L O K A R E N J A N A

L O K A R E N J A N A
4.FIRST IMPRESSION



...-First Impression-...


Hari Minggu pagi ini cukup terik. Sinar cahaya terpancar dari segala mata arah ditambah udara panas khas daerah kota yang penuh dengan polusi dan efek banyaknya gedung pencakar langit yang tinggi-tinggi.


Walau dihari minggu sekalipun, jalanan komplek Jaya Asri masih ramai dilewati oleh beberapa pengendara motor ojek online dan mobil-mobil pribadi. Beberapa warga ada yang duduk-duduk santai di teras rumah sembari menikmati secangkir kopi, ada juga yang memilih untuk bercocok tanam untuk sekedar menanam berbagai macam tanaman bunga agar lingkungan terlihat asri. 


Nafas Vinan tersengal-sengal seiring dengan langkah kaki yang terus menapak diatas aspal. Gadis itu mengusap peluhnya yang membuat sebagian anak rambutnya basah.


"Ay-o Vinan se-di-kit la-gi!!" Ucap Vinan sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jaket kemudian melanjutkan acara joging paginya yang selalu sendiri.


"Oh God!!" Pekik seorang wanita dengan banyak paper bag ditangannya. Tangan kanan dan kirinya sudah dipenuhi dengan banyaknya kantong belanjaan yang beratnya bervariasi.


"Perlu bantuan kak, eh tante?" Tanya Vinan ragu dan kini berjalan mendekat setelah taksi yang ditumpangi wanita itu melesat pergi.


"Hah?" Wanita itu mendongakkan kepala. "Oh ya, kamu anak pak Lyman kan?" Tanya wanita itu sembari menelisik wajah cantik Vinan.


"Yeah, kakak penghuni baru rumah ini?" Tanya Vinan seraya berjongkok memunguti paper bag yang terjatuh. Dia sedikit canggung memanggil wanita itu, dikata muda tidak, dikata tua tidak terlalu juga.


"Panggil Tante Tari aja, saya istri penghuni rumah ini." Pinta Tari.


"Owh maaf, saya tidak tau. Soalnya baru pertama kali lihat."


"Iya, maaf belum sempat kenalan. Kemarin saya sudah ketemu sama ayah kamu." Tari kembali menatap wajah Vinan lamat-lamat. "Emm kamu?"


Vinan yang mengerti maksudnya langsung tersenyum tipis. "Saya Vinan. Kakak Zynan."


"Oh iya, maaf. Abisnya sama aja." Kekeh Tari.


"Enggak sama kok."


Sebenarnya perbedaan antara Vinan dan Zynan dapat dilihat dari tahi lalat kecil yang berada dibawah mata kanan Zynan dan penampilan luarnya. Selain itu pasti sulit membedakannya.


Vinan menenteng beberapa paper bag ditangannya. "Dibawa kemana Tan?"


"Masuk aja, ayo!"


Vinan mengikuti langkah Tari memasuki rumah mewah bernuansa putih jika dilihat dari luarnya. Selama beberapa hari belakangan setahunya rumah ini memang sudah ditempati oleh orang baru, namun tidak begitu tahu menahu tentang indentitas sang penghuni.


"Kamu udah lama tinggal disini?" Tanya Tari seraya memasukkan kunci ke dalam lubang lalu memutar nya searah jarum jam.


"Udah dari lahir Tan."


ceklek


"Ayo masuk dulu."


"Iya, permisi." Dengan langkah canggung Vinan memasuki rumah mewah itu. Pandangannya langsung menyapu seisi ruangan. Rumah ini benar-benar sudah dirombak besar-besaran, dulu ia pernah masuk ke dalam rumah ini jauh sebelum Tari yang menempati. Keadaan dulu sangat berbanding terbalik dengan apa yang dilihatnya sekarang.


"Taruh aja diatas sofa, nanti saya bereskan."


"Iya Tan." Vinan menaruh barang-barang sesuai perintah. "Kalau begitu Vinan per--"


"Oh no no no. Kamu tunggu disini, Tante ada sesuatu untuk perkenalkan."


