
...-LEFI&FANI-...
Kini Vinan sedang berlari kecil guna membujuk Fani yang hanya mengabaikannya dari tadi. Mulai dari awal jam pelajaran hingga istirahat pertama, Fani tetap diam seakan-akan tidak melihat keberadaan Vinan. Gerah sudah, tidak betah lama-lama didiamkan. Vinan tau dirinya salah, namun tidak ada salahnya kan jika saling memaafkan?
Fani berjalan cepat, menuruni anak tangga lalu belok kiri.
"Fan, kan gue udah bilang kalau kemarin gue gak bisa dateng karena Fahrar. Lo tahu kan dia gimana? Lo mau gue dibawa sama tuh cowok, terus dijadiin cabe-cabean disana?" beo Vinan memelas.
Semalam Fani tidak datang ke basecamp, Lefi pun juga tidak kembali. Kedua insan yang baru kenal itu berdebat panjang, Fani menolak diantar dan Lefi terus mendesak. Jika Vinan tidak bisa datang, kenapa pula mengajaknya? Fani hanya berniat baik untuk menemani, namun malah disia-siakan.
"Ih Fani! Gue lagi bicara Fan!" Vinan memblokade langkah Fani dengan merentangkan tangannya. "Maafin yah? Gue traktir deh hari ini, please Fan... Gue beneran nggak maksud buat PHP lo kemarin."
"Aish Vinan!" Tak disangka, Fani malah memeluk tubuh Vinan yang masih merentangkan kedua tangannya.
"Fa... Fan?"
"Gue takut lo kenapa-kenapa kemarin. Pikiran gue udah jauh, gue takut Fahrar bakal gangu lo lagi. Lefi kemarin cerita, katanya lo mau dibawa ke markas dia," Fani mengelus-elus pundak Vinan, membicarakan isi hatinya. Dia tidak marah. "Untung ada Arhan dan lo sekarang nggak papa. Soal gue marah-marah kemarin, gue cuma bercanda kali. Lo sih lama banget, sampe jamuran gue!"
"Ya sorry, tapi kan Fahrar--"
"Udah lah," Fani melepaskan pelukannya yang sempat disaksikan beberapa murid yang lewat. "Kan sekarang lu aman, kantin lah! Lo tadi bilang mau traktir kan?"
Vinan ingin mencabut kalimatnya sekarang. Tidak menyangka kalau Fani benar-benar mengiyakan tawaran gilanya. Fani kalau sekali makan bisa khilaf, apalagi traktiran. Tenggelam aja lah Vi. Dan perubahan Fani? Drastis sekali.
"Ehem..." Merasa ada seseorang yang berjalan dibelakang, Vinan dan Fani berbalik. Muak, wajah Fahrar yang minta dicakar-cakar itu tersenyum ramah pada Vinan. Heran, akhir-akhir ini Fahrar jadi lebih sering tersenyum ketimbang kemarin-kemarin yang tampak buas menakutkan. Dia nggak habis di rukiah kan ya?
"Sayang banget yah, padahal kemarin malam gue mau ngajak lo makan-makan. Eh udah keduluan," ucap Fahrar namun tidak ditanggapi. Apakah Fahrar tidak tahu bahwa semalam Vinan hampir tamat? Cara Arhan membawa motor sangat menantang maut.
"Mau ke kantin? Nggak papa kan kalau kita barengan?" tanya Fahrar sambil melirik kawanannya yang berjumlah 6 orang. Dia terus mencoba mengajak Vinan berbicara, mendekati dan melancarkan aksinya.
"Gapapa lah! Itung-itung kenalan, biar lebih deket gitu!" Bukan Vinan, melainkan Hafid yang mengambil alih pembicaraan.
"Yuk! Kalau perlu gue traktir!" ajak Fahrar.
Mood dua gadis itu tiba-tiba saja raib. Fani sudah bergidik ngeri dibelakang tubuh Vinan. Bahkan murid yang tadinya akan lewat koridor memilih berbalik arah daripada berpapasan dengan kawanan Fahrar.
