L O K A R E N J A N A

L O K A R E N J A N A
10.AWAL SEGALANYA



...-Awal Segalanya-...


Dua jam berlalu, dengan gaya duduk, rebahan, memainkan ponsel, push rank, YouTube, COC dan lainnya, Arhan tetap menunggu Luna dengan sabarnya. Berkali-kali Arhan memberikan kode pada Luna untuk segera berhenti memilih pakaian yang tak kunjung dibeli, namun wanita cantik itu hanya mengangkat telapak tangannya yang mengisyaratkan 'sebentar'


Mata hitam tajam itu menatap jam dinding besar yang terletak ditengah-tengah ruangan. Jam sudah menunjukan pukul 16.22 itu artinya ia sudah dua jam lebih berada disini.


"Tante!" Panggil Vinan membuat Kamala menoleh. Wanita cantik berambut sedada dengan baju warna merah ber-renda itu menatap Vinan datar.


"Kenapa? Udah selesai ngerumpinya?" Tanya Kamala.


"Hehe, kalau gitu Vinan pulang dulu ya."


"Naik?"


"Nanti Vinan cari taksi."


"Udah selesai Mal ..." Ucap Luna yang datang dari belakang dengan sebuah paper bag ditangannya. "Siapa?" Tanyanya pada Kamala dengan tatapan mata mengarah pada Vinan.


"Dia Vinan, anak mendiang Arum. Adikku yang sudah meninggal."


Luna membekap mulutnya sendiri. "Astaga! Ini anaknya Arum? Cantik sekali ..." Pujinya membuat Vinan tampak canggung.


"Dia kembar, yang satunya namanya Zynan."


"Oh ya??" Tanya Luna antusias. "Dimana dia?"


"Zynan lagi ada acara Tante." Jawab Vinan.


"Kalian pasti terlihat lucu sekali jika disandingkan." Puji Luna lagi, Vinan hanya menanggapinya dengan kekehan kecil. Lagi pula ia tidak kenal.


"Kamu baru pulang sekolah?" Tanya Luna lagi.


"Nggak kok Tante, Vinan udah pulang dari tadi. Cuma pengen mampir aja ke sini."


"Owhh ..."


"Kalau gitu Vinan pulang dulu ya tante ..." Pamit Vinan seraya menyalami tangan Luna dan Kamala bergantian.


"Hati-hati ya ... kenapa nggak dianterin Satria aja sih?" Tanya Kamala.


"Bang Satria lagi teleponan sama pacarnya." Kekeh Vinan. Itu sebabnya ia langsung diusir untuk pulang, Satria butuh waktu pribadi untuk bercakap-cakap dengan pacarnya yang ada di Belanda.


"Terus kamu pulang sama siapa?" Tanya Luna.


"Vinan naik taksi aja."


"Gimana kalau kamu dianterin sama anak Tante aja?" Tawar Luna membuat Vinan bingung.


"Ah iya ya ..." Celetuk Kamala tiba-tiba. "Bukannya rumah kamu satu komplek sama anak Luna? Mereka baru pindah beberapa minggu yang lalu lho."


"Hah? Siapa?"


"Mama ayo, nanti mama ketinggalan pesawat ..." Bujuk seorang laki-laki yang tiba-tiba muncul. Arhan datang dari arah kasir dengan jaket yang menggantung dipundaknya tanpa ada niat untuk dipakai. Ia sungguh bosan disini, tatapan tante-tante padanya sungguh menakutkan. Apalagi matanya yang berkedip-kedip kearahnya seperti lampu jalan raya.


"Arhan?" Lirih Vinan kaget. Lelaki ini seperti terlihat baik-baik saja setelah kejadian tawuran tadi siang. Hanya saja tampak beberapa goresan kecil diwajahnya.


"Ini anak Tante, namannya Arhan." Ucap Luna seraya menepuk-nepuk bahu anaknya.


Arhan? Anak Tante ini? Terus tante Tari itu siapanya? Sebenarnya apa yang terjadi?, tanya Vinan dalam hatinya. Kenyataan-kenyataan ini sungguh membingungkan dirinya. Pertama foto keluarga dikamar Arhan, kedua fakta barusan.


"Ayo maa ..." Bujuk Arhan lagi. Ia bosan dengan desain butik yang serba merah ini, sungguh bukan seleranya sama sekali.


"Gimana kalau kamu pulang bareng Arhan aja?" Tawar Luna. Vinan sontak mengerutkan dahinya sembari menunjuk dirinya sendiri. Ia tidak salah dengar kan?


