
...-Beri Vinan Alasan-...
Hawa panas menyelimuti kelas IPS 2, semua siswa fokus menatap lembar kertas yang berisi 10 soal yang dimana 5 soal abc dan 5 essai. Tidak ada angin tidak ada hujan, guru fisika yang mengajar tiba-tiba mengadakan kuis dadakan. Alhasil untuk murid yang tidak belajar semalam, mereka hanya bisa menundukkan kepala memikirkan jawaban dengan cara mengarang sebisanya. Tidak ada lagi istilah tengok kanan tengok kiri, Bu Induy yang duduk di singgasananya itu akan terus mengedarkan pandangannya tanpa jeda.
Setengah jam sudah berlalu, Vinan yang sudah selesai mengerjakan soal kuis kini hanya duduk di bangkunya seraya masih pura-pura mengisi jawaban dikertas. Kata Bu Induy, bagi siapa saja yang sudah mengerjakan kuis dipersilahkan keluar kelas dan dilarang mengganggu ketenangan siswa yang belum selesai.
Namun Vinan memilih untuk tetap didalam kelas karena permintaan Fani. Sebelum Fani selesai mengerjakan, Vinan tidak boleh keluar.
"Lima belas menit lagi!" Tegas Bu Induy membuat hawa panas makin terasa, murid yang belum selesai kini bingung mencari jawaban tanpa peduli ketahuan, asal diam-diam mereka akan aman. Lagian Bu Induy sekarang sedang bermain ponselnya dan tidak lagi mengintai anak didiknya yang kelabakan.
"Vi." Panggil Fani lirih sekali.
Vinan menoleh lalu melihat jari tangan Fani yang terlipat tiga.
"Nomor dua apa?" Bisik Fani. "Please, satu aja ..."
"Be." Ucap Vinan lirih lalu kembali menatap kertas jawabannya. Bosan? Tentunya, jika tidak karena istilah setia kawan, ia pasti memilih untuk keluar kelas dari tadi lalu menikmati hawa surga kantin sekolah.
Disela kebosanannya, kalimat kakak kelas tadi pagi kembali terngiang-ngiang dikepala Vinan.
Ada titipan nih! Dimakan ya! Suratnya juga dibaca!
Karena penasaran pelan-pelan ia mengambil cokelat yang diletakan di dalam tas resleting depan sendiri. Jika dilihat lamat-lamat, tidak ada yang aneh sebenarnya, tidak ada surat yang terselip disini, hanya ada pita besar serta tulisan tangan dengan spidol permanen diujung kiri bawah.
Dear Vinan (emoticon love berantakan)
"Alay." Cibir Vinan lirih. Ketika Vinan akan memasukkan makanan manis itu ke dalam tas, matanya tak sengaja melihat sebuah lipatan kertas kecil diantara aluminium foil. Vinan mengambilnya lalu membuka lipatan kecil hingga terpampang tulisan didalamnya.
maaf..
"Ayo semuanya dikumpulkan!! Tidak ada bantahan! Selesai tidak selesai sekarang juga dikumpulkan!!" Titah Bu Induy membuat semua murid berdiri lalu berjalan bergantian mengumpulkan kertas tepat dimeja guru.
"Ayo cepetan!!" Seru Bu Induy ketika melihat seorang siswa yang mampir dibangku lain untuk melihat jawaban teman.
"Ayo cah! Cepetan-cepetan!!"
Seusai mengumpulkan kertas Vinan langsung keluar kelas disusul Fani dibelakang yang sibuk memakai jas almamaternya.
"Tungguin ih!" Pinta Fani.
"GUE ADA RAPAT! NANTI NYUSUL!" Teriak Liam dari depan pintu kelas lalu berlari ke arah utara.
"Yok ah ke kantin!" Ajak Fani dan diangguki oleh Vinan.
Belum sempat berbelok, tangan Vinan sudah dicekal dari belakang lalu ia merasa tubuhnya dihempaskan ke lantai begitu saja. Fani yang mendengar suara orang jatuh refleks berbalik, hal pertama yang ia lihat adalah tubuh Vinan yang tersungkur dilantai sambil meringis menahan perih karena sikut tangannya tergores pot semen.
