L O K A R E N J A N A

L O K A R E N J A N A
14.HARI YANG PANJANG



...-Hari Yang Panjang-...


SMA Gardamawa.


Sekolah sudah sepi, guru-guru perlahan pulang membawa kendaraannya masing-masing yang terparkir apik diparkiran. Namun tidak dengan anggota ekstrakulikuler Bola Voli ini, mereka masih sibuk melatih diri dan berteriak-teriak karena berhasil mengalahkan tim lawan.


Dua tim voli cewek kebanggaan SMA Gardamawa itu sedang latihan dengan net dipasang melintang membagi lapangan. Sedangkan tim cowok memilih untuk berlatih dilapangan basket yang terletak diseberang.


Rambut semua cewek kompak dikuncir kuda ada juga yang memilih menggelungnya. Keringat sudah bercucuran membasahi baju olahraga hingga mencetak tank-top dibaliknya. Sebuah bola berwarna biru dan kuning itu melayang diudara ke utara dan ke selatan, dengan semangat Fani men-smash bola membuat tim lawan mendesah kesal karena kecolongan.


"YAKKK!!" Seru Fani heboh. Timnya kembali mendapat satu poin. Timnya kini berputar berganti posisi, sekarang giliran Vinan yang bertugas men-servis bola. Dengan penuh semangat ia melambungkan bola ke atas lalu melakukan servis atas penuh tenaga. Vinan kembali masuk ke dalam barisan dan melakukan passing bawah dengan hati-hati agar bola tidak melenceng keluar garis. 


"YUHUUU!!" Seru Vinan dan Fani bersamaan lalu menyatukan tangannya diudara. Tim lawan berhasil dikalahkan lagi karena operan Vinan yang terlihat menipu, jika dilihat diudara bola voli tampak akan jatuh keluar garis namun malah jatuh mepet masuk dalam garis.


"BREAK!" Seru Zaki, ketua ekstrakulikuler Bola Voli. Lelaki berawakan tinggi dengan kumis tipis itu berjalan mendekati tim cewek yang menatapnya seperti menuntut penjelasan. "Kata pak Sandi kita boleh pulang lebih awal. Gerbang sekolah mau ditutup awal soalnya guru-guru mau takizah."


"OKE!!" Seru semua cewek yang ada disana. Setidaknya mereka bisa istirahat lebih awal karena biasanya jam ekstrakurikuler akan berakhir pada pukul 16.30


"Mau langsung pulang atau gimana?" Tanya Fani sembari meregangkan otot-ototnya yang sedikit kebas. 


"Gue pulang bareng Liam. Mobil lagi diservice." Vinan mengambil handuk kecil yang tersampir ditasnya lalu digunakan untuk mengelap sebagian keringatnya yang belum kering. "Abis dibawa muncak dong sama Zynan. Mana kemarin muncak nggak ngajak-ngajak gue lagi."


"Boleh tuh, kapan-kapan muncak skuy. Itung-itung cuci mata." Ajak Fani membuat Vinan berpikir ulang. "Betewe Liam beneran kepilih jadi paskibra ke istana negara?" Tanya Fani.


"Mungkin. Buktinya dia sekarang lagi geladi bersih diaula."


"Masi nggak nyangka si, beruntung banget dia."


"Takdir gak ada yang tau."


Kedua gadis itu memutuskan untuk duduk dikursi beton yang terletak ditepi lapangan. Sebagian anggota ekstrakulikuler baik cowok atau cewek juga masih duduk-duduk bersantai menikmati suasana sekolah yang sepi ditambah sinar matahari yang mulai tampak redup.


Vinan merogoh tasnya guna mencari permen karet, namun ada sesuatu yang menarik perhatiannya. Ponsel iPhone milik Arhan yang dibawanya tampak menyala menampilkan sebuah notifikasi. Karena penasaran Vinan mengambil ponsel itu lalu mengeceknya mumpung tidak dikunci.


Kepala Fani melongok karena juga penasaran. "Hp lo baru? Banyak uang dah."


"Bukan hp gue." Jawab Vinan seraya terus men-slide layar. Ada sebuah pesan belum terbaca yang terletak diurutan atas.


Adya Saguna


Gw ke sklh lo, mo ambil hp


-Arhan


"Gue ke sekolah lo, mau ambil hp. Ar-han?" Baca Fani. Ia berganti menoleh Vinan yang tampak bingung. "Arhan? Anak SMA Kutilang yang sempet lo tanyain kemarin? Doi baru nih ceritanya? Fahrar gimana?"


Pluk!!


Fani mengelus-elus kepalanya karena ditimpuk ponsel oleh Vinan. Ngaco banget pertanyaannya, amarahnya akibat ulah Fahrar tadi siang saja belum mereda, kini sudah diingatkan lagi.


"Gue bukan pacar Fahrar ya!" Sangkal Vinan.


"Terus kenapa dia tiba-tiba nembak lo tadi siang? Gak mungkin kalau gak kenal terus tiba-tiba nembak." Fani memegang bahu Vinan sambil menepuk-nepuknya pelan. "Setahu gue nih ya, lo nggak pernah tuh bergaul sama badboy sejenis Fahrar. Kenapa sekarang gini?"


"Panjang ceritanya."


Fani meraih tangan Vinan lalu menggenggamnya. "Ceritain!"


"Gue mau pulang ah."


"Ih Vinan cerita dulu. Ada masalah apa sama Fahrar terus Arhan?" Pinta Fani ngeyel.


