L O K A R E N J A N A

L O K A R E N J A N A
29.RENCANA FAHRAR



...-Rencana Fahrar-...


Gerbang sekolah sudah cukup sepi karena siswa-siswi yang membawa kendaraan sudah keluar dari tadi. Hanya beberapa yang masih tersisa, menunggu jemputan atau kendaraan umum yang biasa ditumpangi. Kendaraan para guru-guru juga mulai meninggalkan sekolah.


Vinan berdiri diujung gerbang sebelah kiri, menuggu Ezra yang sudah berjanji akan menjemputnya sebentar lagi. Sebenarnya tadi juga ada Fani, tapi dia keburu pulang karena sudah dijemput.


Sebuah mobil hitam yang tampak familier berhenti disamping Vinan. Penumpang yang duduk di kursi samping kemudi itu menurunkan kaca jendela. Fahrar, tanpa sungkan ia tersenyum ke arah Vinan. Satu dua murid yang melihat itu langsung melipat dahi, tidak percaya kalau Fahrar bisa tersenyum hangat.


"Mau bareng Vi?" tanya Fahrar. Pak Sigih yang mengemudi sudah senyam-senyum sendiri, sepertinya anak tirinya satu ini sedang menyimpan rasa pada salah satu anak didiknya.


"Nggak makasih. Gue bentar lagi dijemput," tolak Vinan mencoba ramah. Kalau tidak ada Pak Sigih disini, dia pasti langsung mengusir kasar Fahrar serta tidak sudi mengucapkan kata 'makasih'.


"Endak papa dek, barengan aja sini," Kini Pak Sigih yang menawari.


"Namanya Vinan pah," ralat Fahrar.


"Iya Vinan, nanti saya anterin ke rumah kamu." 


"Makasih Pak, tapi saya dijemput. Sudah on the way."


"Beneran nih Vi?" tanya Fahrar sok baik. Tidak ada tatapan tengil dan seringaian mengerikan seperti biasanya.


"Iya," Vinan tersenyum.


"Duluan ya!"


Vinan mengangguk ramah bersamaan dengan suara klakson mobil Pak Sigih. Kalau senjata Fahrar adalah wakil kepala sekolah, sudah pasti Vinan akan mati kutu.


Akhirnya yang ditunggu datang juga. Mobil SUV dengan pelat nomor berwarna hijau juga berlogo TNI itu perlahan mendekat. Dikursi penumpang belakang sudah ada Zynan yang terlihat menyenderkan punggungnya pada bangku.


"Langsung masuk Vi!" teriak Ezra.


Setelah menimbang-nimbang Vinan memilih untuk duduk dikursi depan. Tidak enak kalau semuanya duduk dibelakang.


"Udah dari tadi ya? Maaf saya terlambat."


"Nggak kok Kak."


Jalanan tampak lengang. Tidak padat seperti biasanya. Suara kencrengan pengamen jalanan dengan wajah lusuh beberapa kali terdengar dilampu merah, menyayikan lagu-lagu dewasa yang bertolak belakang dengan umur mereka. Jika diluar sana ramai dengan secuil kehidupan, suasana mobil sungguh garing, hanya ada suara musik yang mengisi. Tidak ada yang ingin membuka mulut karena sudah sama-sama capek dengan aktivitas seharian.


Beberapa menit berkendara. Mobil Ezra berhenti didepan rumah kembar identik yang nampak sepi. Bahkan terlihat gelap sendiri diantara rumah-rumah lainnya. Hari sudah sore, berhubung tidak ada orang yang menghuni, lampu pun tidak ada yang menyalakan.


"Ini, saya tadi beli dijalan," Ezra menyodorkan kantung plastik berisi beberapa bungkus lauk-pauk dan masakan rumahan.


"Kak Ezra nggak usah repot-repot, nanti Vinan bisa masak kok," tolak Vinan halus. Sudah cukup merepotkan Ezra dengan mengantar ke sekolah setiap hari. Apalagi ini secara sukarela, tidak ada gaji.


"Udah ambil aja." Ezra memaksa Vinan untuk menerima pemberiannya.


