
...-Ugal-Ugalan-...
Suara kaki Vinan yang terbalut flat shoes terdengar samar. Gadis itu menuruni anak tangga dengan sedikit tergesa, Fani sudah mengiriminya banyak pesan yang rata-rata berupa ocehan. Setelah mandi tadi Vinan ketiduran, berlanjutlah hingga hari menjelang malam. Kalau Fani tidak menelepon berkali-kali, Vinan pasti tidak bangun.
Malam ini dia akan berbelanja kebutuhan kelas, awalnya Damar menawarkan diri, namun ditolak halus karena takut terjebak suasana awkward saat berbelanja.
"Zy! Gue mau keluar bentar! Jaga rumah ya, jangan kelayapan. Kunci pintunya juga!" beo Vinan sembari berkaca. Dia mengeluarkan lip balm dari dalam tas selempang lantas mengoleskannya pada kedua sisi bibir.
"Eh bentar, gue mau tanya!" Zynan menatap tubuh Vinan yang berdiri didepan cermin. "Arhan, Lefi sama Adya emang beneran pindah sekolah ke Gardamawa?"
Tangan Vinan berhenti mengoles. Jika Zynan saja masih ragu, berarti kepindahan ini tidak benar-benar disusun jauh-jauh hari. "Iya, emangnya lo nggak tau kalau mereka pindah ke Gardamawa?"
"Gue tau, tapi masih rumor aja kalau mereka pindah ke Gardamawa."
"Kira-kira lo tau nggak alasan mereka pindah?" tanya Vinan. Semoga saja Zynan tahu sehingga tidak perlu repot-repot mencari kebenarannya sendiri.
"Gak juga. Tapi gue pernah denger kalau Arhan punya musuh disana, mau balas dendam kali."
"Musuh?? Namanya?"
"Kalau gue tau, udah gue bilangin dari tadi ****!" ucap Zynan nyolot.
"Pernah denger nama Fahrar nggak?"
Zynan tampak berfikir sejenak. "Kayaknya, kenapa? Gebetan lo yak?!"
"Enak aja! Najis!" Vinan berjalan mendekati kembarannya lalu menarik topinya, sontak Zynan mendengus dan menarik-narik lengan Vinan mencoba meraih topinya.
"Balikin!!"
Dengan masih tertawa puas Vinan mengembalikan topi adiknya, lucu sekali bisa menggoda Zynan dan membuatnya kesal. "Jangan lupa kunci pintu! Gue pergi!"
"Gak usah balik!" ketus Zynan.
Tak memperdulikan, Vinan tetap melangkahkan kakinya keluar rumah. Suara jangkrik langsung menyambutnya. Udaranya cukup dingin, untung saja dia memakai sweater.
Mengejutkan, Vinan sedikit tersentak ketika membuka gerbang langsung melihat sosok laki-laki tinggi yang duduk diatas motor.
"Arhan?" gumam Vinan sambil menutup rapat gerbangnya.
Merasa yang ditunggu-tunggu sudah keluar, Arhan membuang putung rokok ditangannya lalu diinjak hingga tak kembali mengeluarkan asap. "Lo mau keluar?" tanya Arhan pada Vinan. Sudah pasti, Zynan tak mungkin berpenampilan feminim apalagi menggerai rambutnya.
"Iya, lo ngapain disini?"
"Jalanan bebas." Arhan berjalan mendekat lalu menarik lengan Vinan menuju motornya.
"Eh, gue mau pergi!"
"Gue anterin, lo mau kemana?"
"Gak, gue mau naik taksi," tolak Vinan lalu melepaskan cekalan Arhan yang cukup kuat.
"Didepan pertigaan ada Fahrar, sama anak buahnya."
Mendengar itu Vinan langsung menghentikan langkahnya. Tidak salah dengar kan? Fahrar? Sumpah, dia benci nama itu. Gadis itu berbalik, menatap wajah Arhan yang tertimpa cahaya remang-remang.
"Ngaco, ngapain Fahrar di sini?"
"Dia mau bawa lo, ke markasnya."
Vinan meremas jari, menyumpahi Fahrar dalam hati. Apa lagi mau laki-laki itu? Sudah jelas-jelas dia tidak salah apa-apa, namun tetap diganggu saja.
