L O K A R E N J A N A

L O K A R E N J A N A
5.INSIDEN HUJAN MALAM



...-Insiden Hujan Malam-...


Malam ini hujan turun dengan derasnya mengguyur kota Jakarta. Hanya ada suara air jatuh ke dataran bumi disusul dengan guntur yang mengiringi. Hawa dingin tak bisa dihindari, membuat siapa saja ingin menghangatkan diri. Ranting-ranting pohon diguyur berkali-kali tanpa ampun, begitupun daun-daun yang bergoyang ke sana kemari tertiup angin.


Saudara kembar identik ini hanya bisa duduk bersila diruang utama. Lyman sedang pergi karena harus menghadiri acara Purna Bhakti temannya. Zynan yang sibuk menonton televisi dan Vinan yang sibuk dengan buku novel ditangannya sama-sama menikmati keheningan yang ada ditambah gemericik air hujan diluar.


Tangan kanan Vinan terus tergerak untuk mengambil kripik didalam bungkus plastik dan melahapnya nyaris tanpa jeda. Matanya terus terfokus pada buku novel yang sedang mencapai konflik dan sesekali mengerutkan dahi menahan emosi.


"Zy..." Panggil Vinan sembari menutup buku novel yang dipasangkan pembatas sebelumnya.


"Hmm..."


"Lo bosen nggak?" Tanya Vinan dengan mata yang berkeliaran tanda bosan. Posisinya yang tetap sama tanpa gerakan serta suasana sepi dihiasi suara televisi membuatnya sungguh-sungguh bosan.


"Lumayan." Jawab Zynan enteng.


"Tidur yuk."


"Ntar."


"Besok sekolah." Vinan menurunkan dua kakinya dari atas sofa dan beranjak untuk duduk disamping Zynan yang tengkurap diatas karpet bulu berwarna biru.


"Tidur aja dulu! Ntar gue juga tidur."


Vinan melebarkan senyumnya hingga memperlihatkan gigi putihnya. "Gue gak berani ke atas sendiri."


"Alay!"


"Gue takut lah ****! Lo nggak liat apa gimana horornya suasana malam ini?! Udah hujan! Dirumah sendi--"


jedarrrr!!


"Aaaaaaaaaaaaa.....!!!!!" Teriak Vinan dan Zynan bersamaan. Lampu ruang utama tiba-tiba mati, sepertinya ada yang salah setelah petir menyambar. Semuanya gelap tidak terlihat, mata mereka jadi buram dan merasa kehilangan keseimbangan.


"ZYNAN!!" Pekik Vinan dengan tangan meraba-raba kemana saja mencari tubuh kembarannya.


"Kak!" Panggil Zynan yang sama-sama meraba apa saja yang ada didekatnya. Suasana disini sungguh gelap gulita.


"Zy ... sumpah gue takut!"


"Lo pikir gue nggak?!"


"Kan gue udah bilang tadi! Lo sih nggak mau diajak ke kamar!!"


"Lo masih nyalahin gue disaat-saat seperti ini?!"


Vinan memutar bola matanya malas tapi tetap tidak bisa dilihat Zynan karena berada dalam kegelapan. "Ponsel lo mana?"


"Di atas."


"****!"


"Lha terus gue harus apa? Ponsel lo juga mana?"


"Lowbat."


"Lo juga ****! Masih mending ponsel gue bisa dipake!"


"Owh? Kalau gitu ambil."


Zynan membulatkan matanya. "Hah? Ya ogah lah! Gila kali!"


"Terus kita harus apa Zynan?!!!"


Zynan menatap sekelilingnya yang gelap, otaknya terus berpikir hingga, "Kita tunggu ayah pulang."


"Hei! Ayah itu lagi ke acara temennya! Lo pikir ayah bakal balik malam-malam gini? Pasti besok langsung berangkat kerja!" Seru Vinan mengema diruang utama.


"Terus?"


"Kita keluar."


"Hah?! Ya nggak lah! Lo mau kita kedinginan diluar sana? Gak!!"