"Gak usah takut sama gue. Kali ini gue nggak bakal cari masalah. Temen-temen gue juga nggak mukul cewek kok," kelakar Fahrar ketika melihat ekspresi wajah Fani. Entahlah, yang pasti sejak saat itu Vinan tidak lagi takut dengan Fahrar. Rasa takutnya lenyap tanpa sisa.
"Mau ke kantin sekarang? Keburu habis jam istirahatnya."
"Dia sama kita," ucap seseorang bersuara tegas membuat Fahrar menurunkan tangannya yang akan merangkul pundak Vinan.
Fahrar tersenyum palsu, tangannya mengepal lalu dimasukkan ke dalam saku celana. "Oh ya... Gue belum sapa te-men gue," Fahrar menatap wajah Arhan yang terlihat muak. "Welcome. Gak nyangka kalau te-men gue bakal pindah sekolah ke sini. Sorry kemarin nggak bisa nganter keliling-keliling sekolah, lain kali mau?"
Diam. Tidak ada yang menanggapi.
"Kalau diajak omong tu respon! Punya mulut kan?!" tanya Ryan.
"Udah-udah," Fahrar menahan Ryan yang akan melangkah maju. "Kenalin ini semua temen-temen gue, kalau mau gabung silahkan. Kita bisa ke kantin bareng-bareng kan?"
"Temen atau babu?" celetuk Lefi tanpa sungkan. Dia memilih untuk membuang pandangannya ketimbang menatap wajah teman-teman Fahrar yang sudah mulai terpancing emosi.
"Gak perlu, gak muat kursinya," Arhan berjalan mendekati Vinan lalu merengkuh pundaknya, menuntun Vinan pergi dari sana.
Fani ikut mengekor lalu diikuti Adya dan Lefi yang sudah saling melempar tatapan sengit pada kawanan Fahrar. Hanya Abil yang tidak terpancing emosi, bahkan dia sempat tersenyum pada Lefi. Tidak ada yang tahu.
"Ngapain si sok baik?!" tanya Hafid. Kelakuan rivalnya tadi seperti menginjak-injak harga dirinya. Beruntung masih ada di area sekolah. Tidak ada kata ampun lain waktu.
"Biarin aja. Gue ada rencana lain. Kita baik-baikin aja dulu."
"Tapi lo--"
"Serahin sama gue. Dia nggak akan lama disini. Bentar lagi." Fahrar tersenyum, menyeringai diam-diam.
•••
Baju tanpa lengan yang dipakai nyaris basah akan keringat, para lelaki dilapangan tak berhenti mendribel bola dengan cepat dan tangkas sejak tadi. Mungkin hanya istirahat sebentar untuk meminum air juga mengelap keringat. Akhir-akhir ini mereka semakin giat berlatih, mengejar target perlombaan yang dilaksanakan akhir bulan. Semua berteriak menyemangati, ada pula yang sibuk live streaming mengabadikan momen, menunjukkan pada khalayak betapa hebatnya tim basket dari SMA Gardamawa.
Vinan asyik menyedot minuman berwadah cup yang dibeli dikantin tadi, banyaknya es batu yang bergesekan ketika Vinan menggoyangkan cup menimbulkan bunyi gemeretak. Fani memakan snack keripik dengan lahapnya sambil sesekali menjilati jari jempol yang tertempel bubuk perasa. Arhan, Lefi dan Adya sama-sama duduk dikursi tepi lapangan. Mereka semua memilih untuk membeli makanan ringan terlebih dahulu lantas pergi bersama-sama ke lapangan untuk menyaksikan latihan anak basket.
Berulang kali Lefi mencibir, masih lebih hebat cara bermain anak basket SMA Kutilang ketimbang disini. Namun dia sadar, bahwa Kutilang bukan tempatnya lagi. Disini kandangnya, SMA Gardamawa. Dia masih belum bisa move on.
