
...-Luka Dan Dia-...
Pagi yang cerah, tapi berbanding terbalik dengan suasana hati Vinan saat ini. Gadis itu menopang wajah mungilnya dengan kedua tangan. Bibirnya mengerucut, dahinya juga mengerut. Vinan sangatlah sebal mengingat kejadian tadi malam. Yang benar saja? Berpelukan dengan lelaki yang belum dikenalnya?
"Napa sih lu? Ditekuk mulu tuh muka." Tanya Fani yang sibuk mengetik makalah di laptopnya.
Vinan hanya menggelengkan kepala jika dilihat dari pupil mata Fani."Fan." Panggil Vinan yang kini sudah berganti posisi menyamping ke kiri.
"Apaan?"
Jari lentik Vinan diketuk-ketukk diatas meja kayu hingga menimbulkan suara kecil. "Lo kenal Ra-yar-han Ar-yan siapa gitu?" Tanya Vinan sembari mengingat-ingat nama laki-laki yang sempat dibacanya dari foto wisuda yang tidak sengaja dilihatnya semalam.
Fani menghentikan jari tangannya diatas keyboard lalu menoleh Vinan yang menatapnya seperti menuntut jawaban. "Maksud lo?"
"Gak tau, gue lupa nama panjangnya."
"Apaan dah! Gak jelas." Cibir Fani yang langsung memasukkan kentang goreng ke dalam mulutnya lalu melanjutkan aktivitasnya. Mengetik makalah.
Vinan mencebik. "Ishh! gue beneran tau."
"Siapa tadi kata lo?" Tanya Fani setengah merespons.
Vinan kembali mengingat-ingat. "Rayarhan ... Aryan emmm ..."
"Rayarhan? Gue kayak pernah denger." Vinan menatap Fani tidak percaya, takut-takut ia akan dibohongi saja.
"Tau dari mana lo?" Tanya Vinan yang entah mengapa ingin tahu mengenai siapa Rayarhan.
"Gue tuh punya grup yang khusus bagi-bagi informasi tentang banyak macam cogan. Atau lo mau gue masukin? Lumayan lah cuci mata setiap hari." Cengir Fani.
"Ga faedah banget!"
"Anak SMA Kutilang ga si?" Tanya Fani ragu.
"Gue nggak tau."
"Gimana dah! Lo yang tanya tapi malah gak tau." Cebik Fani. "Betewe kenapa lo tiba-tiba tanya tentang Rayarhan?"
Vinan berpindah posisi lagi menghadap rak-rak buku yang tinggi tersusun rapi. "Pengen tau aja."
"Lo suka sama Arhan? Atau lo lagi mau pedekate?"
"Enak aja!" Bantah Vinan. "Tauk ah! Gue mau ke kantin!" Vinan berdiri dan pergi meninggalkan perpustakaan.
"Ehhh tungguin gue!" Teriak Fani langsung mendapat tatapan tajam dari seluruh penghuni perpus yang fokus dengan masing-masing buku. Fani tersenyum kikuk sembari menganggukan kepalanya malu. Ia menutup laptopnya dan mengapitnya diantara dua lengan lalu berlari secepat kilat.
•••
Bel sudah berbunyi dua puluh menit yang lalu. Vinan masih berkutat dengan para buku-buku yang harus ia tata rapi dirak kayu berwarna pastel. Perpustakaan sudah lumayan sepi, hanya ada beberapa siswa siswi yang meminjam buku untuk bahan pelajaran. Jika tidak disuruh Bu Induy untuk mengembalikan buku-buku fisika yang dipinjam satu kelas tadi, ia jika tidak ada ditempat ini sekarang.
"Udah Vi?" Tanya Damar yang menemaninya sejak tadi.
"Bentar lagi kok. Lo pulang duluan aja."
"Gue tungguin." Damar menyenderkan tubuhnya ditembok. Matanya tak lepas dari wajah Vinan yang sedikit berkeringat membuat auranya semakin menarik.
"Kenapa?" Tanya Vinan yang tetap menata buku-buku ke tempat asalnya. Jika dilihat dari pupil matanya, sedari tadi mata Damar selalu memperhatikannya.
"Nggak papa."
