L O K A R E N J A N A

L O K A R E N J A N A
7.TEMPORARY



...-Temporary-...


"Mau kemana?" Tanya Raymond ketika melihat Arhan turun dari lantai atas dengan pakaian rapi tidak seperti biasanya.


"Bukan urusan papa."


"Arhan!!"


Lelaki itu menghentikan langkahnya lalu mengeluarkan senyum pahit. "Apa?!"


"Papa tanya kamu jawab yang benar. Tidak menghargai orang sama sekali."


"Arhan mau ketemu Mama." Ucap Arhan sembari memutar-mutar ponselnya diantara jari-jari tangan.


"Kenapa? Mama kamu ada disini!" Raymond menunjuk Tari yang duduk diatas sofa, wanita itu sedang unboxing barang belanjaannya hari ini. Mahal, branded dan banyak jenis tentunya.


"Mama Luna. Itu mama aku." ucap Arhan penuh penekanan. Sampai detik ini ia masih bingung dengan jalan pikiran papanya, apa kurangnya Luna hingga Raymond berani selingkuh terang-terangan secara live dihadapan mamanya? Apa Luna kurang cantik? Atau Luna kurang seksi tidak seperti Tari yang masih berbodi seksi seperti gitar spanyol? Atau masalah yang umum terjadi, bosan.


Luna adalah orang paling sabar baginya, tidak ada wanita yang bisa diam saja ketika melihat suaminya sedang bercumbu dirumahnya, gadis bawahi kata 'dirumahnya'


"Bisakah kamu tidak menyebut nama ****** itu?!!" Gertak Raymond. Ia merasa sensitif dengan nama Luna, entah karena malas mendengarnya atau karena rasa bersalah yang bersarang didalam dirinya tapi masih ragu untuk mengakuinya.


"****** pa?" Omo! Papanya satu ini hebat sekali. Mereka bersama-sama melewati alur hidup yang turun naik selama hampir 20 tahun lamanya, lalu sekarang Raymond menyebut Luna sebagai ******?


"Wow. Seharusnya papa sadar siapa yang pantas dapat predikat ****** disini! Rupanya papa cuma pinter didunia bisnis, tapi nggak dengan masalah hati!" Arhan menatap mata Raymond tanpa rasa takut, kemarahan yang membara tampak dari kedua iris matanya. Lelaki itu berbalik lalu pergi berjalan ke luar, terdengar suara deru motor jelas yang kian menjauh setelahnya.


"Sabar sayang." ucap Tari lembut. Wanita itu hanya berani menyimak perdebatan keduanya, apa posisinya salah disini? Ia hanya ingin bersama dengan laki-laki yang dicintainya, bukan merebutnya dari Luna lalu orang bisa sesuka hati menyebutnya 'pelakor'


•••


Arhan itu memacu motornya dengan kecepatan penuh, tidak peduli dengan bagaimana ramainya jalanan raya. Tujuannya sekarang hanya satu, menjemput Luna di bandara lalu melepas rindunya. Sudah sekitar 3 Minggu lamanya ia tidak bertemu Luna semenjak perceraian hari itu.


Hari dimana Arhan hampir bunuh diri lalu tidak jadi, itu adalah saat-saat terakhirnya bersama Luna sebelum wanita itu pergi ke Rusia. Rasa rindu dan ingin bertemu itu sudah tidak dapat dipungkiri, semuanya menjadi satu. Benci, rindu, kecewa, lelah dan entahlah, Arhan rasa ia adalah makhluk paling menyedihkan di dunia.


drrtt drrtt drrtt


Ponselnya bergetar dari balik jaket Supreme yang dipakainya. Arhan sedikit memelankan laju motornya dan segera mengecek siapa gerangan yang mengganggu perjalanannya.


"Halo."


"Sayang kamu dimana?" Tanya seorang dari sambungan seluler.