"Fani ..." Panggil Vinan bermaksud meminta bantuan, Fani yang masih tercengang segera berjongkok lalu membantu Vinan bangkit.
Saat menoleh ke kiri ia mendapati sang pelaku yang mendorong tubuh Vinan, gadis dengan rok abu-abu diatas lutut itu tersenyum remeh menatap Vinan yang kini meniup-niup luka disikutnya.
"Sakit?" Tanya cewek itu.
Vinan mengangkat kepalanya lalu menatap datar tiga wanita dihadapannya. Syelena, cewek dengan rambut yang di curly sedemikian rupa itu mendorong bahu Vinan menggunakan jari telunjuknya seakan-akan merasa jijik.
"Oh jadi ini cewek gatel yang ditembak mantan gue kemarin?" Tanya Syelena angkuh. Cewek itu menoleh kedua temannya yang selalu berada disampingnya, "Cuma cewek model gini dong guys yang mau dipacarin!"
"Mata mantan lo pasti udah buta! Masa iya Fahrar ninggalin lo demi cewek kayak dia?" Ranya menunjuk remeh wajah Vinan. "Cewek model gini mah banyak diperempatan!!"
Bingung, Vinan hanya bisa berdiam diri diantara siswi-siswi yang kini mengerumuninya karena penasaran akan siapa sasaran kemarahan Syelena.
Sebelum tangan sialan itu mengenai pipinya, Vinan segera menahan tangan Wike lalu mundur satu langkah.
"Sialan lo! Udah berani?!!" Tanya Wike terlampau keras.
"Maaf sebelumnya, tapi gue nggak tau apa-apa kak." Ujar Vinan yang tetap menatap terang-terangan mata Syelena.
"Alah! Lo pasti udah bahagia kan bisa ditembak sama Fahrar kemarin?!" Tanya Syelena. Ia adalah mantan Fahrar yang diputuskan beberapa minggu yang lalu sebelum bertemunya Vinan dan Fahrar lewat insiden dijalan pulang. Jadi alasan putusnya dia dan Fahrar bukan karena Vinan, Fahrar hanya sudah bosan saja dengan gaya pacarannya yang terkesan monoton. Tapi tidak dengan Syelena, cewek itu masih menganggap bahwa penyebab kandasnya hubungan adalah karena Vinan. Tak heran saat ini ia meluapkan kemarahan dan menuntut penjelasan, apa Vinan tidak tahu bahwa Syelena sangat tidak suka diganggu?
"Tapi gue bener-bener nggak pernah ada hubungan lebih sama Fahrar, gue cuma kenal dia sekilas aja kak, nggak sampe kenal jauh. Bahkan gue kaget waktu ditembak Fahrar kemarin, demi apapun gue nggak pernah suka sama Fahrar." Jelas Vinan bak batang betung beruas-ruas.
"Lo pikir gue bakal percaya gitu aja?" Tanya Syelena yang mulai memelankan volume suaranya, sepertinya ia sedikit mencerna kalimat Vinan, tapi tidak tahu perihal percaya atau tidak. Secara, mana ada pelakor yang mau mengaku?
"Lo tahu kan kalau gue tuh sayang banget sama Fahrar?!" Syelena mengusap wajahnya kasar, "Oh gue lupa kalau gue lagi ngomong sama pelakor! Pelakor mana punya hati!!"
"Tapi maaf banget kak, gue bener-bener nggak tau apa motif Fahrar tiba-tiba nembak gue kemarin. Yang jelas gue nggak ada hubungan apa-apa sama dia, kalau masalah kakak diputusin, aku juga nggak tahu kak. Ada baiknya kakak ngomongin baik-baik lagi sama Fahrar, siapa tau aja dia punya alasan lain." Tutur Vinan bijak.
"Alah! BASI! Nggak usah banyak bacot! Kalau emang niat mau ngerebut cowok orang tinggal bilang aja! Nggak usah cari alesan!" Cecar Ranya.
Fani semakin mencengkeram jas Vinan, ia sekarang bersembunyi dibalik tubuh Vinan karena merasa tidak nyaman. Selain takut berurusan dengan geng Syelena yang akrab disebut The Molest, ia tidak ingin wajahnya tertangkap kamera para siswi yang sedang sibuk mengabadikan momen pelabrakan.
