L O K A R E N J A N A

L O K A R E N J A N A
1.SEMUANYA PUNYA CERITA



...- Semuanya Punya Cerita - ...


JAKARTA, 2017


Gorden jendela yang terbuka membuat ruangan bernuansa abu-abu dengan wallpaper motif piramid itu dimasuki oleh cahaya pagi. Suara dentingan jarum jam dinding menghiasi keheningan yang terjadi. Suara semprotan pengharum ruangan samar-samar terdengar setiap beberapa menit sekali.


Gadis itu sibuk menguncir rambut hitam panjangnya. Kedua tangannya bergerak aktif diatas kepala. Selesai dengan karya pertama, kini ia kembali menarik ikat rambut yang sudah terpasang apik dikepalanya.


"Aish!"


Ia mengambil sisir berwarna hitam yang tergigit diantara dibibirnya. Menyisir rambutnya kembali lalu memasangkan ikat rambut yang sempat dicopotnya tadi. Kenapa sulit sekali?


Gadis yang biasa dipanggil Zynan itu kembali berdecak takala melihat rambut yang diikat nya selalu melenceng ke kanan dan ke kiri tidak bisa diajak kompromi. Ia kembali menarik ikat rambutnya, lagi. Ini sudah percobaan ke lima tapi belum puas juga dengan hasilnya.


Karena sudah kesal, Zynan memutuskan untuk mengambil topi berwarna hitam lalu memasangkannya diatas kepala dengan rambut yang sudah disisir rapi sebelumnya. Zynan terus mengambil angle yang pas agar penampilannya terlihat sempurna juga paripurna.


Zynan memutar topi ke kiri, lalu menariknya sedikit ke bawah, menaikannya lagi dan sedikit memiringkan nya dengan ekspresi wajah yang terus berpose didepan kaca hingga sebuah suara menginterupsinya.


"Cepetan Zynan!!" Teriak Vinan dari ambang pintu dengan tas yang menggantung dibahunya.


"Bentar!" Seru Zynan dengan masih mengotak-atik letak topi dikepalanya.


"Gak pake lama!" Seru Vinan lagi sembari mengetuk-ngetuk ujung sepatu pantofel diatas lantai marmer hingga menimbulkan suara kecil.


"Zabarr cantik..." Zynan keluar dari kamarnya dengan muka menjengkelkan. Keputusan sudah bulat, ia memilih untuk menggerai rambutnya daripada menguncirnya dan berujung pada decakan panjang tiada henti. Dan terakhir, Zynan memilih untuk membalik posisi topinya ke belakang seperti abang-abang becak yang nongkrong dipangkalan.


Vinan menatap sinis kembarannya lalu melengos begitu saja dan cepat-cepat menuruni anak tangga. Zynan mencebik dibelakang sana, kakaknya satu ini selalu sama, tidak pernah berubah sifatnya walau kini sudah sama-sama tumbuh dewasa. Tetap jutek dan cerewet!


Lavinan Damakti Syahwara dan Lazynan Dumakti Syahwara, panggil saja Vinan dan Zynan. Mereka adalah saudara kembar dengan sifat yang bertolak belakang. Vinan yang cerewet plus bawel dan Zynan yang ceplas-ceplos plus tomboy.


Tidak heran orang-orang diluar sana mudah membedakan keduanya, apalagi keinginan dua insan yang tidak berada dalam satu frekuensi. Mereka benar-benar beda! Jadi jangan samakan kehidupan mereka seperti kembaran-kembaran diluaran sana.


"Pagi ayah." Sapa Vinan pada laki-laki paruh baya berseragam PDL tentara namun belum terlihat tua. Tubuh kekar ditambah tampang tegasnya membuatnya terlihat berwibawa hingga menutupi kerutan yang mulai muncul di kulitnya.


Lyman Deswara, beliau adalah anggota abdi negara TNI-AD yang menyandang pangkat Kolonel, juga jangan lupakan statusnya sebagai single parent selama bertahun-tahun lamanya. Jangan dulu berpikiran rumah tangganya bubrah karena masalah perselingkuhan atau sejenisnya, bukan prajurit namanya jika tidak bisa setia.


Istrinya telah meninggal sesaat setelah melahirkan kedua anak gadisnya yang kembar. Duka dan lara? Tentu saja. Disaat semua prajurit negara yang bertugas diluar kota selalu merindukan sosok yang dicintainya, Lyman hanya bisa tersenyum hangat untuk bisa menggambarkan kegundahan hatinya. Dulu selalu ada sosok yang menanti, namun kini hanya bisa menyimpan namanya dihati.


Bisa dibayangkan bagaimana rasanya ketika tangis akan rasa kehilangan bercampur dengan tangis haru akan bahagia melihat dua bayi darah dagingnya sedang menangis kencang mengeluarkan suara khas seperti memahami keadaan duka yang terjadi. Dua datang dan satu pergi.