"Yaudah! Gue mending diluar daripada disini! Gelap!" Dengan hati-hati Vinan mulai berdiri, dari sini ia sudah mulai berkunang-kunang dengan tubuh ingin tumbang. Tangannya mulai meraba dan menemukan sebuah pegangan yang sepertinya adalah sofa. Zynan menarik kaos Vinan dan berpegangan pada kakaknya lewat sana.


Vinan berjalan memimpin didepan dan terus berpegangan pada benda-benda yang sudah tidak diketahui jenisnya.


"Ah!" Vinan merasa menyentuh benda empuk dan berbulu, takut-takut ada sesuatu yang membahayakan dirinya.


"Kenapa?" Tanya Zynan lirih.


"Ga tau. Salah pegang." Zynan mendengus dan terus berjalan mengekor dibelakang Vinan. Indra pernafasannya sudah mulai sesak akan gelapnya ruangan. Ia merasa rumahnya ini berubah pengap jika dalam suasana gelap.


Vinan terus melangkahkan kakinya menuju penerangan rembulan yang samar-samar terlihat dari jendela. Kakinya menaiki sebuah anak tangga yang tingginya sekitar 20 centimeter, perlahan ia menjangkau knop pintu dan memutar kunci lalu keluar rumah dengan tergesa-gesa takut-takut ada sesuatu dibelakangnya. Bukan suudzon, tapi hal-hal buruk sedang membayangi pikirannya saat ini. Mulai dari makhluk-makhluk halus yang tak terlihat hingga penampakkan yang bisa muncul dari mana saja.


"Huftthh!" Vinan bernafas lega ketika hidungnya menghirup aroma lembap tanah yang basah. Semilir angin malam yang dingin langsung terasa menusuk pori-pori. Keduanya sama-sama mengedarkan pandangannya, bukan hanya listrik rumahnya yang mati, melainkan listrik rumah satu komplek Jaya Asri.


"Gila! Dingin." Dengus Zynan.


Gadis itu berjalan kecil menuju gerbang dan memainkan air hujan yang jatuh dari sela-sela atap. Sedangkan Vinan memilih untuk memeluk tubuhnya sendiri dengan menyilangkan tangannya didepan dada.


"KALIAN NGAPAIN?!!" Tanya seseorang membuat saudara kembar itu sama-sama mendongak dan mendapati sosok wanita dengan sebuah payung yang menutupi tubuhnya dari air hujan.


"Hah? Tante kenapa disini?" Tanya Vinan menghampiri Tari yang kini berdiri didepan gerbang.


"Tante abis dari tetangga sebelah, eh ternyata semuanya bener mati lampu."


"Siapa?" Bisik Zynan seraya menyenggol lengan Vinan.


"Dia Tante Tari, penghuni baru rumah sebelah." Mendengar itu Zynan hanya ber 'oh' ria.


"Kalian kenapa diluar?"


"Takut didalam Tan, gelap."


"Lho, ayah kalian kemana?"


"Ada acara diluar."


"Kalian dirumah sendiri dong?" Tanya Tari dan diangguki oleh keduanya. Wanita muda itu berpikir sejenak lalu membuka mulut. "Gimana kalau kalian nginep di rumah Tante? Biar gak sendirian gitu."


"Nggak usah Tan, kita--"


"Kebetulan kamar tamu dirumah lagi kosong." potong Tari cepat.


"Emmhhh..." Vinan menatap wajah Zynan yang sama-sama terlihat bingung, sedetik kemudian gadis itu menganggukan kepala. "Tapi nggak ngerepotin kan Tan?"


"Nggak kok. Ayo!" Tanpa membawa apa-apa Vinan dan Zynan berjalan menuju rumah sebelah dengan bantuan sebuah payung sebagai pelindungnya dari air hujan. Bahkan kaki mereka berdua hanya beralaskan sendal jepit merek swallow yang selalu tertata apik diteras rumahnya dan Zynan melupakan topinya yang terduduk apik diatas meja ruang utama. Sial!


"Ayo masuk!" Ajak Tari ketika melihat saudara kembar itu masih terbengong diam didepan pintu.


