L O K A R E N J A N A

L O K A R E N J A N A
22.KARENA GUE UDAH LIHAT SEMUANYA



...-Karena Gue Udah Lihat Semuanya-...


Hal pertama yang dilihat Vinan saat memasuki rumah Tari adalah banyaknya orang berlalu-lalang. Semua pegawai dekor sibuk bahu-membahu menata setiap hiasan disudut ruangan, karena belum terlalu siang, semangat mereka pun masih terpancar. Ada yang sibuk memasang lampu warna-warni, ada juga yang sibuk memompa balon dengan alat pompa balon elektrik.


Beberapa tetangga yang ia kenal juga terlihat membantu disini. Agaknya Tari benar-benar pintar beradaptasi dilingkungan ini walau baru sekitar 2 bulan menempati. Namun ada yang ganjil, ia tidak menemukan sosok Namira selaku tuan puteri malam ini.


"Kamu baru dateng? Mana Zynan? Kok nggak diajak?" tanya Tari yang muncul dari balik pintu.


"Zynan lagi beres-beres rumah Tan. Vinan bantu apa?"


"Kamu langsung ke kolam aja, nanti disana udah ada yang atur,"


"Kalau gitu Vinan permisi,"


"Makasih banget loh ya..." Vinan menanggapi dengan senyuman lantas segera menuju kolam yang letaknya disamping rumah. Ini keempat kalinya Vinan memasuki rumah tetangganya, sudah dikatakan sebelumnya bahwa rumah ini telah direnovasi besar-besaran setelah ditempati penghuni baru. Gaya interiornya juga lebih terlihat mewah.


Setelah melewati kerumunan pegawai dekor yang sibuk bekerja, Vinan memasuki area kolam yang berbataskan aluminium sliding door. Tebakannya, kolam ini pasti akan dijadikan sebagai tempat inti pesta.


Seusai bertanya kepada seorang pegawai wanita, Vinan hanya disuruh untuk menata taplak meja juga beberapa hiasan diatas meja bundar. Terbilang ringan, karena semuanya sudah diurus oleh pihak dekor.


Dengan masih melihat sekeliling, Vinan perlahan mengambil beberapa lapis taplak berwarna putih berhias renda merah muda. Ditatanya dengan hati-hati setiap taplak pada beberapa meja bundar yang sudah terjejer beraturan ditepi kolam.


Vinan menoleh, netranya tertarik dengan sebuah hiasan. Para pegawai dekor tadi datang membawa banyak balon berbentuk huruf alfabet lantas menatanya beraturan ditembok membentuk tulisan 'HAPPY BIRTHDAY NAMIRA HAPTARENI' disekitarnya juga diberi tambahan balon-balon bentuk hati yang sudah diikat bergerombol.


Vinan mendesis, andai saja hidupnya masih mempunyai keluarga lengkap seperti Namira dan bisa merayakan ulangtahun bersama-sama, meski tidak dirayakan besar-besaran hingga merogoh kocek mahal, setidaknya kebersamaannya lah yang diidamkan. Ia pasti akan menjadi orang paling bahagia detik itu, Vinan rindu... Ibu. Juga ayah yang sedang bertugas di sana, untuk tanah air tercinta.


dukkk


Sebuah benda yang terasa asing menabrak kaki Vinan, karena terlalu fokus melamun Vinan refleks menjingkat ke kiri. Peristiwa diluar dugaan terjadi. Saat berpindah, kaki Vinan malah menginjak sebuah nampan stainless yang pasti menjadi licin ketika bergesekan dengan keramik tepi kolam. Siapa yang dengan ceroboh menaruh sebuah nampan disana?


byyuurrr!


Tak sempat berteriak, tubuh Vinan tercebur begitu saja ke dalam kolam. Beruntung taplak meja ditangannya masih sempat dilemparkan sehingga tidak ikut terjun ke air kaporit. Tangan Vinan bergerak ke atas mencoba meraih tepi kolam, bukannya berhasil menggapai dirinya malah terdorong ke tengah-tengah.


Kepalanya masih menyembul di permukaan kolam, mulutnya ingin berteriak namun air malah memasuki kerongkongannya. Matanya mencoba untuk tetap terbuka walau terasa pedih, tidak ada petugas dekor disini, entah kemana hilangnya mereka padahal terlihat disini tadi. Sial, ia tidak bisa berenang.


"Naik!" teriak seseorang membuat kepala Vinan mendongak.


"To-lo-ng gu--" Vinan terbata, ia ingin meminta bantuan namun tidak bisa berbicara. Kedalaman air kolam membuat tubuhnya tenggelam, ia tidak setinggi itu. 