"Tapi Tan--"


"Anggap aja karena kamu udah bantu saya." Tari berjalan memasuki rumah entah ingin apa.


Sambil menunggu, Vinan menatap takjub seisi rumah ini, barang-barang antik yang pastinya mahal tertata rapi di setiap sudut ruangan. Berbagai miniatur kayu klasik menambah kesan elegan, apalagi sofa besar yang terletak di tengah-tengah ruangan. Sangat jauh berbeda dengan konsep rumahnya yang sederhana. "Amazing..." gumam Vinan.


Dulu rumah ini dihuni oleh sepasang suami-istri paruh baya dengan kehidupan sederhana, entah karena apa mereka pindah dan sekarang ditempati oleh penghuni baru yang sepertinya 'kaya raya'


Disela-sela kekagumannya mata Vinan menangkap tubuh sosok laki-laki bertelanjang dada turun dari lantai atas. Gadis itu langsung menutup matanya yang suci dengan kedua tangan.


Astaga!, pekiknya dalam hati.


Jika dilihat dari sela-sela jari Vinan, lelaki itu hanya menatapnya aneh lalu berjalan pergi memasuki sebuah pintu dan tidak terlihat lagi.


"Shit! Mata gue..." Lirih Vinan. Ini kali kedua ia melihat tubuh laki-laki bertelanjang dada, yang pertama adalah saat melihat tubuh sixpack para Tamtama TNI ketika ikut Lyman ke barak tentara.


Mata Vinan kembali menelisik setiap sudut rumah, tatapannya terfokus pada pigora besar menampilkan foto pernikahan Tari dan Raymond. Disamping mereka juga ada seorang gadis muda ditambah seorang laki-laki berpakaian formal yang tampak tersenyum paksa.


"Itu cowok tadi?" Gumam Vinan. Tangan kiri Vinan melingkar di pinggangnya dan tangan kanan digunakan untuk menopang dagunya.


"Pergi sebelum gue lempar!!"


"Kakak...."


"Gue bukan kakak lo *******!!"


pranggg


Suara itu terdengar bersahut-sahutan ditelinga Vinan. Gadis itu jadi ragu untuk menganggap bahwa tetangga barunya ini tergong dalam keluarga 'harmonis'


Tak lama setelah itu, Vinan melihat lelaki bertelanjang dada tadi keluar dari ruangan.


Tapi tunggu.


Ada sebuah tangan mungil yang bergelayutan dikakinya sehingga mau tak mau tubuh gadis itu ikut terseret kemana arah lelaki itu berjalan.


"Oh God!" Teriak Vinan yang langsung berlari dan membantu gadis itu berdiri.


"Ayo berdiri..." Ajaknya membuat Namira mengernyitkan dahi.


Gadis itu melepas tautannya dan beranjak berdiri. "Siapa lo?"


"Gue Vinan, tetangga sebelah." Gadis itu mengulurkan tangannya.


Vinan baru sadar bahwa lelaki dihadapannya ini masih bertelanjang dada dan menatapnya tajam.


"Ehm..." Vinan berdehem dan mengalihkan pandangannya karena merasa kurang nyaman.


Menyadari gerak-gerik Vinan, Arhan langsung berdecih. "Munafik." Ucapnya lirih lalu pergi menaiki satu persatu anak tangga. Baginya wanita sama saja. Murahan dan eum, ******?


"Lo kok bisa masuk ke rumah ini?" Tanya Namira sedikit tidak suka.


"Eum, tante tadi yang--"


"Eh, maaf lama ya?" Tari berjalan menghampiri dengan sekotak plastik berukuran sedang ditangannya. "Ini, makasih yah udah bantu."


"Ah, seharusnya saya yang makasih."


"Ini, maaf cuma bisa ngasih ini."


"Ah iya." Dengan agak ragu Vinan menerima kotak yang entah isinya apa.


Namira mengernyitkan dahinya heran, kenapa mamanya bisa akrab dengan orang baru? Gadis itu melipat tangannya di depan dada sembari terus menyimak pembicaraan antara dua insan.


"Terima kasih. Nanti saya kembalikan kotaknya."


"Santai saja."