"Emmm.... kayaknya nggak jadi deh Tan. Nanti takut suami Tan--"


"Nggak marah kok. Ayo!" Tari menarik tangan Vinan dan Zynan bersamaan agar mau ikut masuk ke dalam.


Sampai sini kedua gadis itu langsung bisa menyimpulkan bahwa Tari itu adalah orang baik dan ringan tangan kepada siapa saja.


Isi rumah ini sama, gelap gulita. Namun sepertinya masih ada pancaran cahaya dari ruangan tengah, entah dari lampu senter atau dari api lilin.


"Dari mana sayang?" Tanya Raymond berjalan mendekat. Tubuhnya yang gagah tinggi kini terlihat hitam seperti sosok bayangan.


"Habis dari luar." Tari mengecup bibir Raymond sekilas lalu beralih pada si kembar yang terlihat canggung. Adegan dewasa cuy!


"Maaf." Ucap Tari. "Kalian bisa nginep di rumah ini malam ini."


Melihat Raymond yang sedikit bingung, Tari pun mencoba menjelaskan. "Mereka ini anak pak Lyman tetangga sebelah. Ayahnya itu tentara dan lagi ada acara diluar, terus kan mati lampu, jadi aku perbolehkan menginap disini daripada mereka sendirian di rumah."


"Mereka kembar?" Tanya Raymond bingung.


"Halo om, saya Zynan. Ini kakak saya Vinan." Sapa Zynan langsung menyalimi tangan Raymond begitupun Vinan. "Untuk membedakan kita mudah aja. Yah you know lah kalau penampilan saya lebih berkelas daripada kak Vinan? awhhhh!!"


Setelah mencubit lengan Zynan, Vinan mencoba untuk tetap tenang walaupun sekarang ingin melempar adiknya ini ke kawah gunung. Bisa tidak untuk jaga etika ditengah sikapnya yang sukur nyablak?


"Maaf om kalau ngerepotin, saya bisa kembali lagi--"


"Nggak kok." Jawab Raymond yang masih sedikit terkekeh melihat kelakuan dua gadis kembar yang lebih baik ketimbang anak-anaknya. "Kalian bisa tinggal disini sampai besok pagi, emang kalian mau saat malam gelap gini dirumah sendirian?"


Zynan langsung menggelengkan kepalanya cepat mengingat betapa horornya rumah jika dalam keadaan gelap gulita. Bisa-bisa ia mati berdiri karena tidak bisa bernafas dengan bebas.


"Emmm.... tapi anak om ..." Vinan jadi ragu mengingat kejadian tadi pagi yang mungkin sedikit tidak mengenakkan. Tentang seorang pemuda yang membuat matanya ternoda juga gadis angkuh yang menolak uluran tangannya.


"Tenang aja, kedua anak om udah tidur dari tadi."


"Baiklah kalau gitu kalian bisa tidur dikamar tamu, kalian naik tangga terus masuk kamar tamu yang pintunya warna abu-abu." Jelas Tari.


Zynan mengeluarkan cengirannya. "Boleh anterin nggak Tante? Kita juga takut dan gatau detailnya."


Tari tersenyum dan lekas berjalan mendahului. Mereka bertiga berjalan beriringan menaiki anak tangga menuju lantai atas.


"Night." Ucap Tari langsung pergi.


Mereka berdua memasuki pintu yang tidak terlihat warnanya itu. Didalam sama saja, gelap gulita. Tolong bilang ke PLN suruh cepat hidupin listriknya.


"Zy."


"Hemmm..."


"Lo nanti malam jangan berulah yak?" Pinta Vinan mengingat adiknya itu suka nggak ada akhlak kalau tidur. Itu alasannya kenapa kamar Vinan dan Zynan terpisah.


"Lama, tinggal tidur aja bawel!" Cebik Zynan yang langsung melangkahkan kaki menuju tempat besar ditengah ruangan yang diyakini adalah ranjang.


"Awkhh!!" Pekik Zynan refleks membuat Vinan menjingkat.


"Kenapa?"


"Kaki gue!!" Rintih Zynan seraya memegangi kaki kirinya yang entah kenapa.


"Iya, kenapa?"


"Nggak tau, tiba-tiba kayak ada yang nusuk gitu. Perih ..."