"Apa lagi alesan lo hah?!" Tanya Wike.
"Asal lo tau, gue sama Fahrar udah pacaran lama. Dan lo dengan seenaknya dateng terus ngerusak semuanya?! Lo cewek apa bukan sih?! Coba pikirin gimana rasanya jadi gue?!" Tanya Syelena meluapkan isi hatinya. Baginya Fahrar tidak sekedar adek kelas atau pacar, Fahrar adalah laki-laki yang membantunya bangkit dari keterpurukan dan menyadarkannya ke jalan yang benar waktu ia nyaris disentuh oleh om-om di club malam. Dan hubungannya dengan Fahrar sudah terbilang cukup lama dan jauh. Syelena tidak bisa melepaskan Fahrar begitu saja, apalagi mengenai alasan putus yang masih menggantung tidak jelas.
Kerumunan para cewek yang masih fokus memperhatikan perdebatan tiba-tiba berubah renggang, semuanya memberi jalan untuk Pak Rakha agar bisa melihat keadaan yang sedang terjadi. Guru garang dengan tatapan elang itu mengamati Vinan yang menunduk dan Syelena yang membuang pandangannya.
"Ada apa ini?" Tanya pak Rakha.
"Nggak papa pak. Cuma salah paham!" Jawab Syelena pintar mencari alasan. Tanpa salam, The Molest yang beranggotakan tiga orang itu berjalan pergi menyisakan kerumunan yang ikut bubar.
"Jangan ada yang buat masalah!" Peringat Pak Rakha lalu berlalu melanjutkan langkahnya menuju ruang TU.
"Aman Vi?" Tanya Fani sembari menepuk pundak Vinan.
"Gue beneran nggak ngerti sama Fahrar. Dia sebenarnya punya rencana apaan si? Gue males berurusan sama kakak kelas." Ucap Vinan lalu membalik tubuhnya dan berjalan pergi. Ia memutuskan untuk kembali ke kelas daripada ke kantin. Mood-nya untuk makan tiba-tiba saja hilang terbawa angin lalu, sungguh tidak logis kejadian yang menimpanya.
Tanpa diketahui penyebabnya, ia tiba-tiba dilabrak oleh Syelena. Kemarin, ia tiba-tiba ditembak oleh Fahrar kemudian lelaki itu tiba-tiba mendekatinya tanpa sebab. Sebenarnya apa yang akan terjadi padanya? Apa rencana Fahrar hingga membuat kekacauan dihidupnya?
"Udah diterima cokelatnya? Udah dimakan?" Tanya Fahrar yang bersandar dipintu kelas IPS 2.
Vinan sungguh tidak sadar akan adanya Fahrar saking terlalu fokus mengumpulkan puzzle masalah yang dibuat oleh Fahrar. Meski Fahrar tetap menatapnya, Vinan memilih untuk melewatinya begitu saja. Tidak ia pedulikan lagi cewek-cewek yang bergunjing tentangnya.
"Permisi kak." Fani sedikit membungkukkan badannya lalu melewati Fahrar dan segera menyusul Vinan yang sudah duduk di bangkunya.
"Gue cuma mau minta maaf." Ucap Fahrar dari ambang pintu dan masih dapat didengar oleh Vinan.
"Semangat belajarnya!" Itulah kalimat terkahir Fahrar sebelum pergi meninggalkan kelas diikuti para kawanannya.
Vinan membuang nafasnya, kepalanya pening memikirkan hal yang terjadi juga hal-hal yang akan terjadi. Apa salahnya hingga terlibat dalam permasalahan yang ia sendiri tidak tahu akar penyebabnya. Apa ini karena Arhan? Apa keputusannya untuk menyelamatkan Arhan sore itu adalah keputusan yang salah?
Lantas, hal apa yang membuat Fahrar begitu ingin menyakiti Arhan dengan lemparan batu sore itu? Lalu masalah apa yang membuat keduanya menjadi rival? Jika Vinan diajak masuk dalam lingkaran ini, setidaknya beri dia alasan akan akar masalah yang tidak ia ketahui.
tbc
•••
Tinggalkan jejak dengan apresiasi chapter ini^^jngn siders, oke? Ingetin kalo ada typo🙃Thank you💚