Selesai dengan pekerjaannya, Vinan menepuk-nepuk kedua telapak tangannya guna menghilangkan debu yang menempel. "Oke. Ayo!"
Damar tersenyum dan mengikuti langkah Vinan dari belakang dengan tangan yang masuk ke dalam saku celana membuatnya lebih berkharisma.
"Bawa mobil sendiri?" Tanya Damar yang sudah berada disampingnya Vinan.
"Iya."
"Lo nggak suka gue ada dideket lo ya?"
Langkah Vinan terhenti dan melirik Damar yang selalu menatapnya. "Hah?"
"Lo nggak nyaman dideket gue?"
"Ng-nggak kok. Kata siapa?"
"Bagus deh. Gue cuma ngelurusin aja."
Vinan tersenyum simpul dan melanjutkan langkahnya melewati koridor yang sudah sepi. Apa maksud perkataan Damar tadi?
•••
tin tin!!
Vinan membunyikan klakson mobil sambil memperhatikan Zynan yang berbincang dengan Galen didepan gerbang.
"CEPETAN!!"
Zynan menoleh diikuti oleh Galen. Lelaki yang bersandar di gerbang dengan kaki menyilang itu melambaikan tangannya seraya tersenyum lebar.
tin tin!!
"Dahh!"
Sesudah Zynan memasuki mobil, Vinan segera melajukan mobilnya kembali. "Ke cafe dulu ya. Gue laper!" Pinta Zynan sembari memasang seat belt.
"Hmm.."
10 menit setelahnya Vinan membelokkan mobilnya tepat didepan cafe Wetees lalu segera melangkah masuk. Kembar identik berbeda penampilan itu memilih tempat duduk dipojok kanan yang sedikit jauh dari keramaian.
"Ayam teriyaki dua." Pesan Zynan pada pelayan dan langsung ditatap tajam oleh Vinan.
"Hehe bercanda ..." Kekeh Zynan. "Ayam teriyaki satu, beef steak satu, mocktail lemodane dua." Setelah menulis pesanan, pelayan itu pun berlalu.
"Zy..."
"Apaan?"
"Lo kenal Rayarhan?"
"Hah? Lo kenapa tiba-tiba tanya Arhan?"
"Pengen tau aja, dia itu tetangga kita."
"Ah mazaa ..."
"Ck! Yaudah kalau nggak percaya!" Vinan memilih untuk membuka ponsel daripada menatap wajah Zynan yang menatapnya jahil.
Kaki Zynan yang ada dibawah meja sedikit menendang kaki Vinan membuat empunya menatapnya tajam. "Lo tau dari mana kalau Arhan kenal gue? Terus kakak kenapa tiba-tiba kepo tentang siapa Arhan?"
"Ga jadi."
"Selamat menikmati ..." Ucap pelayan seraya menaruh makanan lalu pergi.
"Ekhhh...uhuk...uhuk.." Baru satu suapan, Vinan sudah tersedak makanannya sendiri takala melihat orang yang baru saja dibicarakan muncul dari pintu cafe.
"Kenapa?"
"Itu ..." Vinan menunjuk Arhan dan kawan-kawan yang tertawa tidak jelas dan langsung duduk bergerombol dalam satu meja. Ada Lefi, Adya, juga pasangan bucin melegenda, Figo dan Aleta.
"Kenapa sih lo tiba-tiba nanya Arhan?" Tanya Zynan mulai curiga.
"Pengen tau aja. Lo satu sekolah sama dia?"
"Kenapa dulu? Lo suka sama dia? Jangan, gak baik orangnya."
"Siapa yang suka?!" Bantah Vinan cepat. "Gue kan cuma tanya!"
Setelah selesai makan dengan sedikit perdebatan mereka berdua langsung menuju kasir untuk membayar makanan.
"Eh Zynan!!" Panggil seseorang membuat empunya menoleh.
"Kenapa?!" Tanya Zynan ketus takala tau siapa yang memanggilnya. Gadis itu sudah berkacak pinggang menghadap lawan bicaranya.
"Cuma tes kuping aja..." Kekeh Lefi. "Uwowowo dia kembalan lo Zy?!" Tanya Lefi heboh. Bahkan Lefi sampai menggebrak meja dan berdiri dari kursi yang diduduki. Alay.