"Kalau gitu saya permisi." ucap Vinan langsung berlalu.


Ia berjalan pulang menuju rumahnya yang hanya berjarak beberapa langkah seraya memikirkan kejadian barusan yang menurutnya sungguh keterlaluan.


Ada ya keluarga kayak gitu?, pikirnya.


"Assalamualaikum ayah." Ucap Vinan langsung duduk dibangku teras.


"Waalaikumsalam." Jawab Lyman yang tetap fokus dengan koran ditangannya dan sesekali menyesap kopi.


"Zynan belum bangun yah?"


"Belum. Bangunin gih."


"Nanti aja." Tangan Vinan bergerak untuk membuka kotak yang baru didapatkannya.


"Dari siapa?" Tanya Lyman.


"Dari tetangga sebelah."


"Kamu abis main kesana?"


"Nggak juga sih, tadi abis nolongin Tante Tari."


"Yahh..." Desah Vinan takala melihat isi kotak yang ternyata adalah dimsum ayam.


"Kenapa?"


"Vinan ga suka, buat ayah aja." Vinan menggeser kotak.


"Disyukuri. Sukur-sukur dikasih."


"Iya deh."


tin tin tin


"Assalamualaikum!!" Seru Galen yang baru saja keluar dari mobilnya.


"Waalaikumsalam."


"Ngapain lo kesini?" Tanya Vinan ketus. Ia tidak suka dengan lelaki sejenis Galen yang hanya bisa membuatnya pusing tujuh keliling. Apalagi tingkahnya yang pecicilan seperti para spesies monyet di kebun binatang.


"Suka-suka lah.." Galen menyalimi tangan Lyman sopan. "Om nggak ke barak?"


"Lagi libur, besok piket."


Galen hanya manggut-manggut kepala mendengarnya. "Zynan mana?"


"Masih bobok cantik."


"Gila gila!! Jam segini??" Vinan menganggukkan kepala.


"Anak perawan kalah sama gua.." Galen membusungkan dadanya dan langsung mendapat tendangan ditulang keringnya.


"Akhh..."


"Gue panggil Zynan dulu..." Vinan langsung melesat pergi sebelum lelaki itu berceramah.


"Adik kakak sama aja!" Cibirnya.


"Gitu-gitu anak saya!" Tegas Lyman membuat Galen menciut. "Makan om." Galen mencomot dimsum diatas meja dan menganggukan kepalanya kikuk.


"ZYNAN!!" Teriak Vinan menggema hingga membuat dua orang geleng-geleng kepala diluar sana.


"Ada Galen noh diluar!!"


"Akhh!! Gue ngantuk!!" Zynan menutupi tubuhnya dengan selimut tebalnya.


"ZYNAN!!"


"Pergi lah kak..."


"Galen tuh udah nunggu diluar!"


"Iye! Sabar! Nggak tau orang tidur apa ya!"


"Ini udah siang pea!!"


"Terus?"


"Apa?"


"Lo ngapain masih disini??! Mau ikut gue mandi?!"


"****!!" Vinan langsung keluar dari kamar Zynan sembari terus menggerutu dan menghentak-hentakkan kakinya.


30 menit kemudian Zynan sudah siap dengan kacamata hitam dan topi Adidas dikepalanya. Ia suka mengenakan topi kalau tidak mengucir rambutnya, ciri itulah yang bisa membedakan antara Vinan dan Zynan.


"Berangkat ayah!" Ucap Zynan langsung berjalan memasuki mobil Galen yang terparkir didepan rumahnya.


"Hati-hati."


"Dadahh kakak Vinan!!" Teriak Galen melambaikan tangannya dan dibalas tatapan jengah oleh Vinan.


tin


Mobil melaju dengan kecepatan tinggi membuat Lyman ingin membantai Galen jikalau sampai anaknya kenapa-kenapa. Vinan sedikit melengkungkan bibirnya lalu kembali memasuki rumah untuk melanjutkan aktivitasnya yang itu-itu aja, ia jarang sekali mempunyai agenda diluar runah saat hari libur, sangat berbanding terbalik dengan Zynan yang selalu kelayapan.


