
...-Mengusik Telinga-...
"Lo anterin gue ke butik tante Kamala aja." ucap Vinan seraya memasang seat belt.
"Kenapa?"
"Kepo banget!"
Liam mencebik. "Ah elah, gue kan cuma tanya."
"Kak Satria tuh pulang dari Amsterdam. Terus barusan ngabarin gue kalau dia ada dibutik Tante Kamala. Jelas?!"
"Siap ibu negara ..." Ucap Liam sabar dan langsung menyalakan mesin lalu menginjak pedal gas.
"Vi ..."
"Hmm ..."
"Jalan yuk."
Vinan mengalihkan pandangan dari layar ponselnya. "Kapan?"
"Ya kapan gitu, sebisa lo. Ajak Zynan juga. Kita udah lama nggak jalan bareng."
"Okelah, nanti gue tanya Zynan."
Sebenarnya mereka bertiga itu adalah sahabat dari kecil, Liam anak dari sahabat Bunda Arun. Hanya saja Liam lebih dekat dengan Vinan karena satu sekolah, walau begitu hubungannya dengan Zynan tetap baik. Perlakuannya juga adil, sebagai laki-laki ia tidak pernah pilih kasih pada dua gadis itu. Liam sudah menganggap Vinan dan Zynan seperti adik-adiknya yang harus ia jaga.
Beberapa menit setelahnya mobil Liam tepat terparkir didepan butik Kamalasa.
Vinan menyampirkan tas dibahunya lalu membuka seat belt. "Makasih, lain kali nebeng lagi ya ..." kekeh Vinan langsung turun dan melambaikan tangan hingga mobil Liam tidak terlihat lagi.
ting
Lonceng berbunyi ketika Vinan memasuki butik, hal pertama yang menarik perhatiannya adalah lelaki tampan blasteran Indonesia-Belanda yang duduk diatas kursi tunggu.
"Halo bang Sat!!!" Teriaknya.
Lelaki itu mengangkat kepalanya lalu menatap Vinan tajam, ia sudah terbiasa dengan panggilan itu.
"Kurang jelas apa gue bilang? Nama gue Satria!"
"Betul kan? Bang Sat?!" Panggil Vinan dengan senyum jahilnya.
"Emang ya nih anak! Nggak ada sopan-sopannya!" Cecar Satria langsung mengapit kepala Vinan diatara ketiaknya.
"Tante Kamala tolong Vinan!!!"
•••
Arhan menatap ketiga temannya dari parkiran yang sedang mengganggu siapa saja adik kelas glow up yang lewat. Ia bukan tidak suka wanita, tapi sedikit tidak percaya dengan manusia bernama 'wanita' apalagi percaya dengan adannya cinta.
"Cewek ... pfitfyuwfh ..." Goda Lefi bersiul-siul. Sebelah tangannya bertopang pada dinding ber-cat putih sedangkan kaki panjangnya ia tekuk sebelah.
"Permisi kak." Adik kelas dengan pakaian serba minim plus ketat itu berjalan melewati ketiga lelaki yang menatapnya jahil, terutama Lefi.
"Adek ... kalau malam dibayal belapa?" Tanya Lefi iseng-iseng. Adik kelas itu tidak menanggapi dan memilih pergi dengan langkah lebarnya.
"Apaan dah!" Cibir Figo. "Lo pikir semua cewek bakal jual dirinya?"
"Ah elah! Udah banyak kali yang macam gitu!" celetuk Adya.
"Kata siapa? Buktinya cewek gue nggak!" Bantah Figo yang tetep kekeuh.
"Yeee!! Lo mah udah dibutakan sama cinta! Lo nggak tau aja gimana kehidupan pala cewek dilual sana." ledek Lefi seraya membuang puntung rokok yang sudah pendek lalu menginjaknya.
"Mending gue punya Aleta, timbang lo udah jomblo, akut lagi."
"Caaelahh!! Nggak usah bawa-bawa nama jomblo kali! Gue kumpulin kaum gue telus nyuluh santet lo, balu tau lasa!"
"Emang gitu kan kenyataannya! Jomblo!" Figo menyentil kepala Lefi dengan jari tangan membuat empunya mengaduh.
"Sakit anjing! Kepala gue tadi abis kena pukul waktu tawulan!"
"Lagian nih ya. Gue itu milih-milih bukan jomblo, milih yang bisa membimbing gue ke jalan yang benal."
"Bimbing-bimbing! Urusin noh nilai merah lo di rapot!" Cebik Adya langsung membuat Figo tertawa.
"Gue mah udah biasa buat telnistakan." Lirih Lefi.