"Bentar lagi Arhan sampai sana. Tunggu ya ..." ucapnya lembut walau bercampur suara mesin.


"Kamu lagi dijalan? Kenapa kamu angkat telpon?! Bahaya tau! Kamu tau kan apa resikonya? Terus kenapa kamu--"


"Udah yah ... Arhan bentar lagi nyampe. See you."


tut


Arhan memasukan ponselnya kembali dan segera memacu motornya lebih cepat sebelum ibu negara marah.


Tak lama setelah itu ia sampai di Bandara Soekarno Hatta. Dengan langkah lebar ia berjalan memasuki bandara dengan sesekali berbincang melalui ponsel ditelinganya.


"Ketemu!"


tut


Panggilan terputus, setelahnya sudah ada seseorang yang memeluk tubuhnya dari belakang. Tangan putih mulus itu melingkar sempurna dipingangnya. Aroma Luna yang khas tercium di hidungnya.


"Mama kangen sayang ..." Arhan berbalik dan menghujani banyak kecupan diwajah Luna.


"Arhan juga kangen." Ucap Arhan lirih sembari membalas pelukan Luna.


plak


"Awkh ... sakit maa ..." rintih Arhan walau tidak merasakan sakit, ia hanya ingin bermanja-manja saja.


Setalah moment melepas rindu kini saatnya moment yang dirindukan. Luna merubah raut wajahnya. "Kamu tadi kenapa angkat telepon?" Tanya Luna dengan mata melebar.


Arhan menggaruk tengkuknya dengan cengiran yang terbit diwajahnya. "Nanti kalau Mama marah gegara Arhan nggak angkat telepon gimana?"


"Tapi kamu tau kalau itu bahaya?!"


"Iya, tenang aja. Anak mama udah jago kok bawa motor." Ucap Arhan santai sembari mengelus-elus bahu ibunya.


"Jago jago! Tetep aja! Kamu itu bisa bahaya kalau nyetir sambil telepon. Kamu nggak pernah dapet pelajaran tentang lalu lintas? Kamu tau--"


Arhan membekap mulut Luna dengan sebuah kecupan. "Mending sekarang kita langsung jalan." Dia langsung mengambil alih koper Luna dan mengandeng Mamanya keluar area bandara.


Kedatangannya Luna hari ini adalah untuk mengurusi beberapa cabang perusahaan hasil dari perpisahannya dengan Raymond, bisa diistilahkan dengan harta gono-gini. Kebetulan sekali. Dan dengan kesempatan ini ia bisa bertemu Arhan, jiwa raga dan jantungnya. Arhan pun masih berhubungan baik dengannya, karena setahunya lelaki itu membenci Raymond karena tega mengkhianati Luna dan sekarang semakin benci karena kehadiran dua wanita yang sama sekali tidak diinginkannya.


"Kamu bawa motor?" Tanya Luna.


"Kan tadi Mama lihat sendiri kalau Arhan naik motor."


"Terus Mama ke hotelnya gimana?"


"Ya Mama naik motor sama Arhan lah." Jawab Arhan asal.


"Koper?"


"Arhan pesenin taksi nanti."


Lelaki itu melambaikan tangannya menyetop taksi yang lewat dan segera menginstruksikan pengemudi untuk membawa koper Luna ke hotel.


"Lho lho taksinya kok jalan??!" Tanya Luna.


"Mama naik motor sama Arhan." Lelaki itu menuntun Luna untuk menaiki motornya.


"Kamu udah gila? Nggak mau mama." Bantah Luna, ia juga masih ingat umur untuk tidak menaiki motor Arhan yang terbilang tinggi.


"Kamu itu ya! Anak nakal!" seru Luna sembari menempeleng kepala Arhan, sesuatu yang dirindukannya.


"Saatnya bernostalgia masa muda!" Seru Arhan lalu melajukan motornya pelan menuju hotel tempat Luna menginap sementara.


