L O K A R E N J A N A

L O K A R E N J A N A
27.SURPRISE PAGI HARI (PINDAH)



...-Surprise Pagi Hari (Pindah)-...


Damar mengembangkan senyumnya mantap dibarengi dengan langkah lebar. Tujuannya saat ini terfokus pada Vinan yang menyapu lantai teras kelas dengan telaten. Dia menyimpan tangannya dibelakang tubuh, menyembunyikan sesuatu.


"Pagi Vi!" sapa Damar.


Vinan menoleh, membalas sapaan Damar dengan senyuman tipis lantas kembali melanjutkan aktivitasnya. Damar gugup. Bingung harus memulai kalimat dari mana, secara dia tidak terlalu berpengalaman dalam bidang ini.


"Nih," Pada akhirnya Damar menyodorkan sesuatu yang ingin dia sampaikan sejak tadi. Waktu dijalan menuju sekolah dia sangat antusias menyusun kalimat untuk bisa berdialog dengan Vinan, entah kenapa semua paragraf-nya gugur, buyar, menghilang tanpa jejak.


"Hah?" Vinan masih bingung. Menatap lolipop warna-warni berbentuk lambang hati.


"Buat lo. Gue kemarin waktu jalan-jalan nggak sengaja lihat ini, terus gue beli karena keinget lo yang suka makanan manis," ucap Damar beralasan. Dia memang sengaja membeli lolipop untuk Vinan.


"Owh makasih," Vinan menerima lolipop itu dengan tidak enak hati.


Mata Damar beralih pada sosok Fani yang berdiri diambang pintu, tadi gadis itu sempat memperhatikan keduanya. Namun langsung berpaling ketika Damar menoleh.


"Oh iya, gue juga punya buat lo," Damar mengeluarkan sebuag lolipop berwarna serupa dari dalam tasnya, tapi berbeda bentuk. Lolipop itu berbentuk bulat. "Bentuknya beda, nggak papa kan?"


Fani mengangguk-anggukkan kepalanya antusias, dia menerima lolipop dengan riang. Tak disangka Damar tiba-tiba memberinya lolipop, bunga-bunga dalam hatinya bermekaran. Sebuah jeritan kencang tertahan didalam mulut, Fani ingin melayang. "Makasih ya!"


Damar mengangguk ramah, sedangkan Vinan tersenyum geli sembari mengacungkan jempolnya ke arah Fani. Dia tahu kalau sahabatnya sedang bahagia, tapi tumben-tumbenan saja tidak bereaksi berlebihan seperti sebelum-sebelumnya.


Suara gaduh tiba-tiba terdengar dari lantai bawah, jeritan wanita juga teriakan lantang yang tertangkap telinga membuat siswa-siswi lantai dua dan tiga sama-sama melongok ke bawah, melihat apa yang sedang terjadi hingga terdengar heboh sekali.


cetekkk


Terdengar suara lolipop jatuh menghantam lantai, makanan manis itu terlepas dari genggaman Vinan. Pecah, lolipop itu terbelah dua didalam bungkus plastik transparan. Damar yang melihat itu langsung memungutnya lantas memberikannya kembali pada Vinan yang masih tak bergeming.


Tubuhnya serasa membeku, terpaku. Vinan menggelengkan kepalanya lalu kembali melihat sebuah hal mengejutkan dilantai bawah sana. Matanya benar, dia tidak salah menduga. Fani yang berada disebelahnya juga ikut membungkam mulutnya dengan mata membelalak. Keduanya sama-sama terkejut.


Dibawah sana, berjalan tiga orang yang sangat amat dikenalnya. Arhan, Lefi dan Adya. Kedatangan mereka disambut ramai, mungkin sebagian besar banyak yang merasa asing. Ketiga laki-laki itu sama-sama memakai seragam putih abu dengan almamater warna abu-abu khas SMA Gardamawa.


Berjalan dalam satu banjar, Lefi menyugar rambutnya ala-ala sedangkan Arhan dan Adya kompak menatap datar lurus ke depan. Tidak dihiraukan tatapan aneh sekelilingnya, apalagi teriakan cewek-cewek yang menggoda. Risih tentunya. Tapi mereka bisa apa, tidak punya kuasa.


"Vi... It-tu... Beneran Arhan?" tanya Fani tergagap.


Vinan tak menanggapi, masih speechless dengan keadaan. Mulutnya terbuka satu centi. Apa maksud mereka berkunjung kemari dengan mengenakan almamater SMA Gardamawa? Bukannya melarang, jika begini caranya, Vinan sudah pasti terkejut dengan kehadiran yang amat tiba-tiba.


Tubuh para lelaki yang menghebohkan sekolah pagi-pagi itu lenyap dibalik pintu ruang kepala sekolah. Pintu tertutup, cewek-cewek mendesah kecewa, masih belum puas memandangi wajah-wajah asing yang terlihat segar, hitung-hitung cuci mata sebelum bergelut dengan materi pelajaran.


Bel berbunyi nyaring. Siswa-siswi langsung memasuki kelas masing-masing sebelum guru tatip berkeliling.


Damar mengajak Vinan memasuki kelas karena harus menyanyikan lagu Indonesia Raya dan mengucapkan Pancasila sebagaimana tertera dalam SOP.


Tak kunjung merespon, Fani menarik paksa tangan Vinan membuat gadis itu kembali sadar. Dia minta maaf pada Damar karena tak sengaja menjatuhkan lolipop pemberiannya, bahkan sampai pecah terbelah dua.


