L O K A R E N J A N A

L O K A R E N J A N A
20.PERANG CIWI-CIWI



...-Perang Ciwi-Ciwi-...


Beberapa menit setelah berkendara dengan kecepatan penuh, Arhan mengentikan motornya tepat didepan rumah sederhana namun terlihat indah. Tembok luarnya digambar grafiti dengan berbagai bentuk simbol serta tulisan doodle yang beraneka ragam. Warna warni dan unik adalah kata yang tepat untuk menggambarkan rumah itu. 


Vinan turun dari motor duluan lalu disusul oleh Arhan. Gadis itu menyeret pandangannya ke sekeliling yang tampak sepi, memang ada beberapa rumah yang mengapit, namun sepertinya tidak berpenghuni.


"Masuk," titah Arhan lalu berjalan mendahului.


Vinan mengangguk lantas mengekor dibelakang. Matanya masih sibuk mengamati suasana sekitar yang nampak asing. Sebuah air menetes dari dahan pohon mengenai pipi Vinan, gadis itu mendongak lalu baru menyadari bahwa terdapat sebuah ayunan kecil dibawah pohon rambutan.


Hujan memang telah reda sejak motor Arhan melintasi sebuah gang tadi, kini hanya tersisa suasana mendung dan hawa adem yang menyertai. Seragam Vinan tidak basah semua sebenarnya, hanya bagian depan saja yang masih terlihat kering dan punggungnya yang tertutup tas membuat air terhalang.


Tangan Vinan yang dingin bergerak ke atas untuk menyibakkan rambut panjangnya yang lepek. Baru satu langkah menginjak teras, suara langkah kaki yang terdengar keras tertangkap indera pendengarannya.


"Han! Basecamp kita diselang! Sumpah! Semua lokok gue dilaci ilang dong! Telus vapol yang balu gue beli kemalin juga ilang! Apalagi--" Lefi menghentikan kalimatnya ketika melihat sosok cewek dibelakang tubuh Arhan. 


"Vinan?" panggil Lefi ragu. "Zynan?"


"Vinan," jawab Arhan lalu menyerobot masuk ke dalam. Sebelum masuk matanya sempat melihat beberapa kerusakan, mulai dari engsel pintu yang terlihat jebol karena dibobol menggunakan alat khusus. Ditambah ada beberapa lubang di jendela kaca yang mungkin saja habis dilempari batu.


"Vinan? Kok bisa sama Alhan?" tanya Lefi kepo.


"Gue tadi bareng dia pas mau pulang, terus katanya ada masalah di basecamp," jelas Vinan menjawab keingintahuan Lefi juga Adya yang hanya ikut menyimak. 


"Oh... Masuk masuk!" ajak Lefi lantas membimbing Vinan masuk ke dalam rumah.


Isi rumah ini lebih membuat Vinan terpukau. Ada anak tangga yang terbuat kayu guna bisa menuju atap, miniatur klasik juga terpajang rapi tapi sebagian ada yang rusak karena berjatuhan. Ornamen-ornamen didalamnya juga hampir menyerupai suasana rumah pada umumnya, namun hanya terlihat lebih keren dan simple saja. Jika Vinan boleh menyimpulkan, arti dari kata 'masalah' yang terjadi di basecamp Arhan adalah karena dirusak oleh oknum tidak bertanggung jawab. Terbukti dari banyak pajangan yang tergeletak rusak, kaca-kaca jendela yang berlubang, batu-batu kecil dan besar berserakan serta ada beberapa kursi yang tumbang.


Dengan masih bingung Vinan mendudukkan bokongnya diatas sofa, tasnya yang sedikit basah ia sandarkan didekat meja. Vinan cengo, ia benar-benar masih tidak mengerti dengan apa yang habis terjadi hingga rumah ini tampak berantakan.


