
Bel pulang sekolah pun berbunyi aku langsung membereskan alat sekolah ku dan ber gegas ke ruang Club untuk audisi
*Aku yakin aku akan jadi peran utama* Ujar ku dalam hati .... dengan semangat aku melangkahkan kaki ku menuju ruang Club yang ada di lantai 3.
sesampainya di ruang club aku pun mempersiapkan semuanya termasuk mental ku yang sudah bergejolak tidak sabar ingin audisi.
tidak lama kemudian audisi pun di mulai. aku mendapatkan nomor urut ke 2.
setelah semua peserta selesai Audisi pun di umumkan siapa yang menjadi peran utama nya .... dan ternyata juri mengumumkan aku menjadi peran utama gadis tudung merah! dengan semangat aku maju ke depan dengan bangga.
pembagian peran pun selesai tinggal lapor ke Club seni untuk membuat latar dan costum drama kita.
aku melihat Claude yang dari tadi memalingkan wajah nya dari ku. apa dia marah? salah ku apa? hmm .... ada yang ga beres sama dia.
setelah semua selesai aku menghampiri Claude yang sedang duduk di sudut ruangan sendirian *udah kayak penunggu ruangan club fix ini fix bercita cita jadi penunggu ruangan club dia* ujar lu dalam hati sambil berjalan ke arah claude
"Kamu kenapa?" Tanya ku penasaran lalu duduk di sebelah nya
"aku cem-" belum sempat Claude menyelesaikan kata katanya kami pun di panggil sama Acha
"Ruby! Claude! kalian tolong ke ruang club seni ya panggil salah satu anak club seni untuk berunding soal latar dan kostum kita" Ujar Acha menyuruh kami.
Claude pun langsung bangun dari duduk nya dan berjalan ke luar ruang club "Ayo, keburu makin sore" Ajak nya namun tak biasa ... dia tidak menunjukan senyum nya sama sekali.
"eh? iya yuk" Jawab ku dan langsung bejalan ke sebelah nya ... sesekali aku melihat Acha yang sepertinya menyemangati ku karna aku dapat kesempatan berdua dengan Claude dan aku hanya membalas semangat dari Acha dengan senyuman ku.
kami berjalan dengan diam tanpa berbicara sepatah kata pun ... sebenarnya ada apa dengan white prince ku? kenapa jadi canggung begini sih ... salah ku apa?
sesampainya di ruang club seni Claude pun langsung masuk mendahului ku menemui salah satu anak club Seni.
"hey lucien, penanggung jawab club seni di minta untuk ke ruang club Teater ada yang perlu di bahas" Ujar Claude ke salah satu anggota club seni yang bernama Lucien itu
"eh? iya ka sebentar ya. untuk penanggung jawab hari ini ka Lee, orang nya sedang melukis di situ" Jawab Lucien sambil menunjuk sudut ruangan yang terlihat Lee sedang melukis.
*kedua pangeran ku bercita cita menjadi penunggu ruang club ternyata* Ujar ku dalam hati sambil menahan tawa.
"pffftttt" sial! aku kelepasan!
aku melihat Claude berjalan ke arah ku lalu "panggil tuh pacar mu, aku tunggu di ruang teater" bisiknya sambil berjalan balik ke arah ruang teater.
*huft! sebenernya dia knp sih! dan lagi sejak kapan Lee pacar ku?* Ujar ku dalam hati lalu menghampiri Lee yang sedang melukis.
"Lee, penanggung jawab club seni di panggil untuk ke ruang teater. hari ini kamu kan penanggung jawab nya" Ujar ku pada Lee yang langsung menaruh kuas nya.
"tunggu sebentar, aku cuci tangan dulu" Jawab Lee lalu pergi ke westafel untuk mencuci tangan nya. lalu kembali membawa buku catatan dan pensil. "ayo langsung kesana jangan lambat lambat langkah mu, aku benci orang lambat" Terus nya lalu berjalan mendahului ku.
*seperti biasa ya dia ketus dan dingin* ujar lu dalam hati sambil berjalan di belakang nya. memperhatikan punggung nya.
sesampainya di ruang Club aku melihat Claude sedang melipat tangan nya sambil memalingkan wajahnya dari ku *Apaan sih! kayak anak kecil banget!* Ujar ku dalam hati.
"aku lihat mood mu sedang tidak bagus. nih untuk mu" Ujar ku sambil memberikan coklat kecil yang ku punya.
Claude pun menerima nya sambil sedikit tersenyum "Trimakasih" Jawab nya yang sekilas moodnya seperti membaik.
"sebenarnya ada apa? kamu gak cerita seperti biasanya. kamu kecapek an?" Tanya ku penasaran
"Aku tidak apa-apa. kenapa kamu tidak bersama pacar mu disana sama Acha" jawab nya sambil memakan coklat dari ku
"oh? Lee? sejak awal aku ga pacaran sama Dia kami hanya teman sekelas saja"
"lalu kenapa kamu terlihat sangat akrab dengannya" nada Claude mulai melemas
"ntah lah, aku sendiri juga tidak merasa akrab dengannya."
tiba tiba saja Claude mendekap ku ke pelukan nya seketika aku pun kaget dan panik. seluruh anak murid di ruangan ini pun melihat ke arah kami.
"c-cla-claude k-ke-kenapa? he-hey jangan bgini" Ujar ku terbata bata bingung dengan tindakan Claude secara tiba-tiba
seketika Lee datang dan dengan kasar membuat pelukan Claude lepas dari ku.
Lee pun menonjok wajah Claude dengan keras hingga Claude terjatuh "senior sial! apa yang kau lakukan pada teman ku!?" Ujar Lee penuh emosi dengan nada keras
Claude ingin membalas namun seluruh anak murid disini berusaha memegangi Claude dan Lee yang akan saling tinju
"aku cuman memeluk nya! lagian apa urusan nya dengan mu!?" Jawab Claude dengan nada keras
aku pun memundurkan langkah namun terhenti karna Acha berada tepat di belakang ku.
"sudah ku bilang kan? jika keduanya menyukai mu akan ribet nantinya" Ujar Acha lalu mendorong ku ke depan "Tanggung jawab lah pisahkan mereka. hanya kamu yang bisa" Terus Acha sambil menyemangati ku
tidak lama kemudian ahirnya mereka pun tenang dan keadaan kembali damai namun sedikit canggung. mereka duduk di podium dengan jarak yang tidak begitu jauh. akun pun menghampiri mereka dan duduk di tengah kedua nya.
"Jangan bicara apa pun" Ujar kedua nya kompak dan aku pun kaget dengan suara mereka.
"Maaf"
"kamu tidak salah, dia yang salah" jawab mrka ber 2 kompak lagi lalu memalingkan wajah nya.
"ayo Ruby kita pulang, ku antar kamu sampai rumah seperti kemarin" Ujar Claude sambil menggandeng tangan ku
sesekali aku melihat Lee yang masih memalingkan wajahnya dari ku tanpa menengok sedikit pun.
Claude menarik tangan ku keluar ruang Club lalu menuju tempat parkir. aku merasa tangan ku di genggang terlalu erat sehingga terasa sakit. Claude pun tidak memalingkan wajah nya sama Skali pada ku. selama perjalanan pulang pun di penuhi dengan ke heningan.
sebenernya apa yang terjadi aku masih belum begitu paham dan kenapa ini jadi semakin rumit.