"Lebay amat! Palingan juga pecahan kaca kalau gak jarum. Makanya jadi anak tuh jangan kebanyakan dosa." Cibir Vinan.


"Eh dudul!! Ini itu sakit tau!!"


Vinan mendesah kesal. "Terus? Gue harus apa? Ini rumah orang! Juga gelap!"


"Ambilin apa kek, hansaplast atau air kek! Ini perih tau!! Gimana coba ini cabutnya? Gelap *****!"


"Bisa nggak teriak-teriak?!" ujar Vinan yang mulai kesal. Rumah orang juga.


"Yaudah ambilin!!"


"Iya tapi dimana?? Gue harus balik lagi ke rumah gitu?!"


"Ya minta Tante Tari lah!"


"Gak enak pea!"


"Ah elah, emang lu tega apa lihat adik lo kesakitan?!" Bujuk Zynan.


"Bahkan lo mati gue rela!" Ucap Vinan kejam dan langsung berjalan keluar dengan hati-hati. Mulutnya terus menggerutu mengeluarkan umpatan-umpatan yang tidak bisa diluapkan sekarang.


"Aaa-- mphhhh ..." Mulutnya terbungkam oleh tangan basah bayangan hitam itu. Tubuhnya mengeluarkan keringat dingin saking kagetnya. Vinan menggelengkan kepala mencoba melepaskan tangan yang masih membekapnya. Apalagi posisi tangannya yang terkunci dibelakang tubuhnya sekarang.


"Kakak ..." Suara itu membuat Vinan menoleh ke arah tangga. Sedetik kemudian tubuhnya diseret masuk ke dalam suatu ruangan dengan mulut yang masih terbungkam oleh tangan.


"Mppphhhh!"


"Diem!"


Uwow?! Dia manusia.


"Kakak...."


klik


Pintu terkunci dari dalam.


"Kakak ..." Namira menggedor-gedor pintu yang diyakini adalah pintu kamar Arhan.


Lelaki itu baru saja pulang dari acara kopdar bersama teman-temannya tadi. Ia malas jika harus berpapasan dengan Raymond yang pastinya akan mengomel panjang lebar karena pulang malam lagi, apalagi keadaannya yang basah kuyup karena terguyur air hujan dijalan. Dapat kalian lihat kalau sekarang jam menunjukan pukul 22.45. Bukan waktu yang wajar untuk kalangan remaja.


dukh dukh dukh


"Kakak...." Suara gedoran itu semakin terdengar keras.


Arhan melepaskan telapak tangannya dari mulut Vinan. Lelaki itu melepas jaketnya dan melempar asal lalu berjalan untuk membukakan pintu wanita yang menurutnya '******'


"Kenapa?" Tanyanya dingin seraya menahan pintu agar Namira tidak masuk dan melihat keberadaan Vinan yang sekarang sedang berdiri kebingungan.


"Kakak kok Namira dicuekin sih?" cebik gadis itu.


"Pergi."


"Gak mau. Kakak mau aku bilangin ke Papa kalau kakak pulang mal--"


brakk!


Pintu langsung tertutup sebelum Namira melanjutkan kalimatnya. Arhan berbalik dan menatap wajah Vinan yang terlihat samar-samar dari cahaya rembulan yang masuk lewat jendela kamar.


"Lo siapa?"


"Hah?" Cengo Vinan baru tersadar akan lamunannya. "Gu-gue tinggal dirumah sebelah."


"Lo Zynan?" Tanya Arhan, ia memang mengenal Zynan yang menyandang predikat tomboy di SMA Kutilang. Lalu, siapa yang tidak mengenalnya?


"Gue Vinan, kakaknya Zynan." Jawab Vinan masih bingung, lelaki ini mengenal adiknya? Ingatkan dia untuk interogasi Zynan nanti.


"Ngapain disini?"


"Gue disuruh Tante Tari buat nginep disini malam ini."


Karena dia malas berbicara, bertanya-tanya dan malas meladeni, Arhan langsung melangkah pergi menuju suatu pintu.


"Jangan keluar." Ucap Arhan dingin takala melihat Vinan yang baru akan menjangkau knop pintu.