"Gue udah hubungin tukang buat perbaiki pintu sama jendela. Masalah pajangan yang rusak nanti biar diberesin sama tukang bersih-bersih. Kalau perlu nanti beli lagi," ucap Adya dan disimak oleh Lefi yang kini duduk bersebrangan dengan Vinan.


Sejauh ini, Lefi terus mengamati wajah Vinan yang tampak beradaptasi dengan tempat ini. Matanya tak berhenti bergerak untuk mengamati setiap sudut rumah, "lo telnyata beda ya sama Zynan!" celetuk Lefi tiba-tiba. Lelaki itu mulai bisa membedakan yang mana Zynan dan mana Vinan. Kalau cewek aja baru nyangkut diingatan! Coba materi pelajaran?


"Hah?"


"Lo lebih kelihatan mirip cewek dari pada Zynan. Bocah sotoy itu adek lo kan?"


"Iya."


"Tuh anak emang udah ngegas dali sananya apa gimana? Ngajak libut mulu kalau ketemu."


"Zynan emang gitu, dia bandel banget ya disekolah?" tanya Vinan yang mulai nyaman berdialog dengan teman-teman Arhan. Karena ingatannya kuat, ia masih bisa mengenali mana yang namanya Adya dan Lefi. Kalau laki-laki yang bernama Figo, ia tidak melihat batang hidungnya disini.


"Obatin," kata Arhan sembari menyodorkan sebuah kotak P3K pada Vinan. Menolak gengsi, Vinan langsung saja mengambilnya, lagi pula lukanya disikut semakin terasa perih ketika tangannya bergerak.


"Gimana-gimana?" tanya Arhan yang sudah duduk disamping Lefi.


"Pas tadi dateng udah lusak aja," respon Lefi, "kayaknya ada olang yang niat buat nyusup ke dalam, nggak mungkin cuman iseng. Olang sebagian balang ilang ditambah lagi kondisi yang belantakan. Engsel pintu dilusak lagi."


"Fahrar nggak sih?" tebak Adya dan berhasil membuat Vinan yang sibuk membersihkan luka menoleh. Ia benci nama laki-laki itu!


"Jangan nuduh dulu."


"Tapi bisa juga, anak Galdamawa kan udah pulang dali tadi. Iya nggak Vi?" tanya Lefi dan diangguki oleh Vinan, "eh emang benel lo abis ditembak sama Fahlal kemalin?"


Vinan menjeda aktivitasnya sejenak lalu menatap mata Lefi, "iya."


"Lo tahu dari mana?" tanya Vinan.


"Lo kenal Abil gengnya Fahlal kan? Dia temen gue, kalau lo pellu bantuan bisa minta tolong dia. Dia baik kok olangnya, nggak usah takut," Vinan hanya mengangguk lesu.


"Bukannya gue mau ikut campur," Vinan menjeda ungkapan nya, "sebenernya ada masalah apa sih sama Fahrar?"


Semua terdiam. Saling bertatap-tatapan namun tak kunjung menjawab pertanyaan Vinan. Merasa mengeluarkan pertanyaan yang salah, Vinan memilih untuk mundur dan melanjutkan aktivitasnya--membersihkan luka sebelum infeksi. Mungkin ini belum waktunya untuk mendapat kejelasan tentang semua pertanyaan yang tersimpan dibenaknya.


"By the way, tadi pagi lo dilablak sama mantannya Fahlal ya?" tanya Lefi membuktikan kebenaran informasi dari Abil.


"Nggak juga, dia cuma tanya-tanya."


"Wah palah! Bisa-bisa lo jadi kolban kayak manta--"


"Terus gimana?" tanya Arhan memotong kalimat sohibnya. Ia tidak ingin Lefi mengungkit-ungkit masa lalunya, terlebih lagi pada Vinan yang notabene baru dikenalnya akhir-akhir ini.


"Udah gue panggilin tukang. Nanti malem dateng."


"Nggak usah koar-koar. Masalah ini masih bisa diberesin," tutur Arhan.