"Kamu anter Vinan pulang ya?" Pinta Luna langsung membuat Arhan tertohok.


Ia menunggu berjam-jam menahan rasa bosan, lalu mamanya menyuruh untuk mengantarkan Vinan? Lalu apa gunanya ia disini jika endingnya seperti ini?


"Nggak. Arhan kan mau anterin mama ke Bandara."


"Mama pesan taksi online. Kamu anterin Vinan aja." Ucap Luna langsung pergi ke kasir untuk membayar belanjaannya. Tidak ada yang tau bahwa ada sebulir air mata yang akan jatuh dari mata indahnya. Mulai sekarang sepertinya ia akan menjaga jarak dengan Arhan, waktu dikantor tadi ia bertemu dengan Raymond, mantan suaminya. Lelaki paruh baya itu memberi peringatan pada Luna agar tidak berhubungan lagi dengan Arhan, baik seluler atau tatap muka. Hati ibu mana yang tidak tergores ketika menerima kenyataan itu?


Vinan berdiri dengan canggung disamping Arhan, ia tidak enak. Disatu sisi ia bingung, Luna adalah Mama Arhan. Lalu Tari itu siapa? Dan Namira? Ia menjadi cengo sekarang. Gadis itu menatap dirinya sendiri dilantai marmer, disana ada pantulan wajahnya juga ... Arhan. Lelaki itu nampak kecewa, tangannya mengepal kuat jika dilihat dari lirikan Vinan. Rasa bersalah datang tanpa permisi.


"Mama berangkat dulu ya ..." Pamit Luna yang menghujani banyak kecupan diwajah tampan Arhan. Mungkin ini adalah pertemuan terakhirnya dengan Arhan, namun tidak ada yang tahu jika takdir berkehendak lain.


"Mama ... Arhan mau nganterin ..." Pinta Arhan ulang, ia masih tidak menyangka atas keputusan Luna barusan. Apa mamanya itu tidak ingin menghabiskan saat-saat terakhirnya sebelum berangkat kembali ke Rusia?


Luna menggelengkan kepalanya. "Kamu anterin Vinan aja. Mama berangkat. See you next time baby..." Ucap Luna langsung memeluk Arhan erat-erat seakan tidak ingin pergi. Jemari tangannya mencengkeram jaket Arhan yang masih tersampir dipundak.


"Duluan Mal ..."


"Hati-hati." Ucap Kamala yang tampak sendu. Kisah hidup Luna seperti kisah cerita baginya, tidak ada satu alur pun yang ia lewatkan karena Luna selalu cerita padanya.


"Duluan cantik ..." Vinan tersenyum dengan tatapan teduh, beribu pertanyaan masih berputar-putar di otaknya.


Luna segera menarik kopernya dan berjalan keluar butik memasuki taksi online yang sudah dipesannya, didalam sana air matanya berhasil lolos. Bukannya ia ingin mengecewakan Arhan, namun ia akan lebih sakit jika harus berpisah di bandara, untung ada Vinan yang bisa dijadikan alasan.


Urusannya di Indonesia telah selesai. Ia tidak tau bisa kembali ke tanah air atau tidak, ancaman Raymond akan masa depan Arhan sungguh membayang-bayanginya kini. Mobil berjalan menuju bandara tentunya. Disini, detik ini, menyisakan Arhan yang kecewa. Kepala Arhan mendongak menahan air mata yang akan jatuh, ia tidak ingin terlihat rapuh.


Arhan menatap wanita yang menunduk disampingnya. Sia-sia sudah ia membuang waktunya dan berakhir pada kekecewaan. Merasa ada yang memperhatikannya, Vinan mendongak lalu menoleh. Mata Arhan yang teduh langsung bertemu dengan bola matanya.


"Maaf, kalau lo keberatan gue bisa--"


Karena tidak banyak bacot prinsipnya, Arhan langsung saja berjalan mendahului keluar butik menuju motornya tanpa permisi dulu pada Kamala. Vinan menghela nafas, ia semakin merasa tidak enak sekarang.


"Hati-hati."


"Vinan pulang dulu ya tante ..." Vinan segera menyusul Arhan yang sudah duduk diatas jok motor. Rasa canggung menyelimuti keduanya, Vinan hanya berdiam diri disamping Arhan tanpa sepatah kata.


"Lo mau pulang nggak?" 


