L O K A R E N J A N A

L O K A R E N J A N A
13.TEKA-TEKI



...-Teka-Teki-...


"Tapi Han, belum tentu juga kalau itu gengnya Bowo." Sela Figo ditengah perdebatan.


"Tapi gue lihat sendiri, waktu gue hajar tuh cowok, gue narik kerah bajunya dan gak sengaja lihat tato kepala ular sama tiga bintang diatasnya. Dan gue yakin kalau itu tanda gengnya Bowo. Karena tato itu juga ada ditangan Bowo, lebih gede malah." Jelas Arhan. "Waktu gue cek dileher cowok lain juga ada tato itu. Gak mungkin kalau itu cuma tato biasa, pasti ada artinya."


"Ada benernya juga ..." Adya menghentikan kalimatnya membuat kedua laki-laki itu tampak serius menyimak. "Kalian ingat kan waktu ada mayat cowok dideket jalan tempat basecamp kita? Waktu gue cek tuh mayat, emang ada tato yang lo omongin dilehernya. Tapi setelah ada mobil hitam lewat sana, tiba-tiba mayat itu udah nggak ada. Gue yakin kalau mobil itu yang bawa, bisa aja mereka yang bunuh terus mau hilangin bukti supaya nggak ketahuan polisi."


"Jadi maksud lo, gengnya Bowo yang bunuh tuh cowok?" Tanya Figo menebak-nebak.


"Kayaknya si iya. Lagipula waktu itu gue sempet lihat wajah Reus ada didalam mobil itu. Gak jelas juga si, tapi gue yakin kalau itu dia." Jelas Adya sembari mengingat-ingat kejadian beberapa minggu yang lalu.


"Emang Reus gengnya Bowo?" Tanya Figo dan diangguki oleh Adya. Teka-teki tentang siapa dan motif pelaku menyerang Arhan sore itu masih menjadi misteri, walau ada banyak kemungkinan tapi belum tentu itu realitanya. Mereka tidak boleh saling menuduh satu orang karena musuh diluaran sana masih banyak berkeliaran.


Adya menatap langit-langit ruangan sembari terus mengingat-ingat hal yang diketahuinya, "Kalau nggak salah nama gengnya tuh ... zonders. Dulu temen gym gue ada yang ikutan geng Bowo, karena dia tahu konsekuensinya jadi dia pilih keluar. Mana harus bayar lagi kalau mau keluar geng."


"Apaan coba." Figo meneguk cup cofee yang tinggal seperempat diatas meja kayu lalu mengelap sudut bibirnya yang belepotan.


Kini mereka berempat sedang berada di UKS, ya termasuk Lefi juga ada. Seharusnya mereka sedang belajar mapel bahasa Inggris dikelas, namun karena mereka dibekali otak yang cerdas, mereka memilih mengambil alasan dan pergi ke UKS untuk sekedar berleha-leha juga menghindari pelajaran yang bikin pusing kepala. Lagi pula ini adalah jam terakhir dan bel pulang akan berbunyi kurang dari setengah jam.


"Tapi apa alesan Bowo nyerang Arhan sore itu?" Tanya Figo.


"Bisa aja dia dendam, dia kalah terus kan tuh waktu balapan." Sahut Adya.


"Emang nggak ada gunanya juga, bagaimanapun juga kita pasti kalah kalau lawan mereka."


Figo menggebrak meja dihadapannya, "Bener juga tuh, jumlah mereka udah kayak anak rohis mau pengajian!" 


"Woi anjing!!" Seru Lefi tiba-tiba. Matanya tampak merah masih mengantuk, dia sekarang sedang tiduran di atas matras hitam tumpuk tiga, Hoodie nya ia lepas dan digunakan untuk menutupi wajahnya ketika tidur.


"Sans kalee!!" Seru Figo. Ia menarik kaki Lefi ke bawah membuat empunya terjatuh ke lantai.


Glubuk!


"******! Gue tu ngantuk, jangan teriak-teriak napa." Lefi bangkit dan ikut duduk bersila disamping Arhan. Matanya dikucek-kucek menghilangkan belek yang menutupi. "Semalem gue abis ikut tahlilan kalena makilin bokap gue yang ada dilual kota, ditambah tadi pagi disuluh angkat-angkat kulsi sama Bu Walti. Lasanya kayak mau meninggal."


"Aminn!" Seru Adya dan Figo semangat.


"Gue cuma becanda kali!" Sarkas Lefi. Dengan sempoyongan ia mencoba bangkit lalu berjalan keluar guna mencuci wajahnya yang nampak kumal. Beruntung tidak ada iler meleleh dipipinya.


"MABAR SKUY!!" Ajak Figo antusias. Lelaki itu mengeluarkan ponselnya lalu menyalakan icon WiFi yang sudah diketahui password-nya. Kaum-kaum hacker mah bebas.