"Tapi gue nggak telima lah! Lokok gue sama vapol gue ilang cuy!!" sergah Lefi tidak terima. Mana bayar ongkir vapor mahal lagi.


"MAKANAN DATENG!!" Teriak seorang cewek yang baru saja memasuki rumah. Gadis dengan penampilan modis itu menaruh beberapa bungkus plastik diatas meja. Aleta, cewek itu baru saja kembali dari warung untuk membeli makanan bersama Figo.


Sosok asing tertangkap dimata Aleta, cewek itu mencomot sebuah gorengan lalu menatap Vinan terang-terangan. Bukan tidak mengenali, ia hanya merasa janggal dengan keberadaan Vinan disini.


"Huft!" Figo menaruh kunci motornya diatas meja lantas menghempaskan tubuhnya diatas sofa, "eh ada Zynan ya? Bener nggak sih?"


"Dia Vinan sableng!" maki Lefi.


"Gue yang bawa," sahut Arhan membuat Aleta berhenti mengunyah.


"Dia Vinan kembarannya Zynan kan? Ngapain lo bawa pelakor ke sini? Kurang kerjaan banget!" cetus Aleta namun malah membuat seisi ruangan menatapnya aneh. Tidak salah dengar kan? Pelakor?


"Gue nggak pernah ngerebut pacar orang ya!" kini berganti Vinan yang protes. Selesai menempel hansaplast disikutnya, Vinan kembali menatap Aleta yang berdecih.


"Alah! Pelakor mana mau ngaku!"


"Ada apa sih ini beb?" tanya Figo yang bingung. Jika bela pacarnya, ia tidak tau kebenaran yang sesungguhnya. Masalahnya apa(?)saja Figo tidak tahu.


"Secara nih ya! Mana ada cewek cowok sahabatan! Nggak musim tau nggak! Yang ada tuh cewek cowok pacaran! Yakali cuma sahabat!"


"Gue udah pernah bilang kalau lo cuma salah paham! Gue sama Liam cuma sahabatan! Lagian lo nya juga yang posesif! Liam gini nggak boleh, gitu nggak boleh! Mana ada cowok yang mau bertahan!" beo Vinan mengeluarkan kekesalannya. Ia tidak terima ketika dikatain pelakor. Dia saja tidak pernah pacaran, apalagi ngerebut Liam dari Aleta. Udah dari jaman baheula, Vinan dan Liam itu hanya sahabat! Tidak lebih.


"Nggak punya malu yang emang! Lo sendiri aja yang kegatelan! Pernah tuh Liam ngeutamain lo dari pada gue yang statusnya sebagai pacar! Gitu namanya apa kalau bukan pelakor! Banyak tau nggak cewek cabe kayak lo! Cuma baik didepan! Padahal dibelakang mah nemplok banget sama Liam!"


"Dari dulu gue sama Liam emang udah sama-sama! Emang lo nya aja yang nggak tau kondisi! Udah dibilang cuma sahabat, eh malah nuduh selingkuh yang nggak-nggak!"


"SETOPP!!" seru Lefi sambil menutup kedua telinganya. Lama-lama ia bingung mendengarkan perdebatan yang tidak diketahui akar masalahnya.


"Emang dasar ******! Tinggal ngaku aja susah!" cela Aleta kasar lalu mendudukkan tubuhnya disamping Figo. Karena tahu kondisi, Figo mengelus-elus surai Aleta mencoba menenangkan pacarnya. Ia juga ikut bingung disini.


"Lo aja yang netthink!" sergah Vinan terbawa emosi. Mana ada cewek yang mau dikatai pelakor? Apalagi ******?