•••


"Gimana papa kamu?" Tanya Luna seraya membongkar isi kopernya. Mereka telah sampai dikamar hotel yang terletak dilantai empat.


"Sama aja. Ada dua ****** didekatnya." Jawab Arhan santai.


"Hush! Nggak boleh ngomong kayak gitu!" omel Luna yang kini menatap anaknya.


"Apa Arhan salah? Emang bener kan gitu? Mama pasti juga tau gimana sifat mereka berdua." cebik Arhan langsung beranjak dan memeluk Luna dari belakang. "Arhan nginep disini ya?"


Dengan cepat Luna menggeleng-gelengkan kepalanya. "No no. Kamu besok harus sekolah, jadi kamu harus pulang."


"Please lah maa ... Arhan kangen sama Mama." Luna berbalik dan menatap wajah Arhan yang menggemaskan.


"Lagian mama cuma sebentar disini, besok malam harus kembali, setelah urusan mama selesai, saat itu juga mama pergi. Kamu mau mama diseret paksa papa kamu buat balik ke Rusia?" Raut muka Arhan berubah sendu. "Apa Mama nggak bisa lebih lama lagi?"


"Kamu ingin apa? Mama peluk?" Luna memeluk Arhan dan mengelus-elus punggungnya. "Pengen mama cium?" Luna mengecup semua bagian wajah Arhan tanpa terkecuali. "Atau pengen mama--"


"Arhan pengen tinggal sama mama. Arhan ikut mama ya? Mungkin lebih baik tinggal sama mama daripada orang-orang rendahan seperti mereka."


"Jangan ngomong kayak gitu, semua orang baik. Hanya tergantung bagaimana cara kita memandangnya. Mungkin mereka masih perlu beradaptasi dengan kamu, mereka ingin mengenal kamu lebih dekat." Luna merapikan rambut Arhan dengan jari-jari tangannya.


Arhan mendengus, ia memilih untuk berdiri dan melempar tubuhnya ke atas ranjang.


"Please ma.. Arhan nginep disini ya? Semalam saja."


"Nggak bisa sayang ..." Luna duduk ditepi ranjang dan mengelus-elus surai anaknya. "Kamu baik-baik ya, jangan terlalu benci sama papa kamu."


"Gimana Arhan nggak benci? Lihat kelakuannya." adu Arhan yang kini mulai manja.


"Bagaimanapun juga papa yang menghidupi kamu, papa kerja keras buat siapa? Buat kamu." Luna mengambil sesuatu dari tas warna hitam bermerek Hermes. Ia menyodorkan kotak berwarna biru. "Tolong berikan pada papa kamu." titahnya.


"Apa? Kenapa Mama nggak ngasih sendiri ke papa?" Tanya Arhan sendu. Sebagai anak korban broken home pasti selalu menginginkan yang terbaik untuk keluarganya, termasuk berharap agar Luna mau kembali dengan Raymond. Tapi agaknya sudah terlambat.


"Lebih baik kamu yang ngasih, kata kamu ibu tirinya jahat. Mama takut ..." Kekehnya membuat Arhan semakin sebal.


"Mama beneran nggak mau ketemu papa lagi?" Tanya Arhan yang kini sudah tiduran dipangkuan Luna dengan mendusel-dusel tempat tinggalnya selama 9 bulan dulu.


"Tidak ada yang perlu diperbaiki, semuanya sudah clear." Luna mengelus-elus rambut hitam Arhan dan membuat empunya nyaman. "Gimana sekolah kamu?"


"Baik pastinya." Jawab Arhan sombong.


Walau nakal, dablek, rese, bandel, ngelunjak dan kawan-kawan sejenis lainnya, Arhan itu tergolong dalam siswa berotak atau siswa berprestasi. Nakal tapi pintar, paham nggak si? Jadi ada yang dibanggain gitu dari sikapnya yang tidak begitu baik.