"Kali ini lo lawan gue." Tantang Adya membuat Figo terkekeh. "Kalau lo kalah Aleta buat gue."


Cetak! Cetak!


Sebuah kemoceng langsung mengenai kepala Adya hingga beberapa kali. "Cari mati anying?! Cewek gue lo jadiin taruhan, mau potong leher ato pecah kepala?" 


"Woles kale!" Adya menyaut kemoceng berbulu itu lalu melemparnya ke sudut ruangan. Kepalanya sedikit nyeri karena pukulan tadi. Bukan bulu-bulu halus yang digunakan untuk memukul, melainkan gagangnya yang panjang.


"Gue nunggu Lefi ajalah." Arhan merogoh kantong celananya guna mencari ponsel, disebelah kiri tidak ada dan saku kanan juga tidak ada. "Woi lo pada maling hp gue ya?" Tuduh Arhan yang tetap meraba-raba setiap saku pakaiannya.


"Ya kali. Merek iPhone gue lebih mahal daripada punya lo ******." Ledek Figo.


"Hp gue ilang ***!" Umpat Arhan. Ia melepas jaketnya lalu mengibas-ibaskannya berharap ada benda jatuh. Bukannya ponsel, beberapa uang koin limaratusan malah keluar dari jaketnya hingga menimbulkan suara.


"Abis ngamen dimana? Niat banget ngumpulin ginian?" Tanya Figo sembari memunguti koin-koin yang mungkin tidak ada harganya baginya.


"Bacot lu! Cariin hp gue." Titah Arhan.


"Kenapa si? Ada konten ples ples nya ya? Wah parah lo ... Gua aja masih bocil."


"Gue mah kacang." Kekeh Adya.


"Kentang ****!"


"Ketinggalan dikelas kali." Ucap Figo. Ia menoleh ke kiri dan mendapati Lefi yang berjalan mendekat dengan wajah lebih segar dari pada tadi. Dengan jahil Lefi mengibas-ibaskan tangannya yang masih basah membuat Figo menutupi wajahnya dengan tangan menyilang.


"Basah *****!" Protes Figo.


"Hp gue mana?!" Tanya Arhan yang masih mencari-cari. "Lo yang maling?" Tanya Arhan menunjuk Lefi.


"Yaelah, gak gitu juga!" Sangkal Lefi. "Kenapa? Ilang hp lo?"


"Kalau nggak ilang juga nggak dicari lepii!" Ketus Figo mulai kesal, lola sekali otak Lefi. Gini nih ciri manusia kurang nutrisi.


"Bisa aja lo yang ambil terus dijual buat sewa cewek di club nanti malam." Tuduh Adya masih memojokkan Lefi.


"Ya Allah, nista amat hidup hamba." Ucap Lefi dramatis. "Gak ada yang pelcaya dah. Gue mah anak bae baek."


"Shit." Umpat Arhan pelan. "Pinjem hp lo." Tanpa menunggu respon yang punya, Arhan langsung saja menyaut hp Figo yang sudah login game online.


Selesai mengirim sebuah pesan kepada nomor teleponnya yang berisi ajakan pertemuan, Arhan mengembalikan ponsel Figo dengan kasar. Ia yakin Vinan pasti membacanya nanti.


"Apaan si? Jangan macem-macem sama hp gue ya, Aleta liat bisa banaya." Tegur Figo. Ia mengotak-atik ponselnya namun malah menemukan sebuah pesan singkat yang baru saja dikirim. "Lo udah gila? Ngirim chat sama nomor sendiri. Di misscall kali, kalau gini siapa yang mau baca?"


"Yok ah cabut!" Ajak Arhan langsung berdiri dan memakai sepatunya yang disembunyikan dibawah meja kayu. Jaga-jaga kalau Bu Warti mengenali sepatunya dan kepergok bolos disini. Bahaya.


Figo mendengus karena merasa diabaikan, sedangkan Lefi dan Adya hanya menyimak keadaan yang terjadi. Walau bel pulang masih beberapa menit lagi, mereka bertiga ikut mengambil sepatunya lalu dipakai asal.


Saat lewat lorong sekolah, semuanya masih sepi. Mungkin hanya ada beberapa siswa yang diluar kelas karena jamkos. Lefi melambaikan tangannya pada seorang anak laki-laki yang duduk di teras kelas.


"YOK PULANG!" Teriak Lefi dan diangguki oleh lelaki itu. Setelah belok kiri, kini mereka menuruni anak tangga dengan posisi berantai. Beberapa anak basket yang mengenal Arhan cs, mereka melambaikan tangannya dan berteriak-teriak mengajak tanding.


"SINI OYY!!" Panggil sang ketua basket. Tim basket SMA Kutilang yang terkenal garang itu sedang duduk lesehan dilapangan tanpa memperdulikan teriknya matahari yang samar-samar karena hari mulai sore.