"Ah iya." Dengan ragu Vinan menaiki motor ninja itu. Setelah berhasil naik ia membenarkan rok warna abu-abu yang sedikit tersikap.


Detik berikutnya Arhan sengaja memacu motornya dengan kecepatan tinggi sebagai rasa pelampiasannya dan ia tidak tau saja kalau Vinan selalu menggerutu dibelakang sana.


Tau gini gue naik taksi, batinnya.


Perlahan laju motor Arhan memelan, kecepatan semua kendaraan juga ikut pelan. Banyak motor berjejer antri tak kunjung jalan, begitupun mobil-mobil pribadi yang membunyikan klakson tanda tidak sabaran. Bisa dikatakan jalanan sedang macet sekarang.


Vinan menatap Arhan yang membuka kaca helmnya dari spion. Lelaki itu sedikit memajukan kepalanya ke kanan agar bisa melihat apa yang terjadi didepan sana. Tak lama suara sirine terdengar, entah berasal dari mobil polisi atau ambulans. Jika disimak dari percakapan para pengendara dengan pejalan kaki yang lewat di trotoar, ada sebuah kecelakaan motor didepan sana.


Buku kuduk Vinan berdiri mendengar itu. Kenapa hal itu terjadi ketika dirinya akan melewati jalan itu?


"Kayaknya ada kecelakaan!" Seru Arhan membuat Vinan memasang pendengarannya baik-baik.


"Hah? Iya!"


Karena sudah lama menunggu namun jalanan tak kunjung kembali berjalan normal, Arhan memutuskan untuk mematikan mesin motornya sekalian hemat bensin. Tangannya bertumpu pada tangki motor, menunggu merupakan aktivitas paling membosankan. Hari semakin sore, langit senja sudah terlihat dari ufuk barat.


Tanpa disadari, Vinan merasa cemas dibelakang sana, tangannya menggenggam lemas penuh keringat, ia berharap korban kecelakaan itu sudah dibawa oleh pihak medis. Ia tidak ingin mengalami hal buruk dengan melihat korban yang pastinya bersimbah darah.


Tak lama kendaran mulai berjalan walau hanya beberapa centimeter saja. Arhan mulai menghidupkan mesin motornya lalu melaju perlahan. Merasa semakin dekat dengan suara sirine Vinan memutuskan untuk berpaling dari lokasi kecelakaan.


Arhan melihat spion motor dan menangkap wajah gundah Vinan, merasa peka dengan keadaan ia memutuskan untuk melajukan motornya sedikit cepat.


cittttt!!


tiinnnn!!


Motor didepan Arhan tiba-tiba mengerem mendadak membuat Arhan refleks ikut mengerem. "*******!" Umpat Arhan namun diabaikan oleh pengendara didepannya.


Tubuh Vinan yang lemas dan tidak siap menubruk punggung Arhan yang hanya berbatas ransel kempes. Tangannya maju dan memeluk perut Arhan erat berharap tidak jatuh.


"So-sorry." Vinan menarik tangannya kembali lalu menyibakkan rambutnya yang maju menutupi wajah. Arhan menghela nafas, ketika kendaraan berjalan ia kembali memacu motornya hingga keluar dari area kecelakaan yang masih tampak macet panjang.


Malu, kata itu yang menggambarkan perasaan Vinan. Bukan apa-apa, ia tidak ingin dituduh mengambil kesempatan dalam kesempitan.


bruum brumm


citt


Arhan mengerem motornya mendadak membuat Vinan terhuyung ke depan dan refleks memeluk pinggang Arhan, lagi.


"Kenapa? Lo mau nurunin gue di sini?" Tanya Vinan sembari mengambil ancang-ancang untuk turun namun ditahan.


Arhan melepas helmnya dengan gerakan slow motion. Pandangan lelaki itu tak lepas dari gerombolan motor dihadapannya. Ia turun dari motor dan menarik tangan Vinan berlari ke belakang pohon didekat sana.


"Tapi--"


"Jangan kemana-mana! Kalau mereka deketin lo, langsung teriak." Arhan mengeluarkan ponsel bermerek apel gigitan dan menyerahkannya kepada Vinan. "Lo telepon temen-temen gue, lo pasti udah pernah ketemu mereka." Lelaki itu langsung meninggalkan Vinan dan berlari menghampiri musuh bebuyutannya, Fahrar.


"*****! Gue disuruh cari satu persatu profil temen dia?!" Protes Vinan dan bergegas membuka ponsel yang ternyata tidak dikunci. Jika tidak salah, wajah-wajah teman Arhan yang ia temui dicafe waktu itu masih terbayang samar dimemori otaknya.