"Tapi tetep aja nakal." Cibir Luna. Ia pernah mendapatkan cerita kalau Arhan dulu pernah menghancurkan gerbang sekolah karena tidak dibukakan saat dirinya terlambat juga pernah bolos sekolah demi ikutan tawuran disekolah tetangga.


"Nakal itu wajar ma ... masa muda nggak boleh disia-siakan." Kekeh Arhan.


"Dasar kamu!"


"Tapi kamu nggak pernah mainin cewek kan? Nggak playboy kan? Udah pernah pacaran belum? Sama siapa? Berapa lama? Ceweknya gi--"


"Mama kepo." sela Arhan.


"Jadi bener anak mama yang bandel ini udah cinta-cintaan?" Goda Luna.


"Ma ..." rengek Arhan.


"Iya iya ..."


"Tapi kamu nggak ngerokok kan? Nggak pernah nyentuh bir kan? Nggak pernah--"


"Arhan pulang dulu ya ma ..." Arhan langsung mencium wajah Luna dan menyalimi tangan kanannya lalu berlari keluar kamar hotel melewati pintu kayu.


brakk


"Arhan!! Mama belum selesai bicara!!" Teriak Luna yang sudah tau jawabannya, Arhan pasti pernah menyentuh barang-barang itu.


•••


"Titipan dari mama." Ucap Arhan datar seraya melempar kotak biru tadi dan segera beranjak ke kamarnya.


"Tidak punya sopan santun." lirih Raymond yang langsung membuka kotak itu. Tatapan matanya berubah sendu, cincin nikahnya? Raymond kira Luna sudah membuangnya. Dielusnya cincin dengan batu berlian itu.


Tidak! Mari lupakan masa lalu.


"Huftthh ..." Arhan melepas jaketnya dan segera merebahkan tubuhnya yang lelah. Matanya menatap langit-langit kamar, ia tau Luna masih mencintai Raymond walau sulit diakui. Jauh di lubuk hati yang paling dalam, Luna tidak ingin bercerai dari Raymond. Beliau tidak masalah jika suaminya membawa banyak wanita ke rumah untuk sekedar bercumbu atau bermesraan. Jika tidak digugat oleh Raymond, ia juga tidak akan bercerai dan menyandang status janda sekarang. Ia masih cinta, kalian boleh sebut Luna sudah dibutakan oleh kekuatan cinta.


Arhan menyugar rambutnya lalu bangkit duduk kembali dan melangkahkan kakinya menuju balkon. Dinikmatinya hembusan angin malam yang menerpa wajahnya membuat sebagian rambutnya goyang.


Andai hidupnya bisa bersinar terang seperti bulan sabit diantara bintang-bintang diatas sana. Ia rasa hidupnya sudah suram, semuanya hancur lebur tanpa sisa. Harapannya saat ini adalah bisa menemukan kebahagiaan lain dikemudian hari.


Pandangannya turun ke bawah, tak sengaja atau sudah takdir yang menentukannya. Arhan melihat tubuh Vinan yang duduk diatas sofa tunggal yang terletak dibalkon kamar, gadis itu memejamkan matanya dengan bibir yang terus bergumam samar terdengar. Telapak kakinya yang terbalut kaos kaki berwarna abu-abu itu digerakkan naik turun mengetuk lantai.


"Bintang jatuh. Bintang jatuh. Bintang jatuh. Bintang jatuh. Bintang jatuh. Bintang jatuh. Bintang jatuh."


"AISH! GUE PENGEN LIHAT BINTANG JATUH SEKARANG!" Pekik Vinan sambil mengusap wajahnya kasar. Dia ingin mengungkap sebuah permintaan dan langsung diijabah sekarang tanpa ditunda-tunda. Kapan yang Maha Kuasa mendengarkan suara hatinya?


tbc


***


Voment jangan lupa✓ maaf dan terima kasih💚stay disini🌜 Salam hangat buat yang baca:)