
...-Pesta-...
Pesta malam hari tiba, Vinan dan Zynan sama-sama datang namun berbeda penampilan. Seperti biasa Vinan akan tampil feminin dengan blouse serta layer skirt, sedangkan Zynan akan tampil casual tanpa topinya kali ini. Hanya rambutnya yang dikuncir kuda.
Tadi mereka sudah menemui tuan rumah yang mengadakan pesta, namun seperti biasa Namira akan bersikap cuek dengan orang baru. Bahkan kado yang diberikan Vinan tadi hanya diterima begitu saja tanpa ada ucapan terima kasih. Gadis itu sibuk memamerkan kekayaannya juga barang-barang mahal yang menghiasi tubuhnya pada para tamu undangan yang mayoritas teman-teman kelasnya di SMA. Tahun ini Namira memang baru memasuki sekolah menengah atas, namun gaya berpakaiannya sudah mencolok layaknya model-model majalah dewasa. Terbuka dan penuh kemewahan.
Lagu barat beberapa kali terdengar mengalun lalu berganti lagu energik setelah lagu sebelumnya selesai diputar. Hiasan balon yang membuat Vinan terkesima tadi pagi kini bertambah indah dengan adanya lampu neon warna warni. Lilin-lilin aromaterapi tampak menyala ditepi kolam, jangan lupakan banyaknya balon serta floaties flamingo yang mengambang di atas air kolam. Benar dugaannya, lokasi inti pesta berada diarea dekat kolam renang.
Beberapa orang ada yang menatap heran ketika Vinan dan Zynan berdiri bersisian. "Gue makan aja ya?" tanya Zynan kemudian beranjak pergi sebelum Vinan memberi jawaban. Adiknya itu langsung mengunjungi salah satu meja yang menghidangkan cup cake dengan toping menggugah selera diatasnya.
Vinan mundur satu langkah, kenapa dirinya jadi tidak nyaman berada ditengah-tengah hingar-bingar keramaian? Padahal dia adalah senior disini.
Menoleh ke kanan, netranya langsung disuguhkan wajah datar Arhan yang duduk diatas kursi besi. Lelaki itu tampak mengabaikan cewek-cewek yang menggodanya tanpa sungkan dan memilih terus fokus dengan ponsel ditangannya.
"Mas, kakaknya Namira ya?"
"Bening banget kak!"
"Boleh kenalan nggak?"
"Main Ig nggak kak? Nama ig nya apa kak?!"
"Sekolah dimana kak? Kok nggak pernah lihat?"
"Berisik!" bentak Arhan membuat cewek-cewek kicep.
Dia terpaksa kali ini, jika tidak karena ancaman Raymond yang akan menyita motornya, Arhan tidak akan ada disini sekarang. Memangnya siapa Namira? Hanya gadis kecil licik yang mengambil alih takdir hidupnya yang bahagia. Ia benci siapa saja yang merusak ketenangannya, terlebih lagi menyangkut masalah keluarga dan... Cinta.
Vinan kembali meluruskan pandangannya, menatap dua buah kue tart susun tiga dengan beberapa lilin kecil diatasnya. Ah, dia jadi iri. Namira adalah gadis yang beruntung.
Acara mulai dibuka oleh pengisi acara, Raymond dan Tari nampak serasi disudut sana. Mereka berdiri mengapit Namira, senyumnya terbit. Tulus sekali. Tampak bahagia tidak terpaksa.
Nyanyian lagu Happy Birthday dinyanyikan oleh semua tamu undangan diiringi tepukan tangan yang terdengar kencang. Vinan ikut menepuk tangannya, Zynan juga. Seusai lagu selesai dinyanyikan Namira segera meniup lilin dengan mengucapkan make a wish terlebih dahulu tentunya.
"Alay," cibir Zynan lirih. Dia sejujurnya juga tidak terlalu menyukai pesta, hanya rasa hormatnya sebagai tetangga yang membuatnya hadir.
"Udah selesai? Mau pulang?" tanya Vinan.
"Yok ah pulang, mending gue mabar sama Galen dirumah." Zynan berjalan mendahului untuk berpamitan pada tuan rumah.
Baru saja Vinan akan mengambil segelas minuman sebelum beranjak pulang, sebuah suara gaduh membuat tangannya ditarik kembali. Tidak jadi mengambil gelas.
"Lo pasti sengaja kan?! Kalau nggak suka mending nggak usah dateng! Bikin malu tau nggak! Lo lihat itu semua! Kado-kado gue jatoh ke air! Bahagia?! Iya? PUAS KAN LO UDAH ANCURIN SEMUA!!" teriak Namira meluap-luap.
Cewek bergaun panjang dengan kacamata minus itu tidak sengaja menginjak ujung gaunnya menyebabkan dirinya kehilangan keseimbangan. Tubuhnya ambruk ke kiri membuat kado-kado mewah yang tersusun rapi diatas meja terjatuh ke dalam kolam.
Seorang pembantu berpakaian sederhana yang biasa dipanggil Bi Yati itu dengan nekat menceburkan tubuhnya dan memunguti kado-kado milik Namira yang sudah terlanjur basah. Orang-orang disekitar hanya melihat tanpa ada niatan membantu. Namira naik pitam, dia benci orang yang merusak pestanya dan gadis (cupu) itu telah membuatnya kelepasan dengan tiba-tiba mendorongnya terjun ke dalam kolam yang pasti dingin airnya.
Semuanya menatap tak percaya, termasuk Vinan yang refleks berlari guna menolong cewek yang bernasib sama seperti dirinya tadi pagi.
Bak adegan film layar lebar, Arhan tiba-tiba datang lantas meraih tangan cewek itu dan membantunya naik. Dia melepas tuxedo nya untuk menutupi area sensitif cewek yang terlihat jelas ditengah terangnya sinar lampu. Selesai satu, Arhan berganti menolong Bi Yati yang kesusahan naik karena badannya yang pendek.
"Gak usah berlebihan bisa?!" gertak Arhan menatap Namira yang mendongak, "lo udah keterlaluan! Gini-gini dia juga temen lo *******!" Sebelum Arhan melakukan sesuatu lebih jauh, Raymond menarik tangannya menjauh. Tamu undangan mendesah, padahal itu adalah tontonan yang seru.
Bersamaan dengan itu pula Namira meninggalkan tempat acara, menghentak-hentakkan kakinya kesal sambil terus berjalan hingga tenggelam dibalik tembok. Dia merajuk.
Pestanya kacau.
tbc
•••
Tinggalkan jejak dengan apresiasi chapter ini^^jngn siders, oke? Ingetin kalo ada typo✨makasihh💚