Terdengar suara pukulan demi pukulan. Arhan kewalahan menghadapi teman-teman Fahrar yang bisanya hanya main keroyokan, tapi Fahrar sendiri tidak mau berperang dan malah duduk manis diatas motornya.


"Woi!! Kalau gentle jangan main keroyokan!!" Seru Arhan disela-sela perkelahian.


"Kenapa? Nggak bisa ya lawan anak buah gue?" Teriak Fahrar sombong.


"******* lo! Kalau berani sini!!"


bughh


Satu pukulan mendarat diperutnya membuat Arhan ingin muntah sekarang juga. "BANCI CARA LO!" Gertak Arhan yang langsung memukul semua lawannya tanpa ampun.


"Masih banci bapak lo! Hamilin anak orang terus suruh gugurin dan ninggalin, apa itu yang namanya laki-laki?!" Cebik Fahrar yang semakin memancing emosi Arhan. "Owh! Apa mungkin anaknya ini udah pernah gituan terus ninggalin ceweknya juga?!"


"******! SINI LO!!!"


Fahrar malah tertawa keras melihat Arhan yang semakin tersulut emosi. Karena memang Arhan dari sananya tidak pernah bisa mengontrol emosi. Lelaki itu selalu saja menghantui hidup Arhan, dimana saja kedua lelaki itu bertemu pasti berujung pada perkelahian.


Singkat cerita, dulu ibu Fahrar adalah satu dari sekian banyaknya wanita yang selalu dibawa Raymond ke rumah. Sekar, ia hamil ditengah-tengah perjuangannya sebagai single parent untuk Fahrar. Yang membuat Fahrar murka adalah Raymond yang tidak mau bertanggung jawab dan malah menyuruh mengugurkan. Sejak saat itu Fahrar melampiaskan kebenciannya pada Arhan, anak Raymond yang tidak tau apa-apa mengenai masa lalu papanya.


"Ketemu!" Seru Vinan ketika melihat foto profil seorang laki-laki yang menggodanya didepan rumah waktu itu, ia langsung menombol icon hijau. "Halo!"


"Ini gue, Vinan. Please bantu kita. Arhan lagi dikeroyok sama banyak laki-laki!!"


"Hah? Gimana-gimana? Kalian dimana?"


"Gue sharelok terus hubungin temen-temen lo yang lain. Bantuin Arhan!"


tut


Vinan memasukkan ponsel Arhan ke dalam saku seragamnya setelah mengirim lokasi. Ia melihat keberadaan Arhan sekarang. Perkelahian tidak dapat dihindari lagi, mereka saling pukul dan tendang satu sama lain. Bayangkan, Arhan hanya seorang diri dan melawan beberapa laki-laki, apalagi tubuhnya yang masih sakit akibat tawuran tadi siang.


"Itu cowok kerjaan nya berantem mulu. Luka yang tadi belum ilang sekarang udah ada lagi." Lirih Vinan dengan tangan yang terus ditautkan.


"ARHAN!!!" Teriak Vinan langsung berlari dan merentangkan tangannya bermaksud menghalangi seseorang yang akan melempar batu ke arah Arhan.


Shit! Cewek ini bandel! Udah dibilangin juga!


"Lo ngapain kesini?!!" Tanya Arhan yang kini berhenti dari perkelahian. Semua orang juga kaget dengan kehadiran Vinan.


"Jangan main keroyokan kalau lo laki-laki!!" Seru Vinan penuh keberanian membuat semuanya terkekeh.


Seorang laki-laki dengan rambut pirang tiba-tiba mencolek bahunya dari belakang.


"Jangan kurang ajar!!"


"Cantik ... kenapa malah ikutan disini? Bahaya tau ..." Goda seorang laki-laki dan langsung membuat semuanya terkekeh.


"Tepos banget *****!"


"Cantik ..." Lelaki itu kembali mencolek Vinan dilain tempat.


"Gue udah bilang jangan macem-macem!!"


"Ada mangsa baru nih ..." Ucap seseorang penuh arti dari belakang, Fahrar.


Arhan menarik kedua tangan Vinan yang terlentang dan menarik gadis itu ke dalam pelukannya, pelukan yang nyaman dan sudah lama tidak ia rasakan.


"Han ..."


"Kan gue udah bilang! Jangan ikut-ikutan!" Gertak Arhan lalu merasakan tubuh Vinan bergetar setelahnya.