"Ya."
Saat ini Vinan tidak menyadari bahwa ada kehadiran seseorang yang menatapnya sinis dengan mata yang menelisik detail.
"Niatnya mau gue gebet, eh tau lo sodalanya kagak jadi deh. Susah lestunya."
"Gue gibeng juga lo! Lagian gue nggak bakal restuin kakak gue sama cowok cedal kayak lo."
Vinan langsung menarik tangan Zynan menuju mobil karena ia sudah gugup ditatap tajam oleh Arhan. Mungkin laki-laki itu mengingat kejadian semalam kali ya? Ia jadi malu sendiri takut-takut Arhan mengganggap nya wanita murahan karena mau-mauan dipeluk kemarin malam, lagian bukan dia juga yang mau.
"Napa sih?" Tanya Zynan sebal. Perdebatannya dengan Lefi belum terselesaikan.
"Pulang." Ucap Vinan sembari membuka pintu mobil.
Pukul 15.20 mereka sampai dirumah bergaya minimalis dengan cat putih. Suasananya bisa dikatakan biasa saja, tetap sepi. Tidak ada yang menyambut kedatangan mereka setiap pulang, tidak ada pelukan hangat yang menggambarkan kasih sayang.
"Sore neng ..." Sapa mbak Ririn selaku tukang bersih-bersih rumah yang datang setiap seminggu sekali. Wanita yang masih lajang itu menyimpan tangannya dibelakang tubuh sebagai kebiasaannya.
"SORE MBAK RIRIN!!" Sapa Zynan balik.
"Udah mau pulang?" Tanya Vinan yang baru keluar mobil.
"Iya, kalau gitu mbak permisi dulu ya."
"Hati-hati."
Vinan berjalan gontai memasuki rumah dan menaiki satu persatu anak tangga.
"Ughhh!!!" Lenguh Vinan ketika tubuhnya mendarat sempurna diatas ranjang. Tempat empuk ini sungguh membuatnya nyaman setelah menerima beberapa pelajaran disekolah tadi. Dia merentangkan tangannya diatas kasur tanpa memperdulikan almamater yang masih belum dilepas.
brakkk!!
Vinan membuka matanya yang hampir terpejam. Suara keras itu membuatnya menjingkat kaget, ia baru saja akan mengistirahatkan tubuhnya namun lagi-lagi ada saja yang mengganggunya.
"Zynan!!" Panggil Vinan sembari menelisik sudut ruangan kamar Zynan, tidak ada tanda-tanda kehidupan disini.
"Zynan!!" Gadis itu menuruni anak tangga dengan langkah kakinya yang lincah. "Kemana sih?!" Vinan berjalan ke arah ruang TV, tepat dilayar televisi terdapat sebuah post-it yang berisi tulisan.
Sorry kak, gw pergi dlu sama Galen
Sebentar kok
Zynan
"Kemana ini anak??" Vinan mengambil ponselnya disaku dan segera menghubungi nomor Zynan namun tidak ada jawaban. Vinan berjalan keluar untuk memastikan bahwa mobilnya masih terparkir rapi. "Tauk dah! Udah gede juga!" Dengus Vinan kembali memasuki rumah.
Tapi tunggu.
Di badan jalan, tepatnya didepan gerbang rumahnya, kenapa ada motor Kawasaki ninja warna biru tua tergeletak sembarangan. Apa motor itu yang menimbulkan suara tadi? Tapi bukankah itu motor ugal-ugalan yang selalu menerobos jalan mobilnya beberapa hari yang lalu?
Vinan memberanikan diri untuk mendekat. Diatas jok motor terdapat darah segar yang belum kering, entah apa yang terjadi kepada pengendaranya.
"Motor siapa?" Vinan menatap rumah megah tetangganya. "Arhan?"
Ia ingin sekali mencari tahu apa yang terjadi, namun ia ragu, semua ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan dirinya, tapi rasa kepo sedang meronta didalam batinnya saat ini.
Yups!
Ia dapat sebuah alasan untuk memasuki rumah itu, Vinan berlari secepat kilat ke dalam rumah untuk mengambil kotak makan yang sempat diberikan kemarin.