"Tapi gue harus pergi, Fani udah nunggu gue,"
"Gue anterin sampe sana, abis itu gue tinggal." Arhan menaiki motornya lalu memakai helm. Tangannya mengisyaratkan Vinan untuk segera naik dibelakangnya. Bau maskulin langsung menyeruak, memang benar wangi parfumnya tidak norak. Kelihatan mahal malah, tapi kalau lama-lama pernafasan Vinan bisa sesak.
"Kemana?"
"Toko serbaguna deket Indomaret."
Lampu depan motor Arhan menyala, disusul suara mesinnya. Melaju kencang, Vinan hanya berani berpegangan pada besi belakang. Laju kecepatan sedikit memelan saat akan sampai di pertigaan, disana tidak terlihat ada wujud Fahrar dan anak buahnya. Apa lelaki ini sedang mempermainkannya?
"Nggak ada Fahrar!" teriak Vinan karena ramainya suara kendaraan di jalan raya.
"Dia pasti sembunyi!"
Motor Arhan menyeberang, mengambil laju kiri. Sampai detik ini semuanya masih aman, baik-baik saja. Kendaraan lumayan ramai, ada yang ugal-ugalan ada juga yang berkendaraan santai. Hingga sebuah suara sepeda di blayer berkali-kali terdengar mendekat, memekakkan telinga pengendara yang melintas.
"Pegangan!" teriak Arhan. Dia sudah punya firasat kalau gerombolan motor dibelakang adalah geng Fahrar. Suara motornya bukan satu dua, terdengar banyak sekali dibelakang.
Dengan ragu, Vinan menaruh tangannya di bahu Arhan. Empunya juga tidak protes, malah semakin menambah laju motornya secepat mungkin. Meliuk-liuk menyalip beberapa kendaraan didepan, terus melaju kencang membelah jalanan agar terhindar dari gerombolan Fahrar.
Arhan mengumpat, didepan sana ada lampu merah. Semoga saja dia bisa lolos disana, bukannya terjebak.
"Arhan!" teriak Vinan ketika lelaki itu semakin memacu motornya lebih cepat, rambutnya sudah terbang tak tentu arah, berantakan, sebab tidak memakai helm. Sungguh diluar dugaan, dia tidak mengira Fahrar akan menyerang dengan motor sebanyak ini.
Sedetik sebelum lampu merah menyala, Arhan sudah berhasil lolos dan belok ke kiri mengikuti alur jalan aspal. Sepertinya geng Fahrar terjebak dibelakang sana.
Laju motor mulai berkurang, Vinan pun sudah mulai rileks. Cara Arhan membawa motor sungguh gila-gilaan, bagaimana kalau mereka menabrak atau terpeleset dijalan? Vinan tidak ingin mati secepat itu.
"*******!!" umpat Arhan ketika kembali melihat salah satu motor geng Fahrar yang sempat akan menyerempet motornya tadi. Cowok dibelakangnya sungguh nekat, dia pasti menerobos lampu merah.
"Pegangan!" Vinan kembali memegang pundak Arhan dan lelaki itu kembali beraksi dengan motornya. Suara kenalpot yang gaduh menggangu pejalan kaki, semoga saja tidak ada polisi yang bertugas.
Secara mendadak bahkan tanpa mengerem Arhan membelokkan motornya ke kanan, motor dibelakangnya berhasil ditipu dan tetap melaju lurus. Sekarang Arhan tidak ingin tenang-tenang. Dengan masih dalam kecepatan tinggi, dia mengendarai motornya menuju basecamp. Dia tidak mungkin bisa melawan geng Fahrar sendirian, lelaki itu butuh teman-temannya yang memang sudah berangkat ke basecamp sejak tadi.
"Kemana? Tokonya kan belok kiri tadi?!" tanya Vinan.
"Kalo lo mau ketangkep Fahrar, lo balik ke sana!"
Vinan mendesah, Fani pasti akan mengomel panjang setelah ini. Apalagi temannya itu sudah menunggu dari tadi.
Beberapa saat kemudian, motor Arhan berbelok memasuki sebuah gang. Vinan masih ingat, didepan sana ada rumah yang digunakan sebagai basecamp.
cetek
Arhan memutar kunci lalu melepas helm nya.