"Tuh kan kalah! Baiknya tadi dia oper ke samping kiri bukan kanan, udah tahu disana banyak lawan!" oceh Lefi ketika tim lawan jagoannya mendapatkan skor. Sudah berulang kali Lefi merutuk panjang lebar.
"Kan kalah lag--" Adya menyumpal mulut Lefi dengan mochi, membuat kalimat Lefi terpotong.
Vinan terkekeh, kehadiran orang-orang baru ini membuatnya lebih sering tertawa. Apalagi Lefi yang menurutnya sangat humoris. Mungkin benar kata Zynan, berteman dengan laki-laki itu asyik. Bisa tertawa bersama, mengeluarkan keluh kesah tanpa sungkan dan merasa seperti dilindungi ketika berada dalam jarak dekat. Terakhir, perhatian Vinan teralihkan, tidak lagi memikirkan masalah yang datang bertubi-tubi.
"Kalian udah bener-bener bisa adaptasi?" tanya Fani.
"Belum juga, gue masih bingung hafalin nama gulu-gulu. Dan kita nggak bisa bolos kayak dulu kalena belum tahu lebih spesifik tempat-tempat disini," jawab Lefi. Dia sudah rindu merasakan kebebasan yang hakiki. Ditambah lagi dirinya tidak bisa menggoda Bu Warti. Ah, apa kabar guru satu itu?
"Emang kalian biasanya bolos disekolah lama?"
"Pasti lah, terlalu patuh aturan nggak bagus juga. Sekali-kali nurutin maunya jiwa raga, karena peraturan dibuat untuk dilanggar," jelas Adya menurut sudut pandangnya.
"Ini nih ciri-ciri anak bandel! Disini guru BK-nya galak, jadi jangan coba-coba buat bolos kayak masa lalu lo pada yang gelap itu," tutur Fani geram.
"Emang di SMA Kutilang gurunya baik-baik?" tanya Vinan.
"Coba aja kesana, pasti belum ada sehali udah minta pindah!"
"Bodo amat, pokoknya Gardamawa yang the best!"
"Ish cewek ini!" Lefi akan mencubit hidung Fani dengan jari tangannya namun ditahan Arhan. "Untung sabal. Plinsip gue, nggak akan ganggu dan nyakitin olang cantik sama anak-anak bocil."
"Baguslah, gue termasuk dalam kategori prinsip lo," sahut Fani.
"Iya sih cantik, dikit."
plakk
"Akh!!" Lefi membalas pukulan Fani dengan cara mengacak-acak rambut Fani tanpa arah hingga berantakan.
"Dih! Bukan itu! Gue kategori anak-anak!" seru Fani nyolot namun malah membuat Lefi tertawa.
"Udah gede kayak gini anak-anak?" Lefi menunjuk-nunjuk wajah Fani. "Gak ada anak-anak yang punya badan seksi kayak lo! Dan lagi, lo pasti udah nggak polos kan?"
"Ini anak yah!!" Fani menarik jambul Lefi yang klimis, kini rambut lebat Lefi sudah berada dalam genggamannya. "Ngomong sekali lagi! Ngomong!!"
"I-iya! I-iya! Lepasin!!"
"Lepasin," ucap Arhan singkat namun membuat Fani berhenti. Cewek itu menurut kali ini, kapan lagi bisa sedekat ini dengan Arhan? Apalagi mengajaknya berbicara? Padahal dulu hanya bisa melihat lewat gambar yang dikirim dari grup-grup halunya.
"Vi!" panggil Lefi membuat Vinan yang tadinya fokus menonton pertandingan menjadi menoleh. "Ini cewek kenapa bandel banget dah! Bal-bal banget punya temen!"
"Eh elo yang bikin gue muak! Balik aja sana ke SMA Kutilang, gausah disini! Bisa tercemar nama baik Gardamawa punya murid kayak lo!"
"Eh lagian nih ya, kenapa sih kita nggak pacalan aja?"
tbc
•••
Tinggalkan jejak dengan apresiasi chapter ini. Sekecil apapun, itu sangat berarti buat saya:)jngn siders, oke? Ingetin kalo ada typo✨makasihh💚