"Huftt ..." Dengan langkah gontai Vinan memasuki halaman rumah tetangganya. Sampai di teras, ternyata pintu tinggi megah itu terbuka lebar.
"Gimana gue masuknya?"
tok tok tok
"Assalamualaikum, Tante Tari ..."
ting tong
"Shh ... akhhh ..." Sebuah suara berhasil tertangkap oleh indera pendengaran Vinan. Telinganya tidak salah dan masih berfungsi dengan baik, suara tadi adalah suara rintihan seseorang.
"Astaga!" Vinan berlari memasuki rumah tanpa permisi takala melihat seorang laki-laki yang terkulai lemah diatas sofa ruang tamu.
"Lo kenapa?" Tanya Vinan ragu, muka Arhan dipenuhi dengan biru-biru, sudut bibirnya terdapat darah, dan buku tangannya mengeluarkan cairan merah. Lelaki ini seperti habis kecelakaan atau tidak habis berantem. Padahal mereka baru saja bertemu tadi, kini sudah beda kondisi lagi.
"Pergi." Ucap Arhan dingin. Ia tidak ingin dikasihani, karena hidupnya tidak ada yang berarti. Tidak ada yang pernah peduli dengannya. Dan Arhan tau kalau cewek dihadapannya itu bukan Zynan, melainkan Vinan. Seragam sekolah yang masih dipakai lah yang membedakan.
"Lo abis kecelakaan? Atau berantem?" Tanya Vinan yang memberanikan diri untuk mendekat.
"Bukan urusan lo!"
Vinan menaruh kotak makan diatas meja dengan raut wajah khawatir. "Tunggu disini."
Arhan akan bangkit namun Vinan kembali menahannya. "Tunggu!" Seru Vinan yang langsung berlari keluar menciptakan langkah kaki yang terdengar keras.
"Sshhh ..." Dengan hati-hati Arhan mencopot jaketnya karena mungkin sekarang bahunya membiru sebab pukulan-pukulan yang diterimanya tadi.
drrrtt drrrtt drrrtt
"Halo."
"Han? Lo gapapa kan? Lo tadi abis dikeroyok?" Tanya Figo dari sambungan telepon.
"Shit! Gue satu lawan enam."
"Lo kenapa nggak ngabarin gue?"
"Udah telat."
"Terus lo sekarang gimana?"
"Gak usah ditanya lagi!"
tut
"*******!" pekik Arhan mengeluarkan kekesalannya, ia sangat apes hari ini. Sepulang dari cafe semua kawannya berpisah arah diperempatan, tanpa diketahui penyebabnya ia tiba-tiba diserang oleh beberapa orang bertopeng hitam. Beruntung masih ada warga yang menolongnya, kalau tidak ia bisa sekarat sekarang.
"Huh huh huh ..." Vinan tiba-tiba kembali lagi dengan baskom stainless dan kotak putih ditangannya. Arhan hanya menatap gadis itu sejenak lalu beranjak.
"Eh eh mau kemana?" Tanya Vinan.
"Gak usah ikut campur!"
"Itu luka lo diobatin dulu."
"Gak butuh!"
"Keras kepala banget!" Ucap Vinan langsung mendorong tubuh Arhan agar kembali duduk.
"Arkhh ..." ringis Arhan takala Vinan menyentuh bahunya.
"Eh eh kenapa? Bahu lo luka?" Arhan menatapnya tajam dan lagi-lagi membuat Vinan gugup. "Maaf."
Vinan duduk disamping Arhan dan meraih dagu lelaki itu agar menghadap padannya. "Jelek banget. Muka lo biru." Vinan menggeleng-gelengkan kepalanya pelan dan beranjak mengambil kotak putih membuat Arhan bertambah bingung.
"Diem!" titah Vinan takala Arhan ingin kembali bangkit.
"Lo abis kenapa sih? Tawuran?" Tanya Vinan yang tangannya kini sudah menari-nari dengan kapas diatas wajah tampan Arhan.
"Gue gak butuh!" Arhan menepis tangan Vinan dan berusaha bangkit namun lagi-lagi ditahan.
"Batu banget sih! Ini itu ntar bisa infeksi!" cecar Vinan.