"Kak Ezra mampir dulu! Sekalian makan bareng-bareng!" ajak Zynan yang sudah turun dari mobil. Dia membuka gerbang selebar mungkin agar mobil Ezra bisa masuk ke dalam carport.


"Ayo Kak!" ajak Vinan lalu menutup pintu mobil.


Ezra menurut. Dia memasukkan mobilnya ke dalam carport. Lagi pula ini belum malam, jadwalnya juga kosong setelah ini.


Setelah mobil terparkir sempurna, Ezra keluar dari mobil sesudah menanggalkan seragam PDL dan kini menyisakan kaos warna army lengan pendek.


Didalam sana Vinan sudah sibuk menyiapkan makanan diatas meja tanpa mengganti baju, Zynan izin ke atas terlebih dahulu karena ingin bersih-bersih.


"ART cuma seminggu sekali ke sini, jadi rumah masih berantakan," ucap Vinan hanya diangguki oleh Ezra. Rumahnya juga tak jauh beda, sedikit berantakan karena Ezra tidak menggunakan jasa pembantu.


"Ayo makan!" teriak Zynan lalu berlari kecil menuju kursi. Dia langsung mengambil piring dan lauk pauk sesukanya.


"Makan Kak, aku mau mandi dulu," ucap Vinan lantas pergi.


"Nggak mau makan dulu ini? Jadi nggak enak loh saya."


"Duluan aja Kak!" teriak Vinan yang sudah hampir sampai dilantai atas.


Aroma mentol daun mint tertangkap indera penciuman Vinan ketika memasuki kamar bernuansa ungu. Pertama dia menaruh tas diatas meja lalu merebahkan tubuhnya diatas ranjang. Kakinya dibiarkan menjulur ke bawah. Matanya dipejamkan sebentar, biarkan dia menikmati aroma pengharum ruangan yang sangat nyaman untuk merelaksasi pikiran.


Entahlah, setelah pertengkaran sore itu. Lebih banyak kejutan datang padanya, baik positif atau negatif. Vinan baru sadar, dia tak harus sok jadi pahlawan sore itu, biar Arhan saja yang terluka dan dia tidak perlu berurusan dengan Fahrar apalagi primadona sekolah sejenis Syelena. Entah mau dibawa kemana alur permasalahan ini. Semuanya kacau, salah paham.


Vinan kembali sadar dari lamunan. Dia bangkit, menurunkan baju seragamnya yang tersingkap. Berjalan malas menuju balkon guna mengambil sandal berbulu yang ditinggalkan tadi malam.


Pintu kaca terbuka, hawa sejuk dan cakrawala senja langsung menyambutnya. Vinan memejamkan mata, menghirup banyak-banyak oksigen disana. Nyaman, sudah lama sekali tidak larut dalam ketenangan seperti ini.


Suara mesin mobil yang sangat dekat menarik atensi Vinan, perlahan dia berjalan mendekati pagar besi. Dibawah sana mobil Ezra terlihat keluar gerbang lalu melaju normal ke arah selatan. Dia pulang. Selama itukah Vinan hanyut dalam lamunannya tadi? 


Vinan menghela nafas. Rumahnya kembali sepi, hanya ada dia dan Zynan disini. Ah, dia jadi teringat Lyman, sudah lama sekali tidak mendengar suaranya. Susahnya sinyal di daerah tempat Lyman bertugas lagi-lagi menjadi masalahnya.


Tangan Vinan turun, tak lagi memegang pagar. Ketika dia akan masuk ke dalam, suara sinar gitar yang dipetik beraturan membuatnya berhenti. Dia mendongak, mendapati sosok lelaki yang duduk diatas kursi. Jarak balkon kamarnya dengan Arhan memang cukup tinggi, membuat Vinan tidak bisa melihat wajah Arhan dengan jelas, hanya separuhnya saja.