Tak apa, ia bersyukur bisa memiliki dua wanita yang dititipkan Tuhan padanya. Cinta dan kasih sayangnya untuk almarhumah Arum, ganti beliau curahkan untuk anak-anaknya. Tenang saja, nama Arum selalu tertanam didalam hatinya sebagaimana Lyman memegang teguh Sumpah Prajurit dan Sapta Marga yang pernah diucapkannya.


"PAGI AYAH!!" Kini berganti Zynan yang menyapa Lyman dengan riang. Cara jalannya yang kelewat anggun membuat Lyman geleng-geleng kepala. Namun hal itu juga yang membuatnya mengulas senyum sebagai tanda bahagia.


"Kalian bangun siang lagi?" Tanya Lyman mengintrogasi. Tubuhnya yang duduk diatas kursi meja makan kini sedikit serong ke belakang guna bisa menatap wajah kikuk Vinan dan Zynan yang tertunduk kaku.


Kebiasaan bangun siang dan bermalas-malasan masih terbawa hingga detik ini. Kemarin Lyman baru saja selesai bertugas dari luar kota dan selama itu pula mereka berdua memilih untuk memanfaatkan kesempatan dengan sebaik-baiknya. Bangun siang, tidur malam, perbanyak waktu diluar dan makan banyak jenis makanan instan.


"Nggak kok yah. Ini tadi tuh cuma telat dikit bangunnya, salah sendiri diluar dingin. Kan jadi pengen lama-lama gitu diatas kasur, apalagi kalau dilanjut tidur lagi. Uhhh ..."


Vinan menyenggol lengan Zynan dengan siku kirinya agar kembarannya itu berhenti mengoceh mengeluarkan kalimat-kalimat unfaedah, terlebih lagi pembahasannya selalu keluar topik.


"Kalian mau sampai kapan berdiri disitu? Nggak mau berangkat?" Tanya Lyman yang sudah berbalik dan posisinya kini membelakangi.


"Berangkat ayah." Vinan menyalimi tangan Lyman lalu mengecup pipinya singkat, begitupun Zynan. Tapi gadis itu tidak pernah mau mencium pipi Lyman ketika hendak berpamitan, alay katanya.


"Hati-hati." Lyman membawa cangkir kopi beserta lepek kaca yang bermotif senada. Ia berjalan mengekor dibelakang kedua anak gadisnya yang sama-sama memakai seragam putih abu-abu namun berbeda atribut.


Vinan memakai seragam putih dengan jas abu-abu lengan panjang ditambah rok wiru abu-abu dengan garis-garis putih dibawahnya. Kalau seragam sekolah yang dipakai Zynan sama dengan seragam SMA di sekolah-sekolah lainnya, tidak ada jas atau rompi yang mendominasi.


Mereka sama-sama bersekolah SMA tapi dilembaga yang berbeda. Vinan bersekolah di SMA Gardamawa yang jaraknya sekitar 500 meter dari SMA Kutilang, sekolah tempat Zynan menimba ilmu. Sudah dikatakan sebelumnya kalau mereka itu berbeda dan tidak ada yang bisa menyatukan seleranya.


"Kakak yang bawa mobil!" Titah Zynan.


"Gue kemarin udah bawa! Sekarang giliran lo!" Protes Vinan.


"Kan sama aja dudul! Nanti mobil juga tetep kakak yang bawa ke sekolah."


"Pokoknya lo yang bawa."


"Nggak bisa lah! Gue ngantuk ..." Zynan meliukkan tubuhnya ke kanan dengan kedua tangan yang bertautan diatas kepala. ".... Hoamm."


"Cepet berangkat." Titah Lyman.


"Berangkat dulu ayah!!" Pamit Zynan lalu bergegas memasuki mobil secepat kilat diikuti oleh Vinan yang menatapnya tajam. Posisi kakak selalu saja diharuskan untuk mengalah.


Vinan segera menancap pedal gas keluar dari carport melewati gerbang kayu berwarna cokelat.


brumm brumm bruummm


Sebuah motor Kawasaki ninja berwarna biru tua dengan seenak jidatnya menerobos jalanan tanpa melihat bahwa akan ada mobil Honda jazz merah yang akan keluar dari gerbang.


"ZYNAN!!!" Teriak Lyman yang langsung membuat Vinan menginjak pedal gas sekencang mungkin sebelum bapak negara menghukumnya yang lagi-lagi karena ulah adik tomboynya.


Tak lama setelah perdebatan panjang didalam mobil, Vinan mengehentikan mobilnya tepat didepan gerbang SMA Kutilang tempat kembarannya bersekolah. Zynan menatap spion mobil dan membenarkan letak topinya untuk memastikan bahwa benda itu sudah terpasang sempurna, ia segera membuka pintu dan menutupnya kasar membuat Vinan mencebik.


braakk


Zynan berjalan santai menghampiri sosok laki-laki yang berdiri dibawah pohon beringin samping gerbang sekolah.


"Yoi broo!!" Zynan menanggapi kepalan tangan diudara itu dengan balasan setimpal.


