L O K A R E N J A N A

L O K A R E N J A N A
16.COKELAT TITIPAN



...-Cokelat Titipan-...


Sejak kepergian Lyman kemarin, rasa sedih masih membayangi pikiran Vinan. Tidurnya tadi malam sangatlah tidak nyenyak, bisa dikatakan ia hampir terjaga semalaman. Setiap beberapa menit ia membuka matanya lalu mencoba mengatur nafas untuk menenangkan dirinya, disaat stress atau punya beban pikiran yang berat ia bisanya akan bermimpi aneh tanpa diketahui sebabnya. Dan kejadian itu terus terulang saat imunitas tubuhnya tidak memungkinkan.


Pagi ini Vinan sudah berada di sekolah. Saat berangkat sekolah tadi ia diantar oleh Ezra lalu lanjut mengantar Zynan ke sekolahnya. Tidak enak sebenarnya, tapi mau bagaimana lagi, ini adalah pesan Lyman untuk Ezra sebelum pergi. Sebelum mobilnya selesai diperbaiki dibengkel, ia dan Zynan akan terus diantar oleh Ezra, kalau masalah pulang Vinan sudah bilang bahwa akan naik kendaraan umum atau tidak nebeng mobil Liam juga Fani. Lagian waktu Ezra untuk menjemput waktu pulang sekolah disore hari juga tidak memungkinkan karena profesinya.


Vinan berjalan malas memasuki gerbang, dipelataran parkiran sudah ada Fani yang menyilangkan tangannya didepan dada dengan kaca mata hitam bertengger dihidungnya. 


"Cepetan ih Vinan! LAMA!" Seru Fani.


Dengan terpaksa Vinan sedikit menambah laju kecepatannya yang hanya berjarak beberapa centi per langkah. Merasa hilang kesabaran, Fani berjalan mendekati lalu menarik lengan Vinan untuk segera berjalan meninggalkan halaman.


"Lemot banget! Lagi kedatangan tamu yak?" Tanya Fani yang kini menggandeng lengan Vinan.


"Nggak."


Fani melepas kacamatanya kemudian menoleh Vinan yang pandangannya hanya lurus ke depan, "Terus?"


"Ayah pergi tugas ke Kalimantan."


"Oh ya? Berapa lama? Jadi lo kemarin ke bandara buat nganterin Om Lyman?"


"Empat bulan."


"Lama bengeut!!"


"Maka dari itu gue mager pani! Rumah pasti bakal sepi banget."


"Tenang aja! Sahabat lo yang cetar paripurna ini pasti bakal sering-sering main ke rumah lo! Okey?!"


Vinan menganggukkan kepalanya lalu mengalungkan sisi tali tas yang satunya, meski sifat Fani yang terbilang berisik dan rempong, setidaknya dialah yang selalu ada untuknya apapun keadaannya dan semoga itu terus bertahan abadi. Secara Fani dan Vinan sudah berteman dari awal dimulainya masa abu-abu, walau first impression mereka sedikit buruk, setidaknya ikatan persahabatan tetap mengjerat keduanya.


Kini mereka berdua sudah berjalan beriringan dikoridor, pandangan kedua gadis itu hanya mengarah lurus ke depan karena sudah jengah dengan pemandangan kanan kiri yang hanya berisi hal uwu antar pasangan bucin. Bukannya iri, takut zina mata masih pagi-pagi.


"Lo tadi pagi dianterin sama siapa? Mobil lo kan lagi diservis." Tanya Fani.


"Kak Ezra."


"Sape tuh? Saudara lo?"


"Bukan. Dia temen ayah. Sama-sama tentara."


Fani menganggukan kepalanya ragu lalu kembali bertanya. "Ganteng nggak??"


"Hoee!!" Liam yang baru saja datang langsung menerobos masuk disela-sela tubuh Vinan dan Fani membuat jarak tercipta diantaranya. "Tumben diem-diem? Biasanya heboh kayak ayam bertelur!"


"***** ketek lo Liam!" Seru Fani sembari menundukkan kepalanya guna menghindar dari rangkulan ketek Liam.


"Kenapa? Horang gue pakek deodorant!" Bantah Liam, tatapan lelaki itu berganti menatap Vinan yang hanya diam. "Kenapa Vinan? Lo anuin ya?" Tuduh Liam pada Fani.


"Anu anu!" Dengus Fani lalu melepaskan lengan Liam dari pundaknya. Sebenarnya Fani masih bingung, kenapa manusia spesies Liam bisa memperoleh suara terbanyak dan kini menempati jabatan wakil ketua OSIS? Padahal masih banyak murid good looking dan jenius di SMA Gardamawa.


"Dek dek!" Panggil seseorang membuat langkah Vinan terkenti, Liam yang masih merangkul pundak Vinan juga ikut berhenti. "Ada titipan nih! Dimakan ya! Suratnya juga dibaca!" Titah salah seorang laki-laki sembari menyodorkan cokelat Silverqueen dengan pita besar berwarna merah jambu. Jumlah siswa yang menghampirinya tidak hanya satu dua orang, melainkan lebih dari lima orang.


