pernah kenal, nggak pernah lihat dia langsung. Cuma foto yang buat gue ngenal ibu. Bahkan gue tumbuh tanpa dia."


"Gue bukan orang yang gampang kasihan."


"Oke."


Jiwa cerewet Vinan kembali bersemai namun langsung dipangkas sebelum membuat keadaan menjadi awkward, tidak nyaman.


Percakapan ini berakhir canggung, kembali ke awal seperti Arhan yang tidak mengenal Vinan. Padahal tadi mereka baru merasa berteman. Topik pembicaraannya lah yang salah.


Tak apa, setidaknya dengan adanya percakapan singkat ini Vinan bisa mengenal lebih jauh tentang Arhan, beban pikirannya juga sedikit berkurang, tinggal satu alasan yang belum terungkap. Begitupun Arhan, dia bisa sedikit menerima Vinan menjadi lawan bicaranya, walau sesaat.


tbc


•••


jangan lupa untuk apresiasi chapter ini") please, saya yakin kalian pembaca yang bijak❣️ komentar kalian juga semangat untuk saya🔥