"Cepetan naik!" teriak orang itu lagi. Arhan, bukannya menolong ia malah mengambil mobil remote control yang menjadi dalang segalanya. Kalau mainan itu tadi tidak menabrak kaki Vinan, gadis itu pasti masih bisa bernafas dengan tenang sekarang.


"To-lo-ng,"


"Sorry! Tadi ponakan gue nggak sengaja ngarahin mobil-mobilan ke sini," ucap Arhan lalu berbalik membawa mainan ponakannya masuk ke dalam rumah. Beberapa saudara dekat yang ada di Jakarta memang berkunjung semua hari ini, hanya demi pesta ulang tahun Namira malam nanti.


Dia pikir Vinan bisa berenang hingga bisa naik sendiri ke daratan, namun ia salah. Baru beberapa kali melangkah, ia tidak lagi mendengar suara air yang riuh karena gerakan tangan Vinan.


Arhan berhenti lalu berbalik, Vinan masih terlihat membuka matanya namun tidak lagi bergerak didalam air. Tenaganya habis, kehilangan keseimbangan, ditambah banyaknya air yang masuk ke dalam paru-paru saat ia mencoba berteriak tadi.


Jika tinggi air kolam saja sampai leher Arhan, bagaimana Vinan tidak tenggelam?


Dengan sigap Arhan merengkuh pinggang Vinan, tangan kanannya ia gunakan untuk menjaga keseimbangan, mengayuh ke depan belakang seperti mendayung sampai tangannya berhasil meraih keramik tepi kolam. Vinan masih terlihat membuka mata walau terus terbatuk-batuk, matanya terlihat merah menahan perih. Dia tahu bahwa gadis dalam dekapannya ini adalah Vinan, karena dia tadi baru saja bertemu Zynan dihalaman depan. Ditambah lagi tatapan mata Vinan yang sedikit teduh, berbeda dengan tatapan Zynan yang berani terang-terangan tanpa ada ketakutan.


Arhan melepas pegangannya lalu berganti memegang kedua sisi pinggang Vinan, ia mengangkat tubuh Vinan yang terbilang ideal hingga terduduk ditepi kolam.


Arhan ikut naik. Tangannya tergerak untuk menepuk-nepuk punggung Vinan selama gadis itu terbatuk.


"Lo nggak bisa renang?" tanya Arhan.


Vinan menggeleng cepat sembari terbatuk-batuk menyebabkan rambutnya yang basah ikut bergerak. Ia hampir tamat barusan, kalau saja Arhan telat menyelamatkan entah apa yang akan terjadi. Sistem pernapasan seperti berhenti bekerja, kakinya terasa kebas ditambah tubuhnya yang tidak mempunyai keseimbangan didalam air.


"Itu tadi--"


"Lo mau bunuh gue? Gue barusan hampir mati tau nggak!" sergah Vinan spontan.


"Yang nyeburin diri kan elo, kenapa gue?"


Vinan berdecih sambil menatap Arhan tak percaya, sudah jelas-jelas lelaki itu yang menyebabkan dirinya tercebur kini malah berganti menyalahkannya.


"Dahlah!" Dengan masih kesal Vinan mengangkat kakinya dari dalam air lantas berdiri dan memeluk tubuhnya sendiri. Kaos basahnya yang diterpa angin membuat tubuhnya menggigil.


"Bentar!"


Karena Vinan tak kunjung berhenti padahal sudah dipanggil, Arhan segera menyusul dan menghentikan langkah Vinan dengan menarik kerah kaos belakang Vinan yang basah kuyup.


"Pake!" Arhan menyodorkan kemejanya pada Vinan namun hanya diabaikan, rasa bersalah kembali menyelinap ke dalam batinnya. Sampai kapan gadis ini akan membuatnya terus-terusan merasa bersalah?


"Pakaian dalam lo kelihatan,"


Singkat, padat, jelas.


Vinan menunduk kemudahan melihat pakaian dalamnya tercetak jelas dibalik kaos yang basah. Berubah pikiran dalam sekejap, Vinan menyahut kemeja Arhan yang bermotif vertikal lantas digunakan untuk menutupi bagian pakaian dalamnya yang terlihat jelas dari luar.


"Kenapa lo baru bilang sekarang?!"


Arhan menyeringai kecil, "karena gue udah lihat semuanya," setelah itu Arhan kembali mengambil mainan ponakannya dan memasuki rumah dengan senyum jahil yang masih terpatri.


"HEI!"


Detik tadi, Vinan baru saja melihat sisi lain seorang Rayarhan Aryan Bwana yang ternyata tidak se-kaku wajah datarnya.


tbc


•••


Tinggalkan jejak dengan apresiasi chapter ini^^jngn siders, oke? Ingetin kalo ada typo✨makasihh💚