"Dia nggak bisa ngasih langsung sama lo! Lagi dihukum dilapangan soalnya."


"Dimakan ya! Jangan dibuang loh dek! Mubazir!"


Karena Vinan tak kunjung menerima, lelaki yang menyodorkan cokelat tadi mengambil tangan Vinan lalu memaksanya untuk menggenggam cokelat.


"Eh eh! Kok gue. Balikin ke Fahrar aja yah kak!" Tolak Vinan sembari mengembalikan cokelat. Kenapa ia memanggil kak? Karena kawanan laki-laki itu adalah senior kelas XII, singkatnya teman-teman Fahrar bukan hanya anak seangkatannya saja, melainkan hampir semua angkatan tunduk padanya. Selain mengandalkan jabatan orang tuanya sebagai wakil kepala sekolah, ia juga punya kuasa disini, sebab kakak kelas urakan yang ditakuti juga ikut bergabung menjadi teman satu gengnya. 


"Pokonya kudu diterima!" Paksa laki-laki itu lalu kembali memaksa Vinan agar mau memegang cokelat.


"Bilang makasihnya nanti aja! Bentar lagi Fahrar pasti juga bebas!!"


"Eh eh! Itu tangan ngapain nemplok-nemplok di pundak adkel?!" Protes salah seorang kakak kelas.


Liam yang merasa ditegur langsung saja melepaskan rangkulannya dan menatap tajam kawanan dihadapannya. Sudah pasti Liam kenal mereka semua, sekumpulan laki-laki yang langganan keluar masuk ruang BK karena ulah yang kelewat batas. Liam bahkan sudah hafal setiap nama karena selalu diutus Pak Rakha untuk menulis nama mereka dibuku kesiswaan dan berujung meminta tanda tangan.


"Jangan lupa dimakan yah dek!"


"Jangan dibuang ya! Sayang!"


"Fahrar tadi juga titip pesen, katanya lu mesti pikirin lagi ajakan pacaran kemarin! Siapa tau lo kemarin cuma gengsi!! Dia bakal terima lo kapan aja kok dek!! Pikir-pikir yah!!"


"DULUAN DEK!"


Gerombolan laki-laki itu tertawa tanpa akhlak sembari berjalan pergi entah kemana tujuannya. Vinan yang masih bingung hanya menatap cokelat ditangannya, ada hal apa Fahrar tiba-tiba memberinya cokelat? Ini nggak dicampur sianida kan ya?


Padahal sebelumnya Fahrar tidak mengenal Vinan sama sekali, hanya Vinan yang mengenal Fahrar dalam diam. Apa sebegitu besarnya perubahan setelah pertemuannya dengan Fahrar bersama Arhan sore itu?


"Tumben." Kata Fani lalu merebut cokelat itu. Di balik-balik bungkusan kertas lalu mencium-cium aromanya yang entah apa. "Ini nggak dikasih jampi-jampi kan? Takutnya abis makan ini lo langsung tergila-gila sama Fahrar."


"Ada hubungan apa sih lo sama Fahrar?" Tanya Liam pada akhirnya, sudah tenang-tenang Liam tidak mengungkit-ungkit kejadian kemarin, namun kini malah diingatkan dengan datangnya cokelat titipan.


"Nggak ada." Jawab Vinan singkat lalu melanjutkan langkahnya.


"Kok lo tiba-tiba akrab gitu sama Fahrar? Kemarin gue denger dia nembak lo juga. Lo sekarang pacaran sama dia??" Tanya Liam bertubi-tubi.


"Ya nggak lah! Ya kali gue pacaran sama **** boy macam dia!" Sangkal Vinan lalu menghindar dari rangkulan Liam.


"Lah terus kenapa lo tiba-tiba ditembak Fahrar?" Tanya Liam.


"Suka suka orang lah! Emang lo aja yang nggak pernah nembak cewek!" Tukas Fani. "Sekali-kali tuh utamain dulu cari cewek biar laku! Jangan cuma sekolah aja yang diurusin! Kalau lo udah lepas jabatan terus belum juga dapet pacar, bisa JOMBLO abadi dah tuh!" Cerocos Fani menyerupai rapper.


Fani menarik tangan Vinan untuk cepat-cepat sampai dikelas, tangan kanannya masih setia memegang cokelat pemberian Fahrar. Kini gadis itu mulai ber-negatif thinking dengan perubahan sikap Fahrar yang tiba-tiba ingin dekat dengan Vinan. Pasti ada udang di balik batu.


tbc


•••


Tinggalkan jejak dengan apresiasi chapter ini^^jngn siders, oke? Ingetin kalo ada typo🙃Thank you💚


See you (^^)