"Telnistakan telnistakan!! Nggak bisa er nggak usah omong!!"
"Sombong!" Dengus Lefi. "Woi! Alhan!!" Panggilnya membuat Arhan menoleh dari layar ponselnya. Lelaki yang duduk bertengger diatas motor ninja warna biru itu beranjak berdiri lalu memakai jaket yang tersampir dispion. Wajahnya yang sedikit babak belur membuat beberapa siswi menatapnya aneh dengan pikiran yang menebak-nebak.
"Apaan?!"
"Cuma manggil aja sih." Ucap Lefi tanpa dosa.
"Ck!" Arhan menaikkan resleting jaketnya dan memakai helm full face. Ia mengegas motornya hingga depan gerbang dimana ketiga tuyul itu berkumpul.
"Gitu aja malah!" Cecar Lefi.
"Iye! Kayak cewek peemes aja!" Timpal Figo.
Dibalik helmnya Arhan memutar bola matanya jengah. Nonjok temen boleh ga sih?
"Gue dipanggil nyokap. Dia mau berangkat ke Rusia lagi." Jelasnya singkat.
"Nyokap? Mamak tiri lo?" Pertanyaan Figo membuat Arhan ingin menabrak tubuh sahabatnya sekarang juga, tapi takut dosa.
"Mama gue cuma satu, mama Luna."
"Omaygat omaygat!!" Teriak Lefi heboh. "Jadi tante Luna pulang ke Indonesia??!"
"Hemm ..."
"Kenapa lo nggak omong ke kita? Gue juga kangen tau sama Tante Luna telus--"
brummm
Sebelum Lefi menyelesaikan kalimatnya Arhan sudah mengegas motornya habis-habisan lalu hilang di persimpangan jalan dekat lampu merah.
"*******." Umpat Lefi lirih.
Sesampainya dibutik yang diberitahukan Luna, Arhan dengan ragu memasuki bangunan itu. Haruskah? Tempat para wanita rempong yang rela menghabiskan waktunya berjam-jam untuk memilih baju yang padahal hanya akan dibeli satu? Aroma wangi-wangian wanita langsung menyeruak masuk ke dalam indera penciumannya.
"Hufthh ..." Dengan langkah gontai dan masih mengenakan seragam SMA berbalut jaket Arhan memasuki tempat sialan itu.
Matanya menyusuri setiap sudut ruangan yang dimana-mana terdapat baju yang terpajang. Tak sengaja, pandangannya menangkap sosok yang mengenakan jas almamater SMA Gardamawa. Gadis itu berdiri membelakangi dengan sosok laki-laki yang tampak memeluknya dari belakang. Romantis.
"Arhan!!" Panggil Luna yang datang dari arah toilet.
"Mama kenapa sih ngajak ketemuan disini? Nggak ada tempat lain apa?"
Luna tersenyum sembari mengelus-elus surai anaknya. Mata Luna membelalak dan memukul pundak Arhan seketika. Luka disudut bibirnya juga pelipisnya yang ditempel hansaplast coklat lah yang menjadi masalahnya.
"Kamu berantem lagi?!" Tanya Luna garang.
"Bukan gitu, Arhan cuma membela kebenaran tadi."
"Alesan! Gimana mama mau tenang tinggal diluar negeri kalau kamu yang disini kayak gini? Baru mama tinggal beberapa minggu kamu udah mulai nakal!"
"Mending sekarang mama belanja dulu, Arhan nggak betah disini lama-lama."
"Awas kamu ya!" Luna memajukan bibirnya dan berlalu dengan emosi yang masih menggebu. Arhan tersenyum simpul melihat reaksi mamanya barusan, setidaknya masih ada yang peduli padanya.
Kaki Arhan berjalan menuju sofa didekat kasir, tangannya tergerak untuk melepas jaketnya lalu melempar asal ke atas sofa disusul tubuhnya yang ikut berbaring disana. Diambilnya ponsel didalam saku celana lalu sedikit menoleh ke samping kiri karena telinganya mendengar suara canda tawa yang menggelar disudut ruangan.
Vinan, gadis itu tertawa lepas karena pinggangnya digelitik oleh Satria. Perutnya bergejolak geli didalam sana dan suara tawa sebagai reaksinya. Kedua orang itu berlarian kecil saling mengejar dan membalas setiap gelitikan. Arhan kembali menatap ponselnya dengan wajah datar mencoba mengabaikan walau suara tawa itu mengusik ketenangannya.
tbc
***
Jangan lupa tinggalkan jejak buat yang udah baca,,makasih juga buat yang udah mampir apalagi mau vote dan komen^^thanks💚