Lihatlah lelaki itu, nampak tenang bahagia sekali. Sangat berbanding terbalik dengan Vinan yang harus menahan banyak umpatan karena ulah Arhan, dia terseret masalah yang cukup runyam. Apalagi kejutan-kejutan tiada henti. Yang paling menakjubkan adalah surprise hari ini, tiba-tiba pindah sekolah dengan alasan yang terlampau ambigu untuk dipahami. Sudahlah, Vinan ingin hidup tenang seperti dulu!


Sayang, suara-suara yang terdengar merdu ditelinga itu terpaksa harus berhenti dinikmati ketika Zynan memanggilnya dari luar kamar.


"Huft..."


•••


Waktu senggang yang membosankan, Arhan memilih untuk menikmati seberkas sinar jingga yang perlahan memudar. Dipangkunya gitar berwarna cokelat susu, dimainkan sesekali sambil bergumam menyanyikan lirik lagu. Posisi ini sudah berlangsung lama, hingga senja menghilang digantikan langit biru tua yang menarik mata. 


Ponsel Arhan bergetar berbarengan dengan notifikasi pesan.


...4NAK SANS  ...


Fahlefi Dhananjaya


Wahai orang-orang beriman!!


Figo Alnanth


Fahlefi Dhananjaya


@Arhan mana nih??


Adya Saguna


Kangen yak? Istighfar Lepi!!


Fahlefi Dhananjaya


Kagak ya!


Ada informasi nih! Penting!


^^^Apa? ^^^


Figo Alnanth


Nah tu muncul


Fahlefi Dhananjaya


Katanya lo ttngga vinan kan?


mlm ini dia ada acara diluar sma tmnnya


yng tdi pagi, lupa wek nmnya!


Arhan hanya membacanya, apa urusannya? Tidak penting sekali. Baru akan menombol icon home, Lefi kembali mengirimi pesan.


Fahlefi Dhananjaya


Gengnya Fahrar udh stand by didpan


pertigaan komplek lo@Arhan


Dia tau kalo vinan mau keluar


Adya Saguna


Bullshit lo! Gw goreng juga lu besok


Fahlefi Dhananjaya


Beneran tau, gw baru diksih tau abil


Figo Alnanth


Tuh kan bener, abil tu penghianat


Fahlefi Dhananjaya


Enak aja! Masih mending dikasih informasi!


Jari tangan Arhan tidak ada pergerakan, dia bingung harus membalas apa.


Fahlefi Dhananjaya


Mereka mau maksa vinan buat ikut ke markas geng Fahrar. Malam ini ada pesta disana, salah satu ank buahny ada yng ulng tahun


^^^Banyak yang udah ikut hadang? ^^^


Hanya pertanyaan itu yang diketik Arhan.


Adya Saguna


Kita mau gimana? Nyerang Fahrar?


Fahlefi Dhananjaya


Banyak kata abil, soalnya lngsung ke markas abis jemput vinan


Figo Alnanth


Kalo gitu crnya bukan jmput *****! tpi nyulik!


Jika benar Vinan akan keluar malam ini. Gadis itu tidak mungkin bisa lolos dari geng Fahrar yang sekali serang langsung belasan motor. Mereka pasti menggunakan kekerasan jika Vinan tidak menurut.


Adya Saguna


Butuh bantuan nggak?@Arhan


Cma lo yng bsa nylmetin vinan, kan lu yng dket


Fahlefi Dhananjaya


Gw sih siap² aja klo mau tempur skrang, gmana?


^^^Biar gw beresin sndri, thnks infonya ^^^


Layar beranda terpampang diponsel Arhan. Apa dia harus turun tangan malam ini? Fahrar sangat menyusahkan sekali, padahal Arhan sudah berencana untuk bermain PS dan mabar semalaman suntuk.


"Sial!" Arhan menyenderkan gitarnya dipagar balkon lantas masuk ke dalam kamarnya yang hanya hitam putih warnanya. Mau tak mau dia harus bergegas mandi dan melakukan sesuatu yang sudah menjadi tanggung jawabnya. Sejak sore itu, semuanya berubah.


tbc


•••


Tinggalkan jejak dengan apresiasi chapter ini. Sekecil apapun, itu sangat berarti untk saya:)jngn siders, oke? Ingetin kalo ada typo✨makasihh💚