Vinan menghembuskan nafasnya pelan lalu menoleh sekitar yang masih sama, anak-anak voli masih setia menikmati senja. "Kemarin sore gue pulang bareng Arhan."


"Gila-gila!! Makin mepet aja nih! Gak nyangka tipe lo cogan juga!"


"Emang lo kenal Arhan?"


"Gak juga si, gue cuma tau dari grup dan lihat-lihat fotonya. Gans sih, tapi ga tau aslinya."


"Pulang dulu Vi! Fan!" Ucap seorang cewek dengan jaket menggantung dilengannya.


"Iya."


"Terus-terus?!" Tanya Fani yang tetap kepo.


"Oh ya?!" Fani merebut ponsel Arhan lalu mengotak-atiknya dan berujung pada galeri. "Gila fotonya ganteng-ganteng banget!!" Seru Fani ketika melihat beberapa jepretan gambar Arhan digaleri, ada juga beberapa foto bersama teman-temannya. 


"Ih!" Vinan merebut kembali ponsel Arhan lalu memasukkannya ke dalam saku celana. "Gue pulang dulu! Liam pasti udah nunggu diparkiran." Setelah mengalungkan tali tasnya dibahu Vinan segera menuju parkiran setengah berlari meninggalkan Fani yang masih dirundung rasa penasaran.


Sampai diparkiran hal pertama yang dilihatnya adalah mobil CR-V berwarna hitam dipojokan parkiran. Tanpa pikir panjang Vinan segera saja berlari menghampiri dan masuk mobil, didalam sana sudah ada Liam yang menatapnya hangat.


"Udah selesai ekskul nya? Bisanya pulang setengah lima." Liam melirik jam tangannya. "Ini masih jam empat kurang seperempat."


"Kata Zaki guru-guru mau takizah, jadi gerbang ditutup awal."


"Kok gue nggak tau?"


"Lo kan geladi bersih diaula Liam." Vinan menoleh Liam yang sibuk memasang seat belt. "Lo beneran kepilih jadi paskibra istana negara buat upacara bulan Agustus depan?"


"Ya iyalah. Masa gue bohong."


Liam dan kedua temannya yang sama-sama cowok memang terpilih menjadi paskibra di istana negara waktu upacara 17 Agustus bulan depan. Dari sekian banyaknya mahasiswa di nusantara, Liam dan dua temannya bisa disebut sebagai murid paling beruntung karena bisa ikut andil dalam upacara sakral. Dan itupun menjadi suatu kebanggaan tersendiri bagi SMA Gardamawa.


"Okelah! Semangat!!" Seru Vinan sembari mengangkat tinggi tangannya yang mengepal.


Melihat itu Liam terkekeh dan segera memundurkan mobilnya keluar parkiran.


"Kita berhenti didepan gerbang dulu ya?"


"Kenapa?"


"Ada urusan bentar." Liam hanya mengangguk dan langsung melajukan mobilnya keluar parkiran melewati gerbang tinggi bercat hitam. 


Tepat jarak dua meter dari gerbang Liam menghentikan mobilnya, ia juga ikut penasaran akan apa yang akan dilakukan Vinan.


"Nunggu siapa sih?"


"Bentar doang."


"Mau apa?"


"Balikin hp."


Suara bising deru motor samar-samar terdengar, Vinan memutar lehernya ke belakang dan melihat dua motor sport yang berhenti didepan gerbang. Karena sudah mengenali salah satu motor, Vinan segera turun dari mobil dan berlari kecil menghampiri.


"Hp lo." Ucap Vinan sambil menyodorkan ponsel Arhan. Tanpa membuka helm, Arhan mengambil ponselnya dan dimasukkan ke dalam saku jaket.


"Halo Vinan!" Sapa Lefi yang bertengger diatas motor. Kaca helmnya yang terbuka membuat Vinan membalasnya dengan senyuman.


"Udah nunggu dari tadi?" Tanya Arhan membuat senyum Vinan luntur.


"Hah? Oh nggak. Baru aja."


Sekilas Arhan menoleh mobil warna hitam yang ditumpangi Vinan tadi, disamping pintu tampak ada sosok laki-laki berkacamata yang terus menatapnya.


"Pacar lo udah nunggu, gue duluan." Ucap Arhan.


"Oh nggak. Dia Liam, bukan pacar gue." Ucap Vinan membenarkan namun hanya diabaikan.


Tanpa basa-basi Arhan segera melajukan motornya dengan kecepatan tinggi nyaris tanpa rem. Lefi yang tertinggal dibelakang hanya mengelus dada melihat cara Arhan membawa motor.


"Duluan!" Seru Lefi dan diangguki oleh Vinan.


Setelah semua hilang dari pandangan, Vinan berlari kembali menuju mobil Liam lalu masuk ke dalam tanpa memperdulikan Liam yang nampak penasaran.


"Siapa?"


"Manusia."


"Dih."


Vinan terkekeh lalu kembali memasang seat belt. Mobil melaju meninggalkan area SMA Gardamawa. Sinar senja yang khas dengan warna jingga menyorot kaca mobil membuat mata Vinan menyipit. Rentetan kejadian yang dialaminya kembali terputar dimemori otak, alasan Fahrar mengajaknya berpacaran tadi siang masih menjadi teka-teki, apa mungkin ada sangkut pautnya dengan Arhan? Beruntung Liam sudah lupa dan tidak membahasnya, mungkin efek tubuhnya yang lelah akibat latihan baris-berbaris yang tiada henti.


tbc


•••


Tinggalkan jejak dengan apresiasi chapter ini^^jngn siders, oke? Thank you💚