"PULANG AH! GAK ASIK PANAS-PANASAN!!" Seru Figo.


"CEMEN LO PADA!! CUMA BENTAR JUGA!!"


Salah satu laki-laki dengan seragam jersey warna merah itu melempar bola basket ke arah Arhan membuat empunya siaga dan langsung menangkapnya. Arhan memantul-mantulkan bola itu ke lantai hingga beberapa detik lantas mengopernya ke arah Adya.


"YOK AH SINI!!" Ajak kapten basket masih kekeuh.


Dengan tangkas, Adya memutar bola basket diatas ujung jari telunjuknya membuat beberapa siswi berteriak memuji.


"Gue gue mau coba!!" Pinta Lefi penuh energi. Ia menyahut bola lalu memutarnya diujung jari namun malah terjatuh.


"Payah!" Ejek Figo.


"Sini sini!" Arhan merebut bola lalu mendribble nya sebentar dan melemparnya kembali ke tengah lapangan. "LAIN KALI!! SIAP-SIAP AJA DULU!!" Seru Arhan membuat satu tim terkekeh.


Mereka berempat melanjutkan langkahnya melewati koridor yang mulai ramai. Tepat saat mereka melewati ruang guru, bel pulang berbunyi hingga terdengar suara sorak-sorak siswa yang kegirangan akibat berakhirnya pelajaran.


"DADAH BU WALTI!!" Seru Lefi sambil melambaikan tangannya pada Bu Warti yang tampak menghukum cowok urakan ditengah halaman upacara.


Bu Warti menanggapi Lefi dari kejauhan dengan kepalan tangan disamping wajah. "LANGSUNG PULANG LOH YA! AWAS MAMPIR-MAMPIR!!"


"SIAP BUU!!" Figo ikut melambaikan tangannya lalu tak melihat Bu Warti lagi karena sudah memasuki area parkiran yang berdesak-desakan berlomba ingin mengeluarkan kendaraannya duluan.


Disana, disamping motor Figo sudah ada sosok Aleta yang menunggu sambil memainkan ponselnya anteng. Tanpa basa-basi Figo berlari menghampiri lalu mengecup pipi kanan Aleta membuat empunya mendengus. Selalu saja kecolongan!


"Jomblo mah gini!" Sindir Lefi sembari memakai helmnya.


"Besok-besok cium bibir kali!" Seru Adya mengalihkan atensi. "Pipi mulu! BASI!!"


"Awas yah!" Seru Aleta lalu mengambil helm nya yang selalu tergantung dijok belakang motor Figo.


Ketika akan menaiki motor, Lefi dikejutkan dengan tepukan dibahunya.


"Eh!" Lefi menurukan kakinya kembali. "Udah dali tadi?" Tanya Lefi sembari menerima sebuah kotak yang diasongkan oleh seorang laki-laki berambut hitam lebat.


"Belum. Udah yak! Gue cabut!" Pamit laki-laki itu lalu berlari pergi meninggalkan area sekolah. Jika dilihat dari seragamnya sepertinya dia bukan anak sini, ada almamater warna abu-abu yang membalut tubuhnya.


"Apaan tuh?!" Tanya Figo kepo. "Wah lo beli narkoba yah?! Gue laporin Bu Warti nanti!!" Ancam Figo membuat Aleta mendengus karena berteriak-teriak disamping telinganya.


"Emang iya Pi?" Tanya Adya.


"Enggak lah! Emang duit gue belapa bisa beli nalkoba." Lefi memperlihatkan kotak hitam yang dipegangnya. "Ini tuh vapol, lo pada mau? Nanti aja waktu di basecamp."


"Bisa make emang?" Tanya Arhan.


"Ya bisa lah!" Sarkas Lefi songong lalu memasukkan vapornya ke lubang samping tas tempat botol minum. "Yok pulang!!" Seru Lefi semangat 45.


"Ikut gue dulu!" Ajak Arhan pada Lefi.


"Kemana?"


"Adalah. Ambil hp gue bentar. Almamater abu-abu punya SMA Gardamawa kan?" Tanya Arhan membuat Lefi bertambah bingung.


"Kenapa emang?" Memilih mengabaikan, Arhan memakai jaketnya lalu memutar kunci motornya searah jarum jam. Sebelum pulang ke neraka, maksudnya ke rumah yang baru-baru ini ditempatinya, ia harus mengambil ponselnya di dekat sekolah Vinan seperti yang sudah dijanjikan lewat pesan. Dan kebetulan arah rumahnya dan Lefi hampir sama namun beda belokan saja.


"Cabut dulu!" Arhan melajukan motornya keluar gerbang disusul Lefi yang membuntutinya dari belakang.


tbc


•••


Tinggalkan jejak dengan apresiasi chapter ini^^jngn siders, oke? Thank you💚