Arhan kembali memutar bola matanya malas dan terus memperhatikan wajah Vinan dari jarak sedekat ini. Iris mata hitam legam terlihat berkilauan dan wajahnya yang putih mulus tanpa sedikitpun noda juga anak rambut yang bercampur keringat dipelipis. Wajahnya hampir sama dengan Zynan yang pernah dilihatnya disekolah, namun Arhan rasa ada beberapa bagian yang berbeda.
"Sshhh ... lo bisa ngobatin nggak sih?!" Gertak Arhan.
"Makannya diem!" Seru Vinan mulai kesal. "Lo itu kenapa sih?" Tanya Vinan, ia menengok Arhan yang menatapnya aneh. Tidak ada respon.
"Gue bener-bener nggak tau dengan apa yang terjadi dalam hidup lo."
"Gak perlu tau."
Vinan menatap bola mata Arhan penuh arti. "Lo ada masalah?"
"Gue gak tau lo siapa jadi jangan ikut campur!"
"Oke! Kalau gitu kita kenalan." Vinan membuang kapas ke atas meja dan mengulurkan tangannya. "Gue Vinan."
"Gak tanya." Ketus Arhan langsung bangkit dan kembali ditahan. Bahunya benar-benar sakit karena ditekan oleh Vinan berkali-kali.
"Belum selesai ..."
"Gue tau jenis-jenis cewek, lo pasti mau minta duit kan?" Dengan susah payah karena tangannya terluka Arhan mengambil dompet di saku celananya.
"Eh mau ngapain? Gue ikhlas kali." Vinan menyaut dompet Arhan dan ditaruhnya diatas sofa. "Gue obatin lagi."
Vinan mengambil es batu yang sudah terbungkus handuk dan dikompreskan diwajah Arhan yang membiru.
"Keuntungan berantem itu apa si?"
Vinan menatap wajah Arhan yang menahan rasa sakit. "Kenapa lo berantem? Gue tau." Tangan Vinan menekan sudut bibir Arhan yang masih mengeluarkan darah walau samar-samar. "Ini bekas pukulan kan? Nggak mungkin lo kecelakaan sampe kayak gini."
"Gak usah jadi guru!"
"Serah deh. Batu!" Ucap Vinan seraya menekan luka Arhan.
"Arkhh!"
"Sorry, sengaja."
"PERGI LO!" Gertak Arhan yang ikutan kesal, bukannya membantu malah membuat lukanya semakin sakit.
"Fine!" Vinan segera membereskan isi kotak P3K. "Gak tau terima kasih." gumamnya.
"KAKAK!!" Panggil seorang gadis dari arah tangga lalu berlari menghampiri. "Kakak kenapa? Berantem? Namira obatin ya?"
Dengan lemas Arhan menarik tangan Vinan agar kembali duduk disampingnya. "Obatin."
"Hah? Gak! Lo tadi udah ngusir gue!" Vinan beranjak namun ditahan dan mendapatkan tatapan tajam. Apa mau laki-laki ini?
"Kan udah ada adek lo."
"Bukan adek gue!" Bantah Arhan yang lagi-lagi membuat Vinan bingung. "Lo pergi."
"Tapi kak--"
"GUE MASIH SABAR! PERGI!!"
Namira mendengus kesal dan melempar tatapan tidak suka pada Vinan lalu segera berlalu.
"Banyak drama! Tinggal bilang mau diobatin aja susah amat!" Cibir Vinan yang kembali mengompres wajah Arhan. Kali ini lebih kasar dari sebelumnya.
"Bacot!"
"Mau ditolongin nggak sih?!" Pekik Vinan yang sebal lalu segera membereskan peralatannya dan beranjak pergi, menyesal sudah karena berniat menolong lelaki tidak tahu diri.
Arhan menatap aneh kepergian Vinan hingga hilang dibalik pintu. Orang tidak dikenal menolongnya? Sok sokan ceramah lagi? Ditambah sifat keponya yang membuat Arhan risih.
"SHITT!"
tbc
•••
Vinan kok jadi kepo? jadi peduli gitu?
Vote dan komen jangan lupa^^gratis kok. Dapat pahala juga😂 Thank you💚