•••


"Alhan!! I'm coming!!!" Teriak Lefi dari halaman. Ia, Adya, Figo dan Aleta tentunya baru saja sampai dirumah yang baru-baru ini ditinggali Arhan. Jika ditelisik dari luar, rumah ini memang terlihat megah hingga menutupi rentetan konflik anggota keluarga yang tersimpan rapi.


ting tong ting tong ting tong


Figo dengan jahilnya sengaja memencet bel berkali-kali.


"Sayang ih!" Protes Aleta selaku pacarnya.


"Alhan!!" Teriak Lefi ulang.


"Langsung masuk ****!" sarkas Adya.


"Emang lu belani? Iya kalau nggak ada bokapnya, kalau ada?" cibir Lefi.


ceklek


Muncul wanita seksi dengan pakaian minimnya membuat semuanya berdecak jijik, gayanya berpakaian tidak sesuai dengan umurnya yang masih muda. Bukannya terpesona, tapi ketiga laki-laki itu sudah biasa melihat wanita dengan pakaian kurang bahan di club malam.


"Arhan mana?" Ketus Adya tanpa basa-basi.


"Kakak? Dia ada di gazebo." Jawab Namira masih dengan gaya manja menggoda.


"Kakak? Mimpi woi!" Seru Lefi yang langsung menyelonong masuk tanpa memperdulikan tuan rumah yang mendengus kesal.


Mereka semua sudah tau kisah hidup Arhan yang pastinya juga tau siapa Namira itu. Adik tiri yang tidak tahu diri!


Menuju gazebo yang letaknya disamping rumah membuat mereka melewati wanita yang sebelas dua belas dengan Namira sedang duduk bersantai diatas sofa seraya membongkar barang belanjaannya. Tari? Ibu tiri Arhan yang mirip ikan teri (kata Lefi).


"Ikan lohan makan ceri!"


"Cakep!"


"Halo Arhan selamat pagi!" Sapa Figo menghampiri Arhan yang entah sedang apa melamun ditepi kolam.


"Kalian sejak kapan disini? Tau gitu cari tempat lain, disini suka panas hawanya." Kekeh Arhan yang kini sudah menarik kakinya dari air kolam


"Gue bahkan udah ketemu sama penghuni neraka didepan tadi." Celetuk Figo.


"Betewe adik tili lo tambah seksi aja. Kasih asupan apa si?" celoteh Lefi sembari melepas jaket jeans dan melemparnya asal ke gazebo kayu.


"****** maksud lo?"


"Vulgal amat bang!" protes Lefi.


Arhan menyusul teman-temannya yang sudah duduk bersantai diatas gazebo.


"Pa kabar Let?" Tanya Arhan yang sudah mengenal Aleta seperti mengenal teman sintingnya.


"Baik." Jawab Aleta yang tak lepas dari Figo.


"Kapan putus?" Kekeh Arhan membuat Figo membulatkan matanya.


"Weshh weshh lo ngajak baku hantam nih ceritanya?" Tanya Figo yang mengeluarkan tatapan lasernya dan langsung menggenggam erat tangan mulus Aleta.


"Bercanda dudul!" Ucap Arhan menonyor bahu Figo."Ada apa kesini?"


"Ah elah! Kayak sama siapa aja!" Cibir Lefi. "Kita mau makan glatis lah!!"


"Sa ae lu upil kering!!" cibir Figo.


"Ambil sendiri didapur." Jawab Arhan santai.


"Kita ke sini mau ajak lo." Ucap Adya.


"Kemana?"


"Kopdar horr!!" Seru Figo membuat Arhan tersenyum miring seraya manggut-manggut kepala.


Setidaknya masih ada orang-orang baik yang mengelilinginya ditengah-tengah kehancuran hidupnya. Bukan hanya sekedar teman atau sahabat, mereka semua sudah seperti keluarga yang saling terikat dari dulu sampai sekarang.


Kalau ditanya bagaimana dengan pertemuan pertama? Panjang ceritanya ...


tbc


•••


Tinggalkan jejak disini kalau merasa menikmati:) ga susah kok buat apresiasi lapak ini:)) ingetin juga kalau ada typo☁️ Thank you💚