"Ow ow ow .... ternyata ada yang mewarisi keahlian bokapnya ... beraninya cuma bentak-bentak wanita." Sindir Fahrar membuat Arhan ingin menonjok wajah tengilnya saat ini juga.


"Nggak usah libatin cewek ini!!" Teriak Arhan membuat Fahrar semakin tertantang.


"Siapa sih ****** lo? Gue ganggu ya hari ini dengan serang lo tiba-tiba?"


"Gak usah banci cara lo! Gue yakin lo nggak bakalan libatin orang lain apalagi cewek ini."


"Kalau gue mau libatin cewek lo gimana?"


"Lo pegang dia sama dengan lo cari mati!!"


Kalimat itu berhasil membuat jantung Vinan berdegup kencang. Gadis itu mencengkeram jaket Arhan kuat-kuat sedangkan Arhan terus berusaha menutupi wajah Vinan agar Fahrar tidak melihatnya.


"Liat dong wajah ****** lo. Kayaknya gue tertarik ..." Terdengar suara tawa setelahnya.


Fahrar memutari tubuh Vinan dan Arhan yang kini dalam posisi berpelukan.


"Mana sih wajah ceweknya? Jangan malu-malu dong ..." Goda Fahrar semakin membuat Arhan emosi. Semua anak buah Fahrar mendekat melingkari tubuh Vinan dan Arhan. Tangan kanan Arhan memeluk pinggang Vinan sedangkan tangan kirinya menangkup kepalanya agar bisa siaga terhadap serangan Fahrar sewaktu-waktu.


"Hiks hiks hiks ..."


"Kok nangis sih??"  Tanya Fahrar dengan nada buaya.


"Vi ... lo pergi dari sini ..." Pinta Arhan yang merasa keadaan semakin tidak kondusif. Jika hanya dirinya tidak apa, namun disini juga ada wanita apalagi bapaknya tentara.


Vinan menggeleng-gelengkan kepalanya di dada Arhan. "Hiks gue takut ..."


"Kalau lo pergi lo aman ..."


"Udah dramanya?" Tanya Fahrar santai lalu memberikan sebuah kode dengan menjentikkan jari.


bughh


Dari samping ada seorang yang memukul rahang Arhan membuat pelukannya pada Vinan telepas.


"Lepasin gue!!" Teriak Vinan ketika Fahrar dengan leluasa memandangi wajahnya secara detail. Lelaki itu mencengkeram kuat dagu Vinan hingga bisa melihat wajah cantiknya yang kini berlinang air mata.


"Oh ... Jadi ini wajah ****** lo?" Tanya Fahrar sepele.


Vinan membulatkan matanya. Siapa yang tidak kenal Fahrar? Lelaki berandalan yang ditakuti seantero SMA Gardamawa. Agaknya setelah ini hidupnya akan tidak tenang.


Dengan cekatan Arhan menarik tubuh Vinan dan memeluknya kembali, mencoba menyembunyikannya walau percuma.


"Nggak usah di tutupi. Gue udah liat wajah lo cantik ..." ucap Fahrar dengan smirknya.


"Udah selesai kan?!" Tanya Arhan.


"Tapi gue masih pengen main. Gimana?"


"Hiks Han ..."


"Uh uh uh kok nangis sih cantik???" Goda Fahrar yang kini berjalan mendekat.


"Pergi lo anjing!!"


"Kalau cewek ini gue perlakuin kayak gimana papa lo ke mama gue gimana?"


"Lo nyentuh dia! Lo nyari mati!!"


"Sayangnya gue nggak takut sama lo."


"Guys!! Lo lihat kan wajahnya?! Ingat-ingat!" Titah Fahrar pada anak buahnya.


bughh


Karena kesabaran Arhan sudah dikuras habis, ia menonjok wajah tengil Fahrar dengan Vinan yang masih menangis dalam pelukan. Tangis Vinan terdengar lebih keras bahkan jaket Arhan basah sekarang.


Fahrar mencoba bangkit dibantu oleh salah satu temannya, tangannya bergerak untuk mengusap bibir. Darah. Cairan merah itu menempel dijari jempolnya. Tatapannya menajam ke arah Arhan, tangannya mengepal kuat membuat ototnya sedikit timbul, nafasnya juga tidak teratur.


"*******!!"


tbc


•••


like dan komen jangan lupa♡ jngn jadi siders, oke? Thank you 💚