"Kenapa?"


"Cewek gila itu masih diluar!" Itulah kalimat terakhir Arhan sebelum memasuki suatu ruangan lalu suara gemericik air terdengar. Kamar mandi?


Vinan menjadi bertambah bingung. Lalu dia harus apa?


Gadis itu memilih untuk duduk diatas sofa yang masih bisa dilihat dalam kegelapan.


"Ini kamar dia?" Gumam Vinan yang matanya menelisik seluruh ruangan walau gelap. Ia beranjak dan berjalan menuju sebuah meja, diambilnya sebuah bingkai foto yang menarik perhatiannya.


"Foto ini? Kenapa wanita ini beda sama Tante Tari?" Gumam Vinan takala melihat tiga anggota keluarga yang terlihat bahagia dengan bantuan cahaya dari kaca jendela. Ia jadi teringat Bunda Arum, Bundanya yang telah meninggal sesaat setelah melahirkannya.


"Rayarhan Aryan Bwana." Baca Vinan yang tak sengaja melihat sebuah foto anak laki-laki dengan pakaian Toga. Entah mengapa Vinan jadi ingin tau mengenai siapa laki-laki ini dan apa yang terjadi.


"Ah! Ini bukan masalah gue." Bantahnya.


ceklek


Vinan refleks menaruh bingkai foto tadi diatas meja dan segera berbalik.


"Gue harap lo gak nyolong." Ucap Arhan yang langsung berjalan memasuki sebuah ruangan seraya menggosok-gosokkan handuk kecilnya dikepala.


"Ck!" Karena kesal Vinan memilih untuk berjalan keluar dan membuka knop pintu yang terkunci.


klek


"Astaga!" Pekiknya refleks ketika melihat ada seorang wanita yang masih setia menunggu didepan pintu kamar.


blamm!!


Pintu langsung tertutup.


dukh dukh dukh dukh


"WOI ANJING!! LO SIAPA?!!" Teriak Namira dari luar.


"Papa papa, Namira lihat ada cewek dikamar kak Arhan!!" teriak Namira lagi.


"What the hell?!" Mata Vinan membulat, gadis itu bingung harus berkata apa jika harus terpergok berada dikamar laki-laki yang tak dikenalnya ini?


"Kenapa?" Tanya Arhan ketika sudah keluar dengan pakaian santainya.


"Itu! Adik lo bilang ke om Raymond kalau ada cewek di kamar lo."


"Bukan adik gue!" Sangkal Arhan.


Oke! Disini Vinan semakin bertanya-tanya tentang bagaimana kehidupan Arhan sebenarnya.


"Papa lihat deh! Namira tadi beneran lihat sendiri kalau ada cewek di kamar kak Arhan, bahkan Namira denger suaranya." Jelas Namira diluar namun masih terdengar.


Mendengar itu Arhan langsung menatap Vinan tajam, walau tidak terlalu ketara karena kegelapan.


"Maaf, gue pikir tadi udah gak ada. Jadi gue keluar." ucap Vinan yang menundukkan seraya menatap ujung jari kakinya.


"Iya Pa!! Namira lihat sendiri!"


ceklek ceklek ceklek


Knop pintu diputar berkali-kali namun tidak dapat dibuka karena terkunci dari dalam.


"Shit!" Umpat Arhan yang langsung menarik tangan Vinan.


"Eh eh mau kemana?" Tanya Vinan bingung.


"Lo sembunyi."


"Hah? Dimana?"


Ingin rasanya Arhan membunuh Namira sekarang juga, selain murahan ternyata juga ember mulutnya. Arhan berpikir dengan otak begemelut amarah yang malah membuatnya buntu.


Kamar mandi? Pasti Papa akan mengeceknya.


Ruang ganti? Tidak!


Balkon?! Kasihan anak orang, diluar lagi hujan. Eh?


Arhan langsung mendorong tubuh Vinan dan mau tak mau gadis itu terbaring diatas ranjang. Arhan menarik selimut bedcover motif horizontal itu untuk menyelimuti tubuhnya dan Vinan.