Wajah Damar yang selalu terlihat menyenangkan itu tersenyum, mengikhlaskan apa yang sudah terjadi. Namun dirinya juga bertanya-tanya kenapa Vinan amat peduli dengan kehadiran orang baru? Sampai-sampai menunjukkan ekspresi berlebihan, wajah kaget yang tidak pernah disaksikan Damar sebelumnya.


•••


"Vi," Fani menyenggol lengan Vinan membuat empunya kembali memegang pena yang sudah jatuh tergeletak. "Fokus."


Vinan mengangguk dan kembali memperhatikan guru, tidak menopang dagu seperti tadi. Sekelebat bayangan tiga orang lelaki tadi masih saja menggangu pikirannya yang mencoba fokus. Kembali mengingat-ingat apakah benar tiga wajah tadi adalah orang yang dikenalnya? Apakah mereka tadi benar-benar memakai almamater milk Gardamawa?


Guru yang berada didepan telah selesai menjelaskan, beliau langsung memberi tugas anak didiknya untuk mengerjakan latihan soal di buku paket. Entahlah, Vinan tidak berselera. Anggap saja dia tidak bisa profesional antara membagi waktu untuk urusan pribadi dengan kewajiban belajar.


Bel istirahat yang ditunggu-tunggu akhirnya berbunyi. Setelah guru mengucapkan salam dan pergi, Vinan langsung cepat-cepat memasukkan barang-barangnya ke dalam tas. Dia akan menuntut penjelasan.


"Kantin?" tanya Liam yang duduk tepat dibelakang Vinan.


"Lo duluan aja, gue ada urusan sebentar."


Liam mencekal tangan Vinan ketika gadis itu akan pergi. "Tadi pagi, siswa baru itu, lo kenal? Bukannya mereka cowok yang lo temuin didepan gerbang sore itu?"


Vinan menggeleng. Dia saja butuh penjelasan kini malah berganti ditanya-tanya.


"Gue duluan," Vinan melepaskan paksa tangan Liam dan berjalan tergesa-gesa keluar kelas. Fani mengikuti, dia juga penasaran. Secara, lelaki yang selama ini diperhatikannya diam-diam lewat sosial media, kini ada di sekolahnya. Surprise bukan?


Belum sampai Vinan berbelok kanan menuju tangga yang membawanya ke lantai bawah, sebuah suara riuh disamping kelas membuatnya berhenti.


"Mau apa lo hah? Mau buat ulah lagi?! Kenapa sih lo selalu nyusahin gue! Kalau bokap lo tahu gimana?! Astaga, lo mau nyerang musuh lo disini? Atau mau apa?! Jelasin! Apa maksud lo pindah ke sini?!" beo Natasya, anak kelas 11 IPS 3 yang terkenal garang. Banyak lelaki yang tidak ingin berurusan dengannya.


Cewek dengan rambut dikuncir rapi itu menjewer telinga seorang laki-laki yang meringis kesakitan. Telinganya memerah, Tasya juga menginjak kaki lelaki itu kuat-kuat menggunakan sepatu pantofel. Dia geram.


"I-iya lepasin dulu Nanas!" seru lelaki itu. Lefi, dia menunjuk Fani yang berdiri disamping Vinan. "Gue ke sini mau nyampelin gebetan gue noh! Dahlah jangan ikut campul, gue nggak mau belantem kok! Suel!!" Tangan Lefi membentuk tanda peace.


"Hah?! Gue?!" teriak Fani kaget. Kini semua mata tertuju padanya. Jika benar Fani adalah gebetan Lefi selaku murid baru, ini pasti akan menjadi berita besar.


"Lo sama Lefi?" bisik Vinan dan langsung ditanggapi gelengan cepat oleh Fani. Dia saja tidak kenal Lefi, hanya beberapa kali melihat wajahnya karena kedapatan berfoto bersama Arhan.


"Emang iya?!" tanya Tasya pada Fani, gelengan kepala kembali terulang. "Lo mau bohongin gue?!" bentaknya pada lefi. Entah mengapa dia terlihat sangat takut sekali dengan Tasya.


"Enggak Nanas!" Lefi melepaskan tangan Tasya dari telinganya lantas berjalan ke arah Fani. Menggandengnya? Lefi mengangkat tinggi-tinggi tangannya yang bertautan dengan tangan Fani. "Lihat kan? Udahlah gue nggak cali masalah kok ke sini. Dadahh!!" Lefi tetap menggandeng tangan Fani yang masih bingung dan membawanya pergi.


Vinan membeku. Masih bingung. Sejak kapan Fani mengenal Lefi? Atau ini hanya tipu daya belaka?


Tak lama, orang yang dicarinya keluar juga. Arhan dan Adya muncul dari dalam kelas IPS 3, cewek-cewek disekitar juga menunggu kedatangan keduanya, bahkan banyak yang memilih untuk stand by didepan kelas IPS 3 ketimbang istirahat dikantin.


Tatapan pertama Arhan jatuh pada Vinan yang terdiam. Tahu suasana sedang tidak kondusif untuk menjelaskan, Arhan memilih untuk menarik lengan Vinan menjauh dari kerumunan. Adya mengikuti dari belakang sambil mengedarkan netranya mencoba beradaptasi.


Puluhan pertanyaan terlintas dipikiran semua orang yang menyaksikan. Beruntung sekali ada diposisi Vinan, sudah ditembak oleh Fahrar tempo hari. Kini digandeng anak baru yang tergolong dalam kategori cogan.


tbc


•••


Tinggalkan jejak dengan apresiasi chapter ini. Sekecil apapun, itu sangat berarti buat saya:)jngn siders, oke? Ingetin kalo ada typo✨makasihh💚