
...-Peringatan Syelena-...
Hari Senin tiba.
Ketiga insan itu berjalan beriringan sambil sesekali mengulas senyum karena candaan Liam. Mungkin beberapa merasa asing dengan adanya seorang cewek manis berkacamata bulat yang ikut berjalan bersisian dengan Liam, biasanya hanya ada Vinan kalau tidak Fani yang ikut berpartisipasi.
"Terus? Fani dihukum gitu?" tanya Liam dan di angguki receh oleh Vinan.
"Bener banget! Gue pengen ketawa, tapi disana ada pak Rakha jadi gue tahan. Sumpah, gak kuat gue liat wajahnya," jelas Vinan laknat.
Mereka sedang membicarakan Fani yang kena hukum pak Rakha karena ketahuan memakai kaos kaki hitam, padahal ini hari Senin. Kelalaian Fani menjadi asal mula masalah konyol ini.
Safa, dia hanya ikut menyimak dan sesekali tertawa mendengar cerita Vinan yang menjelaskan bagaimana nasib Fani saat di ruang BK, dia tipikal orang pendiam. Gadis itu ikut bergabung karena akan pergi ke ruang OSIS bersama Liam, jabatan Safa adalah sebagai sekertaris dalam organisasi. Awalnya hanya mereka berdua. Lambat waktu Vinan ikut nimbrung karena saat lewat tidak sengaja melihat keduanya.
Tiba saatnya, mereka harus berpisah di pertigaan. Yang satunya harus belok kiri untuk ke ruang OSIS, sedangkan Vinan terus lurus menuju kelasnya.
"Sukses ya!" ucap Vinan memberi semangat.
"Yok!" Liam tersenyum lantas kembali berjalan berdampingan bersama Safa.
Vinan melangkah sedang. Suara bola basket milik tim unggulan sekolah terdengar nyaring. Tatapannya hanya lurus, tidak ada niatan untuk melirik cowok-cowok berkeringat yang bermain dihalaman.
FYI, saat ini kelasnya jamkos. Guru yang mengajar hanya titip tugas kemudian pergi untuk menghadiri acara seminar. Pantas saja suasana koridor nampak lengang, hanya terdengar suara lantang guru-guru yang mengajar di kelas.
Srettt! Dugg!
Rambut Vinan yang tergerai terhempas bebas menimpa wajahnya. Pergelangan tangannya dicekal kuat menempel dinding koridor. Kakinya sedikit berjinjit.
"Lo udah bilang kalau lo nggak suka Fahrar! KENAPA WAKTU ITU LO TERIMA COKELAT DADI FAHRAR, CABE!" tuntut Syelena mengerikan. Matanya yang tegas karena eyeliner hitam tampak melebar.
Vinan memejamkan mata ketika deru nafas Syelena menerpa. Dia bingung harus bagaimana. Ternyata Syelena sangat memperhatikannya hingga tahu soal cokelat titipan tempo hari.
"Maaf kak. Gue beneran nggak ada niat buat nerima cokelat dari Fahrar," jawab Vinan lirih, "gue nggak makan cokelat itu, gue kasih orang. Sumpah."
Memang benar, cokelat Silverqueen dari Fahrar ia berikan pada seorang anak kecil saat berada di halte sore itu. Bukan tidak menghargai, dia sedikit takut dan terngiang kata-kata Fani.
"Sama aja, waktu itu lo nerima cokelat dari Fahrar. Gue gak peduli mau lo kasih atau apa, intinya lo nerima dia secara nggak langsung! Gue udah pernah peringatin! Jangan deket-deket Fahrar, tapi lo malah ngelunjak! Punya malu nggak sih?!" gertak Syelena. Karena Fahrar sedang dalam fase berjuang mendapatkan Vinan, usahanya untuk bisa kembali balikan malah sia-sia. Fahrar tidak pernah lagi meliriknya.
"Ini peringatan gue terakhir! Kalau lo beneran nggak suka sama Fahrar! Buktiin! Jangan cuma omong doang!"
"I-ya kak. Maaf... Gue juga nggak sudi... deket sama Fahrar. Tolong kakak bilang juga... jangan ganggu gue," ucap Vinan tersendat-sendat. Ia berlari cepat meninggalkan The Molest yang menatapnya berkilat-kilat.
•••
"Udah lihat buktinya?" tanya seseorang tiba-tiba.
Vinan berhenti mendadak. Menoleh ke kiri, melihat lorong loker yang sepi. Disana, Fahrar berdiri sendirian dengan angkuhnya. Bibirnya terangkat sebelah, menakutkan.
"Syelena nggak bakal biarin lo gitu aja selama gue masih dideket lo," Fahrar berjalan mendekat, tangannya akan mengelus pipi Vinan namun langsung ditepis. "Mending jadian sama gue, lo bakal aman."
"Mau lo apa si?" tanya Vinan setengah menahan emosi, "lo pengen dapetin gue karena Arhan kan? Gak akan!"
Dibalik suaranya yang lantang, tersimpan rasa takut yang terpendam. Dari dulu Vinan tidak ingin ada masalah dengan orang famous, namun kali ini ia harus memberanikan diri untuk menyelesaikannya... Sendiri.
"Arhan?" Fahrar mendekatkan bibirnya tepat ditelinga Vinan. "Sampah itu bakal mati. Dan gue nggak suka lo bahas dia, apalagi didepan gue. Ngerti?"
Leher Vinan meremang.
"Gimana kalau gue beneran suka sama lo?" Fahrar masih berbisik. "Dan, gimana kalau gue beneran bunuh sampah itu dalam waktu dekat? Lo nggak akan tau..."
Vinan terdiam. Membisu. Lidahnya kelu.
Tanpa disangka, Fahrar malah menepuk-nepuk pelan puncak kepalanya, sambil tersenyum?
"Lo nggak akan bisa seenaknya, hukum di Indonesia masih ada."
"Gue bahkan bisa bunuh Arhan sekarang juga, hukum? Persetan. Gue nggak takut."
Dari pada pembicaraannya nanti merembet kemana-mana, Vinan memilih untuk kembali berjalan cepat meninggalkan Fahrar yang menatap intens punggungnya.
"GUE TUNGGU KEJUTAN SELANJUTNYA!" teriak Fahrar membuat pembuluh darah tampak tegang dilehernya.
tbc
•••
Tinggalkan jejak dengan apresiasi chapter ini. Sekecil apapun, itu sangat berarti buat saya:)jngn siders, oke? Ingetin kalo ada typo✨makasihh💚