Lagian ini adalah masa lalu. Dulu saat SMP, Aleta satu sekolah dengan Vinan dan Liam. Mereka berdua menjalin hubungan, namun Aleta selalu saja menuduh Vinan centil atau apalah-apalah karena selalu dekat-dekat dengan Liam. Lah emang udah takdirnya gitu, Vinan dan Liam adalah sahabat yang tak terpisahkan. Namun Aleta malah ber-negatif thinking menganggap Vinan ada rasa dengan Liam. Hubungannya dengan Liam pun kandas di tengah jalan hanya karena kesalahpahaman. Lagian apa salahnya cewek cowok sahabatan? Nggak ada undang-undang yang ngelarang kan?


"Ada apaan sih? Bingung nih gue," tanya Figo.


"Dia tuh beb! Ngerebut pacar gue!"


"Lah pacar lo kan Figo?" tanya Adya.


"Dulu gue pernah pacaran! Terus direbut sama tuh ******! Mana ada istilahnya sahabat? Cewek cowok juga!"


"Oh masa lalu..." Lefi mengangguk-angguk paham.


"Gue juga nggak pernah rebut Liam dari lo! Emang gue udah deket sama Liam dari dulu! Sebelum ngatain orang tuh mikir-mikir dulu! Jangan cuma nuduh selingkuh tanpa bukti!" pekik Vinan yang masih tidak terima.


"Pelang di atap sono!" cetus Lefi.


Arhan yang bingung hanya menyesap rokoknya, menyimak keadaan yang hot ini. Cewek-cewek kalau udah ribut mah yang cowok mundur, bisa kiamat kalau semua ikut bicara.


"Udahlah, udah masa lalu juga. Kan sekarang udah punya aku?" Figo menangkup wajah Aleta lantas mengecup keningnya sekilas.


"Tetep aja dia tuh pelakor! Mau-mauan banget sih lo sama tuh cewek?!" tanya Aleta pada Arhan. Lelaki yang sedari tadi diam itu hanya melipat dahinya, ia saja tidak tahu apa-apa.


"Makan dah makan! Ada tamu nggak baik digituin." tutur Lefi lalu mulai membuka-buka makanan berisi beberapa bungkus mie pangsit.


"Pelakor," gumam Aleta namun masih bisa didengar.


"Gue pulang!" Vinan beranjak berdiri dan akan melangkah pergi namun ditahan oleh sebuah tangan.


"Nanti gue anterin, sekalian pulang," ucap Arhan lalu mengarahkan Vinan agar kembali duduk.


"Mau mauan aja nganterin cewek kayak dia!!" sindir Aleta yang masih terhanyut dalam suasana panas.


"Udah lah beb. Lupain ya? Bisa aja kamu juga cuman salah paham. Lagian siapa sih Liam? Kayak pernah denger tuh nama."


"Waketos Gardamawa!" sahut Adya.


"Tapi tetep aja dia tuh pelakor! Kamu ngapain juga belain dia?!"


Lah, salah kan.


"Udahlah, kamu makan dulu aja ya?" bujuk Figo menenangkan singa betina, "tapi sorry banget nih. Tadi beli makanannya ngepas, nggak tau kalau Vinan mau dateng."


"Punya gue makan aja," kata Arhan.


"Buat gue?!" tanya Lefi berbinar.


"Buat Vinan ******!"


"Makan aja," ucap Vinan yang sudah bad mood.


"Nggak usah debat kali! Tinggal makan juga! Ato mau gue makan?!"


"Diem!" Adya memukul kepalanya Lefi dengan sumpit.


Atmosfer ruangan kembali normal, kedua cewek itu sudah berhenti berdebat karena kesalahpahaman masa lalu. Namun Vinan tetap saja tidak mau makan, melainkan lebih memilih untuk memainkan ponselnya. Semuanya sibuk makan, hanya Arhan dan Vinan yang tidak ikut bergabung membuat sebungkus mie pangsit tergeletak ngangur diatas meja. 


tbc


•••


Tinggalkan jejak dengan apresiasi chapter ini^^jngn siders, oke? Ingetin kalo ada typo✨makasihh💚