Vina turun sambil merapikan rambutnya dengan jari tangan. Hawa dingin angin jalanan tadi masih membekas, tengkuknya terasa dingin apalagi telapak tangannya yang mengeluarkan keringat.
Diambang pintu ada Lefi yang menyesap rokoknya. Sedangkan diteras depan ada Aleta yang menatap Vinan sinis, tidak suka jika harus terus-terusan bertemu dengan Vinan yang dimatanya tampak seperti pelakor.
"Gimana? Dikejar?" tanya Adya.
"Gila, tuh anak bawa semua anak buahnya kali ya! Banyak banget!" protes Arhan lantas duduk dikursi kayu.
Vinan masih terpaku, bingung harus apa. Ah ya! Fani! Dia buru-buru mengeluarkan ponselnya untuk menelepon Fani. Namun sayang, sahabatnya itu tidak mau mengangkat, marah?
"Ck," Vinan terus mengubungi nomor Fani dan mengirimnya pesan. Tidak ada yang dibaca ataupun diangkat, sial.
"Sini atuh Vi!" ajak Lefi. Merasa tidak enak saja kalau Vinan berdiri dihalaman tanpa dipersilahkan masuk.
"Disini ada taksi nggak? Gue harus jemput temen gue, dia udah nunggu."
"Fahrar masih ngejar lo, palingan dia lagi mencar nyari-nyari," sahut Figo.
"Pergi-pergi aja kali, nggak usah sok. Lagian mau-mauan aja ngelindungin pelakor, buang-buang tenaga. Kalo gue jadi lo sih udah--" Figo membungkam mulut Aleta dengan sebuah kecupan. Tidak ingin pacarnya meneruskan kalimat pedas untuk Vinan.
"Apaan sih!" protes Aleta dan Figo hanya membalas dengan belaian lembut.
"Gue aja yang jemput, cewek kemalin pagi kan?" tanya Lefi menawarkan diri.
Vinan mengangguk. "Iya, namanya Fani. Dia ada di toko serbaguna deket Indomaret."
"Ohh... Fani? Oke-oke, cabut dulu!" Lefi menoyor bahu Adya lantas menaiki motornya. Mulai mengendarai hingga suara motornya tidak terdengar lagi.
"Duduk dulu," ucap Arhan.
Dengan masih mendapat tatapan tajam, Vinan berjalan mendekat. Dia tidak suka dengan cara Aleta yang terus-menerus menghujatnya dengan kata-kata kurang pantas. Kenapa salah paham terus berkali-kali menimpa dirinya?
"Untung ada Abil yang ngasih tahu, kalau nggak lo pasti udah dibawa ke markas sama Fahrar," celetuk Figo.
"Abil? Dia nggak kena marah kalau bocorin itu?"
"Diem diem dia ngasih tahunya."
Sekarang, Vinan benar-benar menyumpahi Fahrar dalam hati. Rasa ingin mengutuknya hingga menyantetnya tiba-tiba terlintas dibenaknya. Laki-laki ini sungguh keras kepala, sudah dijelaskan berkali-kali namun masih menganggap Vinan ada hubungan khusus dengan Arhan.
Sejujurnya Vinan ingin bertanya, apa tujuan Fahrar melakukan ini padanya? Juga apa manfaatnya? Tidak ada yang dirugikan atau diuntungkan. Hanya dirinya yang tersiksa.
Bau nikotin terus melintasi hidung Vinan, para lelaki didekatnya ini tidak berhenti mengisap rokok lalu mengeluarkan asap lewat mulut. Terus mencoba berpaling, Vinan tetap tidak bisa menghindari asap-asap itu. Heran, kenapa Aleta bisa betah, bahkan lebih mepet Figo yang tidak jauh beda dengan dua lelaki ini.
Sampai malam pun motor Lefi tidak terlihat, apa Fani benar-benar marah atau sengaja menolak ajakan Lefi? Yang jelas Vinan ingin pergi dari sini. Andai saja jalanan sudah aman, tidak diblokade oleh geng Fahrar. Alhasil Vinan hanya memainkan ponselnya, menunggu notifikasi dari Fani sambil menunggu Arhan mengantarkannya pulang kembali.
tbc
•••
Tinggalkan jejak dengan apresiasi chapter ini. Sekecil apapun, itu sangat berarti buat saya:)jngn siders, oke? Ingetin kalo ada typo✨makasihh💚