"What? Apa lo gila?!" Sentak Vinan yang sadar akan posisinya.


"Diem!" Arhan menyelimuti tubuhnya dan Vinan lalu memeluk tubuh mungil gadis itu.


"Ogah! Apa-apaan! Gue mau keluar!"


"Kalau lo keluar, masalah bisa rumit lagi." Ucap Arhan dingin lalu memeluk tubuh Vinan yang meringkuk.


Akan bilang apa nanti kalau Raymond memergoki ada seorang wanita dikamarnya? Dan lagi-lagi ini karena ulah Namira! Pengen bunuh kalau gak ada hukum negara dan agama.


Vinan menahan nafas, jantungnya berdegup kencang, ia tidak pernah berada dalam posisi ini sebelumnya. Apalagi kini ia bersama laki-laki asing yang baru saja diketahui namanya tanpa berkenalan langsung dengan pemilik nama. Ia tidak salah kan kalau ber-negatif thinking?


"Nafas. Lo mati gue susah." Ucap Arhan lirih.


ceklek


Raymond memasuki kamar Arhan menggunakan kunci cadangan yang selalu disimpannya. "Mana?" Tanyanya.


"Nggak nggak!" Namira menggeleng-gelengkan kepalanya. "Tadi aku beneran lihat ada cewek disini."


Raymond melihat anak laki-lakinya yang tidur pulas diatas ranjang dengan penerangan cahaya rembulan. Disini tidak ada siapa-siapa, ia jadi ragu akan perkataan Namira.


"Mungkin itu hanya halusinasi kamu."


Damn!, umpat Vinan dalam hati. Ia ingin bersin saat ini. Please siapa saja tolong dia! Dewa Dewi berpihaklah padanya sekarang juga.


"Tapi tadi Namira bener-bener lihat pa." Ucap Namira kekeuh.


"Sudahlah, lebih baik kamu tidur ya." Pinta Tari.


Dengan menghentak-hentakkan kakinya Namira pergi keluar kamar. Apa benar ia tadi halusinasi?


Arhan merasakan ada yang aneh dengan gadis yang ada dalam kungkungannya. Sebelum Vinan bersin lelaki itu dengan sigap membekap mulutnya dan menangkup kepalanya hingga menempel dengan dada.


Oke! Vinan benar-benar tidak bisa bernafas sekarang.


deg


deg


deg


Hanya suara itu dari kedua insan.


"Udah lah sayang ... nggak mungkin Arhan bawa cewek. Dia udah tidur juga kan. Mungkin Namira salah lihat." Tari mengelus-elus lengan Raymond yang terlihat ragu dan mengajaknya keluar kamar.


klek


Pintu tertutup sempurna.


"Hachi!! Hachi!!" Bersin yang ditahannya keluar juga. "Hufthhh!"


Arhan menatap pintu kamar yang sudah tertutup rapat. Ia duduk dan menatap Vinan yang kini menatapnya tajam seperti menahan kemarahan.


"Gila lo! Nggak ada cara lain apa?!" Tanya Vinan yang langsung ditatap tajam walau cahaya remang-remang.


"Gue mau keluar!" Seru Vinan.


"Serah." Dengan santainya Arhan turun dari ranjang dan berjalan menuju balkon untuk memikirkan apa yang barusan terjadi. Ia tidak salah kan jika melakukan hal tadi untuk kenyamanan bersama dan menyelamatkan keselamatannya dari amukan Raymond Bwana?


Disisi lain Vinan mendengus kesal karena laki-laki itu sama sekali tidak minta maaf setelah kejadian yang seharusnya tidak terjadi. Dengan kasar ia menyibakkan bedcover dan berjalan gontai menggapai knop pintu lalu melangkah keluar.


Kalau Zynan tidak terluka dan memintanya meminta pertolongan untuk mengobati kakinya, ia pasti tidak mengalami hal menyebalkan seperti ini. Kamar bernuansa hitam itu tadi menjadi saksi akan aksi dua insan yang tidak pernah ada dibayangan pikiran.


tbc


•••


like dan komen jangan lupa^^gratis kok. Dapat pahala juga😂 Thank you💚