L O K A R E N J A N A

L O K A R E N J A N A
26.ANCAMAN MISTERIUS



...-Ancaman Misterius-...


Jam olahraga masih berlangsung. Namun karena penilaian praktek sudah selesai, siswa-siswi diperbolehkan untuk bubar sebelum jam pelajaran berganti.


Arhan, Lefi, Adya dan Figo sama-sama tertawa lepas dipinggir lapangan basket. Menceritakan masa lalu, mulai dari bagaimana konyolnya mereka bisa bertemu lalu membahas aib-aib yang tertutup rapi selama ini.


"Gue paling ngakak tuh waktu Lefi dilabrak sama nyokap Vivi. Udah dibentak-bentak didepan anak-anak seantero sekolah, eh masih dijewer telinganya!"


"Lo sih! Udah punya Vivi juga, masih aja lirik-lirik yang lain!"


"Gue juga punya aib lo tau!" sahut Lefi sinis sembari menunjuk Adya. "Lo dulu pelnah kentut waktu sholat di mushola! Mana kenceng lagi sualanya!"


"Bukan gue ya! Panjul noh yang kentut! Fitnah-fitnah orang!" elak Adya.


Lefi memutar tubuhnya menghadap Adya. "Udah jelas-jelas yang kentut tuh elu bambank! Olang gue yang dengel sendiri!"


"ARHAN!!" panggil seseorang menghentikan Adya yang akan berbicara.


Semua orang menoleh, termasuk anak-anak kelas 11 IPS 4 yang masih duduk lesehan ditepi lapangan. Pak Farid selaku satpam sekolah itu berjalan mendekat, ada sebuah kardus berukuran sedang ditangannya.


Arhan berdiri lantas menepuk-nepuk pantatnya menghilangkan debu yang menempel. "Ada apa Pak?"


"Ada titipan," Pak Farid menyerahkan kardus misterius ditangannya. Arhan menerimanya dengan bingung. Seingatnya ia tidak pesan barang, hari ini juga bukan hari ulang tahunnya.


"Dari siapa Pak?" Kini Figo yang menyerobot bertanya.


"Kurang tahu saya. Tadi yang ngasih anak SMA, pakai helm. Jadi saya nggak tau persis."


"Makasih Pak," ucap Arhan dan diangguki ramah oleh Pak Farid.


"Dari siapa *****!" Figo menyahut kardus yang terbilang enteng. Dia memutuskan untuk unboxing duluan ketimbang menyerahkannya kepada yang punya, bukan punya Arhan juga sih sebenarnya.


"Susah banget! Bantuin Lepi!" Figo terus mencoba membuka kardus yang di lakban rapi.


Lefi mendekat, ikut membantu Figo membuka kardus dari orang misterius. Semoga saja isinya bukan bom handmade.


"Apaan nih?" tanya lefi sembari menenteng aneh sebuah kepala boneka Barbie. 


Arhan mengambil alih, apa maksud dari kepala boneka Barbie ini? Dan siapa pula yang mengirimnya?


"Ini badannya *****!" Figo mengambil kepala Barbie ditangan Arhan lantas menyatukannya dengan tubuh Barbie yang telanjang tanpa baju.


"Maksudnya?" tanya Adya yang masih tidak pakam. Ini teka-teki berhadiah atau bagaimana?


Arhan mengambil dua lembar kertas yang dilipat dua kali dipojok kardus.


Kertas pertama berisi tulisan dengan tinta merah.


...MY GAME...


Dia membuka kertas yang satunya. Isinya berupa paragraf panjang yang di printing. Setelah dibaca kilat, itu adalah artikel dari sebuah situs web terkenal. Disitu menjelaskan tentang berita bunuh diri seorang mahasiswi yang sempat trending tahun lalu.


Arhan masih bingung memahami. Walau otaknya encer, ia tetap tidak bisa paham akan maksud dari benda-benda ini. Bayangannya terlalu samar untuk ditebak.


"Ada lagi gaes!" Lefi mengambil sebuah foto paraloid.


"Zynan?" gumam Adya.


"Bukan, dia Vinan," ralat Arhan. Dia menyahut foto paraloid lantas menelisik wajah cewek cantik yang tersenyum manis disana. Dia bukan Zynan, dia Vinan. Gadis itu ber-make up tipis, menggerai rambutnya lalu tidak ada tahi lalat dibawah mata kanannya.


Ponsel Arhan bergetar disaku celana olahraga membuat ketiga laki-laki itu melirik. Ketika akan diangkat, panggilan dari nomor asing itu mati.


ting tung


Notifikasi pesan masuk terdengar.


+628264xxxxxxx


Gimana hadiahnya?


Arhan menghubungi nomor asing itu namun tidak bisa. Nomornya telah diblokir.


"Ada apaan sih? Gue gak paham sumpah," tanya lefi menggaruk tengkuknya, bingung.


"Ini ancaman," kata Arhan.


"Vinan diancam gitu?" tanya Adya.


"Oh gue tau!" seru Figo. "Ada orang yang ngancam Vinan, terus mau potong kepalanya. Terus masuk berita kayak artikel ini!" tebak Figo belepotan.


"Selatus!" Lefi mengacungkan ibu jarinya walau masih tidak paham.


"Fahrar?" tebak Adya membuat Arhan meremas kertas hingga berkerut-kerut melipat, tak lurus lagi.


"Lo mesti pikirin baik-baik Han," usul Figo yang mulai paham.


Hening.


Lefi masih mencoba memahami, Figo berpikir mencari arti paket tanpa asal usul ini. Adya sibuk mencari ide dan Arhan mulai berkobar amarah. Fahrar kembali ingin bermain-main dengannya, masa lalu tidak boleh terulang lagi. Rivalnya itu tidak boleh mengalahkannya lagi, Arhan butuh jalan keluar. Apa yang ditakutkannya terjadi.


"Ada yang mau refreshing nggak?" tanya Adya tiba-tiba. Pertanyaan tidak nyambung dengan suasana saat ini.


Adya merangkul pundak Arhan dan Lefi yang berada disampingnya. Membisikkan sesuatu, hanya beberapa kata namun berhasil membuat semuanya membulatkan mata. Terkejut. Apa maksudnya?


tbc


•••


jangan lupa untuk apresiasi chapter ini") please, saya yakin kalian pembaca yang bijak❣️ komentar kalian juga semangat untuk saya🔥