"Udah dateng aja lo pagi-pagi?" Tanya Zynan yang berkacak pinggang.


"Gue mau conto pr seni budaya." Jawab Galen mengeluarkan cengiran khasnya. Laki-laki itu adalah satu-satunya teman Zynan yang ia percaya, selama bersekolah Zynan hampir tidak pernah berteman dekat dengan wanita, hanya laki-laki temannya berbaur. Selain dianggap tidak menye-menye, berteman dengan laki-laki itu asik. Kalian para wanita akan diperlakukan layaknya ratu dengan sifatnya yang sedikit protektif.


"Yee! Elu mah sama aja!" Zynan mendorong kening Galen dengan jari telunjuknya.


"Sama-sama!!" Teriak Vinan yang ternyata masih belum beranjak dari depan gerbang.


Karena peka, Zynan melambaikan tangannya. "Iye iye!! Makasihhh kakak !!" Teriak Zynan dengan gaya dibuat-buat membuat Vinan ingin muntah sekarang juga.


"Halo hai kakak Vinan yang cantiknya melebihi bidadari nyungsep dari kayangan..." Ucap Galen mengedip-ngedipkan matanya genit.


plak


Setelah mendapat pukulan dilengannya, kerah seragam Galen langsung terangkat ke atas dan diseret paksa memasuki area sekolah. Zynan pelakunya.


"Gila semua!"


tin tinn bruummm


Motor Ninja itu kembali muncul dan menerobos gerbang dengan ugal-ugalan. Fix, Vinan yakin kalau lelaki itu adalah sosok brandal SMA Kutilang.


"Woi! ******!! Bisa bawa motor ga si?!!" Teriak Vinan yang sudah kesal karena kejadian beruntun yang tidak mengenakkan. Siswa yang berlalu-lalang di gerbang menatapnya heran karena suara nyaring yang diciptakan.


Dengan masih sebal Vinan melajukan mobilnya kembali menuju sekolahnya, SMA Gardamawa.


Sampai parkiran, Vinan mengambil jas abu-abu yang tersampir dibangku kemudi. Setelah keluar mobil ia tak lupa menombol kunci keyless lalu melangkahkan kaki memasuki pelataran sekolah.


Gadis itu menaiki dua anak tangga yang membawanya ke area koridor. Senyum tipis terbit diwajahnya, dengan jas yang ditersampir elegan dilengan kirinya Vinan berbelok kiri dan menaiki satu persatu anak tangga yang akan membawanya ke deretan kelas XI yang terletak dilantai dua.


"Vinan!!" Teriak Fani dari ambang pintu kelas.


Vinan yang masih berjalan di koridor hanya bisa mengelus dada melihat sahabatnya yang senyam-senyum sendiri dengan sesekali melompat kecil.


Tifani Mehrunisa adalah teman dekat Vinan selama bersekolah di SMA Gardamawa. Teman kelas, teman sebangku, teman satu ekstrakulikuler dan teman segalanya. Bisa dikatakan sohib hidupnya.


"Vi Vi Vi lo tau nggak?!!" Tanya Fani heboh dengan menggoyangkan lengan Vinan yang tidak bersalah.


"Gak."


"Ihhhh gue beneran tauu!!" Protes Fani sembari memajukan bibir bawahnya.


Vinan berjalan melewati Fani memasuki kelas dengan papan kayu bertuliskan XI IPS 2 diatasnya. Sebagian bangku-bangku besi sudah diisi oleh siswa-siswi penghuni kelas IPS ini. Ada yang menulis diatas meja entah mengerjakan tugas apa, ada juga ciwi-ciwi yang sibuk merumpi.


"Vi! Gue gak bercanda ..."


"Gue juga gak tau parnipan!! Jadi mending lo cerita sebelum lo gue lempar ke rawa-rawa ..." Ucap Vinan mencoba sabar.


"Oke oke, lo tau gue tadi liat--"


"Vi ikut gue ke kantin yuk..." Ajak Liam memotong kalimat Fani.


"Oke kebetulan gue belum sarapan." Vinan bangkit dari bangkunya dan segera merangkul pundak Liam menuju kantin.


"Gue mau cerita Liam setan!!!" Teriak Fani yang merasa terabaikan.


"Nanti aja yak Pani, perut gue udah meronta-ronta!!" Teriak Vinan membuat Fani ingin mengajaknya baku hantam sekarang.


Vinan melambaikan tangan kanannya yang terangkat ke atas, sedangkan tangan kirinya merangkul pundak Liam tanpa rasa sungkan.


Buat apa gengsi? Toh Liam itu sohibnya dari jaman baheula. Dan garis bawahi tidak ada kata cinta diantara mereka. Sahabat jadi cinta? Basi! Pembahasan dunia cinta nggak harus melulu tentang kawan sejati jadi kekasih hati.


tbc


•••


Vote komen jangan lupa♡ jngn jadi siders, oke? ingetin kalau ada typo🙃 Thank you 💚