
Lelaki berkemeja putih dengan celana bahan warna hitam itu bertumpu pada besi pembatas JPO(jembatan penyeberangan orang). Raut wajahnya menunjukan keputusasaan yang mendalam. Ia menundukkan kepalanya frustasi, bingung harus bagaimana lagi menjalani hidup dikemudian hari.
Rayarhan Aryan Bwana, pemuda korban broken home orang tuanya. Dalam bayang-bayangnya ia ingin sekali bisa hidup ditengah keluarga kecil yang bahagia, namun takdir berkehendak lain. Arhan rapuh dan merasa ingin enyah dari dunia sekarang juga, ia butuh rangkulan dan sandaran yang bisa menenangkan jiwanya.
Hari ini adalah hari yang terberat baginya. Pertama ia harus menyaksikan secara langsung perceraian kedua orang tuanya dihadapan hakim pengadilan. Selang beberapa jam kemudian ia harus menyaksikan ijab qobul Papanya bersama wanita yang kini menyandang status sebagai ibu tirinya. Tidak ada lagi masa Iddah karena kedua orang tuanya sepakat untuk tidak berencana rujuk dikemudian hari.
Dan yang lebih berat lagi ia harus berpisah dengan Mamanya, wanita kuat yang membesarkan juga merawatnya hingga menginjak umur 18 tahun ini. Luna, wanita itu akan terbang ke Rusia besok pagi karena titah Papanya. Raymond, lelaki yang terkenal tegas berwibawa itu tidak ingin Luna berada di Indonesia, karena besar kemungkinan Arhan akan memilih untuk ikut dengan mantan istrinya.
Bukan itu yang Raymond mau, Arhan adalah anak laki-laki satu-satunya yang harus mewarisi semua kekayaannya terutama menggantikan posisinya sebagai pemimpin perusahaan jika usia Arhan sudah matang.
Detik demi detik berlalu, pemuda itu meneteskan sebulir air mata dari mata kirinya, dadanya sesak menahan tangis sekaligus teriakan yang meronta-ronta ingin diluapkan.
"Kenapa harus gue?" Lirih Arhan parau. Tangan kanannya semakin mencengkeram kuat besi pembatas melampiaskan kemarahannya. Ponsel yang sedari tadi bergetar disaku celananya ia abaikan, untuk apa lagi berkomunikasi jika tidak ada satupun orang yang mendengarkan pendapatnya? Baik Papa atau Mamanya, kedua orang itu egois! Mereka tidak memikirkan bagaimana perasaannya saat ini.
"Gue pengen mati." Ucapnya lebih lirih. Pandangannya kini mengarah pada jalanan kota dibawah sana, mungkin sekitar 6 meter tingginya. Mobil-mobil saling memacu kecepatan berlalu lalang ditambah motor-motor yang terus melintas tanpa jeda. Terlintas dibenaknya, bagamana jika ia melompat ke sana? Apakah kendaraan-kendaraan itu akan langsung menangkap tubuhnya hingga terseret beberapa meter jauhnya?
Tangan kirinya yang memegang jas hitam kini ikut mencengkeram pagar besi. Matanya sudah buram terselimuti amarah yang terpendam. Pikirannya mendadak kosong.
Hembusan nafas pelan terdengar dari mulutnya, jantungnya kini terpacu lebih cepat dari biasanya. Arhan memejamkan kedua matanya dengan kepala yang masih menatap ke bawah. Satu kakinya yang beralaskan sepatu Adidas putih itu perlahan menginjak pagar besi yang pertama.
Tekadnya bulat, tinggal satu kaki lagi dan ia akan melompat ke bawah. Satu-satunya cara meninggalkan semua masalah adalah dengan ini.
"Maafin Arhan." Ucap lelaki itu tulus.
Sial! Kenapa disaat-saat seperti ini bayangan wajah Luna tiba-tiba muncul di pikirannya seakan-akan ingin memintanya berhenti.
Kaki yang tadi bergetar itu kini kembali normal, telinga Arhan menangkap sebuah suara yang tidak jauh darinya. Arhan menoleh, menemukan gadis bersurai hitam panjang sedang membelakangi dirinya.
Jika dilihat lamat-lamat dari sini, tangan kiri gadis itu memegang telepon genggam dengan layar yang menampilkan sebuah wajah yang tidak terlalu jelas terlihat.
"Ayah baik-baik ya disana... Besok Vinan sama Zynan jemput ke bandara."
"Iya... Ini Vinan udah mau pulang kok." Tangan gadis itu terlihat menyelipkan anak rambutnya ke belakang telinga.
"Daaahh!"
Arhan kembali memalingkan atensinya. Masih banyak orang yang bisa bahagia, lantas kenapa ia tidak? Dia tidak boleh putus asa hanya karena keluarnya tidak lagi bersama. Mungkin ini yang terbaik bagi jalan hidupnya.
Helaan nafas kembali terdengar, Arhan menurunkan kakinya kembali. Tangannya yang bebas mengepal kuat. Ia berbalik dan melangkahkan kakinya lemas mengikuti alur jalan JPO tanpa atap ini.
Angin malam menerpa kencang kemejanya yang sedikit kebesaran, jas hitam ditangan kirinya ikut bergerak pasrah mengikui arah angin berhembus. Sampai diujung, kaki beralaskan sepatu berwarna putih itu menuruni satu persatu anak tangga menuju motornya yang terparkir dibawah sana.
Hari ini ia hampir tamat. Entah apa yang merasukinya hingga membuatnya ingin mengakhiri hidup sekarang juga.
Arhan tidak sendiri, ia akan menerima realita walau pahit kenyatannya.
...~A S S A L A M U A L A I K U M~...
...💚...